Empat Ponsel Raib Bersamaan

Hari ini, 17 Februari 2011 sekitar pukul 15.00, saya telah kehilangan berbagai item di bawah ini. Lokasi kejadian diduga keras di Cafe Flexi, WTC lantai 1 Galeria, Surabaya.

1. Ponsel dual on GSM-GSM Vitell V333 warna merah muda kombinasi putih.

Nomor IMEI 1: 353813022174691.

Nomor IMEI 2: 353813022174709.

2. Ponsel dual on GSM-GSM Elzio Metalllica warna abu-abu kehitaman (di kardusnya sih dibilang hitam metalik). Nomor IMEI 355329030163343.

3. Ponsel dual on GSM-GSM HT Mobile A10 warna putih. Nomor IMEI 350810120112675.

4. Ponsel dual on GSM-GSM Extreme X7 warna hitam. Nomor IMEI 358601230044417.

5. Nomor XL Prabayar 0818 120 350.

6. Nomor Axis Prabayar 0838 3029 9900.

7. Beberapa nomor lain Telkomsel, Tri, Axis, dan XL lain. Nomor lengkap masih saya tinjau silang dengan aneka kartu yang terpasang maupun tersimpan. Nomor-nomor itu tidak pernah saya publikasikan. Jumlah total kartu juga masih dihitung. Risiko punya banyak nomor nih. 🙂

8. Tas alias gadget pouch warna hijau yang memiliki slot untuk menyimpan lima ponsel sekaligus.

Terkait kehilangan itu:

  • Bila rekan-rekan kebetulan menjumpai ada orang yang memakai ponsel dengan ciri-ciri di atas, tolong beritahu si pengguna kalau kelengkapan ponselnya masih ada di saya. Mintalah ia menghubungi saya. Ntar kelengkapannya akan saya berikan. Gratis. Tak usah khawatir bakal saya smack down atau dilaporkan ke kepolisian. He… he… he…. Saya jamin pengguna tersebut, entah dia si pencuri atau pembeli yang tidak mengetahui asal muasal ponsel tersebut, takkan saya perkarakan.
  • Kalau rekan-rekan dihubungi oleh orang tak dikenal dengan nomor ponsel berakhiran 9900, lalu ia meminta rekan-rekan mentransfer dana atau sejenisnya, harap berhati-hati. Silakan konfirmasi dulu kepada saya. Pemblokiran nomor segera diproses. Namun, selama proses berlangsung, bisa saja kan ada yang menyalahgunakan nomor milik saya.

Kok bisa hilang empat ponsel sekaligus? Bagaimana ceritanya?

Pertanyaan itu banyak menghampiri saya, sesaat setelah saya menyebarkan berita kehilangan dan peringatan tentang kemungkinan penyalahgunaan nomor tersebut. Saya coba ceritakan kronologisnya ya.

Tadi sekitar pukul 13.00 saya tiba di WTC Surabaya. Tujuan pertama adalah gudang sebuah master dealer ponsel. Saya mampir ke sana untuk mengembalikan ponsel LG C320i yang baru tuntas diuji pakai. Berikutnya, saya berencana makan siang. Dalam perjalanan ke lantai 1, langkah kaki saya terhenti oleh lambaian tangan seorang pemilik kafe. Pemilik kafe itu sedang duduk bersama salah satu manajer WTC dan reporter Phone Plus sebuah harian terkemuka asal Surabaya.

Manajer WTC tersebut terlihat membawa tas mungil yang mampu menampung tiga ponsel sekaligus. “Yang bisa memuat lima ponsel juga sudah ada, Bu,” tukas saya seraya mengeluarkan tas kecil berlogo Android. Seperti inilah tampilan tasnya:

Bagian dalamnya seperti ini:

Sang manajer dan pemilik kafe sempat mengamati tas tersebut. Kemudian, tas dikembalikan kepada saya dan langsung saya masukkan ke dalam ransel.

Saya lalu berjalan ke Cafe Flexi di lantai 1. Saat itu menjelang pukul 13.30. Saya memilih meja yang berada di dekat colokan listrik. Untuk mengetahui posisi duduk saya, bayangkan sebuah jam dinding yang bundar. Sebuah meja berada tepat di tengah-tengah jam dinding. Sedangkan di angka 3, 6, 9, dan 12 masing-masing tersedia sebuah kursi plastik. Saya duduk di kursi angka 6. Di bagian belakang kaki kanan saya, ketika saya duduk, ada satu colokan listrik.

Saya memesan nasi rawon dan lemon tea dengan sedikit es. Eh… seorang pramusaji juga mengantarkan welcome drink gratis berupa secangkir wedang jahe.

Tuntas makan siang, saya mulai bekerja. Laptop saya letakkan di meja. Adaptor terhubung ke colokan listrik. Sebuah modem menancap erat di kiri laptop. Ransel berada di lantai, sekitar 20 cm dari kaki kanan saya. Saya tak ingat retsleting ransel dalam posisi tertutup atau terbuka. Di kantong muka ransel itu tersimpan satu USB flash disk, satu modem USB, colokan listrik model T, key BCA, dompet kartu nama, dan kotak kecil. Kotak kecil tersebut berisi lima kartu SIM, dua kartu RUIM, dua microSD, dan satu adapter microSD-to-SD card.

Sementara itu, di kantong belakang ransel tersimpan ponsel qwerty dual on GSM-GSM CSL Blueberry 5800 dan Elzio @Venture yang saya sebut Nokia N8 jadi-jadian. Keduanya full set alias komplet sesuai dengan paket penjualan. Ada pula Nokia 1202 yang difungsikan sebagai ponsel penyambung nyawa kala ponsel utama saya kehabisan baterai. Masih di kantong yang sama, terdapat tas kecil berlogo Android yang telah saya singgung di bagian awal tulisan ini. Di dalam tas itu ada ponsel Vitell V333, Elzio Metallica, Extreme X7, dan HT Mobile A10. Seluruhnya candy bar dan dual on GSM-GSM.

Beginilah salah satu pose kuartet ponsel tersebut, ketika menjalani sesi pemotretan pada hari ini menjelang pukul 11.00.

Mau melihat kardus ponselnya? Boleh…

Arloji, BlackBerry Onyx, dan BlackBerry 9300 alias Keppler saya letakkan di kursi kiri. Kalau pakai patokan jam dinding, tiga item itu berada di kursi angka 9. Saya masih setia duduk di kursi angka 6. Sementara itu, kursi angka 3 dan 12 kosong.

Sekitar pukul 15.00, seorang wanita berjalan mendekat. Ia mengenakan pakaian berwarna hijau. Rambutnya panjang tergerai. Tinggi badannya sekitar 165 cm. “Kursi ini kosong ya?” tanyanya. “Kosong,” jawab saya. Sepintas wajahnya terlihat berjerawat. Ada beberapa scar alias parut yang menghiasi.

Ia duduk di kursi angka 9. Tak sampai satu menit, ia berdiri dan meninggalkan tempat karena dihampiri oleh seorang cowok.

Saya masih asyik melanjutkan pekerjaan. Ratusan email saya tuntaskan. Menjelang pukul 16.00, saya meminta bill.

Ketika saya usai bekerja dan akan memasukkan laptop, apakah ransel dalam kondisi terbuka? Entahlah. Saya tak ingat saat itu ransel terbuka atau masih tertutup.

Saya meninggalkan Cafe Flexi, menuju sebuah gerai untuk mengembalikan pinjaman ponsel Elzio @Venture. Berikutnya, berpindah ke sebuah gudang karena harus mengembalikan ponsel CSL Blueberry 5800. Saatnya pulang nih. Saat hendak menuju tempat parkir, kebetulan saya melihat manajer sebuah ponsel merek lokal. Mampir sebentar deh. “Ada tipe baru yang barusan datang nih. Saya sendiri belum melihatnya,” tukasnya sambil mengambil sebuah kardus.

Saya spontan merespons, “Nanti dulu deh. Lha yang ‘Anu’ saja belum selesai dicoba.” Secara refleks saya membuka ransel, hendak mengeluarkan ponsel-ponsel yang akan saya review bersamaan dengan ‘Anu’.

Lho, tas Android saya kok nggak ada? Saya terperanjat. Singkat cerita, ternyata empat ponsel yang tersimpan di tas Android itu telah lenyap tanpa saya ketahui.

Dari hasil penelusuran dan merangkai kepingan-kepingan ingatan, diduga keras kehilangan terjadi di Cafe Flexy. Saya tidak berani memastikan siapa pelakunya. Namun, kalau merujuk pada kronologis yang terjadi, tampaknya si wanita berbaju hijau yang mendadak duduk di kursi itu layak disebut sebagai tersangka utama.

Sudah mencoba menghubungi nomor-nomor yang terpasang di ponsel itu? Hanya dua nomor yang saya ingat dan pastikan terpasang di ponsel-ponsel yang raib tersebut. Keduanya dalam kondisi mati. Wajar sih. Apalagi, ketika empat ponsel tersebut hilang, semua ponsel dalam kondisi sengaja tidak aktif.

Biarpun sempat geram, saya telah merelakan lenyapnya empat ponsel itu. Kalau pun saya menyebarkan berita kehilangan itu, alasannya karena saya tak ingin nomor yang terpasang disalahgunakan dan rekan-rekan menjadi korban. Jadi, kalau sampai ada rekan yang dihubungi oleh nomor berakhiran 9900, lalu diminta melakukan transfer atau sejenisnya, abaikan saja deh. Boleh pula konfirmasi dulu ke saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *