Beda Promo, Beda Nasib

Kalau Samsung menyasar pemburu android murah meriah dengan Galaxy Mini, kompatriotnya tak mau kalah. LG menyodorkan Optimus Me yang harga pasarnya kini Rp 1,42 juta atau sekitar Rp 100 ribu lebih murah daripada Galaxy Mini. Isi paket penjualannya pun lebih komplet, menyertakan kabel data.

Dalam hal tampilan fisik, menurut penulis, Optimus Me kalah menawan dibandingkan Galaxy Mini. Sisi belakang Optimus Me yang polos terasa hambar, tak seperti sisi belakang Galaxy Mini yang dipercantik dengan guratan-guratan.

Beralih ke layar. Tampilan huruf dan gambar di layar sentuh kapasitif 2,8 inci Optimus Me terlihat lebih halus daripada layar 3,14 inci Galaxy Mini. Layar sepasang peranti bersistem android 2.2 alias froyo itu sama-sama beresolusi 320 x 240 piksel. Keduanya responsif dan mendukung multitouch. Pengguna, contohnya, bisa mencubit layar untuk mengatur perbesaran tampilan foto.

Di sisi belakang Optimus Me, terdapat kamera tiga megapiksel tanpa autofocus maupun lampu kilat. Bila difungsikan sebagai perekam video, ia sanggup memproduksi video klip beresolusi 640 x 480 piksel. Hal itu berarti lebih besar daripada kamera Galaxy Mini yang cuma mampu menghasilkan video beresolusi maksimal 320 x 240 piksel.

Radio FM, bluetooth, wifi, GPS, slot micro SD, dan RAM 256 MB adalah sebagian spesifikasi lain Optimus Me. Usai diformat, kapasitas memori tersisa yang dapat dioptimalkan pengguna sebanyak 159 MB. Aplikasi ThinkFree Office berlisensi yang disertakan dapat digunakan untuk membuat, menyunting, maupun membaca file dokumen yang kompatibel dengan Microsoft Office.

Asalkan ditunjang layanan operator, pengguna peranti bernama lain LG P350 itu bisa menikmati layanan HSDPA yang lebih cepat ketimbang 3G. Konektor micro USB digunakan sebagai penghubung charger dan kabel data. Sebuah konektor audio 3,5 mm di bagian atas ponsel siap dipadukan dengan handsfree berkabel.

Dengan memperhatikan harga, spesifikasi, dan kinerjanya, Optimus Me seharusnya mampu mengimbangi penjualan Galaxy Mini. Peranti berdimensi fisik 108 x 57,5 x 12,2 mm dan berat 108 gram itu pantas dilirik oleh peminat android murah meriah.

Kalau penjualan Optimus Me ternyata relatif adem ayem, kondisi itu tampaknya dipicu oleh perbedaan kekuatan merek dan intensitas promosi. Berbeda dengan Samsung yang ibarat memiliki “ayam bertelur emas” untuk membiayai pemasangan media luar ruang dan iklan di media massa, LG seolah berprinsip “diam adalah emas”.

Padahal, bila merujuk pada prinsip AIDA yang penulis dengar saat kuliah, konsumen takkan tiba-tiba melakukan action pembelian. Mereka harus dibuat aware, interest, dan desire dulu. Kalau tidak aware, bagaimana mungkin bisa action? Ya, perbedaan kuantitas promosi sekali lagi terbukti mampu membuat nasib produk berbeda 180 derajat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *