Saat mencoba beragam ponsel Android dual on dengan harga jual kurang dari Rp 700 ribu, penulis selalu gagal memperoleh kesan positif yang mendalam. Ada saja poin yang layak mendapatkan predikat menguji emosi. Karena itu, ketika akan mencicipi Smartfren Andromax C yang dibanderol Rp 649 ribu, penulis telah siap berlatih mengendalikan diri.

Tampilan muka ponsel yang aslinya bernama Hisense AD686G itu biasa saja. Tidak istimewa. Bagian belakangnya terkesan murahan. Plastik banget dengan lensa kamera ala ponsel murah meriah.

Andromax C-1

Layar sentuh Andromax C berukuran empat inci dengan resolusi 480 x 800 piksel. Ikon tersaji dengan cukup tajam. Tampilan warnanya relatif cemerlang. Huruf berukuran mungil di bawah setiap ikon terbaca dengan jelas. Tak terlihat ada gerigi yang mengusik pandangan mata. Layar TFT itu juga responsif terhadap sentuhan.

Satu-satunya kamera di ponsel setebal 11 mm itu berada di sisi belakang. Kamera tanpa fokus otomatis dan lampu kilat tersebut mampu menghasilkan foto beresolusi dua megapiksel. Kalau difungsikan sebagai perekam video, ia dapat memproduksi klip video VGA. Foto dan video yang dihasilkan belum layak disodori acungan jempol.

Satu nomor CDMA dan satu nomor GSM bisa siaga bersamaan di Andromax C. CDMA-nya harus Smartfren, sedangkan GSM-nya bebas mau operator apa saja. Tanpa kartu Smartfren terpasang, Andromax C berubah menjadi ponsel tanpa fungsi seluler. Sebab, kartu SIM GSM yang diselipkan otomatis takkan bisa mendapatkan sinyal.

Nomor CDMA yang terpasang di Andromax C dapat dipakai bertelepon, ber-SMS, maupun berinternet lewat jaringan EvDO Rev A maupun CDMA 2000-1x. Sementara itu, nomor GSM yang siaga hanya diizinkan bertelepon dan ber-SMS di jaringan 2G. Pengguna mustahil berinternet memakai nomor GSM.

Prosesor berinti ganda (dual core) Qualcomm MSM8625 1 GHz, Wi-Fi, bluetooth, GPS, dan radio FM adalah sebagian spesifikasi lain Andromax C. GPS di Andromax C tergolong cepat dalam mengunci lokasi, apalagi bila didukung akses data EvDO yang sedang lancar.

Memori ponsel itu terdiri atas RAM 512 MB, ROM 4 GB, plus selot microSD. Ketika ponsel belum diutak-atik, sebanyak 1,87 GB di antara 1,96 GB internal storage berstatus kosong. Pada saat bersamaan, phone storage yang tersedia masih utuh satu GB.

Andromax C-2

Sumber tenaga Andromax C berasal dari baterai lithium ion berkapasitas 1.420 mAh. Dengan perilaku pemakaian ala penulis, sekali diisi ulang, baterai itu mampu mendampingi selama 10-12 jam.

Kalau dirangkum, harga yang terjangkau dan respons yang relatif gegas menjadi sisi menarik ponsel bersistem operasi Android 4.0 Ice Cream Sandwich itu. Kemampuan dual on GSM-CDMA, meskipun CDMA-nya dikunci dan GSM-nya tak bisa berinternet, tetap boleh dijadikan kelebihan ekstra Andromax C.

Kamera yang kurang prima dan bodi belakang yang tampak murahan menjadi sisi minus ponsel tersebut. Cobaan terberat yang harus dialami pengguna Andromax C bukanlah performa ponsel yang buruk, melainkan kinerja layanan akses data Smartfren yang cenderung memburuk. Selama berhari-hari mencoba ponsel itu, penulis seolah diajak mawas diri. Slogan Smartfren bukan lagi “I Hate Slow”, melainkan “I Love Slow”.

Dengan mengabaikan kinerja layanan akses data Smartfren di atas, penulis menyimpulkan harga Andromax C tak sesuai dengan performanya. Terlalu murah, bukan terlalu mahal. Ponsel itu sebenarnya masih rasional dibanderol sampai Rp 799 ribu.

Bila kelak ternyata ada pihak tertentu yang sukses membuka pengunci selot kartu CDMA-nya, harga Andromax C layak ditingkatkan Rp 100 ribu lagi. Jutaan pengguna Flexi dan Esia saat ini mungkin sedang berdoa, berharap Andromax C berhasil di-unlocked. Hayo… Anda salah satunya ya!