Andal tapi Kurang Dikenal

Biarpun sama-sama berasal dari Korea, jurus Samsung dan LG dalam mempromosikan ponsel terbarunya sangat bertolak belakang. Samsung gencar beriklan, sedangkan LG justru adem ayem. Akibatnya, keberadaan ponsel Samsung relatif dikenal. Pencitraan positif pun mengemuka. Sebaliknya, biarpun menarik dan tak kalah andal, produk LG tenggelam di pasar.

Mau contoh nyata? Tak perlu susah-susah mencari. Lihatlah LG P500 alias Optimus One. Di luar negeri ia menjadi ponsel LG terlaris. Dalam 40 hari, penjualannya secara global telah menembus satu juta unit. Ironisnya, di Indonesia, keberadaan ponsel itu bak angin sepoi-sepoi. Jangankan peminat awam, penggemar Android dan pemilik gerai ponsel pun banyak yang belum mengetahui kalau P500 telah beredar resmi di sini.

P500 merupakan ponsel Android ketiga LG yang beredar resmi di Indonesia. Sebelumnya telah muncul GW620 dan GT540. P500 hadir dengan layar sentuh kapasitif 3,2 inci. Resolusinya 320 x 480 piksel dan mampu menyajikan hingga 256 ribu warna. Layar itu terpasang di bodi yang pengerjaan akhirnya relatif rapi. Permukaannya rubberized, serupa dengan permukaan hard case merek Seidio untuk peranti BlackBerry, sehingga tidak licin kala digenggam.

Mendukung konektivitas Wi-Fi, bluetooth, dan HSDPA 7,2 Mbps adalah sebagian fitur P500. Peranti Android berprosesor 600 MHz itu juga dibekali dengan A-GPS, radio FM, aplikasi pengolah dokumen, dan kamera 3,2 megapiksel. Kamera tersebut mempunyai fitur autofocus, tetapi tanpa lampu kilat. Meskipun demikian, ia tetap mampu menghasilkan foto dengan cukup prima.

Tersedianya App Advisor sangat membantu pengguna yang baru kali bertama bersentuhan dengan Android lewat P500. Dengan mengakses App Advisor, pengguna akan memperoleh sederet daftar aplikasi tambahan yang direkomendasikan oleh LG. Pilih yang dirasa cocok, kemudian instalasikan dan nikmatilah.

Saat ini P500 dibanderol Rp 2,499 juta. Bagi pengidam peranti Android dengan anggaran Rp 2 jutaan, peranti berdimensi fisik 113,5 x 59 x 13,3 mm dan berat 129 gram itu pantas dipertimbangkan. Kinerjanya relatif prima.

P500 yang menggunakan baterai lithium 1.500 mAh tersebut juga termasuk hemat baterai. Dengan perilaku ala penulis, satu kali diisi ulang baterai P500 mampu bertahan sampai 1,5 hari. Padahal, baterai aneka peranti Android yang pernah penulis gunakan kebanyakan hanya sanggup mendampingi selama satu hari.

Sisi minus utama P500 bukan terletak di perantinya, melainkan di pembungkus ponsel itu. Kardus peranti tersebut terkesan ala kadarnya. Tampilannya tak lebih baik daripada kardus ponsel merek global berharga jual Rp 200 ribuan hingga Rp 300 ribuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *