Melenggang Sendiri di Pasar

HTC Desire VC sebenarnya bukan ponsel Android keluaran terbaru. Ia sudah beberapa bulan menghampiri pasar. Meskipun demikian, ketika ada tawaran menguji pakai ponsel itu, penulis bergegas mengiyakannya. Ada berbagai alasan yang mendasarinya.

Pertama, penulis sangat sering menerima pertanyaan tentang status kelayakan beli Desire VC. Pertanyaan itu dilontarkan lewat email, Twitter, blog, maupun saat bertatap muka langsung. Selama ini penulis lebih memilih tidak memberikan rekomendasi. Sebab, penulis memang belum pernah menguji pakainya.

Kedua, memperoleh tawaran pinjam pakai dari HTC Indonesia bak mendapatkan durian runtuh. Di antara aneka ponsel merek global, HTC merupakan produsen ponsel yang baru satu kali menawarkan pinjaman ponsel kepada penulis. Padahal, Motorola yang tak memiliki kantor perwakilan di Indonesia pun rutin mengirimkan produk terbarunya untuk dicoba.

Penulis masih memiliki satu alasan lagi. Di pasar, Desire VC terlihat cukup laku. Nah, penulis ingin membuktikan laris manisnya ponsel itu karena memang layak beli atau semata-mata karena ia tanpa pesaing. Asal tahu, sekarang Desire VC adalah satu-satunya ponsel Android dual on GSM-CDMA merek global yang beredar resmi di sini.

Bagaimana hasil uji pakai ala penulis? Ada beragam nilai plus, ada pula berbagai  nilai minus. Penampilan fisik yang terlihat elegan dan mewah menjadi nilai plus pertama yang penulis temukan, sesaat setelah mengeluarkan Desire VC dari kardusnya. Sisi mukanya terlihat cantik. Ketika digenggam, ponsel berdimensi fisik 119,5 x 62,3 x 9,42 mm dan berat 118 gram itu tidak terasa licin. Tekstur garis-garis di sisi belakang ponsel membuatnya lebih kesat di tangan.

Nilai plus berikutnya, tentu saja, karena Desire VC mampu menyiagakan dua nomor sekaligus. Satu nomor GSM dan satu nomor CDMA. CDMA-nya menggunakan kartu RUIM, bukan memakai injeksi ESN. Asalkan didukung oleh operator yang dipakai, nomor CDMA yang terselip bisa dipakai untuk menikmati layanan EvDO Rev A dengan kecepatan unduh sampai 3,1 Mbps. Sedangkan nomor GSM yang siaga maksimal hanya dapat berinternet via layanan GPRS.

Daya tahan baterai ponsel itu sempat mengejutkan penulis. Dengan kondisi sinkronisasi otomatis dinonaktifkan, namun sesekali penulis tetap mengakses Twitter dan email, Desire VC mampu mendampingi penulis sampai 20 jam. Padahal, baterai ponsel itu berkapasitas 1.650 mAh alias tidak ekstrabesar.

Beralih ke nilai minus. Di menu Desire VC tak tersedia pengaturan untuk mengunci nomor CDMA supaya selalu berada di jaringan EvDO. Hal lain, penulis berkali-kali merasakan respons ponsel itu kurang gegas. Memang tidak sangat lambat, namun tetap terasa ada jeda sepersekian detik.

Layar sentuh kapasitif empat inci beresolusi 480 x 800 piksel, prosesor Qualcomm MSM7627A 1 GHz, RAM 512 MB, bluetooth, Wi-Fi, dan GPS adalah sebagian spesifikasi lain Desire VC. Ada pula kamera lima megapiksel dengan autofocus dan lampu kilat, radio FM, dan Polaris Office yang bisa membuat dokumen baru.

Ponsel bersistem operasi Android 4.0 Ice Cream Sandwich itu memiliki memori internal berkapasitas 4 GB. Ketika ponsel tuntas diformat, kapasitas memori yang dapat dioptimalkan pengguna terdiri atas 0,91 GB penyimpanan internal (internal storage) dan 93,21 MB penyimpanan telepon (phone storage). Kurang lega? Selipkan kartu microSD ke selot yang tersedia.

Saat ini harga pasar Desire VC sekitar Rp 2,75 juta. Ia memang melenggang sendirian di pasar. Tetapi, kalau ia banyak diburu konsumen, menurut penulis, bukan karena konsumen tak memiliki pilihan lain. Dengan memperhatikan kekurangan dan kelebihannya, ponsel itu terbukti cukup layak dilirik oleh pemburu Android dual on GSM-CDMA.

31 thoughts to “Melenggang Sendiri di Pasar”

  1. Semoga HTC cepat me-respons tanggapan slow performance (kurang gegas) untuk Desire VC ini. Apakah JB akan menjadi solusi performance yg lebih snappy/cepat? Sayang sekali padahal, Desire VC ini ampir mendapat predikat sempurna bagi pengguna android dual on gsm+cdma. Thanks.

  2. pa henry..kalau boleh request
    bisa review asus nexus7 yang sebentar lagi masuk indonesia.?
    apa memang sangat hebat dengan quad core.?

  3. Pak Anton,

    Kalau kelak saya menguji pakai Nexus 7, saya pasti akan me-review-nya.

    Sejak Nexus 7 BM beredar, saya sebenarnya sudah ingin beli. Tetapi, harganya masih terlalu early adopter (baca: mahal). Karena itu, coba menanti versi resminya deh.

  4. Pak Anton,

    Early adopter itu bahasa Inggris. Saya masih kesulitan menemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia.

    Intinya, early adopter di dunia acang adalah orang yang selalu ingin menjadi yang pertama dalam mencoba sebuah acang. Bagi dia, harga bukanlah masalah. Mahal pun tetap dibeli, asalkan dia bisa lebih dulu mencoba acang tertentu dibandingkan orang lain.

  5. oh gitu toh pa..baru ngerti saya
    tapi pa henry bisa request lagi ga.? ASUS Memo 370T
    saya penasaran mana yang lebih baik antara nexus 7 dan asus ini, dari harga dan kemampuan kan tidak beda jauh, bahkan termasuk murah di kelasnya untuk merk global
    kemudian apa pa henry punya informasi kapan kedua tab ini tiba di indonesia?
    terima kasih banyak sekali pak..

  6. Pak Anton,

    Maaf saya baru merespons lagi pagi ini. Asus Memo 370T saya juga belum pernah coba. Nexus 7 sih mestinya masuk resmi bulan ini. Kalau Memo saya tak tahu.

    Entah mengapa, saya lihat Asus seperti nggak niat memasarkan produk non-laptop ke sini.

  7. tumben lama sekali membalas nya pa.?
    ga niat.? begitu kah asus.?

    menurut bapak tab apa yang di sarankan ya.? yang harga maksimal 3juta..
    saya sekarang make tab dari ax*oo, kalo buat maen game sih enak2 aj. tapi kalo buat tugas aduh suka bikin emosi
    responnya suka lambat, buka pdf aja harus nunggu lama
    menurut bapak apa tab canggih dengan harga segitu.? terima kasih

  8. Pak Anton,

    Huawei sudah bisa dikategorikan sebagai merek global. Saya belum pernah me-review Huawei Mediapad. Namun, saya sudah berkali-kali mencobanya, baik saat masih prototipe maupun ketika telah versi komersial.

    Saat ini pakai Anton pakai tablet merek dan tipe apa?

  9. Oh memang bagus kalau begitu ya pa..tapi di sayangkan kenapa warnanya hanya 256k

    Tadi di atas udah saya sebutkan..saya pakai taiwan punya, ax*oo

  10. Pak Anton,

    Ups… saya lupa. Axioo ya. Itu merek lokal buatan Taiwan. Saya kurang tahu untuk tabletnya dibuat di Taiwan atau China.

    Dulu saya pernah coba tablet Axioo keluaran paling awal. Lumayan sih. Ini tautan pembahasannya: http://ponselmu.com/?p=336

    Kalau tablet Axioo keluaran terkini, saya belum pernah mencobanya.

    Soal layar yang hanya 256 ribu warna, praktiknya di mata kebanyakan pengguna, termasuk saya, nggak terasa bedanya dengan yang 16 juta warna kok.

  11. iya..
    itu dulu juga pernah baca, tapi kenapa mahal sekali dulu itu ya sampe 4jutaan. saya beli cuma 1.5juta

    wah..kalo maen game HD atau nonton film ga keliatan beda gitu pa.?
    terima kasih

  12. Pak Anton,

    Saya membeli saat baru keluar. Jadi ya pas masih mahal-mahalnya.

    Nggak terlalu terasa kok, Pak. Yang lebih terasa itu perbedaan resolusi layar, bukan perbedaan kedalaman warna antara 256/262 ribu dan 16 juta warna.

  13. selamat tahun baru Islam kalo pa Henry merayakannya ya..

    iya

    oh baru tau saya, kalo buat 7″ dan 9″ resolusi yang pas berapa ya.?
    terima kasih

  14. Pak Anton,

    Terima kasih atas ucapannya. Kebetulan saya tidak merayakan. Kalau Bapak kebetulan merayakan, saya mengucapkan “Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1434 Hijriyah”.

    Menjawab pertanyaan Bapak, untuk tablet tujuh inci, resolusi yang ideal untuk sisi terpanjang layar setidaknya 1.024 piksel. Sedangkan untuk tablet sembilan inci, resolusi sisi terpanjang layar minimal 1.280 piksel.

  15. Sebenarnya saya juga tidak merayakan nya..saya juga baru balas karena kebetulan sibuk

    Oh terima kasih atas info nya pa..
    Mau nanya lagi pa, apa nge root hp itu ilegal.?

  16. Pak Anton,

    Mestinya pantas dikategorikan “ilegal”. Sebab, membuka akses ke tempat yang seharusnya tidak dibuka untuk pengguna.

  17. Om Herry, kalo Desire VC ini dibandingkan dengan Smartfren Andromax-i, mana yg lebih worth-to-buy? mengingat dua2nya sama2 dual on gsm-cdma, kategori yang penghuninya jarang. mohon pencerahannya ya Om, thx.

  18. Pak Hian, saya lebih memilih P700i dengan pertimbangan:

    * Spesifikasi P700i banyak yang mengungguli Desire VC.
    * P700i relatif tak pernah terasa lemot bila dibandingkan Desire VC.
    * Hasil jepretan P700i lebih bagus daripada Desire VC.
    * Kinerja terkini akses data operator CDMA tak sebagus operator GSM.

  19. Sore pak Herry, saya pakai htc desire vc, entah mengapa, setelah seminggu saya pakai, kalau kirim sms selalu delay 3 jam lebi, bahka baru terkirim besok harinya, padahal sebelumnya baik2 saja. Kenapa ya pak? Mohon bantuannya.

  20. Pak Ferry,

    Sudah coba diganti dengan kartu operator lain? Jangan-jangan yang mabuk operatornya.

    Saya belum pernah mengalami hal serupa di Desire VC. Kalau ponsel jadi terasa lemot setelah dipakai beberapa hari, nah… itu saya alami.

  21. Pak herry saya mau tanya , apabila htc desire vc ini dibandingkan denga LG optimus L7 lebih bagus yg mana pak?

  22. Hp htc disert vc punyaku sangat lemot sekali. Padahal hampir semuah app yang buakn bawaan di un instal. Tetapi tetap saja lambat. Untuk buka phon book. Sms. Menunggu menutupnya pun menunggu. Bagaimana bisa begitu. Apa karna ramnya kekecilan atau memang hpnya rusak. Tolong di bantu dong.

  23. Pak Bambang,

    HTC Desire VC memang lemot kok. Diduga penyebab utamanya tampilan antarmuka (user interface) HTC Sense yang cantik, tetapi berat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *