Bisa Jadi Remote Televisi

Bahwa Sony menghadirkan tablet Android, penulis sudah mengetahuinya. Namun, kesempatan untuk mencobanya belum tiba. Sampai suatu siang, penulis bercakap-cakap via telepon dengan seorang teman. “Oh ya, aku ada tablet Sony. Kalau mau, boleh dipinjam. Mampir saja,” kata teman penulis.

Pasti Anda mengetahui kalau penulis takkan menampik tawaran seperti itu. Beberapa hari kemudian, tablet yang bernama lengkap Sony Tablet S itu telah berpindah tangan. Kali pertama mengeluarkannya dari kardus, penulis melihat kalau ketebalan tablet itu tidak rata. Salah satu bagian tampak lebih tebal daripada bagian lain. “Hmm… aneh,” gumam penulis dalam hati.

Uji pakai dimulai. Rasa aneh dan janggal yang sempat menerpa berangsur-angsur berubah menjadi decak kagum. Kala diletakkan di meja, tampilan di layar Tablet S tetap mudah dilihat. Sebab, bagian tablet yang lebih tebal akan membentuk sudut empat derajat. Tablet sedikit terangkat ke atas sehingga penulis bisa memandang layar dengan lebih nyaman.

Bagian yang lebih tebal itu juga memberikan kenyamanan ekstra saat penulis memegang tablet tersebut dengan satu tangan. Tangan penulis relatif tidak cepat merasa lelah. Kok bisa? Rupanya desainer Sony dengan sangat cermat telah memperhitungkan unsur ergonomis dan titik gravitasi dalam rancang bangun Tablet S.

Kalau Anda penasaran dengan “benjolan” atau bagian yang lebih tebal di Tablet S, kunjungi saja pusat penjualan elektronik terdekat di kota Anda. Lebih baik Anda singgah di gerai yang menawarkan aneka peranti tablet. Cobalah memegang Tablet S selama 2-3 menit, kemudian beralihlah ke Samsung Galaxy Tab, Apple iPad, atau tablet lain. Sensasi genggaman yang Anda rasakan pasti akan berbeda. Berikutnya, letakkan beberapa tablet berbeda di bidang datar. Pandanglah layar tablet-tablet tersebut. Manakah yang lebih mudah dilihat?

Tablet S berlayar sentuh 9,4 inci dengan resolusi 1.280 x 800 piksel. Huruf, ikon, dan foto tersaji dengan relatif tajam dan cemerlang di layar. Kalau dicermati, saat tablet dipegang dalam posisi horizontal, di atas layar terdapat sebuah kamera. Kamera tanpa autofocus dan lampu kilat itu beresolusi VGA. Ia dapat digunakan untuk memotret maupun melakukan perekaman video.

Kamera utama Tablet S terletak di sisi belakang. Kamera autofocus yang tidak dibekali lampu kilat itu mampu menghasilkan foto berukuran 2.592 x 1.944 piksel atau setara dengan lima megapiksel. Foto yang diproduksi pantas dikategorikan bagus. Kalau mau, pengguna juga bisa memfungsikan kamera tersebut sebagai perekam video.

Gadget yang menggunakan prosesor dual core 1 GHz itu berdimensi fisik 24,12 x 17,43 cm dan berat 598 gram. Sedangkan tebalnya antara 1,01 cm dan 2,06 cm. Awalnya, Tablet S menggunakan sistem operasi Android 3.2 alias Honeycomb. Secara bertahap tersedia update ke Android 4.0 alias Ice Cream Sandwich (ICS). Tablet yang penulis gunakan, misalnya, mendapatkan notifikasi update ke ICS pada 13 Mei 2012. Sehari sebelumnya, ketika penulis mencoba melakukan pembaruan lewat menu system update, muncul pesan bila belum ada update yang tersedia.

Kalau Sony Ericsson Xperia Play merupakan smartphone pertama yang memperoleh sertifikasi PlayStation, Tablet S menjadi tablet pertama yang mendapatkan sertifikasi serupa. Sejak dikeluarkan dari kardus, dua game PlayStation telah dibenamkan ke tablet itu. Yakni, Crash Bandicoot dan Pinball Heroes. Namun, keduanya tak bisa langsung dimainkan. Pengguna mesti mengunduh data tambahan berukuran ratusan megabyte dulu.

Menurut penulis, sisi paling menarik Tablet S adalah kemampuannya difungsikan sebagai remote control. Ada beragam perangkat yang dapat dikendalikan oleh Tablet S. Di antaranya, televisi, cable box, pemutar DVD, pemutar blu-ray, home theater, dan iPod dock.

Perangkat yang akan dikendalikan tak harus bermerek Sony. Di Tablet S telah tersedia database aneka merek. Tak sedikit di antaranya yang relatif asing di telinga konsumen Indonesia. Misalnya, ART, Alien, Apollo, Brionvega, Carrefour, Decca, Easy Living, Fisher, dan Hauppauge.

Penulis iseng mengoperasikan sebuah televisi LG memakai Tablet S. Hasilnya, penulis sukses membuat bingung sang penonton televisi. “Lho, ini televisinya kok masih menyala. Perasaan tadi sudah saya matikan. Sekarang channel-nya malahan bisa pindah-pindah sendiri,” ujar seseorang yang sedang ingin menonton tayangan tertentu di televisi LG itu.

Wi-Fi, GPS, bluetooth, slot kartu SD (bukan microSD), dan RAM 1 GB merupakan sebagian spesifikasi lain Tablet S. Tablet itu tersedia dalam dua varian memori internal. Yaitu, berkapasitas 16 GB yang dijual Rp 4.599.000 dan 32 GB yang dibanderol Rp 5.099.000.

Unit yang penulis gunakan merupakan varian 16 GB. Ketika masih dalam kondisi segar, pembagian memorinya terdiri atas internal storage (USB storage) 8,92 GB dan internal storage 3,94 GB. Sebanyak 131 MB pada internal storage kedua telah terpakai untuk aplikasi.

Penggunaan konektor charger proprietary, bukan konektor universal seperti micro USB, menjadi salah satu pengurang daya tarik Tablet S. Ia juga tak dibekali slot kartu SIM atau kartu RUIM. Dengan demikian, untuk berinternet pengguna harus mengandalkan ketersediaan Wi-Fi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *