Gara-Gara Laptop, Dikejar Satpam Mal

Kisah ini terjadi tadi siang, 1 Juli 2010, sekitar pukul 12.00.

Saya masih harus menuntaskan ketikan naskah seputar ponsel. Meluncurlah saya ke Plaza Tunjungan (TP), pusat perbelanjaan teramai dan terbesar di Surabaya.

“Mengetik di Starbucks saja deh,” gumam saya dalam hati. Harga minuman di sana memang tidak terlalu murah. Namun, saya suka dengan perilaku staf di sana. Biarpun saya hanya membeli segelas minuman, lalu mengetik berjam-jam, tak ada bahasa tubuh yang bermakna “pengusiran”.

Hal serupa tak terjadi di, misalnya, My Pancake Sutos. Biarpun sudah memesan dua makanan dan satu minuman, cobalah menghubungkan laptop ke colokan listrik selama 1,5 jam hingga dua jam. Bahasa tubuh “ayo cepetan pergi” akan mulai keluar. Ada saja deh pramusaji yang mondar-mandir di depan meja kita.

Saya hampir tiba di gerai Starbucks TP. Kira-kira sekitar lima meter lagi. Tidak seperti biasanya, gerai Starbucks ini dominan dengan warna hijau pastel. Mungkin ada perubahan “warna kebangsaan”. Biasanya gerai Starbucks kan dominan dengan warna cokelat.

Seorang satpam yang berdiri tepat di sebelum Starbucks menghentikan langkah saya. Pria berpakaian safari abu-abu tua itu bertanya, “Membawa laptop nggak, Mas?”

Spontan saya jawab, “Iya, Pak.”

“Tolong dibuka,” pintanya dengan nada tegas.

Ransel saya turunkan, retsleting dibuka. Kompartemen laptop saya tunjukkan kepada satpam.

“Maaf, Mas. Sekarang tidak boleh membawa laptop ke TP,” ujarnya.

Saya mulai bingung. “Kenapa, Pak? Lha ini saya mau mengetik di Starbucks kok,” tukas saya.

“Pokoknya nggak boleh,” jawab sang satpam.

“Ya sudah. Kalau nggak boleh ngetik di Starbucks, saya akan ngetik di tempat lain,” kata saya.

“Di tempat lain juga tak boleh, Mas. Pokoknya di TP nggak boleh membawa laptop,” tuturnya. Satpam mengatakan hal itu dengan nada meninggi. Ia juga berusaha menarik ransel yang saya gunakan untuk membawa laptop

Spontan saya berkelit. Ransel berhasil saya pertahankan, lalu saya bergegas melangkah. Eh, satpam itu hendak merebut ransel saya lagi. Saya pun lari. Sang satpam mengejar.

Dengan terengah-engah saya terus berlari. Si satpam berhenti, kemudian terlihat berkomunikasi via HT ke seluruh tim keamanan. Jalan keluar TP dari berbagai penjuru diblokir. Saya hanya bisa bersembunyi di belakang sebuah pilar, menantikan kelengahan para satpam.

Mata saya terbuka. Di hadapan saya ada dinding. Saya hanya mengenakan celana pendek. Tubuh terasa lengket oleh keringat.

Ealah… ternyata saya bermimpi pada siang buta. Karena tiga hari berturut-turut pulang malam, tadi sekitar pukul 11.00 saya memilih tidur dulu. Ntar bangun, baru ngetik naskah. Lha kok malahan bermimpi dikejar satpam TP.

Tampaknya saya terlalu sering numpang ngetik di kafe, pujasera, depot, mal, dan tempat umum lainnya nih. Sampai-sampai hal itu terbawa ke alam mimpi. He… he… he….

13 thoughts to “Gara-Gara Laptop, Dikejar Satpam Mal”

  1. Hahahahaha…

    Pas “sembunyi di belakang pilar” udah ada feeling ini mimpi. Ternyata benar =))

    Lucu mimpinya, Pak :))

  2. pak herry ….
    harusnya mimpinya yang enjoy gitu loh
    dikejar ce cantik sih boleh pak.
    kan sering liat pameran, pasti sering liat yang bening bening 🙂 just joke.
    kalau sama satpam sih amit amit

  3. walah tak kiro lagi masuk acara jail [acara yg suka ngusilin orang]. ternyata cuman mimpi toh….
    tp untung mimpi, kalau beneran gimana ya????
    tapi lucu juga mimpinya pak HSW. nice joke….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *