Ponsel Pertama saat “Single Parent”

Sekitar sepuluh tahun lalu, penulis menguji pakai Sony Ericsson T68i, ponsel pertama hasil “perkawinan” antara Sony dan Ericsson. Belum lama ini, penulis menjajal Sony Mobile Xperia S, ponsel pertama usai Sony memutuskan menjadi “single parent“.

Di atas layar Xperia S tercantum merek Sony. Seluruhnya dalam huruf kapital. Di bagian terbawah ponsel terukir tulisan Xperia. Lagi-lagi semuanya berhuruf kapital. Kenangan atas Sony Ericsson masih bisa ditemukan di sisi belakang ponsel. Sebuah logo bundar berwarna hijau kombinasi abu-abu perak tersaji di sana.

Sebuah konektor micro USB terdapat di sisi kiri bodi. Sedangkan di bagian atas bakal dijumpai tombol power dan konektor audio 3,5 mm. Konektor HDMI, tombol volume, dan tombol kamera diletakkan di sisi kanan ponsel. Sebuah lubang untuk handstrap alias tali pengait disiapkan di bagian bawah ponsel.

Ada satu hal yang membuat penulis penasaran. Xperia S masih dibekali penutup baterai yang bisa dibongkar pasang. Padahal, kalau penutup baterai itu dilepas, satu-satunya slot yang dapat diakses pengguna adalah slot untuk menyelipkan kartu micro SIM. Pengguna tak bisa memasangkan kartu microSD karena Xperia S memang tak dilengkapi slot memori eksternal. Pengguna juga mustahil membongkar pasang baterai. Sebab, baterai 1.750 mAh di ponsel itu sengaja dibenamkan.

Jadi, mengapa masih harus diberikan penutup baterai? Bukankah slot micro SIM bisa dipindahkan ke sisi kiri, kanan, atau atas bodi? Mungkin sudah tak ada ruang tersisa lagi di tempat lain sehingga slot micro SIM harus diletakkan di bagian belakang bodi. Alasan lain, mungkin penutup baterai tetap disediakan untuk mempermudah teknisi membongkar ponsel umpama terjadi gangguan. Entahlah, itu hanya dugaan penulis. Desainer Sony Mobile yang mengetahui jawaban pastinya.

Layar Xperia S berukuran 4,3 inci dengan resolusi 1.280 x 720 piksel dan mampu menyajikan hingga 16,7 juta warna. Huruf, gambar, dan ikon tampil dengan cemerlang di layar HD reality display dengan mobile BRAVIA engine itu.

Permukaan layar Xperia S diklaim tahan gores. Namun, penulis tak berani sengaja memainkan paku, cutter, atau benda tajam lain di atasnya. Maklum, Xperia S yang penulis gunakan berstatus barang pinjaman.

Sekitar 0,9 cm di bawah layar, terdapat bagian yang semitransparan. Hal itu mengingatkan penulis dengan Sony Ericsson Xperia Pureness, ponsel berlayar tembus pandang yang dirilis pada akhir 2009. Di bagian semitransparan yang bisa memendarkan cahaya putih itu terdapat tiga ikon: back, home, dan menu. Nah, di atas masing-masing ikon tersebut ada titik mungil. Untuk kembali ke home screen, contohnya, pengguna mesti menekan titik mungil di atas tombol home.

Pada 1-2 jam pertama memakai Xperia S, penulis seringkali salah pencet. Niat hati memberikan instruksi back, kembali ke home screen, atau mengakses pilihan menu. Namun, yang penulis tekan justru ikon di bagian semitransparan. Tentu saja ponsel takkan merespons. Memasuki jam ketiga dan berikutnya, kesalahan pencet praktis tidak terjadi lagi.

Xperia S dibekali sepasang kamera. Kamera utama yang berada di sisi belakang ponsel memiliki spesifikasi menggiurkan. Kamera itu mampu menghasilkan foto beresolusi maksimal 12 megapiksel dengan rasio 4:3 atau sembilan megapiksel dengan rasio 16:9. Bila difungsikan sebagai perekam video, ia sanggup memproduksi klip video full HD 1080p.

Biarpun digunakan di lokasi berpencahayaan terbatas, kamera dengan autofocus plus lampu kilat itu tetap mampu mengabadikan objek secara optimal. Maklum, selain bukaan lensanya mencapai f/2,4 yang tergolong besar untuk sebuah kamera ponsel, ia telah memanfaatkan sensor Sony Exmor R yang dikenal andal.

Satu kamera lain Xperia S berada di sisi muka. Ia sanggup memproduksi foto beresolusi maksimal 1,3 megapiksel. Pengguna juga bisa memanfaatkannya untuk menghasilkan rekaman video berdefinisi tinggi HD 720p.

Ketika ponsel dalam kondisi terkunci, lalu pengguna menjumpai momen menarik, ada cara cepat untuk mengaktifkan kamera. Tekan dan tahan tombol kamera selama sekitar satu detik. Kamera spontan akan aktif dan menjepret objek. Sony menyebut kemampuan itu sebagai quick launch mode.

GPS, Wi-Fi, bluetooth, dan mendukung layanan HSPA dengan kecepatan unduh sampai 14,4 Mbps merupakan sebagian spesifikasi lain Xperia S. Ada pula radio FM, McAfee Mobile Security, dan media remote. Media remote dapat dioptimalkan untuk mengendalikan produk Sony tertentu, antara lain, Blu-ray disc/DVD player dan peranti Bravia.

Pengguna Xperia S yang sekaligus penggemar bola wajib mengakses aplikasi Football Downloads yang telah ditanamkan. Saat penulis mencobanya, terpampang aneka pilihan wallpaper dan nada dering Liga Champions yang leluasa diunduh.

Sementara itu, untuk membaca file dokumen, pengguna ponsel berdimensi fisik 128 x 64 x 10,6 mm dan berat 144 gram itu bisa menggunakan Office Suite. Sayang, aplikasi yang disertakan hanya versi viewer. Ia tak memiliki kemampuan untuk menyunting maupun membuat file baru.

Selama berhari-hari menguji pakai ponsel pintar berprosesor Qualcomm MSM8260 dual core 1,5 GHz, penulis merasa Xperia S relatif selalu trengginas. Ketiadaan slot memori eksternal awalnya sempat membuat penulis masygul. Namun, setelah mencobanya, internal storage nyata 25,8 GB yang bisa dioptimalkan pengguna ternyata masih memadai.

Phone memory yang dipakai untuk menginstalasikan aplikasi juga cukup lega. Ketika penulis masih memakai firmware versi 6.0.A.3.62, terdapat ruang sebesar 1,79 GB yang leluasa digunakan. Berikutnya, setelah firmware Xperia S penulis update ke versi 6.0.A.373, phone memory yang tersedia sedikit berkurang menjadi 1,78 GB.

Saat ini Xperia S dijual di kisaran harga Rp 5,5 juta. Sistem operasi yang digunakan masih Android 2.3 alias Gingerbread. Pada pertengahan tahun ini, pengguna dapat meng-update-nya ke Android 4.0 alias Ice Cream Sandwich.

Pesan penulis, harga Xperia S tak bisa disebut murah atau sangat terjangkau. Kalau tidak berencana membelinya, lebih baik jangan mencobanya, daripada kelak terbawa hingga ke alam mimpi.

7 thoughts on “Ponsel Pertama saat “Single Parent”

  1. memang kualitas si Sony sebelum “single parent ” istilah pak herry patut diacungi jempol ato “like this yo….” utk urusan multimedia terutama kamera, kalo dilihat sekarang memang memang menggiurkan apalagi sdh ditanam mesin bravia, bagi saya harga segitu memang “waoow”…harus berpikir dua kali lipat…sesuai kebutuhan mending beli laptop saja pak….he he he…bisa buat kerja….

  2. kalau dilihat dari spek-nya sony ini emang bikin ngiler, sama seperti produk sony yang lain yg juga bikin ngiler. tapi saya ga jadi ngiler kalau ngelihat harganya… walau pengen tapi masih belum rela (tepatnya belum mampu) mengeluarkan uang segitu hanya untuk sebuah handphone… suwun pak hery.

  3. Ketika Sony Ericsson berubah jadi Sony Mobile, hanya ada satu hal yang saya khawatirkan. Yakni, harga ponsel bakal jadi premium.

    Sony sejak dulu kan nggak pernah jual barang dengan harga murah. Netbook, contohnya, harga netbook Sony di atas rata-rata merek lain, bahkan kendati dibandingkan merek yang juga populer seperti Toshiba, Dell, atau HP.

    Nah, Xperia S ini masih menjadi produk perdana Sony Mobile. Kita lihat bagaimana penetapan harga produk Sony Mobile lainnya.

  4. Harga pasar D880 bekas sangat tidak jelas. Menurut saya, kalau masih mulus, normal, dan komplet, Rp 500 ribuan masih memungkinkan.

  5. Pak herry, kalau dipegang bodynya terasa nyaman nggak yah? Apa juga sifatnya licin sehingga gampang terselip jatuh?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *