Review AHA Touch (2)

Penutup baterai warna biru AHA Touch saya sebut terkesan murahan, bahkan kampungan. Bagaimana kondisi nyata penutup baterai warna hijau yang di situs AHA telah terlihat norak? Tanpa sengaja, saya menemukan jawabannya.

Ceritanya, saya sedang mencari sepeda pancal yang tepat di gerai Rodalink. Kebetulan ada pengguna AHA Touch yang sedang memperbaiki sepeda di sana. Begitu mengetahui ia memakai Touch warna hijau, saya spontan meminta
izin untuk melihatnya.

Menurut saya, warna hijaunya lebih parah daripada warna biru. Hmm… sulit dilukiskan dengan kata-kata deh. Kalau pakai perkalian, warna hijau 1,5 kali lebih tidak menarik daripada warna biru.

Sekarang beralih ke pengalaman lanjutan saya usai mengaktifkan Touch dan menanti proses booting-nya yang membutuhkan waktu sekitar tiga menit. Saya diminta menyentuh ikon Robot Ijo untuk memulai menikmati Touch.
Sentuhan pertama ternyata tak direspons. Demikian pula dengan sentuhan kedua. Baru pada sentuhan ketiga, dengan tekanan jari yang sengaja ditingkatkan, si Touch memberikan respons.

Prosesor Touch ini berapa MHz ya? Di kardusnya kebetulan tak ada informasi mengenai hal itu. Penasaran saja sih. Sebab, Touch kok terasa agak lelet.

Tap… tap… tap… sampai pada home screen. Tampilan layar terlihat kurang halus. Kalau dicermati, tulisan yang berada di bawah ikon fitur tampak bergerigi. Dipadu dengan ukuran layar yang mungil dan respons yang kurang trengginas, Touch gagal memberikan kesan pertama yang wow….

Saya bergegas masuk ke Market. Bagi saya, aktivitas mengetikkan username dan password sekaligus berfungsi sebagai ajang melatih kesabaran. Maksudnya? Jari-jari tangan saya kan tidak bisa dibilang kecil. Mereka lebih tepat dibilang seluruhnya seukuran jempol. Jadi, kala harus bersentuhan dengan tombol virtual keyboard Touch yang mungil, kesalahan pengetikan sangat sering terjadi.

Aplikasi yang pertama saya unduh dan instalasikan adalah Dead Pixel. Dengan H2C, harap-harap cemas, saya menjalankannya. Pfff… untunglah tak ada dead pixel pada peranti Touch yang saya miliki.

Berikutnya, saya coba mencari Angry Birds. Pencarian via “kaca pembesar” di sudut kanan atas aplikasi Market tak berhasil memunculkan pilihan Angry Birds klasik alias orisinal. Yang muncul adalah Angry Birds Seasons edisi hari kasih sayang.

Tiada rotan akar pun jadi deh. Nggak dapat yang versi klasik, tak ada salahnya mencoba yang versi Valentine. Tuntas menginstalasikannya, “burung marah” itu saya jalankan. Lima kali menjalankannya, lima kali kegagalan saya peroleh. Warna biru muda polos mendominasi layar. Di sisi kanan layar, saat Touch dalam posisi vertikal, terlihat seperti ada pita-pita merah yang melambai.

Ke manakah burungnya?

bersambung….

2 thoughts to “Review AHA Touch (2)”

  1. reviewnya tidak objektif, terkesan mencari kelemahan berdasarkan selera pribadi saja. apalagi yang nulis ini gak modal banget alias minjem.. lain kali klo ngasih review hpnya beli sendiri dong, kasian banget sih

  2. Terima kasih komentarnya, Pak/Bu Minjem.

    Btw, AHA Touch tersebut saya beli dari seorang penjual di Solo. Jadi, bukan pinjaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *