Panitia Samsung Tampak Kurang Siap

Produsen ponsel merek global tampaknya gerah juga dengan kesuksesan ponsel qwerty dual on merek lokal buatan Tiongkok. Hingga detik ini, tiga merek jelas-jelas siap mengusung ponsel qwerty dual on GSM-GSM. Ada Motorola, LG, dan Samsung.

Bagaimana dengan Nokia? Akhir tahun ini ponsel dual on GSM-GSM pertama Nokia, C2-00, seharusnya akan masuk ke pasar. Namun, form factor-nya masih candy bar alias batangan. Bukan mustahil tahun depan ia akan turut menggelontor pasar dengan ponsel qwerty dual on GSM-GSM. Apalagi, di sela-sela Nokia World 2010 di London, Inggris, petinggi Nokia telah menyatakan kepada penulis bahwa tahun depan Nokia bakal lebih gencar menghadirkan ponsel dual on GSM-GSM. Harga jual masing-masing tipe, yang detailnya masih dirahasiakan, kurang dari USD 100.

Hari ini, satu di antara ponsel qwerty dual on GSM-GSM bermerek global mulai dipasarkan. Penjualan perdana Samsung Ch@t 322 (selanjutnya saya sebut 322 saja) dilakukan bersamaan di delapan kota sekaligus. Di Surabaya, penjualan digelar di Atrium Utara Royal Plaza, Jl Ahmad Yani, Surabaya.

Iseng-iseng saya turut dalam antrean. Pukul 08.30 saya telah tiba di Royal Plaza. “Lho, kok masih sepi?” gumam saya dalam hati. Di luar gedung tak ada tenda penjualan. Rupanya penjualan perdana 322 dilakukan di dalam gedung. Lebih manusiawi. Pembeli tak perlu berpanas-panas seperti saat mengantre Nokia C3 pada berbulan-bulan silam.

Pusat perbelanjaan itu baru buka pukul 10.00. Berarti, minimal saya masih harus menanti selama 1,5 jam. Sambil menunggu, saya coba mengelilingi gedung pusat perbelanjaan itu. Di bagian belakang gedung ada pintu masuk untuk karyawan. Tepat di depan pintu, terlihat dua satpam berjaga. Saya sengaja mendekat dan mengonfirmasi lokasi penjualan 322. “Di dalam sana, Pak,” jawab satpam dengan ramah sambil mengarahkan jari ke dalam atrium.

Karena saya kebetulan mengenakan kaus Telkomsel, satpam itu sempat menyangka saya adalah karyawan Telkomsel yang turut menjaga stan. Ya, paket penjualan 322 memang dibundel dengan satu kartu perdana simPATI dan satu kartu perdana Kartu AS. “Oh, saya bukan orang Telkomsel kok. Saya mau antre,” kata saya. “Kalau begitu nanti masuk lewat pintu depan ya, Pak. Bukanya pukul 10.00,” jelas satpam itu.

Udara yang panas membuat saya berkeringat. Hypermart yang berada di lantai paling bawah Royal Plaza ternyata buka satu jam lebih awal. Pukul 09.00 pintu masuk ke Hypermart telah dibuka. Daripada kepanasan di luar, saya memilih masuk ke Hypermart. Beli sebotol minuman plus menyejukkan badan.

Keluar dari Hypermart, saya berjalan menuju ke eskalator. Ceritanya, mau iseng mencari lokasi tepat penjualan 322. Di ujung eskalator pertama ada satpam yang berjaga. Saya pasti tak diizinkan berjalan menuju atrium. Putar balik deh. Saya mencari eskalator lain. Ketemu dan tak ada satpam yang berjaga.

Dengan leluasa saya berjalan mencari lokasi penjualan. Sukses. Saya berhasil menemukannya. Terlihat para petugas yang terlibat dalam penjualan 322 sedang duduk melingkar. Sepertinya sedang ada briefing yang sebenarnya sudah dialihbahasakan menjadi santiaji. Tetapi, kok terdengar aneh ya. Briefing saja deh ya. 🙂

Daripada kelamaan berdiri di sekitar lokasi penjualan, kemudian saya dicurigai satpam hendak berbuat yang tidak sepantasnya, mending keluar gedung dulu ah. Sembari menanti, saya lagi-lagi mengelilingi gedung. Mencari pintu alternatif yang tercepat untuk mencapai lokasi penjualan. Dapat!

Pukul 10.01 lampu di Royal Plaza dinyalakan. Hal itu sekaligus merupakan tanda bagi para satpam bahwa pintu masuk boleh dibuka dan pengunjung dipersilakan masuk. Saya menjadi orang pertama yang tiba di gerbang antrean ini.

Sebuah papan yang menginformasikan harga jual 322 diletakkan tepat di gerbang masuk antrean. Khusus hari ini, pembeli yang membayar dengan uang tunai, kartu debet Bank Mandiri, maupun kartu kredit Mandiri boleh menebus 322 dengan harga Rp 899.000 per unit. Pengguna bisa menikmati cicilan Mandiri dengan bunga nol persen selama 12 bulan. Besarnya angsuran Rp 75.000 per bulan. Hmm… kalau dihitung sebenarnya ada selisih Rp 1.000 ya. Berarti, nggak murni nol persen dong.

Pembayaran dengan cara lain, misalnya memakai kartu kredit bank lain, dikenakan harga Rp 999.000.

Seorang petugas yang mengenakan kaus Samsung mendekat. “Mau beli berapa, Pak?” tanya dia. “Memangnya boleh beli berapa,” jawab saya sekaligus balik bertanya. “Maksimal dua,” ujarnya.

Karena ternyata boleh membeli dua, saya memutuskan membeli dua unit sekaligus. Dua nomor antrean diberikan kepada saya. Nomor 1 dan nomor 2.

Saya kemudian dipersilakan berdiri di lajur antrean setelah gerbang masuk. Ada dua stan penjualan. Stan pertama khusus untuk pembayaran tunai, sedangkan stan kedua untuk pembayaran non-tunai.

Dari lajur antrean, terlihat panggung yang masih belum berpenghuni. Mungkin untuk hiburan ya.

Petugas di stan penjualan terlihat masih mempersiapkan diri. Padahal, saat itu sudah lewat pukul 10.00. Jadwal dimulainya penjualan berarti positif molor.

Backdrop stan penjualan bergambar Hudson dan Jessica, satu individu dengan dua rupa yang namanya moncer karena berpartisipasi dalam ajang Indonesia Mencari Bakat.

Oleh petugas saya dipersilakan maju ke stan penjualan tunai. Uang saya serahkan dan dihitung oleh petugas, tetapi barang tak kunjung diserahkan. “Sebentar ya, Pak. Masih persiapan,” tukas penjaga stan. Hingga bermenit-menit kemudian transaksi belum beres.

Kekurangsiapan panitia penjualan sedikit demi sedikit mulai terkuak. Transaksi di stan penjualan tunai tak kunjung bisa dimulai karena nota alias tanda bukti pembayaran belum siap. Masih dalam perjalanan. Sedangkan di stan penjualan non-tunai, koneksi mesin EDC atau mudahnya mesin gesek kartu kredit belum beres.

Sampai bermenit-menit kemudian, transaksi jual beli di stan penjualan tunai maupun non-tunai masih belum dimulai. Para pengantre yang telah mendapatkan nomor antrean, kira-kira satu lusin manusia saja, diminta keluar dari lajur antrean. Mereka dipersilakan menanti di sekitar panggung. Boleh hanya berdiri tanpa tujuan, boleh pula mencermati dua demo unit 322 yang disediakan di sebuah stan mungil.

Selama berdiri menanti ini, saya sempat mengobrol dengan beberapa calon pembeli. Setidaknya ada tiga orang yang ternyata mengenali identitas saya. Hal itu terbukti dengan sapaan, “Pak Herry, bagus nggak ponsel ini?” maupun “Layak beli atau tidak, Pak Herry?” yang mereka ucapkan. Satu orang lainnya bertanya, “Pak, sekarang kok sudah jarang muncul di tv lagi?”

Lihatlah sisi kanan foto di bawah ini. Itulah stan mungil yang “dipersenjatai” dengan dua demo unit plus dua SPG. Product knowledge SPG-nya patut mendapatkan acungan jempol.

Panggung masih terlihat kosong, tanpa manusia. Entahlah kalau sebenarnya ada penampakan dunia lain yang tak terdeteksi oleh mata telanjang. He… he… he.…

Beberapa x-banner seperti di bawah ini terlihat di sekitar area panggung. Tercetak “pesan sponsor” yang berbunyi: Pastikan dual SIM phone-mu original berkualitas internasional.

Kira-kira berselang 15 menit, transaksi di stan penjualan non-tunai dinyatakan siap dimulai. Pemegang nomor antrean yang hendak melakukan transaksi non-tunai dipersilakan menuju ke stan. Di sini, satu lagi kekurangsiapan panitia penjualan terlihat. Petugas di dekat gerbang masuk antrean jelas-jelas menyatakan bahwa pembayaran dengan kartu debet BCA dikenakan harga Rp 999.000. Tetapi, praktiknya petugas di stan penjualan non-tunai memberlakukan harga Rp 899.000.

Seorang pembeli yang rupanya mengenali identitas saya sebagai Herry SW menunjukkan slip transaksi kartu debet BCA miliknya. Jelas tercetak kalau nilai transaksi adalah Rp 899.000. Entah petugas mana yang salah.

Pff… bosan menanti nih. Uang tunai sudah siap. Demikian pula dengan nomor antrean. Namun, transaksi di stan penjualan tunai masih belum dimulai. Petugas di stan tersebut terlihat sedang menuliskan sesuatu di dua bundel nota pembelian.

Saya bertanya ke salah seorang petugas. “Mengapa yang tunai justru belum dimulai, Mas? Bukankah kalau tunai tinggal terima uang, dihitung, dan selesai. Seharusnya malahan bisa dimulai lebih awal tho,” kata saya.

Money detector-nya belum datang, Pak,” jawab si petugas. “Oh ok. Benar juga sih. Pusing juga kalau ada uang palsu yang terselip. Satu konsumen satu lembar saja, totalannya banyak banget,” kata saya seolah membenarkan jawaban petugas. Padahal, di dalam hati saya berkata, “Wah, panitia memang kurang siap nih.”

Beberapa menit kemudian, seorang ibu yang hendak bertransaksi tunai menghampiri petugas. Ia “menggugat” mengapa transaksi tunai justru belum dimulai. “Lha uangnya tinggal dihitung kan sudah beres,” tuturnya.

Penantian di atrium yang sumuk karena embusan AC kurang optimal akhirnya berakhir. Pukul 10.50 saya dipersilakan bertransaksi di stan penjualan tunai. Sampai saat itu, nomor antrean yang sudah didistribusikan belum sampai 20 buah. Sepi ya?

Uang Rp 1.800.000 dan nomor antrean saya serahkan kepada petugas. Tiga petugas di stan penjualan tunai terlihat kurang koordinasi. Urutan transaksi mulai dari penulisan nota pembelian, penandatanganan serah terima barang oleh pembeli dan penjual, maupun serah terima ponsel masih terlihat amburadul.

Tak hanya itu. Petugas penjualan rupanya kurang siap dengan uang kembalian. Buktinya, saya tidak menerima uang kembalian. Total nilai transaksi saya kan 2 x Rp 899 ribu alias Rp 1.798.000. Kalau saya menyerahkan uang Rp 1.800.000, berarti seharusnya ada kembalian Rp 2.000.

Saya sama sekali tak mempermasalahkan uang kembalian itu. Nilainya kecil kok. Tetapi, yang patut dicermati, persiapan panitia penjualan 322 berarti kurang matang. Mengingat saya merupakan pembeli pertama untuk transaksi tunai, mustahil uang kembalian sudah ludes. Kemungkinannya hanya dua: memang tak tersedia uang kembalian atau, alasan klasik lagi nih, uang kembaliannya belum datang. J

Mengacu pada kondisi itu, saya jadi gatal membandingkan persiapan panitia penjualan Samsung dengan HT Mobile. Berbulan-bulan silam, HT Mobile menawarkan produk terbarunya, G19, dengan harga Rp 499.000. Ketika itu, panitia penjualan telah menyiapkan bergepok-gepok uang kertas pecahan Rp 1.000. Praktik di lapangan, sebagian konsumen memang tak mau diberi uang kembalian. “Sudah nggak usah kembali, Mbak. Wong cuma seribu,” kata mereka. Terserah si pembeli ya. Tetapi, panitia penjualan sebenarnya kan sudah menyiapkan uang kembalian tersebut.

Tuntas menerima satu tas karton berisi dua kardus 322, saya meninggalkan stan penjualan tunai. Petugas mengarahkan saya ke stan aktivasi. Plastic wrap yang melapisi kardus harus dibuka. Demikian pula dengan kemasan kartu perdana simPATI dan kartu AS yang disertakan dalam paket penjualan. Dua kartu SIM itu diselipkan ke slot yang tersedia. Baterai dipasang, lalu ponsel dinyalakan. Berikutnya, charger bawaan dicoba.

Karena tak ada kewajiban bahwa dua kartu SIM Telkomsel harus diregistrasikan, saya memilih tidak meregistrasikannya. Sebab, saya enggan menanti lebih lama lagi. Proses registrasi dua kartu SIM itu minimal menghabiskan waktu tambahan sepuluh menit.

Pukul 11.10 saya meninggalkan stan aktivasi. Kalau dihitung, saya berada di stan itu selama sekitar 15 menit. Tidak singkat, namun saya yakin lebih cepat daripada konsumen lain. Kok bisa yakin? Sebab, tatkala petugas menangani unit 322 pertama yang saya beli, saya membantunya mempersiapkan unit 322 kedua. Kemasan ponsel maupun kartu perdana saya buka secara mandiri. Kartu SIM saya potong dari “rumahnya”. Charger dan baterai juga telah saya siapkan. Bahkan, saya sempat pula membantu melakukan hal serupa terhadap 322 milik seorang pembeli yang berdiri tepat di kanan saya.

Sambil menanti ponsel saya selesai dicek, saya iseng bertanya ke petugas di stan aktivasi,  “Total yang disiapkan untuk hari ini ada berapa banyak?” Ia menjawab, “Tiga ribu unit, Pak.”

Dalam hati saya berkata, “Lho, jawabannya kok berbeda dengan dua petugas lain yang tadi saya tanya ya.” Jawaban yang sebelumnya saya peroleh adalah 500 dan 1.000 unit. Jadi, mana yang benar?

Ketika saya meninggalkan area antrean pada pukul 11.11, seperti inilah suasana antrean di stan aktivasi. Sedangkan di stan penjualan, baik tunai maupun non-tunai, tidak terlihat ada pembeli.

One thought on “Panitia Samsung Tampak Kurang Siap

  1. Karena ga habis stok nya. Apakah akan dilanjutkan hari Minggu 21 Nop Pak Herry? Atau sesuai rencana semula. Hanya 1 hari saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *