P3K untuk Ponsel Kesayangan

Saat masih duduk di bangku SD di Salatiga, sebuah kota kecil berhawa sejuk di Jawa Tengah, penulis memperoleh pengetahuan dasar mengenai Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K). Penulis dan beberapa teman yang waktu itu tak berminat sangat sering memplesetkan kepanjangan P3K menjadi Piring Pecah disamPar Kucing. “Maafkan saya yang bandel ini ya, Pak Guru.”

Seolah karma yang berbuah, ketika bersekolah di suatu SMA di Surabaya yang kini sudah gulung tikar, penulis justru aktif menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR). Tentu saja penulis mesti bercengkerama dengan P3K.

Jujur, belasan tahun kemudian, penulis telah lupa dengan aneka materi yang diperoleh saat terlibat dalam PMR. Andaikan sekarang penulis disuruh membuat tandu, apalagi tandu itu lalu dipakai untuk mengangkat penulis, dijamin ambrol deh. Namun, karena hujan sudah mulai rutin mengguyur berbagai kota, penulis patut berbagi informasi tentang P3K.

Eitss… ini bukan P3K seperti yang penulis ceritakan di atas! Kali ini penulis membahas tentang P3K untuk acang alias gadget. P3K-nya merupakan singkatan dari Pertolongan Pertama Pada Kehujanan.

Apa yang harus dilakukan bila ponsel atau tablet Anda kehujanan? Padahal, peranti itu tidak didesain tahan air. Ada beberapa langkah sederhana yang pantas Anda lakukan. Tindakan tersebut diyakini dapat meminimalkan kemungkinan acang Anda rusak.

Langkah pertama, jangan panik. Pengguna acang yang normal pasti tak menginginkan ponselnya kehujanan. Andaikan ternyata tetap terguyur air hujan, hadapilah dengan tenang. Sebab, semakin panik, semakin besar pula peluang ponsel itu mengalami masalah.

Padamkan, lalu lepaskan baterai. Meskipun ponsel yang usai kehujanan terlihat masih menyala, jangan memakainya dulu. Segera matikan ponsel tersebut, kemudian lepaskan baterainya. Copot pula kartu SIM dan kartu memori yang terpasang.

Sebaliknya, kalau ponsel itu ternyata sudah padam pascakehujanan, jangan sekali-kali mencoba mengaktifkannya. Biarkan ia tetap padam. Bergegaslah melepaskan baterainya.

Bagaimana bila baterai ponsel tak bisa dilepas? Ya, sebagian ponsel memang menerapkan sistem baterai tanam. Pengguna tidak dapat melepaskannya tanpa alat bantu. Bila ponsel Anda kebetulan berbaterai tanam, biarkanlah. Tak perlu memaksakan diri untuk membongkar baterai.

Bila memungkinkan, bukalah casing. Sebagian ponsel didesain sedemikian rupa untuk mempermudah pengguna mengganti casing alias bodi. Tinggal disesuaikan dengan selera atau warna busana. Misalnya, Senin memakai casing berwarna merah, Selasa biru, dan Rabu kuning. Nah, kalau ponsel yang Anda gunakan kebetulan termasuk kategori tersebut, lepaskan casing yang terpasang.

Sementara itu, bila casing ponsel yang Anda miliki tak mudah dibongkar pasang, tindakan lanjutan bergantung kemampuan Anda. Kalau Anda terbiasa mengganti casing ponsel dengan alat bantu tertentu, lepaskan casing itu. Sebaliknya, bila Anda awam dengan bongkar membongkar casing, lebih baik Anda tak iseng mencobanya.

Keringkan. Dengan menggunakan kain yang halus dan menyerap cairan, keringkan seluruh permukaan ponsel. Berikan perhatian ekstra terhadap konektor yang tersebar di berbagai sisi ponsel dan lubang speaker. Bila dianggap perlu, dengan memakai kapas lidi (cotton bud) atau tusuk gigi plus tisu, bersihkan celah yang sempit. Awas, jangan sampai kapas atau tisu yang digunakan justru tertinggal di dalam.

Pemakaian pengering rambut (hair dryer) diperbolehkan, asalkan angin yang diembuskan sebatas hangat dan tidak sangat kencang. Jarak antara ponsel dan pengering rambut dilarang terlalu dekat. Alternatif lain adalah memanfaatkan penyedot debu (vacuum cleaner). Pilihlah tingkat kekuatan hisapan yang tidak terlalu tinggi.

Tuntas melakukan pengeringan, biarkan ponsel, baterai, dan penutup baterai tetap terpisah. Bila konektor di ponsel Anda dilengkapi penutup, penutup itu sebaiknya dibiarkan terbuka dulu.

Angin atau servis. Ponsel sudah dikeringkan. Bagaimana selanjutnya? Pengamatan dan pengambilan keputusan yang tepat akan menentukan nasib ponsel Anda. Bila ponsel cuma “kedinginan” karena disimpan di saku selama Anda menerjang hujan, plus Anda yakin tak ada air yang sempat masuk, cukup angin-anginkan ponsel itu selama beberapa jam. Selanjutnya, silakan memasangkan baterai, mengaktifkan, dan memakainya lagi.

Tindakan berbeda diberlakukan atas ponsel yang sempat basah kuyup, apalagi jatuh dan terendam di genangan air hujan. Biarpun hanya terendam dua detik, tindakan ini idealnya tetap dilakukan. Apa bentuknya? Anda seyogianya segera membawa ponsel tersebut ke tempat servis.

Karena berbagai alasan, saya cenderung menyarankan Anda berkunjung ke pusat perbaikan resmi ponsel yang Anda gunakan. Ungkapkan kejadian yang dialami ponsel dan mintalah petugas melakukan pemeriksaan.

Petugas di sebagian pusat perbaikan resmi ponsel biasanya memberikan prioritas terhadap ponsel yang usai terkena air. Ibaratnya, kalau ponsel itu adalah manusia yang dibawa ke rumah sakit, ia langsung dimasukkan ke unit gawat darurat dan ditangani dokter. Sang pasien tidak diminta menanti sambil meringis kesakitan di ruang tunggu.

Oh ya, ada satu hal yang mutlak Anda ketahui. Biarpun ponsel Anda masih dalam masa garansi, Anda tetap harus membayar biaya perbaikan. Alasannya, kerusakan ponsel akibat terkena air dianggap sebagai kesalahan pengguna. Garansi otomatis hangus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *