Aldo Harus Rajin Belajar

Kata Aldo awalnya penulis ketahui sebagai nama orang. Penulis kemudian mengenal sepatu bermerek Aldo. Sekarang kata yang sama ternyata dipakai pula untuk merek ponsel lokal buatan Tiongkok.

Entah apa yang melatarbelakangi prinsipal ponsel itu memilih nama Aldo. Padahal, kata tersebut tidak “berbau” ponsel. Ia juga tidak mencerminkan sesuatu yang berhubungan dengan teknologi canggih.

Ya, inilah keunikan prinsipal ponsel merek lokal buatan Tiongkok. Pilihan mereknya kadang di luar dugaan. Beberapa tahun lalu, muncul ponsel bermerek Isis. Saat berkenalan dengan distributor merek itu, sambil bercanda penulis berkata, “Apakah ponsel ini dilengkapi kipas angin? Isis kan berarti sejuk. Cocok buat merek kipas angin.”

Sebelumnya beredar ponsel merek Micxon yang sampai sekarang masih bisa dijumpai di pusat penjualan ponsel. Konon Micxon adalah singkatan dari Michael is my son. Jadi, ceritanya, pemilik perusahaan itu memiliki anak bernama Michael. Ketika si bos sedang mencari inspirasi merek, tiba-tiba terlontar ide tersebut.

Pada tahap pertama tersedia dua tipe ponsel Aldo, 12G2 dan 16G2. Keduanya dual on GSM-GSM dan berbentuk candybar. Dibanderol Rp 179 ribu, 12G2 jelas membidik segmen konsumen terendah. Kelompok konsumen itu biasanya berprinsip “yang penting punya ponsel dual on“. Tak ada loyalitas merek. Kelengkapan fitur juga bukan menjadi prioritas.

Kapasitas buku telepon 12G2 hanya seratus nama single entry. Ia tak dapat dipakai berinternet. Radio FM, bluetooth, lampu senter, black list lima nomor, memori internal 27 kilobyte, dan slot microSD adalah sebagian fitur lain ponsel itu. Berbeda dengan mayoritas ponsel yang beredar di negara ini, 12G2 tidak dibekali fitur vibrate alias getar.

Di bagian belakang ponsel terdapat sebuah kamera tanpa autofocus maupun lampu kilat. Ukuran foto terbesar yang mampu dihasilkannya hanya 240 x 320 piksel atau setara dengan 0,08 megapiksel. Kamera itu bisa pula difungsikan sebagai perekam video.

Terlepas dari keterbatasan fitur, ada satu hal yang sangat memantik perhatian penulis. Kombinasi warna yang diterapkan di 12G2, menurut penulis, kurang tepat. Nama suatu fitur disajikan dengan huruf berwarna kuning menyala, sedangkan SMS tampil dengan warna hijau. Perpaduan yang sungguh tidak nyaman di mata. Saat melihat warna huruf-huruf di ponsel itu, penulis spontan teringat dengan Wordstar, aplikasi pengolah kata di komputer yang penulis pelajari 23 tahun silam.

Satu lagi, tombol pengunci dan silent 12G2 terbalik. Di keypad tanda # tercetak ikon gembok. Praktiknya, kalau tombol itu ditekan lama, ponsel tidak terkunci melainkan masuk ke mode silent. Hal bertolak belakang terjadi dengan keypad tanda * yang bersimbol ponsel bergetar. Tombol itu justru berfungsi sebagai pengunci ponsel.

Beralih ke Aldo 16G2. Tampilan fisik dan menu utamanya mengingatkan penulis dengan Nokia E75. Di sekeliling bodi terdapat lampu warna-warni yang bakal menyala saat ponsel memainkan musik atau menerima panggilan telepon/SMS.

Lampu senter, buku telepon 300 nama single entry, GPRS, kamera VGA, dan perekam video merupakan sebagian fitur 16G2. Tersedia pula radio FM dan bluetooth. Karena kapasitas memori internalnya hanya 45 kilobyte, pengguna idealnya menyelipkan kartu microSD ke slot yang tersedia.

Untuk mengisi ulang baterai ponsel yang dijual Rp 279 ribu itu, pengguna bisa menggunakan charger berkonektor micro USB maupun dua milimeter ala Nokia. Baterai bawaan 16G2 tertulis berkapasitas 1.500 mAh. Namun, penulis terus terang menyangsikan kebenarannya. Sebab, baterai itu tergolong tipis dan sangat ringan.

Aldo ibarat murid baru dalam sekolah perponselan Indonesia. Ia masih harus rajin belajar sehingga kelak naik kelas. Prinsipal Aldo tentu mengidamkan Aldo mampu eksis dan mencatatkan nilai penjualan yang menggembirakan, bukan? Ini dua PR perdana yang wajib dikerjakan Aldo: pelajari hal-hal kecil mengenai spesifikasi ponsel dan cermati akurasi penulisan informasi, baik di ponsel maupun kardus.

5 thoughts to “Aldo Harus Rajin Belajar”

    1. Pak Ari,

      He… he… kursus kilat ya. Saya sendiri belum pernah ke Tiongkok. Kata teman yang rutin ke sana untuk ukuran pekerjaan, harga segitu masuk akal kok. Di negara asalnya memang bisa dikulak dengan harga di bawah itu.

  1. China, taiwan, jepang, tiongkok, macau, tibet, hongkong itu beda beda bro. Yang paling terkenal china-jepang-hongkong bro. Kalo hp saya lebih menyukai buatan china di banding tiongkok bro. Buatan china soal nya mendunia

    1. Pak Vladinir Putin,

      Ehmm… apakah Anda saudaranya Pak Vladimir Putin?

      Boleh tahu perbedaan antara China dan Tiongkok itu apa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *