Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan saat mendengar kata Madura? Sate. Soto. Bebek Sinjay. Jembatan Suramadu. Karapan sapi. Semuanya benar. Namun, Madura sebenarnya bukan hanya memiliki hal-hal tersebut. Ada beragam tempat wisata menarik di Pulau Garam itu. Ada pula berbagai kuliner menarik yang layak dicicipi.

Berawal dari sebuah pemikiran spontan, 12-13 April 2017 penulis alias HSW berkelana ke Madura. Huawei P9 dijadikan kamera utama. HSW juga membawa satu ponsel premium lain. Kata kuncinya, apel kroak.

Seluruh foto yang diunggah di halaman ini dijepret memakai P9. Agar ukuran file tidak terlalu besar, setiap foto telah mengalami resize dan kompresi 80%. Tidak ada olah digital lain yang dilakukan. Perkecualian berlaku untuk satu foto yang berada di posisi teratas. Foto dandang itu sudah menjalani cropping sehingga gambar yang awalnya dalam posisi lansekap (horizontal) berubah menjadi portrait (vertikal).

Untuk mengetahui lokasi penjual makanan atau tempat wisata, kliklah nama makanan/tempat yang tertulis dengan warna biru. Koordinat lokasi akan diketahui dan disajikan via Google Maps.

***

Pukul 10.00 mobil yang disewa HSW mulai melaju meninggalkan Surabaya. Sekitar setengah jam usai Jembatan Suramadu dan Bebek Sinjay, di sisi kiri jalan terlihat warung sederhana bertuliskan Rujak Soto. Mobil yang terlanjur melewati warung dihentikan lalu berputar balik.

Ada dua menu yang tersedia di warung itu: rujak soto dan rujak. Keduanya dipesan. Sepiring rujak soto dibanderol Rp 15.000. Sementara itu, rujak cukup “ditebus” Rp 7.000. Kata seorang teman, harga pasaran dua makanan khas Bangkalan tersebut seharusnya tak setinggi itu.

 

Air Terjun Toroan di Sampang menjadi tempat wisata pertama yang dikunjungi. Air terjun itu tergolong unik karena berbatasan langsung dengan laut. Pengunjung cukup membayar biaya parkir kendaraan bermotor. Mobil dikenakan Rp 10.000, sedangkan sepeda motor Rp 5.000. Tak ada tiket masuk yang dihitung per orang.

Sekitar pukul 14.30 HSW meninggalkan Air Terjun Toroan. Keluar dari lokasi air terjun, mobil berbelok kiri kemudian melaju mengikuti jalan beraspal yang mulus. Baru beberapa menit, di sisi kanan jalan terlihat bukit kapur yang masih aktif ditambang. HSW spontan memutuskan berhenti sejenak.

Dengan memakai bahasa Madura, teman HSW yang sekaligus menjadi pendamping dan pengemudi mobil sewaan meminta izin pemotretan. “Lampu hijau” didapatkan. Berbagai sudut bukit kapur tanpa nama itu menjadi sasaran jepretan kamera ponsel.

Berbincang tentang bukit kapur, di Bangkalan Madura sebenarnya ada Bukit Kapur Jaddih yang sedang naik daun. Lokasi itu dikenal indah dan sangat instagrammable. Awalnya HSW berencana ke sana. Namun, niat itu diurungkan karena tempat wisata tersebut ternyata rawan begal. Beragam informasi pendukung secara mudah dapat ditemukan via Google.

Beberapa orang memberikan saran senada kepada HSW. “Saya yang asli Madura pun pikir-pikir kalau mau ke sana,” kata salah satu di antara mereka. Kalau tetap ingin mengunjungi bukit kapur, mereka mengusulkan Bukit Kapur Batu Putih alias Bukit Kapur Badur di Sumenep.

HSW menyetujuinya. Bukit kapur itu dimasukkan ke agenda kunjungan. Praktiknya, karena di perjalanan tak sengaja menjumpai bukit kapur tanpa nama, HSW batal mampir ke Bukit Kapur Batu Putih.

Perjalanan dilanjutkan. Targetnya, sebelum maghrib harus sudah tiba di Api Tak Kunjung Padam, Pamekasan. Kala melewati sebuah jembatan dan melihat ada deretan perahu nelayan, mobil bergegas dihentikan di depan bangunan yang sepertinya akan difungsikan sebagai lapangan futsal indoor.

Arloji Casio di pergelangan tangan kiri HSW menunjukkan pukul 16.58, ketika mobil sewaan berhenti di area parkir tempat wisata Api Tak Kunjung Padam. Dinamakan demikian karena di lokasi itu terdapat api abadi yang terus menyala. “Hujan pun tidak mati. Paling hanya mlethik-mlethik (mirip percikan kembang api),” kata seorang pria berjaket yang tampaknya sudah berkali-kali mampir ke sana.

Apakah nyala api takkan merambat liar ke mana-mana? Jawabannya, tidak. Api hanya menyala di dalam area yang dikelilingi pagar besi dan sekitar setengah meter di sisi luarnya. Bila pengunjung menggali tanah di area tersebut, api akan menyembur. Hal serupa takkan terjadi bila yang digali tanah di luar area berpagar.

HSW iseng membeli dua batang jagung manis. Dalam hitungan menit, jadilah jagung bakar yang siap disantap. Lezat! Panasnya terasa lebih merata daripada bila jagung dibakar di atas bara arang.

Api alam yang setara dengan nyala kompor itu rutin dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk memasak. Ada yang merebus air, ada pula yang membakar ikan.

Matahari telah kembali ke peraduan ketika HSW meninggalkan Api Tak Kunjung Padam menuju alun-alun kota Sumenep. Waktu makan malam telah tiba. Tepat pukul 19.00 mobil berhenti di Depot Soto Talang, Pamekasan.

Semangkuk soto ayam dan sepiring nasi putih dengan cepat tersaji di meja. Wah, ternyata ada telur rebusnya. Padahal, HSW tak menyukai telur rebus, telur asin, maupun telur mata sapi. Potongan telur rebus itu disingkirkan manual.

Supaya lebih puas dan kenyang, HSW memesan satu porsi tambahan. Kali ini disertai catatan: tanpa telur rebus. Perhatikan kuning-kuning yang mengapung. Itu bukan kuning telur, melainkan mentega. Penggunaan mentega sebagai bagian dari kuah Soto Talang membuatnya dijuluki soto mentega oleh teman HSW.

“Sejak SD saya sering makan di sini. Cita rasanya masih sama,” tuturnya. Berarti sudah berapa lama dia menjadi pelanggan depot tersebut? Silakan memperkirakannya sendiri. Teman HSW itu telah menikah. Tahun ini anaknya akan masuk ke perguruan tinggi.

Akhirnya HSW tiba di ujung timur Pulau Madura. Memotret kemegahan Masjid Agung Sumenep di seberang alun-alun Sumenep menjadi agenda utama malam itu.

Sesampai di lokasi, niat memotret diurungkan sesaat karena ada scaffolding yang mengurangi keindahan penampilan. Sisi luar masjid yang sebelumnya lebih dikenal sebagai Masjid Jamik Sumenep itu sepertinya sedang dicat. Mungkin persiapan menyambut bulan Ramadan.

Dengan pertimbangan tak ada kesempatan lagi, HSW memutuskan pemotretan jalan terus. Hasilnya, salah satu masjid tertua di Indonesia itu tetap terlihat cantik dan megah.

Malam semakin larut. Saatnya beristirahat di hotel. Ketika melangkahkan kaki ke tempat parkir, HSW melihat rambu ini. Sebagian tandanya telah terkelupas. Seandainya masih utuh, rambu itu tampaknya bermakna becak dilarang melintas.

***

Kamis, 13 April 2017. Pukul 07.05 HSW telah meninggalkan hotel untuk berburu kue apem. Di Madura jajanan itu disebut apen. Ia disajikan dengan saus yang terbuat dari gula siwalan (bukan gula jawa) dan santan. Sepintas mirip serabi ya? Saat membayar HSW terperanjat. Harga sepiring kue apen di Warung Apen Bu Iyung ternyata hanya Rp 3.000.

Mobil kemudian diarahkan ke Pantai Slopeng. Pohon cemara udang banyak ditemukan di pantai yang memiliki bukit pasir tersebut. Ombak di pantai itu tergolong sangat tenang.

Tidak lama berada di pantai, kini saatnya berwisata kuliner lagi. menikmati rujak Madura di Warung Sarinah. Singkong kukus menjadi salah satu bahan baku rujak tersebut. Di bagian atas rujak ditaburkan keripik singkong. Ya, keripik alias ceriping singkong. Kriuk… kriuk….

Masih ada satu jajanan yang hendak dicari sebelum HSW kembali ke hotel untuk mandi lagi, berkemas, dan check out. Petulo. Di Madura makanan tersebut disebut pattola. Mobil bergerak perlahan melewati jalan yang diketahui menjadi “markas” penjual pattola.

Ketika di sisi kanan jalan terlihat ada spanduk Pattola Ijo, mobil langsung berbalik arah kemudian berhenti tepat di depan warung. Waks… warna hijaunya menyala banget. Harga sepiring pattola Rp 7.000.

Rasa kenyang menerpa. Maklum, dalam tiga jam tiga piring makanan telah sukses masuk ke perut. Apen, rujak singkong, dan pattola. Eh… ditambah dengan sarapan nasi sup yang sangat tidak menggoyang lidah di hotel, berarti empat piring ding. Wajar merasa kenyang, bukan?

Ketika HSW sedang menghitung jumlah pengeluaran sementara di kamar hotel, telepon berdering. Rupanya dari resepsionis hotel. Petugas menanyakan apakah HSW ingin memperpanjang masa tinggal atau akan check out. Bila keluar, batas waktunya pukul 12.00.

Lima menit sebelum tenggat waktu, HSW mengembalikan kunci ke resepsionis lalu meninggalkan hotel. Rumah Makan 17 Agustus menjadi satu-satunya lokasi kunjungan siang itu, sebelum HSW meninggalkan Sumenep dan memulai perjalanan pulang ke Surabaya.

Mengapa dinamakan Rumah Makan 17 Agustus? Sebab, rumah makan itu mulai dibuka pada 17 Agustus 1957. Tahun ini usianya berarti genap 60 tahun. Di awal datang, HSW dan rekan memesan nasi campur, nasi rawon, kopi panas, dan teh panas. Sebungkus kerupuk rambak kemudian diambil dari rak.

Nasi campurnya sengaja tidak difoto karena relatif sama dengan nasi campur yang selama ini HSW kenal. Sementara itu, nasi rawonnya tergolong tak lazim lantaran kuahnya cenderung bening dan berwarna merah. Padahal, kuah rawon biasanya berwarna hitam.

Usut punya usut, kuah rawon di rumah makan tersebut tidak menghitam karena dimasak tanpa keluak (Jawa: kluwek). “Warna merahnya berasal dari cabai merah,” ungkap Tante Trisnadewi, pemilik rumah makan, yang dengan sabar menjawab aneka pertanyaan HSW.

Belakangan HSW baru mengetahui kalau menu andalan di sana adalah sop buntut dan lontong cap gomeh. HSW bukan penikmat sop buntut, sedangkan rekan HSW yang doyan sop buntut telah kekenyangan. Karena itu, HSW memutuskan menjajal lontong cap gomeh saja. Karena di Madura rasanya kurang afdol bila belum menikmati sate, seporsi sate ayam tak lupa dipesan.

Lontong cap gomeh ala Rumah Makan 17 Agustus dilengkapi daging ayam, daging sapi, dan hati sapi. Tak ada sayur labu atau sayur manisa. Kondisi yang melatarbelakanginya: orang Madura tidak suka sayur saat makan di restoran.

Di Surabaya, Jakarta, dan berbagai kota lain  ada banyak penjual sate Madura. Namun, di Pulau Madura jangan coba-coba mencari sate Madura. Tak ada. Yang tersedia di sana sate ayam, sate sapi, atau sate kambing. Tanpa embel-embel Madura.

Sepiring sate ayam menjadi hidangan terakhir yang HSW santap di Rumah Makan 17 Agustus. Bumbunya terasa lebih encer dan manis daripada Sate Madura yang sering HSW beli di Surabaya.

Sebelum pulang HSW membeli keripik teki. Entah rasanya seperti apa. Karena sedang agak batuk, keripik itu sampai sekarang belum dibuka.

Keripik teki merupakan kudapan khas Sumenep yang terbuat dari rumput teki. “Sebungkus Rp 30.000. Harganya mahal karena harga bahan mentahnya mahal, sekilo bisa sampai Rp 200.000,” tutur Tante Trisnadewi.

Dalam perjalanan kembali ke Surabaya, HSW singgah sejenak di Pasar Batik Pamekasan. Niat utamanya memotret batik Madura yang dikenal berani menggunakan warna terang dan tajam. Plus, siapa tahu menjumpai kemeja batik berukuran jumbo. Niat sampingan itu gagal terwujud. Kemeja terbesar yang tersedia saat dicoba ternyata bak rompi di tubuh HSW.

66 thoughts on “Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

  1. Maaf ya om herry Oot mau tanya ini saya ada permasalahan pada handphone saya.. baru beli ini bekas hp Xiaomi redmi 2 prime. Koq gak bisa buka menu settings ya?? Dan gak bisa uninstall aplikasi???apa bisa dibantu om…mkasih sblumnya

    1. Pak Putra,

      Eks-garansi resmi atau sama sekali tanpa garansi resmi? Sudah coba melakukan factory data reset?

        1. Pak Putra,

          Lah… kok malahan bertanya kepada saya? Mana saya tahu kardus Anda seperti apa. Kan kardusnya di tempat Anda.

          1. Kebiasaan jaman sekarang om. Kalimat pernyataan tapi diakhiri dengan tanda tanya. Saya juga sering bingung kalau baca sms dari ibu saya hehehe. ?

          2. Iya maksudnya memberikan pernyataan. Cuma saya nemu bug (?) di kolom komentar ini. Kalau saya input emoji dari google keyboard nanti munculnya malah tanda tanya, bukan emoji.

  2. Hehehe, kalau Bung HSW jalan-jalan pasti yang difoto sekitar 60%-70% itu makanaan!
    Harusnya buka blog kuliner sekalian. Karena Bung HSW sudah trampil foto kuliner, hasilnya sudah memikat selera.

  3. Masih inget dulu, tulisan review Pak Herry, fotonya sedikit. Contohnya review LG G2. Sekarang dibelain sampe jalan2 demi menguji kemampuan kamera suatu ponsel. Salut buat Pak Herry! Bagus2 fotonya.

    Saran aja, gimana kalo Pak Herry bikin akun instagram atau facebook fans page? Karena kalau twitter (maaf ya pak) sepertinya kurang pas untuk pamer foto. Terima kasih Pak. Sukses selalu.

    1. Pak Amaris,

      Iya, dulu saya tidak menyertakan contoh hasil foto di naskah review.

      Instagram akan dipertimbangkan. Saya sebenarnya sudah sempat bikin akun, tetapi masih pasif. Kalau Facebook Fans Page kayaknya tidak deh.

  4. Tumben nulis yg gak ada hubungannya sama handphone.. Saya rasa koh herry bakal kembali mereview Apel kroak setelah hampir sepuluh tahun

    1. Pak You,

      Dihubung-hubungkan kan masih nyambung. Foto-foto perjalanan itu semua dijepret pakai ponsel. 🙂

    1. Pak Rizafa,

      Nah… itu dia. Saat hidangan itu keluar, saya sempat ragu memakannya. Setelah berpikir sejenak, nekat deh.

      Belakangan, seorang teman cerita daun pandan bisa menghasilkan warna hijau menyala seperti itu.

    1. Pak Setiawan,

      Kan sudah jelas tho. Di naskah telah saya sebutkan “Seluruh foto yang diunggah di halaman ini dijepret memakai P9.”

      Perbandingan hasil jepretan P9 dengan apel kroak akan saya tampilkan terpisah.

  5. Betul Pak Herry, banyak kabar kurang baik tentang tempat wisata Bukit Jeddih. Jika pengunjung bukanlah aparat TNI/Polisi kabarnya sengaja dibikin kesasar jika tanya lokasinya … pernah juga dengar kabar dari Radio Suara Surabaya ada anak muda boncengan motor dibacok sepulang dari sana … sangat disayangkan terkenal karena rawan kejahatan.

      1. sebelahnya sinjay om hsw (kalo dari arah suramadu sebelum sinjay, sama”kanan jalan), saya juga lebih cocok songkem.
        kalo di surabaya di deket kantor saya nih jalan kupang jaya
        bebek songkem pak salim

        1. Pak Igor,

          Saya tahu kok lokasi Bebek Songkem. Dalam perjalanan malahan sempat melewatinya. Namun, di komentar sebelumnya kan dituliskan “Pak Henry”. Nah, saya tak tahu Pak Henry sedang pergi ke mana. 🙂

          Minggu lalu saya tidak mampir ke Bebek Songkem karena tak suka makan bebek. Belakangan saya baru tahu kalau mereka juga menyediakan ayam goreng. Berbeda dengan Bebek Sinjay yang hanya menjual bebek.

          1. maaf pak herry yg di atas typo pak….hehehe…fans berat pak herry masa salah tulis nama klo bukan karena typo…

          2. Pak Gigih,

            Ha… ha… ha….

            Saya tidak mencoba Bebek Songkem maupun Bebek Sinjay karena nggak suka bebek. Keduanya saya kenal dan saya lewati sih. Khusus bebek songkem, saya melihat ada beberapa gerai bernama sama, tapi logo atau tipe hurufnya berbeda.

  6. banyak pantai tak terjamah di madura
    saya pernah mau ke siring kemuning
    malah disasarin ke pantai tak bernama di daerah bangkalan sm penduduk
    tapi sangat bagus sekali.. serasa pantai milik sendiri karena ga ada orang.. makannya beli di penduduk lokal karena ga ada warung
    pasirnya putih lautnya biru
    sayang banyak isu di madura ada begal yang kadang membuat agak takut dan waspada

    1. Pak Fatchul,

      Wah… serasa punya pantai privat ya, Pak.

      Khusus Jaddih, adanya begal tampaknya bukan lagi isu melainkan kenyataan.

  7. Koh herry, mau tanya apakah aman sebuah hp di charge dengan charger yang bukan bawaannya?
    Kebetulan di rmh ada charger asus zenfone 3 max, anehnya saat moto g saya di charge fungsi hp jika dipakai tidak normal (tidak bisa dipakai)
    Apakah ini ada pengaruh dari ampere charger?
    Trims

    1. Pak Hartono,

      * Asalkan bukan pakai charger abal-abal seharusnya aman.

      * Mungkin output charger tak sesuai, mungkin pula kebetulan dapat ponsel yang rewel. Saya teringat dengan Nokia 9210 zaman dulu. Kalau di-charge pakai charger lain, biarpun sama-sama bermerek Nokia, suka ngambek.

  8. balik lagi ke sumenep masih banyak yg kurang tuh
    soto sebreng
    pantai ambunten
    terus nyebrang ke gili labak dkk

    1. Pak Igor,

      Sempat tertarik ke Gili Labak karena lihat foto-foto di internet kok keren banget. Namun, niat itu diurungkan. Selain waktu terbatas, biaya sewa perahunya lumayan tinggi.

  9. Ternyata enak juga membaca tulisan soal piknik, Pak. Saya dari Lampung jadi sedikit bertambah pengetahuan tentang Madura. Mau tanya, Pak Herry, ulasan mengenai ponsel/hp yang biasa Bapak tulis lebih tepat dinamakan review atau ulasan ponsel/hp. Saya pernah membaca ulasan mengenai buku/karya seni dan bagian atasnya ada tulisan resensi. Apa bisa juga untuk ponsel memakai istilah tersebut?

    1. Pak Yose,

      Lazimnya disebut review. Belum ada padanan kata yang benar-benar pas. Disebut sebagai ulasan masih bisa sih.

      Saya dulu sempat ingin mulai membiasakan diri pakai istilah resensi. Namun, setelah membaca penjelasan di Kamus Besar Bahasa Indonesianya sepertinya kok belum cocok. Ini kata kamus tentang resensi:

      n pertimbangan atau pembicaraan tentang buku; ulasan buku: majalah itu memuat — buku-buku yang baru terbit
      n Kom pendapat atau pertimbangan redaksi tentang hasil kesenian, kesusastraan, dan sebagainya

  10. keren om HSW liputannya.
    sy tertarik dengan foto2nya…
    ada 2 pertanyaan:
    1. itu yg foto om HSW dan slow speed air terjun, tinggal set menu di P9 yah? pakai tripod kan?
    2. kalau plus minus hasil camera antara Huawei P9, Samsung S7 dan LG G5 apa yah?

    1. Pak Chris,

      1. Saya memakai mode light painting – silky water. Detailnya bisa dibaca di http://ponselmu.com/cara-hasilkan-bokeh-dan-lukisan-cahaya-di-huawei-p9/. Ya, tentu saja menggunakan tripod.

      2. Saya belum pernah menguji pakai Galaxy S7 sehinggak tak bisa berkomentar. G5 juga tak masuk resmi ke sini sehingga tidak saya coba. Kamera P9 sih bagus. Namun, fitur-fitur lain ponsel itu biasa banget. Jadi, sisi minus P9 sebenarnya di spesifikasi selain kamera.

      1. Pak Herry,

        bagaimana kualitas kamera P9 jika dibandingkan dengan LG V20 atau G4?
        karena sekarang harga P9 mulai turun, karena Huawei sudah merilis P10

        1. Pak Rizzal,

          Dengan asumsi sama-sama mode otomatis dan memakai lensa sudut normal (bukan wide karena di P9 tak ada lensa sudut lebar), hasil jepretan kamera P9 lebih bagus.

          Namun, kalau lensa sudut lebar dan fitur-fitur lain juga diperhitungkan, V20-lah juaranya.

  11. Pak Herry,

    sepertinya yang foto rambu terkelupas bukan gambar becak ya? Lebih mirip gambar motor matic. karena ada flat deck, dan terlihat ada spion juga. Haha..

    Oya, pak Herry sepertinya cocok juga bikin blog kuliner nih. Bisa jadi reviewer juga. Mengingat selama ini foto-foto yang diunggah pak Herry kebanyakan bertema makanan.
    Ini aja masih belum sempat coba Mie Menur-nya.. haha..

    Salam sukses pak Herry.

      1. Pak Herry,

        beda pak menurut saya.
        kalo yang di foto pak Herry, disitu terlihat ada jok/dudukan motor matic beserta slebor belakang disisi kiri.
        di bagian tengah yang kena coret merah ada flatdeck-nya khas matic semacam mio dan beat, dan sebagian roda depan.
        sedangkan di sisi kanan ada roda depan, sedikit potongan slebor depan, setir dan sedikit spion.

        di gambar yang pak Herry lampirkan di atas, itu jelas memang becak, tapi saya bandingkan sangat berbeda sih.

        haha… maaf ya pak pembahasan jadi ngelantur.
        apa mungkin rambu tersebut menunjukkan motor dilarang masuk ke lokasi?
        ini pendapat saya sih pak. karena saya gak menemukan gambar siluet matic.

        sekali lagi maaf ya pak kalau OOT.
        hanya sekedar intermezzo.

        Terima kasih dan salam sukses.

  12. wah asik2 photo dan perjalanannya, terakhir ke sumenep saya hanya sampai bebek sinjay saja

    Terima kasih sudah sharing perjalanan ke sumenepnya pak

  13. Salam dari saya yang di Madura Pak. Saya mau tanya pak, apakah selama menggunakan Xiaomi Redmi 4a bapak menemukan keluhan saat membuka gallery? Seperti lag. Karena Xiaomi saya mengalami hal tersebut

  14. Lho Om di air terjun toroan, kok gak ada “pemandangan” para penduduk setempat yang cuci baju disitu ta om?
    trus gak nyoba sate lala’ (lalat), di pamekasan biasanya banyak, kalo di bangkalan gak hanya bebek sinjay atau bebek songkem, tapi masih ada nasi campur nya’ lette’ juga lho Om.

    1. Pak Syahril,

      Saya tiba di Air Terjun Toroan sekitar pukul 13.00. Tak ada satu pun orang yang mencuci. Biasanya mereka mencuci baju di sana pada pukul berapa?

      Sate lalat? Saya tidak mencobanya. Dibilang sate lalat karena potongan dagingnya mungil ya?

      1. saya kesana sampai disana sekitar jam 9 pagi, untunglah Om gak dapet “pemandangannya”, karena disana para penduduknya hanya menggunakan sarung dan tanpa atasan alias “topless” dan semuanya adalah perempuan.

        iya potongan dagingnya kecil, dan rasanya manis.

    1. Pak Firman,

      Kalau harga tak menjadi masalah, silakan membeli kabel merek Anker. Yang modelnya kayak tali nilon ya, bukan yang seperti kabel biasa.

  15. “jangan coba-coba mencari sate Madura. Tak ada. Yang tersedia di sana sate ayam, sate sapi, atau sate kambing. Tanpa embel-embel Madura”

    Haha betul sekali pak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *