Menggemuk di Joglosemar (1)

Bepergian ke Joglosemar tanpa berwisata kuliner terasa kurang afdal. Sebab, setidaknya menurut saya, ada beragam makanan enak di Jogja, Solo, maupun Semarang.

Tempat-tempat yang saya kunjungi pada 8-11 Agustus lalu di tiga kota tersebut mungkin menarik minat teman-teman. Apalagi, kalau Anda sedang menjalani program penggemukan tubuh. Tautan yang mengarah ke Google Maps saya sertakan. Tinggal diklik.

Warung Brongkos Handayani

Sepintas brongkos mirip rawon, tetapi warna cokelatnya lebih muda dan mengandung santan. Kalau sedang enggan makan daging sapi atau koyor, saya menyarankan teman-teman memesan nasi brongkos tahu.

Warung ini menjadi sasaran utama saya karena dalam beberapa kunjungan ke Jogja sebelum pandemi, warung tersebut kebetulan tutup. Ya, jadwalnya liburnya sulit diprediksi. “Tidak ada jadwal pasti. Kalau capek ya libur.” Begitulah prinsip pemilik warung.

Gudeg Song Djie

Kalau gudeg Jogja biasanya cenderung manis, Gudeg Song Djie condong ke gurih. Manisnya samar-samar. Tersedia dua aliran gudeg di sini: gudeg basah dan gudeg kering. Senyampang bisa makan di tempat, saya memilih gudeg basah.

Sayang siang itu ayam suwirnya sudah habis. Saat memesan nasi gudeg, saya memang lebih gemar memilih ayam suwir daripada satu potong utuh dada atau paha ayam. Selain lebih praktis, harganya lebih murah. He he he.

Tingkat kenikmatan sepiring nasi gudeg akan meningkat bila dipadukan dengan kerupuk kaleng alias kerupuk blek. Dibandingkan kerupuk kaleng di Surabaya, saya merasa menggigit kerupuk kaleng di Jogja dan Jawa Tengah lebih marem. Seandainya ada beberapa kerupuk kaleng berbeda di satu depot, biasanya saya mengincar kerupuk kaleng bermerek Sala.

Buat yang penasaran menjajal Gudeg Song Djie, tetapi belum berencana ke Jogja, ternyata depot gudeg itu menerima pemesanan via Tokopedia. Ini tautannya https://www.tokopedia.com/gudegsongdjie.

Sate Ratu

Sudah lama saya mendengar nama sate ini. Sudah lama pula saya ingin mencicipinya. Namun, belum pernah terwujud.

Beberapa tahun lalu ketika Sate Ratu masih berada di tempat lama, saya sengaja naik ojek ke sana. Eh… sesampai di sana ndilalah tutup.

Minggu lalu saya sengaja menyempatkan diri ke sana, walaupun total biaya transportasi daring yang harus dibayar tak bisa dibilang murah. Namanya saja penasaran. Lebih-lebih Sate Ratu kabarnya sudah dikunjungi wisatawan dari 85 negara.

Sate merah, sate kanak, dan lilit basah saya pesan masing-masing satu porsi. Tanpa nasi putih.

Sate merah adalah menu utama Sate Ratu. Sate ayam yang pedas ini hadir dengan tingkat kematangan yang pas. Dagingnya masih lengas (juicy). Di setiap tusuk sate diselipkan sepotong kulit. Posisinya di urutan kedua terbawah.

Konsumen yang tak tahan pedas disarankan memesan sate kanak. Tampilan fisiknya kecokelatan, bukan kemerahan ala sate merah. Masih ada segelintir jejak pedas, tetapi seharusnya masih bisa dikonsumsi oleh anak-anak.

Buat saya yang tergolong kelas pemula dalam hal mengonsumsi cabe, sate merah terasa terlalu pedas. Sedangkan sate kanak gagal memanjakan lidah.

Umpama harus memilih, saya lebih condong ke sate merah dengan konsekuensi setiap usai memakan 1-2 tusuk “membersihkan lidah” dengan meminum air putih. Andai tingkat kepedasan sate merah diturunkan sedikit, ah… itu bakal pas sekali di lidah saya.

Beralih ke lilit basah. Di mata saya, ini adalah daging ayam cincang yang dikukus lalu dipotong kotak-kotak. Entah proses sebenarnya benar seperti itu atau bukan.

Saya memiliki catatan khusus atas Sate Ratu. Walaupun ramai pengunjung, pelayanannya prima. Sejak saya datang, diarahkan ke tempat duduk yang kosong, pemesanan, penyajian hidangan, hingga pembayaran, alurnya rapi dan terkoordinasi.

Usai mengulang daftar makanan yang saya pesan, petugas mengonfirmasi kesediaan saya menunggu penyajian selama 30 menit. Pasalnya, sate dibakar dari kondisi mentah, bukan setengah matang. Karena itu perlu waktu agak lama.

Saya spontan melihat layar jam tangan Casio W-218H yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Dua puluh delapan menit kemudian, pesanan saya terhampar di meja. Siap dilahap.

Bakso Bethesda 74

Menu favorit saya di Bakso Bethesda 74 bukan bakso sapi rebus, melainkan bakso goreng. Direndam sebentar di kuah yang panas, lalu dikonsumsi bersama mi kuning, ugh… nikmat.

Biasanya saya membeli bakso ini di warung pusatnya yang terletak di sisi luar Rumah Sakit Bethesda. Kali ini saya membeli bakso tersebut di Taman Sari Food Court, pujasera yang berada di lantai teratas Plaza Ambarukmo. Cita rasa sama, harga lebih mahal, tetapi tempat lebih nyaman.

Buat yang kali pertama akan mencoba Bakso Bethesda 74, jangan salah mampir ya. Warung bakso itu berada di sisi luar rumah sakit. Bukan berada di dalam area rumah sakit.

Di dalam area rumah sakit juga ada penjual bakso yang lezat. Nah… yang ini bakso babi.

Bakmi Pak Pur Jombor

Perhatikan, Bakmi Pak Pur Jombor tidak sama dengan Bakmi Jombor yang berada di seberang Terminal Jombor Jogja. Bakmi Pak Pur Jombor terletak di perkampungan. Hingga pagi ini, 17 Agustus 2022, di Google Maps hanya 260 reviu tentang warung tersebut. Padahal, setidaknya menurut saya, Bakmi Pak Pur ibarat mutiara yang tersembunyi.

Menu yang paling sering saya pesan saat singgah ke sana: nasi godok dan teh poci panas. Nasi godok? Nasi kok direbus. Mungkin terasa aneh buat orang Jakarta, Bandung, atau Surabaya. Namun, percayalah, cita rasanya sungguh nikmat.

Bayangkan saja Anda memesan mi rebus, tetapi isinya nasi goreng mawut alias nasi ruwet. Seruputlah kuahnya perlahan. Kelar menghabiskan sepiring nasi godok, tutuplah dengan menikmati sepoci teh panas. Keringat pun bakal membasahi tubuh. Yang sedang enter the wind (baca: masuk angin) spontan akan merasa lebih segar.

Bakmi Pak Pur buka setiap hari mulai pukul 17.00. Sebelum pandemi, warung itu baru tutup sekitar pukul 02.00. Iya, jam dua pagi. Saya kurang mengetahui apakah saat ini mereka masih buka hingga selarut itu. Biasanya saya datang ke sana pukul 16.30, ketika karyawan di sana sedang bersiap, atau sekalian setelah pukul 21.00. Saya sengaja menghindari jam rawan makan malam.

Warung Pojok Mbak Yuni

Tiba di lokasi menjelang pukul 06.30, eh… antreannya sudah lumayan panjang.

Saya memesan sup galantin dan telur dadar. Sebenarnya saya juga mengincar tempe garit, tetapi hingga saya usai makan dan menjelang membayar, gorengan itu belum matang.

Telur dadar adalah menu favorit di tempat ini. Telur dadarnya berenda dan renyah. Enak. Ia sekaligus bisa menjadi pengobat rindu atas telur dadar ala Kopi Klothok Pakembinangun yang lokasinya belasan kilometer dari pusat kota Jogja.

***

Tuntas sarapan, saya berjalan kaki kembali ke hotel. Mandi, berkemas, lalu menumpang KRL menuju Solo.

Sama dengan sehari sebelumnya, dari hotel ke stasiun kereta api saya memilih naik becak motor. Ini foto pengemudi becak motor pertama yang saya tumpangi di Jogja. Bukan, becak motor bukan bagian dari layanan Go-Jek.

Kalau dalam perjalanan Surabaya-Jogja saya menggunakan masker N95, ketika menumpang KRL Jogja-Solo saya kembali kepada kebiasaan lama: masker rangkap kain + medis.

Bersambung….

Leave a Comment