Dalam bahasa Hindi, bahasa resmi di India selain bahasa Inggris, kata asha bermakna harapan. Agak mirip dengan asa dalam bahasa Indonesia yang juga berarti harapan. Kalau kemudian dikaitkan dengan kondisi pasar seluler di Indonesia, Nokia tampaknya meletakkan asa di Asha 303. Untuk apa? Tentu saja untuk menggaet kembali pangsa pasarnya yang beberapa tahun terakhir digerogoti oleh BlackBerry, Samsung, dan aneka ponsel merek lokal buatan Tiongkok.
Asha 303 termasuk ponsel Nokia seri 40. Jadi, ponsel berdimensi fisik 116,5 x 55,7 x 13,9 mm dan berat 99 gram itu sebenarnya bukan smartphone alias ponsel pintar. Meskipun demikian, tampilan home screen atau halaman muka ponsel itu laksana smartphone. Pengguna bisa mengakses Facebook, Twitter, dan aneka fitur lain langsung dari halaman muka.

Read the rest of this entry »
Iklan dan situs produsen ponsel seharusnya mampu menjadi sumber informasi yang akurat terkait spesifikasi produk. Namun, hal itu ternyata tidak berlaku untuk ponsel Samsung E1232B.
Saat membaca rincian spesifikasi di iklan dan situs Samsung, calon pembeli nyaris pasti bakal menyimpulkan bila buku telepon ponsel itu berkapasitas 1.000 nama. Praktiknya, ketika penulis menggenggam E1232B dan menelusuri menunya, kapasitas buku telepon yang tersedia cuma 500 nama multiple entry.

Read the rest of this entry »
Ponsel merek lokal yang dilengkapi speaker bersuara sangat keras bukan hal baru. Meskipun demikian, Extreme Top 168 tetap menarik untuk dicermati. Sebab, selain bersuara lantang, diameter speakernya nyaris setara dengan lebar ponsel.
Dengan menggunakan sebuah penggaris baja, penulis mengukur diameter speaker yang berada di bagian belakang Top 168. Penggaris itu spontan tertarik dan melekat erat. Magnet di speaker ponsel tersebut rupanya sangat kuat. Setelah berhasil melepaskan penggaris baja, kali ini dengan hati-hati penulis mengukur diameter speaker. Wow, lima cm!

Read the rest of this entry »
Pengguna ponsel berkamera yang ingin menghasilkan foto unik sekaligus kreatif kini memiliki pilihan “senjata penunjang”. Di pasar sedang marak lensa tambahan untuk kamera ponsel. Lensa itu tidak memiliki nama paten. Ada yang menyebutkannya extended lens, ada pula yang mengistilahkannya creative lens atau cute lens.
Ketika lensa tersebut dipasangkan ke kamera ponsel, ponsel seolah memiliki sanggul atau konde. Jadi, supaya lebih mengindonesia, kita namakan lensa tambahan itu sebagai lensa konde. Setuju?

Read the rest of this entry »
Biarpun sama-sama diusung oleh perusahaan berkelas dunia, nasib ponsel Android Huawei di Indonesia bertolak belakang dengan Samsung. Samsung laris manis, sedangkan Huawei belum terlalu menggembirakan.
Padahal, ragam dan kualitas produk Android Huawei sebenarnya tidak kalah dengan Samsung. Sayang, iklannya bak angin sepoi-sepoi. Dalam pantauan penulis, Huawei juga berkali-kali kurang cepat mengoreksi harga kala kompetitornya menurunkan harga.
Satu contoh baru ketidakberuntungan Huawei terjadi di Huawei Vision alias U8850. Keberadaan peranti bersistem operasi Android 2.3 alias Gingerbread itu jarang diketahui konsumen. Bahkan, sebagian pemilik gerai ponsel yang rutin menjual peranti Android pun belum mengenalnya.

Read the rest of this entry »
Ketika produsen peranti Android berlomba menawarkan ponsel dengan layar lebih lebar, Sony Ericsson menyodorkan alternatif yang bertolak belakang. Mereka menghadirkan Xperia ray yang dibekali layar sentuh berukuran “hanya” 3,3 inci.
Kalau dicermati, spesifikasi Xperia ray sebenarnya menyerupai Xperia arc yang lebih dulu beredar. Misalnya, prosesor 1 GHz, RAM 512 MB, kamera 8,1 megapiksel, dan memori internal 1 GB. Sekitar 300 MB di antara total memori internal leluasa dioptimalkan pengguna.

Read the rest of this entry »
Layar sentuh yang lebar memberikan beragam kenyamanan ekstra. Lebih enak digunakan untuk browsing, membaca komik, hingga menyaksikan video. Bagi penulis yang berjari tangan besar, layar sentuh yang lebar juga mempermudah penggunaan papan ketik qwerty virtual.
Hal itu telah penulis buktikan di HTC Sensation XE. Ponsel tersebut dibekali layar sentuh 4,3 inci beresolusi 540 x 960 piksel. Saat ponsel dalam posisi tegak alias vertikal pun, penulis tetap leluasa menggunakan papan ketik qwerty virtual. Apalagi, bila ponsel bersistem operasi Android 2.3 alias Gingerbread itu diposisikan horizontal. Sangat nyaman.

Read the rest of this entry »
Ada satu pesan utama yang senantiasa bakal penulis sampaikan kepada peminat ponsel ini. Silakan membeli Sony Ericsson Xperia Pro karena ponsel tersebut secara umum memang layak beli. Namun, pilihlah yang hitam atau merah. Hindari membeli Xperia Pro dengan bodi berwarna silver alias perak.
Mengapa? Sebab, Xperia Pro silver tidak senyaman yang hitam atau merah. Begini ceritanya. Ponsel Android 2.3 alias Gingerbread itu dibekali papan ketik fisik yang baru terlihat kala layar ponsel digeser. Qwerty keyboard tersebut nyaman dipakai, bahkan oleh pengguna berjari tangan besar.

Read the rest of this entry »
Memasuki pengujung tahun 2011, vendor ponsel merek global maupun lokal seolah kompak menawarkan ponsel dual on GSM-GSM dengan harga semakin murah. Tak sampai Rp 300 ribu untuk merek global dan kurang dari Rp 200 ribu untuk merek lokal.
Wajah Nokia 101 bakal mengingatkan pencinta ponsel dengan Nokia 1280 yang sampai saat ini masih tersedia di pasar. Kalau 1280 berlayar hitam putih, 101 telah dibekali layar TFT 65 ribu warna. Dua slot kartu SIM tersedia di bagian belakang ponsel itu. Sedangkan di sisi kanan bodi, terdapat slot microSD.

Read the rest of this entry »
Tampilan fisik seringkali menjadi pemikat awal bagi seseorang yang sedang mencari ponsel baru. Namun, kecantikan luar idealnya tidak dijadikan tolok ukur mutlak. Sebab, kecantikan luar kadang berbeda 180 derajat dengan kecantikan dalam alias inner beauty. Smartfren Xstre@m merupakan salah satu bukti nyata.
Penampakan Xstre@m alias E781A, menurut penulis, tidak istimewa. Jauh dari kesan cantik dan elegan. Keypad yang agak licin membuat jari-jari pengguna tak terlalu nyaman menari-nari di atas deretan tombol. Penutup baterainya polos dan cukup mudah meninggalkan bekas goresan.

Read the rest of this entry »