Rapor Operator GSM ala HSW

Iseng-iseng membuat rapor kinerja operator GSM lagi ah. Rapor versi saya ini mengacu pada kinerja masing-masing operator GSM mulai Mei 2011 sampai beberapa menit sebelum rapor ini mulai saya ketikkan. Ingat, karena perilaku dan lokasi pemakaian saya mungkin berbeda dengan Anda, nilai rapor setiap operator bukan mustahil juga tidak sama.

Mayoritas lokasi pemakaian saya berada di Surabaya. Titik-titik yang rutin saya kunjungi, antara lain, daerah Gubeng Kertajaya, Embong Gayam, Ahmad Yani, Pakuwon Indah, dan Darmo Permai. Saya juga sering berada di area Plaza Tunjungan, Grand City, World Trade Center (WTC), dan Surabaya Town Square (Sutos). Jalanan yang menuju/melewati beragam lokasi yang saya sebutkan secara otomatis juga menjadi area pemakaian saya.

Pada rentang waktu Mei-Agustus, saya beberapa kali bepergian ke luar kota. Semarang satu kali, Kuta satu kali, dan Jakarta lebih dari lima kali. Ketika di Jakarta, saya paling sering beraktivitas di seputar MH Thamrin, Sudirman, Mega Kuningan, Sabang, dan Gatot Subroto.

Nah, sekarang saya mulai menceritakan kinerja masing-masing operator. Saya urutkan berdasarkan abjad.

 

AXIS

Layanan voice call dan SMS operator ini praktis tidak saya gunakan. Saya lebih sering memanfaatkan layanan akses datanya. Dibandingkan tahun lalu, apalagi dua tahun silam, terasa ada penurunan kinerja. Namun, menurut saya, masih dalam batas-batas yang bisa ditoleransi. Ketika berada di jaringan 3G, kecepatan ratusan kilobit per second (kbps) masih cukup sering saya dapatkan.

Satu catatan khusus, layanan akses data Axis beberapa kali menjadi penyelamat saya ketika layanan akses data tiga besar operator GSM kebetulan tak dapat saya nikmati dengan optimal.

Pengalaman paling berkesan terjadi beberapa bulan lalu. Ketika itu saya menginap di sebuah hotel di Jakarta. Malam itu, mendadak ada sesuatu hal yang harus saya kerjakan. Sekitar pukul 23.00, saya telah tuntas mengetik, melakukan screen capture, dan meramu bahan. Total terdapat beberapa file berukuran total 40 MB. Saya mesti mengirimkannya via email saat itu juga.

Sebuah masalah menghadang. Sinyal 3G XL malam itu kebetulan antara ada dan tiada. Sinyal 3G Indosat dan Telkomsel tersedia dalam jumlah memadai, tetapi kecepatan akses datanya kebetulan sedang “biar lambat semoga selamat”. Hal serupa terjadi dengan AHA dan Mobi.

Oh, saya kan masih punya nomor operator lain. Dengan nyaris tanya harapan, saya mengeluarkan kartu SIM Axis dari kotak mungil yang menjadi tempat peristirahatan kartu SIM, RUIM, dan microSD. Saya pasangkan ke modem, lalu coba diaktifkan. Aduh, sinyal 3G hanya satu bar.

Sambil berharap-harap cemas, saya melakukan koneksi. Eh, ternyata biarpun cuma satu bar, performanya cukup bagus. Kalau saya tak silap ingatan, saat itu kecepatan unggahnya masih menembus 100-an kbps. Alhasil, sekumpulan file berukuran total 40 MB itu sukses saya kirimkan lewat empat email terpisah.

 

INDOSAT

Bagi saya yang sehari-hari menggunakan nomor Matrix Indosat sebagai nomor utama, performa operator yang satu ini semakin hari semakin “ajaib”. Gagal menelepon maupun gagal ditelepon telah menjadi menu harian.

Tak terhitung sudah berapa puluh kali nomor Matrix saya dinyatakan sedang tidak aktif. Padahal, nomor dalam kondisi siaga dan indikator sinyal di layar ponsel terlihat penuh. Ponsel sedang duduk manis. Menganggur. Tidak sedang dipakai untuk bertelepon, ber-SMS, atau berinternet.

Yang lebih parah, si penelepon kadang bukan memperoleh notifikasi “nomor sedang tidak aktif”, melainkan justru “nomor yang Anda putar salah”. Celaka tiga belas deh. Kalau penelepon belum mengenal saya dengan baik, bisa jadi ia menyangka saya asal memberikan nomor. Kesalahpahaman bukan mustahil mencuat. Sementara itu, bila penelepon sebenarnya telah mengenal saya dan kebetulan ingin berbagi rezeki, bisa lenyap deh peluang meraup sesuap nasi dan segenggam berlian.

Beberapa kali pula terjadi, saat saya iseng menelepon nomor Matrix milik sendiri memakai nomor lain, terdengar suara “Anda tidak diizinkan melakukan panggilan ke nomor ini”. Lho kok?

Beralih ke SMS. SMS terlambat tiba tak lagi mengejutkan saya. Itu sudah sangat biasa. Pernah dalam periode tertentu, hampir semua SMS yang ditujukan ke nomor Matrix saya terlambat. Uniknya, durasi keterlambatan selalu di kisaran empat jam.

Saya mengirimkan SMS kepada seseorang dan dinyatakan delivered, padahal tidak diterima oleh nomor tujuan, juga berulang-ulang terjadi.

Karena saya termasuk orang yang sebenarnya enggan ber-SMS, saya berikan contoh nyata tambahan. Pelakunya adik kandung saya. Sehari-hari ia memakai nomor Matrix dan aktif ber-SMS untuk berinteraksi dengan pemasok bahan baku di tempatnya bekerja. Konfirmasi pesanan dari adik saya atau pemasok yang dikirimkan via SMS berkali-kali tidak sampai. Padahal, di layar ponsel jelas terlihat kalau statusnya sudah sampai alias delivered.

Kini menyoal layanan BlackBerry. Bengong, email terlambat di-push ke peranti BlackBerry, gagal browsing, Yahoo Messenger terputus, dan aneka hal mengesalkan lainnya rutin terjadi. Performa layanan akses data non-BlackBerry juga kompak. Kompak amburadul.

Karut marutnya performa Indosat tidak hanya terjadi pada layanan voice call, SMS, BlackBerry, dan akses data non-BlackBerry. Masih ada pengalaman pribadi yang mungkin menarik minat baca Anda. Satu terkait pre-order Nokia E6, satu lagi tentang kartu layanan internet unlimited.

Yang pertama dulu. Awal Juni lalu saya melakukan pre-order Nokia E6 yang ditawarkan Indosat via situsnya. Saat itu Indosat menyatakan memberikan harga khusus. E6 yang normalnya dijual Rp 3,5 juta boleh ditebus dengan Rp 2,999 juta saja. Pembeli juga berhak atas layanan broadband unlimited selama enam bulan dan headset bluetooth Nokia BH-217. Gratis.

Pesanan saya telah resmi diterima oleh sistem. Sebuah bukti pemesanan dikirimkan kepada saya via email. Pada hari yang ditentukan Indosat, saya menyempatkan diri datang ke lokasi pengambilan. Tanpa dinyana, petugas di Galeri Indosat yang melayani saya justru kebingungan. “Oh, Bapak mau ambil ponsel Nokia yang diservis?” ujarnya.

“Duh, kalau saya mau memperbaiki ponsel Nokia, ngapain ke Galeri Indosat! Saya masih cukup pintar untuk membawa ponsel itu ke pusat perbaikan resmi Nokia atau gerai partikelir,” gumam saya dalam hati.

Singkat cerita, setelah menjelaskan dengan perlahan dan detail soal pre-order Nokia E6 yang ada di situs Indosat, petugas yang melayani memberikan solusi standar. Pertanyaan dan keluhan saya dicatat. Ia menuliskannya di formulir yang salah satu lembar salinannya diberikan kepada saya. Sebuah janji bahwa saya segera dihubungi oleh petugas Indosat dilontarkannya.

Praktiknya, sampai berminggu-minggu kemudian, tak ada satu pun telepon maupun email masuk yang menindaklanjuti pesanan E6 tersebut. Akhirnya, saya menyempatkan diri datang ke Galeri Indosat lagi. Setelah antre hampir satu jam, saya dilayani seorang petugas. Ternyata ia lagi-lagi tak bisa memberikan solusi. Ia justru menyalahkan distributor yang bekerja sama dengan Indosat dalam pre-order E6. “Seharusnya yang menelepon Bapak distributornya,” tukasnya.

Hingga detik ini status pre-order E6 itu tak jelas nasibnya. Andaikan kini disuruh menebus E6 dengan harga Rp 2,999 juta pun, saya sudah tidak berminat lagi. Lha harga normalnya sekarang sudah turun kok.

Berlanjut ke kisah selanjutnya, tentang kartu layanan internet unlimited Indosat. Saya memiliki sebuah kartu SIM Indosat, hasil bundel dengan penjualan Samsung Galaxy Tab generasi pertama. Kelebihan kartu SIM Indosat itu, ia bisa dipakai untuk menikmati layanan internet unlimited selama enam bulan. Pengguna hanya perlu mengisi ulang secukupnya, sekadar untuk memastikan bahwa nomor tersebut selalu berada dalam masa aktif.

Praktiknya, saat saya memakai nomor tersebut, ada beragam masalah yang terjadi. Awalnya, saya sudah mendapatkan SMS konfirmasi bahwa layanan telah aktif. Tetapi, ketika saya coba menggunakannya di rumah, selalu terjadi gagal sambung.

Di tempat lain yang berjarak sekitar 15 km dari rumah, eh… bisa nyambung. Namun, hanya bertahan dalam hitungan menit. Setelah itu bengong. Halaman browser di laptop akan otomatis membuka sebuah halaman. Di halaman itu, antara lain, tertulis:

“Mohon maaf layanan Indosat Internet Anda belum bisa digunakan. Mohon melakukan isi pulsa atau selesaikan aktivasi kartu Anda. Informasi lebih lanjut: http://www.indosat.com/internet”.

Aneh. Pulsa di nomor tersebut masih tersedia. Saya juga sudah menuntaskan tahapan aktivasi.

Lantaran penasaran, saya coba mengisikan pulsa Rp 25.000. Internet bisa digunakan lagi selama beberapa menit. Selanjutnya… lagi-lagi bengong dan browser di laptop akan otomatis membuka halaman berisi peringatan untuk mengisi pulsa tersebut.

Dengan semangat 45 saya melakukan komplain. Hasil maksimal yang saya peroleh, halaman yang meminta saya untuk mengisi pulsa semakin jarang terbuka. Tetapi, akses data via nomor itu hanya bisa saya nikmati di peranti Android. Kalau nomor tersebut dipasangkan ke modem USB maupun peranti mi-fi, dijamin akses data takkan bisa terjalin. Ada saja deh pesan error yang muncul.

Daripada emosi terus, lagipula saya malas antre lagi di Galeri Indosat, nomor itu saya campakkan dengan seluruh sisa pulsanya. Anggaplah saya berdonasi untuk Indosat. 🙂

 

TELKOMSEL

Pada rapor edisi terdahulu, saya mengungkapkan bahwa salah satu tempat saya biasa beraktivitas, sinyal Telkomsel hilang total. Mau sinyal 2G maupun 3G, saat saya berada di ruang kerja, sinyal Telkomsel nyaris selalu menghilang. Kalau pun sempat muncul, paling beberapa detik saja, kemudian hilang dengan durasi jauh lebih lama.

Di rapor sebelumnya saya tuliskan pula, kondisi tersebut sebenarnya bukan kesalahan Telkomsel, melainkan lebih dipicu oleh konstruksi gedung tempat saya beraktivitas. Saya bisa menyimpulkan demikian karena di tempat yang sama, secara standar layanan Indosat dan XL juga tak dapat digunakan. Layanan dua operator itu akhirnya bisa dinikmati lantaran Indosat maupun XL telah memasangkan indoor repeater.

Sejak minggu lalu terjadi sebuah perkembangan positif. Kala berada di ruang kerja yang saya ceritakan di atas, sinyal Telkomsel sering muncul. Sinyal yang tampil di layar ponsel, bagi saya, sebenarnya sinyal semi-bodhong. Maksudnya, biarpun sinyal terlihat penuh, hal itu tidak menjamin saya bisa bertelepon maupun ber-SMS. Tetapi, kalau dibandingkan dengan kondisi sebelumnya, kondisi terkini tentu jauh lebih baik.

Selain di satu lokasi tersebut, nomor kartuHALO yang saya gunakan lancar jaya saat dipakai bertelepon maupun ber-SMS. Beberapa kali saya juga memakainya untuk melakukan akses data. Hasilnya, kalau berada di jaringan 3G, koneksi biasanya dapat terjadi dengan mudah sekaligus stabil. Kecepatan ratusan kbps, malahan sesekali menembus megabit per second (Mbps), dapat saya raih. Sedangkan ketika berada di jaringan 2G, saya berkali-kali mendapatkan akses data berkecepatan sepoi-sepoi, lambreta, dan kurang stabil.

Bagaimana dengan layanan BlackBerry? Dalam periode ini kebetulan saya absen menjajal layanan BlackBerry Telkomsel.

Terkait layanan call center, saya merasakan ada perbaikan. Kadar robot petugas call center menurun, sedangkan kadar manusianya meningkat. Tak lagi half robot half human atau half human half idiot. Beberapa kali saya menelepon ke 111. Jawaban petugas penerima telepon kian natural, bukan seperti menghafal atau membaca teks.

Ketika saya mengalami kesulitan meminta PIN t-Care maupun mendaftar e-billing, lalu menghubungi call center, petugas relatif responsif. Tindak lanjut yang diberikan nyata, bahkan melebihi perkiraan saya. Beberapa minggu setelah saya memperoleh solusi tuntas, ada petugas yang menghubungi saya. Menanyakan apakah masih ada masalah atau hal lain yang perlu dibantu.

Selama bertahun-tahun memiliki nomor Telkomsel, baru kali ini saya mendapatkan telepon lanjutan, sekadar untuk memastikan segala permasalahan saya benar-benar sudah dibereskan. Dulu, biarpun dijanjikan akan ditelepon oleh customer service atau petugas call center Telkomsel, praktiknya tak ada panggilan masuk yang menghampiri.

 

TRI

Tak banyak komentar yang bisa saya berikan karena saya memang sangat jarang menggunakan layanan operator satu ini. Satu hal yang bisa saya paparkan, dengan merujuk pada pengalaman pribadi, performa layanan akses data Tri di Jakarta jauh lebih bagus daripada Surabaya.

Di berbagai lokasi di Surabaya, kendati memperoleh sinyal 3G dalam jumlah memadai, saya sangat sering memperoleh kecepatan unduh puluhan kbps saja. Sedangkan di Jakarta, kecepatan unduh ratusan kbps acapkali bisa saya nikmati.

 

XL

Setelah mengalami tren positif sejak pertengahan tahun lalu hingga April 2011, kali ini kinerja layanan XL sempat menurun. Penurunan yang saya rasakan, di antaranya, terdengar suara tang… ting… tung… atau timbul tenggelam saat dipakai bertelepon.

Hal lain, sinyal 3G sempat menghilang di lokasi yang biasanya mendapatkan sinyal 3G. Terkait BlackBerry, beberapa kali layanan bengong, indikator sinyal berubah menjadi GSM/gprs/edge/3g, dan email terlambat masuk ke peranti BlackBerry.

Untuk layanan akses data non-BlackBerry, kecepatan rata-rata yang saya peroleh saat berinternet beberapa kali merosot signifikan. Hal itu terjadi insidental. Akses data juga sempat bengong. Sama sekali tak bisa dipakai, biarpun koneksi tidak terputus. Menjelang Lebaran, koneksi akses data di jaringan 3G yang sedang saya nikmati berulang-ulang terputus mendadak.

Masalah terakhir yang saya alami, dengan menggunakan layanan internet unlimited, saya selalu tidak bisa mengakses Twitter.com. Muncul notifikasi “HTTP Error 504: Gateway Timeout”. Padahal, layanan internet unlimited itu berhasil membuka beragam situs lain, baik dari dalam maupun luar negeri. Aktivitas beremail dan chatting juga dapat saya lakukan tanpa kendala.

Secara umum, bila dikomparasikan dengan periode sebelumnya, XL gagal mempertahankan tren positif. Untunglah potensi kekecewaan berkepanjangan dapat diredam oleh responsivitas customer service XL. Petugas XL yang dapat saya hubungi via nomor telepon 817 maupun email tergolong cekatan dalam menanggapi aneka komplain. Keluhan yang saya ajukan nyaris selalu ditanggapi, bahkan dituntaskan, dalam waktu kurang dari 1 x 24 jam. Hebatnya, prestasi itu tetap bisa direngkuh kendati saya mengajukan komplain pada tanggal merah atau hari libur nasional.

Satu catatan dari saya yang mungkin perlu dicetak tebal atau digarisbawahi, performa layanan XL di Jakarta masih harus banyak ditingkatkan. Secara umum, menurut saya, kinerja layanan XL di Jakarta jauh di bawah Surabaya.

 

KESIMPULANNYA…

Versi saya, Indosat pantas menduduki posisi puncak sebagai operator berkinerja terburuk pada rapor operator GSM edisi kali ini. Sedangkan operator GSM lain, biarpun memang belum sempurna, setidaknya di satu sisi memiliki performa yang lebih baik ketimbang si Kuning.

Tak ada gading yang tak retak. Menjadi operator GSM yang sempurna, serbabagus, serbalancar, serbamurah, dan serbakomplet di segala lini merupakan suatu kemustahilan. Namun, kalau ternyata ada operator yang menjadi jawara kinerja buruk di berbagai kategori sekaligus, ah… itu sih keterlaluan!

Sampai di paragraf ini, mungkin di benak Anda tersirat pertanyaan, “Bagaimana dengan operator CDMA? Seperti apa rapornya?”

Jawabannya mungkin tidak memuaskan Anda. Saya sengaja tidak membuatnya. Sebab, frekuensi saya memakai layanan operator CDMA tergolong rendah. Praktis hanya AHA dan Smartfren yang sesekali saya gunakan dalam empat bulan terakhir. TelkomFlexi telah berbulan-bulan tidak saya sentuh. Demikian pula StarOne, sampai-sampai nomor simpanan saya hangus pada 27 Agustus lalu karena lupa saya isi ulang. Jadi, kumpulan informasi yang saya miliki belum memadai untuk penulisan sebuah rapor.

7 thoughts to “Rapor Operator GSM ala HSW”

  1. Malam Pak Hery,

    Menurut pak Hery operator mana yang tarifnya paling murah ? Tolong di review OT Ski (OT 890D)

    Terimakasih

  2. Soal tarif, kalau dicermati, antaroperator sih sebenarnya relatif sama, Pak. Tinggal pintar-pintarnya kita menyesuaikan dengan paling banyak telepon ke nomor operator mana.

    Review Alcatel one touch 890D sebenarnya sudah selesai saya buat. Tetapi, karena sebuah tabloid yang akan memuatnya belum terbit, maka belum saya posting ke Ponselmu.com. Sabar dulu ya, Pak.

  3. Tidak ada komentar lain selain meng-amin-i catatan Pak HSW kali ini, karena kurang lebih seperti itu, terutama untuk Indosat, Simpati dan XL (apalagi lokasi saya sehari2 juga tidak jauh2 dari lokasi yg disebutkan diatas, minus A Yani).
    Dan khusus untuk Telkomsel, nampaknya sinyal cenat cenut bukan saya saja yang mengalami. Bahkan didalam ruangan lantai dasar sebuah bangunan berlantai 3 di daerah Mulyorejo saja, sinyal yang saya dapatkan cuma 1 bar saja. Hanya sms saja yang kadang beruntung untuk sampai diterima dg selamat. Panggilan telp? Jangan berharap 🙁
    Jadi kolega yang sudah tahu habit nomer simpati saya, kadang sms dulu utk menyuruh saya keluar dari ruangan sebelum melakukan panggilan telp. Dan ini nampaknya bukan masalah handsetnya, karena sudah saya coba menggunakan beberapa merk dan tipe ponsel, hasilnya kurang lebih sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *