Retro Review Palm Centro: PDA Phone Seukuran Ponsel

Setelah peredaran Treo 650, menurut penulis, praktis tak ada produk menarik yang dihadirkan Palm. Treo 700, 680, 750, dan 500 sama-sama pantas dipandang sebelah mata oleh pecinta produk Palm sekaligus penggemar sistem operasi Palm.

Treo 750 mungkin agak menarik karena telah mendukung layanan 3G bahkan HSDPA. Tetapi, peranti itu bersistem operasi Windows Mobile. Bagi pecinta sistem operasi Palm, berpindah ke Windows Mobile mungkin sama sekali tak pernah tersirat di benak mereka.

Tipe lain, Treo 680, tetap menggunakan sistem operasi Palm yang dikenal simpel, ringan, dan jarang hang. Sayangnya tak ada penambahan fitur yang signifikan di PDA phone ini. Treo 680 ibarat Treo 650 potong antena.

Karena itu, ketika bulan lalu Palm resmi memasarkan Palm Centro ke Indonesia, senyum manis seharusnya tersungging di bibir pecinta Palm. Mengapa? Pertama, Palm telah memiliki mitra lokal untuk menangani pemasaran dan layanan purna jual Centro di Indonesia. Perusahaan yang ditunjuk adalah Dian Graha Elektrika atau lebih dikenal sebagai DGE.

Benar, DGE belum banyak berpengalaman dalam pemasaran PDA phone. Namun, ia telah banyak makan asam garam di dunia perponselan. Siemens, BenQ Siemens, BenQ, K-Touch, Hi-Tech, dan StarTech adalah beberapa merek ponsel yang pernah dan sedang ditanganinya.

Minimal, dengan dipercayanya DGE sebagai mitra di Indonesia, pengguna Centro yang mengalami masalah cukup datang ke jaringan purna jual DGE yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia. Mereka tak perlu mengirimkan Centro-nya ke Singapura, seperti yang dulu mesti dilakukan oleh pengguna Palm yang unit PDA atau PDA phone-nya bermasalah.

Alasan tersenyum kedua, Centro meneruskan kebiasaan Palm. Yakni, mudah digunakan, simpel, memiliki respons menu yang cepat, dan nyaris tak pernah hang. Centro memang belum dilengkapi dengan fitur-fitur terkini seperti Wi-Fi dan 3G. Walaupun begitu, PDA phone tersebut memiliki sisi lain yang menarik untuk dikuliti.

Dimensi fisik Centro, terutama lebarnya, cenderung mendekati ukuran ponsel daripada PDA phone. Ukuran lengkapnya 107,2 x 53,5 x 18,6 mm dengan berat 124 gram. Centro terasa cukup nyaman digenggam maupun dimasukkan ke dalam saku.

Lebar Centro yang tergolong ramping itu tentu membawa konsekuensi. Area yang tersedia untuk QWERTY keypad lebih sempit. Berarti pula ukuran QWERTY keypad Centro relatif mungil. Toh, bagi penulis yang berjari besar, mungilnya QWERTY keypad Centro masih bisa diterima. Tak senyaman QWERTY keypad Treo 650 atau BlackBerry 8310 yang berbodi lebih lebar, namun tetap dalam ambang batas yang dapat toleransi.

Layar sentuh Centro beresolusi 320 x 320 piksel dan sanggup menampilkan sampai 65 ribu warna. Memori internalnya berkapasitas 64 MB. Untuk memperbesar kapasitas, pengguna cukup memasangkan kartu microSD. PDA phone bersistem operasi Palm 5.4.9 itu mendukung koneksi GPRS/EDGE. Perangkat quad band GSM 850/900/1800/1900 tersebut dilengkapi pula dengan bluetooth dan inframerah.

Centro dibekali kamera beresolusi 1,3 megapiksel. Kamera itu mampu menghasilkan gambar yang tergolong bagus. Sebagai sebuah PDA phone, fitur-fitur dasar seperti contact, kalender, task, dan memo tentu bisa ditemukan di Centro. Untuk membuat maupun membaca file Microsoft Word, Excel, dan PowerPoint tersedia aplikasi Documents to Go Professional Edition 10. Ada pula email, pemutar musik PocketTunes, browser Blazer 4.5, Google Maps, dan kalkulator. Kalkulator Centro mampu menjalankan operasi Matematika yang cukup rumit, termasuk perhitungan statistik dan finansial.

Meneruskan tradisi Palm, Centro nyaris tak pernah hang. Barangkali karena itulah Palm tidak menyediakan lubang reset di bodi Centro. Respons Centro tergolong cepat. Untuk uji coba, sekitar 2.500 contact penulis masukkan ke dalam Centro. Mayoritas nama memiliki lebih dari satu nomor telepon dan masih ditambah dengan alamat rumah/kantor serta email. Saat penulis mencari nama tertentu, maksimal dalam satu detik nama itu akan muncul di layar.

Centro dapat disinkronisasikan ke komputer. Pengguna bebas memilih, hendak menyinkronkan data dengan Microsoft Outlook atau Palm Desktop. Kelebihan memakai Palm Desktop, satu nama bisa dipadukan dengan beberapa nomor mobile alias ponsel sekaligus. Hal serupa tak dapat dilakukan pada Microsoft Outlook yang hanya mengenal satu nomor mobile. Bila ada nomor ponsel kedua dan berikutnya, ia harus diasosiasikan dengan field lain. Misalnya, pager, other, dan home.

Penggemar SMS akan dimanjakan oleh Centro. Selain ada QWERTY keypad, Centro memiliki fitur SMS chat alias thread SMS. Kronologis SMS antara pengguna dengan pemilik nomor ertentu dapat ditampilkan berurutan layaknya sebuah percakapan. Kalau bingung membayangkannya, lihatlah tampilan layar monitor komputer saat dipakai untuk chatting, entah memakai Yahoo Messenger, mIRC, atau aplikasi lain.

Di Amerika Serikat, Centro tersedia dalam berbagai varian warna. Antara lain, putih, merah, merah muda, dan hitam. Sementara di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, Centro tersedia dalam warna putih saja. Sedikit tambahan informasi, Centro putih versi Amerika agak berbeda dengan Centro putih versi Asia Pasifik. Bagian keypad numerik Centro putih yang beredar di Negeri Paman Sam berwarna hijau, sedangkan bagian yang sama pada Centro putih yang dipasarkan di Asia Pasifik berwarna abu-abu.

Harga? Gerai-gerai ponsel dan PDA phone menjualnya di rentang harga Rp 3,749-3,9 juta. Sedangkan di pasar modern (hypermarket dan sejenisnya), barang yang sama dibandrol sampai Rp 3,999 juta.

Tak Selalu Ada Delivery Report

Dikaitkan dengan perilaku berponsel kebanyakan pengguna di Indonesia, Palm Centro memiliki satu kekurangan. Buat sebagian orang, kekurangan itu dianggap fatal. Tetapi, bagi orang lain, kekurangsempurnaan ini mungkin bisa dimaklumi. Apa itu? Yakni, ketersediaan delivery report alias laporan pengiriman SMS.

Pengalaman penulis yang selama menguji pakai Centro memadukannya dengan kartu SIM keluaran XL, PDA phone itu tidak memiliki laporan pengiriman SMS. Seluruh menu sudah ditelusuri, namun tak terlihat satu pun pilihan yang memungkinkan penulis mengaktifkan laporan pengiriman SMS. Dengan demikian, penulis takkan bisa mengetahui status pengiriman SMS yang penulis lakukan.

Hal serupa penulis alami ketika memasangkan kartu SIM simPATI keluaran Telkomsel. Tidak muncul pilihan untuk mengaktifkan laporan pengiriman SMS. Berpijak dari pengalaman itu, penulis sempat menyimpulkan bahwa Centro tidak memiliki fitur laporan pengiriman SMS. Review Centro ala penulis tampil di sebuah lokasi di dunia maya.

Berselang beberapa jam sejak review itu diunggah, datanglah informasi berharga dari pengguna Centro. Ternyata keberuntungan menghinggapi beberapa pemilik Centro yang kebetulan memakai kartu SIM keluaran Indosat. Saat kartu Matrix dimasukkan ke Centro seorang pengguna di Jakarta, tampil pilihan aktivasi delivery report atau di PDA phone itu disebut sebagai SMS receipt.

Pengalaman sama terjadi pada seorang pengguna lain. Sesaat usai kartu IM3 dipasangkan ke Centro yang baru dibelinya itu, terlihat adanya pilihan laporan pengiriman SMS.

Setelah mendapatkan informasi tersebut, penulis melakukan uji coba. Kartu Mentari dipasangkan ke Centro. Hasilnya, pilihan delivery report tampil di layar. Berikutnya giliran kartu IM3 yang penulis masukkan ke slot kartu SIM di bodi Centro. Eh… tak muncul pilihan delivery report. Berarti, hal yang terjadi pada penulis berbeda dengan yang dialami oleh seorang pengguna Centro yang memakai kartu IM3.

Sekarang di benak Anda mungkin timbul pertanyaan, “Bagaimana kalau pilihan laporan pengiriman pesan telah muncul, lalu kartu SIM Indosat yang terpasang dilepas dan diganti dengan kartu SIM operator lain?” Ternyata jawabannya berbeda-beda. Acak dan sungguh tidak menentu. Ada Centro yang laporan pengiriman SMS-nya tetap berfungsi. Ada yang laporan pengiriman SMS-nya tetap berfungsi selama beberapa saat, kemudian tidak berfungsi. Ada juga yang laporan pengiriman SMS-nya langsung tidak berfungsi.

Jadi, kesimpulan sementara pada saat ini, laporan pengiriman SMS alias delivery report di Centro berstatus tidak menentu. Ia tak selalu ada. Pengguna layanan GSM Indosat lebih berpeluang mendapatkan dan menikmatinya.

Keterangan: Retro review merupakan review gawai yang HSW buat pada bertahun-tahun silam. Tulisan di atas HSW ketikkan pada Mei 2008. Isi naskah tidak diunggah utuh sesuai aslinya. Ada sedikit modifikasi yang dilakukan.

12 thoughts to “Retro Review Palm Centro: PDA Phone Seukuran Ponsel”

  1. 1. Saran saya sih harusnya retro review di-posting sebulan sekali atau sebulan dua kali sebagai selingan aja hehe
    2. Itu koq bisa ambil screenshoot di Palm koh? Di BBOS kan harus install aplikasi pihak ketiga dari BB (App) World untuk melakukan screenshoot..

    1. Pak You,

      1. Terima kasih atas masukannya.

      2. Saya menggunakan file image yang, kalau tak salah ingat, dirilis oleh Palm.

  2. Koh herry, coba review oppo find x deh, sepertinya smartphone itu bakalan hit and hot, dan diklaim mempunyai teknologi tercanggih

    1. Pak Rian Permana,

      He… he… saya belum cukup gila mengeluarkan uang sebanyak itu untuk sebuah ponsel bermerek Oppo, Pak.

        1. Pak Rian Permana,

          Mohon maaf karena baru hari ini saya bisa merespons pertanyaan Anda.

          Bukan karena Oppo masuk daftar hitam, melainkan karena saya tak berani mengeluarkan uang sebanyak itu untuk ponsel Oppo yang harga bekasnya cenderung terjun bebas. Lha beli Samsung seharga itu saja saya masih pikir-pikir kok.

  3. Wow wow wow. Jadi ingat masa-masa pakai Motorola Moto Q. Repot sekali kalau dibandingkan pakai android jaman sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *