Penuhi Keinginan Pengguna Asia

Ketika produsen peranti Android berlomba menawarkan ponsel dengan layar lebih lebar, Sony Ericsson menyodorkan alternatif yang bertolak belakang. Mereka menghadirkan Xperia ray yang dibekali layar sentuh berukuran “hanya” 3,3 inci.

Kalau dicermati, spesifikasi Xperia ray sebenarnya menyerupai Xperia arc yang lebih dulu beredar. Misalnya, prosesor 1 GHz, RAM 512 MB, kamera 8,1 megapiksel, dan memori internal 1 GB. Sekitar 300 MB di antara total memori internal leluasa dioptimalkan pengguna.

Mengapa mesti mengeluarkan ponsel tipe lain dengan spesifikasi praktis sama? Ternyata ada alasan tertentu yang melecut Sony Ericsson. Di Jepang dan beberapa negara di Asia, konsumen mengidamkan ponsel yang kompak. Mudah dipegang maupun digunakan.

Khusus di Jepang, kebutuhan itu terutama dipicu oleh kebiasaan masyarakat saat menumpang kereta. Satu tangan menggenggam ponsel, satu tangan lain mencengkeram tiang atau pegangan kereta. Dalam kondisi seperti itu, mengoperasikan ponsel berlayar lebar terasa kurang nyaman.

Merespons kondisi di atas, desainer Sony Ericsson merancang sebuah ponsel pintar berukuran relatif mungil. Wujud nyatanya berupa Xperia ray. Bila diukur, volume Xperia ray lebih kecil 31 persen dibandingkan Xperia arc. Satu konsekuensi dari pemampatan ukuran itu, konektor HDMI tidak tersedia di Xperia ray.

Terkait layar, tingkat pencahayaan layar Xperia ray justru sekitar 25 persen lebih terang ketimbang layar Xperia arc. Ada poin menarik lain dari layar sentuh kapasitif 3,3 inci yang dibenamkan ke ponsel tersebut. Layar Xperia ray beresolusi 854 x 480 piksel dan mampu menyajikan hingga 16,7 juta warna. Itu berarti sama dengan layar Xperia arc yang berukuran 4,2 inci. Jadi, kalau diperhatikan, tampilan layar Xperia ray lebih halus ketimbang Xperia arc.

Biarpun kecil, menurut penulis, layar Xperia ray masih relatif nyaman bagi pengguna berjari tangan besar. Supaya tingkat kenyamanan lebih maksimal, ada satu tip singkat yang telah dibuktikan penulis. Saat ponsel dalam posisi portrait alias vertikal, pilihlah mode papan ketik phonepad. Mode papan ketik full keyboard hanya digunakan ketika posisi ponsel horizontal.

Layar yang menawan dipadu dengan bingkai bodi alumunium menyiratkan kesan elegan sekaligus cantik. Kali pertama melihat ponsel berdimensi fisik 111 x 53 x 9,4 mm dan berat 100 gram, spontan penulis berkomentar, “Terlihat mewah ya.”

Sepasang kamera terintegrasi bisa dijumpai di Xperia ray. Kamera utama berada di bagian belakang ponsel. Kamera autofocus itu beresolusi 8,1 megapiksel, bukaan lensa f/2,4, dan telah mengapdosi teknologi sensor Sony Exmor R. Kalau difungsikan sebagai perekam video, ia mampu menghasilkan video berdefinisi tinggi HD 720p.

Untuk menambah pencahayaan di lokasi temaram, tersedia sebuah lampu mungil. Lampu itu lebih tepat disebut sebagai lampu senter, bukan lampu kilat. Sebab, begitu diaktifkan, ia akan selalu menyala. Cara kerjanya tidak seperti lampu kilat yang baru memancarkan cahaya kala tombol penjepret kamera ditekan.

Satu kamera lain Xperia Ray berada di sisi muka, beberapa milimiter di kiri atas tulisan Sony Ericsson. Resolusinya hanya VGA, tanpa autofocus, dan tidak dibekali lampu penambah cahaya.

Layar dengan mobile BRAVIA engine, GPS, Wi-Fi, bluetooth, dan mendukung layanan HSPA 7,2 Mbps merupakan sebagian spesifikasi lain Xperia ray. Ponsel bersistem operasi Android 2.3 alias Gingerbread itu juga dibekali radio FM, aplikasi Office Suite, dan slot microSD. Slot memori eksternal tersebut kompatibel dengan kartu memori berkapasitas sampai 32 GB.

Usai menguji pakai Xperia ray selama berhari-hari, menurut penulis, secara umum ponsel yang kini dijual di kisaran harga Rp 2,75 juta itu tergolong menarik. Ia pantas dilirik oleh konsumen yang mengidamkan ponsel Android andal, mempunyai kamera bagus, sekaligus cukup ramping untuk diselipkan ke saku.

Tidak adanya konektor HDMI bisa dijadikan catatan minus Xperia ray. Namun, penulis yakin, saat ini belum banyak pengguna yang memedulikan ketersediaan konektor tersebut. Sedikit sisi minus yang lebih penulis rasakan adalah tidak adanya backlight di tombol back dan menu.

2 thoughts on “Penuhi Keinginan Pengguna Asia

  1. Pak Fat,

    Secara keseluruhan unggul P700i. Xperia ray menang di dua poin saja:
    * Kamera lebih bagus, terutama di lokasi berpencahayaan temaram.
    * Fisik lebih cantik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *