Lebih Baik Pakai Modem

Selain menentukan operator yang akan digunakan untuk menikmati layanan akses data, Anda perlu menetapkan perangkat yang bakal dipakai. Biasanya ada dua pilihan utama: ponsel atau modem.

Bila frekuensi pemakaian akses data tak terlalu tinggi, sah-sah saja Anda memilih ponsel. Ponsel lebih praktis karena dapat berfungsi ganda sebagai peranti untuk bertelepon dan menggantikan kamera saku digital. Kalau Anda telah memiliki ponsel 3G atau EvDO, Anda juga tak perlu mengeluarkan dana tambahan untuk membeli modem.

Sementara itu, bila Anda berencana lebih sering berinternet via laptop dengan durasi pemakaian yang relatif lama, seyogianya Anda memilih modem. Ponsel tipe tertentu memang bisa difungsikan sebagai modem eksternal yang dikoneksikan dengan laptop. Namun, sering melakukan hal itu membuat baterai ponsel cepat rusak. Kala daya baterai ponsel habis, Anda otomatis terpaksa berhenti berinternet.

Berbeda dengan ponsel, mayoritas modem tidak memiliki baterai internal. Jadi, Anda tak perlu khawatir baterai cepat rusak atau kehabisan baterai. Modem telah didesain untuk dipakai berjam-jam, bahkan berhari-hari, tanpa henti. Silakan mengajaknya bekerja keras.

Saran penulis, belilah modem USB yang berstatus unlocked sehingga dapat dipadukan dengan kartu operator apa pun. Tak perlu membeli modem dengan spesifikasi tertinggi karena praktiknya kinerja layanan akses data operator tak sehebat itu. Untuk modem GSM, Anda cukup mencari modem yang mendukung layanan HSDPA 7,2 Mbps. Sedangkan untuk modem CDMA, membeli modem EvDO Rev A 3,1 Mbps sudah sangat memadai. Saat ini modem bermerek terkenal dengan spesifikasi seperti itu bisa dibawa pulang dengan dana Rp 300 ribuan per unit.

17 thoughts to “Lebih Baik Pakai Modem”

  1. Tambahan lagi om Herry kalo beli modem CDMA sekalian yang Dual Band, harga sedikit lebih mahal tapi bisa pindah – pindah operator lain kalau bermasalah.

  2. Terima kasih atas tambahannya, Pak Ari.

    Poin itu kebetulan tidak saya sebutkan karena dua hal:
    * Modem EvDO murah meriah pun kini sudah banyak yang dual band CDMA.
    * Operator CDMA yang beroperasi di 1900 MHz tinggal Smartfren. Mereka juga bekerja di frekuensi 800 MHz. Kalau zaman dulu kan Flexi beroperasi di 1900 MHz pula.

  3. dulu waktu beli modem dual band bundling sama A*A dapet free 1 bulan semi unlimited (masih pake Fair Usage soalnya) bulan berikutnya daftar paket yg sama ternyata ga seindah awalnya..
    akhirnya pindah ke lain hati . . .
    hehehe…

    Om Herry review nya diperbanyak + info2 lain tentang gadget jgn lama2 posting ke blog nya..
    biar pengunjung blog Om tambah ilmu..
    hehehehe..

  4. Pak Ari, jadi ceritanya pakai paket yang sama, tapi dari hasil bundling dan berlangganan sendiri kinernya bisa berbeda ya?

    Thanks atas masukannya.

  5. Tapi kualitas penerimaan sinyal dari ponsel biasanya jauh lebih baik daripada modem yang harga 200-300 ribuan lho Pak Herry.

    Pernah test dengan kartu operator GSM yang sama, dicoba dimasukin di Nokia N8 dapet -87 dBm, di Xperia Arc S dapet -91 dBm, di modem Huawei malah cuma -101 dBm.

  6. Benar, Pak Yudistira. Namun, kalau pemakaiannya tinggi, minimal baterai ponsel bakal rusak duluan.

    Btw, coba iseng tes modem SpeedUp, Pak. Harga relatif setara dengan Huawei. dBm-nya bisa lebih bagus beberapa poin.

  7. Yup, walaupun kuat2an sinyal bukan penentu kualitas koneksi secara keseluruhan sih. Karena dulu saya pernah mengalami, AXIS 1-bar bisa mengalahkan Telkomsel full-bar, hahaha…

    Ya, kalau di ponsel sih saya sendiri lebih suka berlangganan data-plan yang quota-based dibanding yang unlimited. Jadi bukan sebagai jalur koneksi utama, tapi bisa berfungsi buat backup kalau2 koneksi utama bermasalah, tinggal tether ke laptop via wifi/bluetooth.

  8. Btw, saya gak pernah coba2 SpeedUp, karena lihat harganya dia selalu pasang premium, di atas Huawei & ZTE.

    Saya sendiri sih penggemar modem Sierra Wireless, karena rata2 tipe Sierra punya colokan untuk disambungin dengan pigtail buat antena external.

  9. Pak Yudistira,

    1. Benar, kekuatan sinyal bukan jaminan bagus tidaknya kinerja. Sinyal 3 jauh lebih kembang kempis dibandingkan sinyal XL. Namun, performa layanan BB Tri lebih bagus daripada XL.

    2. SpeedUp sebenarnya ada yang murah juga kok. Tetapi, karena toko yang punya SpeedUp jauh lebih sedikit daripada Huawei, jadinya jarang terlihat.

    Dulu saya suka dengan Sierra Wireless dan Globetrotter. Sayang, penjualnya di Surabaya relatif terbatas.

  10. Kalo modem USB yang merek Nokia or Sony Ericsson sempat coba Pak? Sempat liat dijual di Wellcomm Shop sih, kayanya masuk barang langka juga..

  11. Pak Yudistira,

    Modem USB Nokia saya pernah coba. Terakhir ada CS-11 dan CS-15. Sisi minus versi saya, tak bisa dikunci di 3G only.

    Kalau modem Sony Ericsson, sudah lama banget saya tidak coba. Yang terakhir saya coba masih berwujud PCMCIA card.

    1. Pak Adrian,

      Kalau anggaran maksimal Rp 200 ribu, terus terang saya tak berani memberikan rekomendasi. Saran saya, naikkan anggaran sampai Rp 300 ribuan, lalu belilah modem merek Huawei atau SpeedUp. Harus yang bergaransi resmi ya. Supaya tingkat kebaruan lebih terjamin. Tipenya bebas. Performa aneka tipe modem dua merek itu relatif sama kok.

  12. Trims rekomnya, Pak Herry SW tapi kenapa anggaran setidaknya Rp 300 ribu. Apakah jika dibawah itu kurang baik? Bagaimana dengan merk seperti ZTE?

    1. Pak Adrian,

      Kalau anggaran Rp 200 ribu, kemungkinan Anda bakal dapat modem tanpa garansi resmi, bahkan modemnya pun sebenarnya tidak seratus persen baru.

      Soal modem ZTE, di kisaran harga yang sama, saya menilai performa modem ZTE tidak sebandel Huawei. Dalam hal penangkapan sinyal, Huawei kadang juga kalah saat diadu melawan SpeedUp.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *