Berburu Sinyal di Labuan Bajo

Kamis, 21 Juni 2012 sekitar pukul 10.00 pagi. Yamaha Alfa II R yang saya tumpangi sedang menyusuri Jalan Raya Kertajaya Indah, Surabaya. Nokia Asha 302 yang terselip di saku celana berbunyi. Saya menepikan motor, lalu menerima panggilan telepon.

Si penelepon mengajak saya terbang ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, untuk melakukan survei pra-acara yang bakal digelar seminggu berikutnya. “Kita berangkat Sabtu, pulang Minggu,” ujarnya. Saya langsung mengiyakan. Masih ada cukup waktu bagi saya untuk menjadwalkan ulang satu pertemuan pada Sabtu sore menjadi lebih awal: hari itu atau Jumat.

EMPAT PENERBANGAN, EMPAT MASKAPAI

Tidak ada penerbangan langsung (direct flight) dari Surabaya ke Labuan Bajo. Saya harus transit di Denpasar dulu. Berarti, ada empat penerbangan yang akan saya tumpangi. Karena sedang musim liburan, mencari tiket penerbangan tak semudah membalikkan telapak tangan.

Akhirnya tiket berhasil didapatkan. Empat penerbangan saya jalani dengan empat maskapai berbeda. Rute Surabaya-Denpasar dengan penerbangan Air Asia 23 Juni 2012 pukul 05.40. Berikutnya, menumpang Sky Aviation rute Denpasar-Labuan Bajo yang dijadwalkan terbang pukul 10.00.

Perjalanan pulang pada keesokan harinya menggunakan maskapai penerbangan yang berbeda total. Pukul 11.10 mengangkasa dari Labuan Bajo ke Denpasar dengan Merpati. Pada 5 jam 15 menit berikutnya melanjutkan perjalanan ke Surabaya dengan Wings Air.

Tiket dari Denpasar ke Labuan Bajo ternyata tergolong mahal. Dengan asumsi sama-sama bukan menumpang Garuda Indonesia, harga tiket Denpasar-Labuan Bajo sekali jalan lebih mahal daripada harga tiket Surabaya-Jakarta pulang pergi. Hal itu mungkin terjadi karena sedang peak season. Mungkin pula lantaran pemain di jalur tersebut belum banyak dan tak bisa menggunakan pesawat berbadan besar.

LEBIH MUDA PESAWAT ATAU PRAMUGARINYA?

Terlambat sekitar 20 menit daripada jadwal, para penumpang Sky Aviation SY750 dipersilakan naik pesawat melalui pintu 18 di Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar. Ini merupakan pengalaman pertama saya menggunakan jasa Sky Aviation.

Sebuah pesawat Fokker 50 telah menanti para penumpang. Pintu masuk hanya satu buah dan berada di bagian depan pesawat.

Pesawat berbaling-baling yang siap menerbangkan saya itu resmi bergabung dalam armada Sky Aviation pada Januari tahun ini. Pesawat buatan 1992 tersebut kali pertama dioperasikan oleh Lufthansa Cityline, Jerman. Ia lalu sempat digunakan oleh maskapai di Brazil dan Belanda, sebelum akhirnya berlabuh ke Indonesia.

Karena pernah dioperasikan di negara dengan bahasa utama bukan bahasa Inggris, masih tersisa tulisan non-Inggris di pesawat. Misalnya, lampu yang menginformasikan terpakai tidaknya toilet.

Lavabos ocupado. Bila lampu menyala dan menerangi tulisan itu, jangan coba-coba membuka pintu satu-satunya toilet di pesawat Fokker 50 tersebut. Pasti ada penghuninya.

Ini suasana kabin penumpang pesawat yang saya tumpangi.

Pemandangan dari jendela pesawat.

Dilarang memakai aneka peranti elektronik. Perhatikan perangkat yang berada di bagian kiri bawah. Tertulis “M7/With CD Room”. Hmm… perangkat apa ya itu? Maksudnya CD ROM atau CD Room nih?

Perjalanan dari Denpasar ke Labuan Bajo ditempuh dalam 1 jam 30 menit. Selama penerbangan, hanya ada dua pramugari yang bertugas. Satu berwajah semi-oriental dan belakangan saya ketahui bernama Meifan. Kok tahu? Kebetulan menjelang meninggalkan pesawat, saya sempat membaca label nama yang tersemat. Satu pramugari lagi, entah siapakah namanya, memiliki tatapan mata sayu. Namun, gerakan tubuh dan caranya berbicara tergolong tegas.

Saya tak mengetahui usia pasti dua pramugari itu. Dugaan saya, usia Meifan bersaing dengan usia Fokker yang saya tumpangi. Yakni, 20-an tahun. Mana yang lebih muda? Kalau kebetulan ada rekan yang kelak berjumpa dengannya, silakan ditanyakan deh. Satu pramugari lain, saya perkirakan berumur beberapa tahun lebih tua daripada Meifan.

Pesawat yang saya tumpangi saat mendarat di Labuan Bajo.

Teknisi ini bukan sedang bermain baling-baling bambu Doraemon, melainkan mengecek baling-baling pesawat. Ia ingin memastikan segalanya normal sehingga siap mengangkut penumpang dalam penerbangan berikutnya.

Penuh atau Hilang Penuh

Dalam perjalanan Surabaya–Denpasar–Labuan Bajo pulang pergi, saya hanya membawa dua ponsel. Tiga kartu SIM diselipkan ke dalamnya: Telkomsel, Indosat, dan XL. Saya tidak membawa ponsel maupun kartu operator lain karena enggan mengantongi banyak gadget selama bepergian. Tiga besar operator GSM saya anggap sudah memadai.

Laptop yang biasanya saya bawa pun kali ini sengaja ditinggal. Ada dua alasan yang melatarbelakanginya. Pertama, kebetulan tak ada pekerjaan mendesak yang harus saya kerjakan pada Sabtu dan Minggu lalu. Sebenarnya ada satu tugas yang mesti beres paling lambat Minggu sore. Namun, saya sudah berhasil menuntaskannya pada Jumat tengah malam.

Kedua, saya mengetahui bakal bersentuhan dengan pesawat kecil berkapasitas maksimal 50-an penumpang. Overhead baggage pesawat seperti itu biasanya terbatas. Kabin di atas kepala takkan sanggup menampung tas troli terkecil milik saya. Pengalaman selama ini, ransel yang sehari-hari saya gunakan beraktivitas pun harus diletakkan melintang.

Kali ini saya juga sedang malas menanti bagasi keluar. Sebab, saya akan menumpang Air Asia dan Wings Air. Sama dengan Lion Air dan Batavia Air, karakteristik penumpang dua maskapai itu saya anggap kurang tertib. Malas deh berjubel dan berebut di tempat pengambilan bagasi. Jadi, saya telah mencanangkan tekad bahwa seluruh barang bawaan harus bisa ditampung di sebuah ransel.

Sesaat usai menjejakkan kaki di terminal kedatangan Bandara Komodo, Labuan Bajo, saya bergegas mengaktifkan dua ponsel. Sinyal Telkomsel muncul penuh. Demikian pula dengan sinyal Indosat. Pada saat bersamaan, sinyal XL hilang penuh. Satu bar pun tak ada.

Berjam-jam kemudian masuk sebuah informasi ke akun Twitter @herrysw milik saya. Pemilik akun @cak_piko itu memberitahu bila di Flores memang hanya ada sinyal Telkomsel dan XL.

Cak Piko adalah teman kuliah beda angkatan dan beda jurusan sekaligus mantan rekan sekantor. Ia lantas bekerja di sebuah instansi pemerintah. Daerah tugasnya berpindah-pindah. Saat ini, satu di antara 1.370 follower akun Twitter saya itu sedang berdinas di Mataram.

Selama berada di Labuan Bajo, saya berkali-kali mencermati sinyal operator yang bawa. XL tak satu kali pun mendapatkan sinyal. Sedangkan sinyal Telkomsel dan Indosat tersedia. Sinyal sesekali mengalami pasang surut. Di dekat Paradise, kafe yang konon paling terkenal di Labuan Bajo, sinyal Indosat sempat hilang total.

Bila dicermati, ponsel saya sukses mendeteksi sinyal 2G maupun 3G Telkomsel. Hal serupa tak terjadi dengan Indosat. Hanya sinyal 2G yang tertangkap. Entah hal itu kebetulan atau jaringan 3G Indosat memang belum mengepakkan sayap ke Labuan Bajo.

6 thoughts to “Berburu Sinyal di Labuan Bajo”

  1. manteb om.. bearti sekarang pakenya nokia yah om untuk daily use nya ? om apakah pake blackberry ?

  2. Pak Leo,

    Kebetulan waktu itu bawa Nokia semua. Biar cukup bawa satu charger. Saya tidak memakai BlackBerry.

  3. Wahh Indosat n XL nomerku memble yahh,, mau ke Bajo bulan Mei..
    Oia,, kalo mau liat gunung rinjani duduk sebelah kanan atau kiri ya dipesawatnya? rencana pake sky juga nihh

    1. Pak Trayo,

      Saya tak tahu kondisi terkini sinyal operator di Labuan Bajo seperti apa.

      Wah, saya kurang tahu harus duduk di kiri atau kanan kalau ingin melihat Rinjani. Tak lama setelah pesawat mengudara, seingat saya, dulu saya sudah tertidur.

  4. Selama trip saya di Labuan Bajo, 6 hari 5 malam, sinyal xl sama sekali nihil, saya pelanggan pascabayar telkomsel kartu halo dan pascabayar xl prioritas, dan hanya kartu halo yg punyal sinyal 4G, xl totally useless disini. Trip saya pada tanggal 19 Januari – 25 Januari 2017. Sepertinya di labuan bajo mmg suda di monopoli tower operator oleh telkomsel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *