Review Evercoss A76 – Winner Y: Ponsel Octa Core dari Pemimpin Pasar Ponsel Merek Lokal

Evercoss merupakan pemimpin pasar ponsel merek lokal di Indonesia. Meskipun menyandang status tersebut, di mata penulis, produk yang ditawarkannya seringkali jauh dari kata menarik. Sekadar menguji pakainya pun penulis tak berminat.

Hal bertolak belakang terjadi kala penulis membaca spesifikasi dan harga jual Evercoss Winner Y alias Evercoss A76. Ponsel Android itu menggunakan prosesor octa core, dual SIM, dan ditawarkan dengan harga promo Rp 1,35 juta. “Saya mau coba!” teriak penulis di dalam hati.

Evercoss A76-18

Rasa kecewa langsung menyergap ketika A76 yang dikirimkan dari Jakarta tiba di tangan penulis. Dua stiker hologram yang seharusnya menyegel kardus ternyata sudah dikelupas. Dalam aktivitas jual beli ponsel, kondisi seperti itu sudah bisa dikategorikan sebagai ponsel bekas. Maksimal hanya dianggap sebagai ponsel BNOB alias brand new open box, bukan lagi brand new in box (BNIB).

A76 putih yang penulis dapatkan ternyata berbeda dengan gambar yang tersaji di berbagai pemberitaan di internet. Di internet maupun sampul muka kardus ponsel, bagian depan ponsel itu terlihat berwarna putih. Kenyataannya, sisi depan ponsel berwarna hitam, sedangkan penutup baterai benar berwarna putih. Penutup baterai A76 bertekstur titik-titik, mengingatkan penulis dengan penutup baterai Samsung Galaxy S5.

Penutup baterai penulis ungkit sampai terbuka. Satu kartu micro SD dan dua kartu SIM, terdiri atas satu mini SIM dan satu micro SIM, penulis selipkan. Baterai berkapasitas 2.350 mAh tak lupa dipasangkan.

A76 berlayar IPS lima inci dengan resolusi 540 x 960 piksel. Dengan memperhatikan bentang dan resolusi layar, penulis telah siap menerima seandainya tampilan layar kurang sedap dipandang mata. Ponsel penulis nyalakan. Tampilan layar A76 ternyata cukup tajam dan cemerlang.

Satu di antara dua nomor GSM yang siaga bersamaan dapat masuk ke jaringan 3G. Kalau mau, pengguna bisa menguncinya supaya selalu berada di jaringan 3G. Asalkan didukung oleh layanan operator seluler, pengguna berpeluang menikmati layanan akses data HSPA 21 Mbps. Ingin melakukan panggilan video (video call) via layanan operator seluler juga dapat dilakukan.

Sepasang kamera tersedia di A76. Kamera belakang dilengkapi fokus otomatis dan lampu kilat. Kamera itu maksimal sanggup menghasilkan foto beresolusi delapan megapiksel dan klip video full HD 1080p. Satu kamera lain berada di sisi muka. Kemampuannya lebih rendah, yakni memproduksi foto beresolusi lima megapiksel dan klip video VGA. Untuk standar ponsel merek lokal, foto yang dihasilkan tergolong lumayan.

Suka selfie? Dua kamera di A76 dibekali gesture capture. Bila kamera mendeteksi tangan pengguna membentuk huruf V, kamera bakal otomatis memulai proses pemotretan. Diawali dengan menghitung mundur tiga… dua… satu… lalu jepret. Mengacu kepada uji coba yang dilakukan penulis, gesture capture hanya berfungsi optimal bila pengguna memanfaatkan kamera belakang. Tingkat keberhasilan gesture capture kala memakai kamera depan relatif rendah.

Evercoss A76-19

Spesifikasi lain A76, di antaranya, prosesor delapan inti (octa core) MediaTek MT8392 1,7 GHz, Wi-Fi, bluetooth, GPS, RAM 1 GB, dan ROM 8 GB. Memori internal ponsel digabungkan dalam satu partisi bernama phone storage. Saat ponsel belum diutak-atik, ruang kosong yang tersedia mencapai 5,74 GB.

Ponsel bersistem operasi Android 4.4.2 KitKat itu mendukung USB On-The-Go. Ia juga dibekali radio FM yang siarannya bisa direkam. Ketika ponsel siaga, tetapi layar padam, pengguna tak harus menekan tombol power untuk mengaktifkan layar. Manfaatkan saja fitur double tap to wake up. Ketukkan jari dua kali ke permukaan layar. Layar seharusnya akan menyala.

Menurut penulis, secara umum A76 adalah ponsel Android dual SIM merek lokal yang cukup menarik. Walaupun beresolusi rendah dengan bentang layar yang relatif besar, tampilan layar ponsel itu cukup sedap dipandang mata. Respons ponsel biasanya juga tergolong gegas. Hanya sesekali terasa tersendat.

Beberapa ketidaksempurnaan atau bug penulis temukan selama menguji pakai A76. Sebenarnya tidak fatal, tetapi seandainya tak ada akan lebih baik. Apa saja? Pertama, layar berkali-kali mogok padam otomatis. Anggaplah penulis telah mengatur agar layar padam bila selama 30 detik ponsel tidak digunakan. Praktiknya, meskipun sudah melewati durasi tersebut, layar A76 kadang tetap menyala.

Kedua, ponsel bertingkah liar ketika dikantongi. Tekanan atau gesekan saat A76 berada di dalam kantong sukses menyalakan layar, otomatis membuka pengunci layar, sekaligus membuat ponsel melakukan suatu aktivitas tanpa diminta. Misalnya, menelepon ke nomor tertentu. Padahal, kalau pun layar aktif tanpa sengaja saat ponsel dikantongi, seharusnya pengunci layar masih menghadang. Solusinya, penulis memadukan fitur double tap to wake up dengan pattern lock.

Ketiga, entah mengapa, setiap 1-2 hari A76 menginstalasikan satu permainan tambahan tanpa diminta. Judul game yang tiba-tiba muncul sendiri di ponsel penulis, contohnya, Bubble Shooter, Jewels Saga, dan Zuma Frog.

Evercoss A76-17

Terakhir, ini sebenarnya bukan bug melainkan keanehan. Evercoss Winner Y alias Evercoss A76 mengantongi sertifikat Ditjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) atau lebih dikenal sebagai sertifikat postel bernomor 30978/SDPPI/2013. Sertifikat tersebut sudah diterbitkan sejak 2013, padahal saat itu belum zamannya ponsel Android berprosesor octa core.

Evercoss mengklaim harga jual A76 Rp 2,35 juta. Kala menjualnya secara online pada 27 Januari 2015, Evercoss mematok harga promo Rp 1,35 juta. Kalau bisa memperoleh A76 dengan harga promo atau maksimal Rp 1,5 juta, bolehlah Anda iseng membelinya. Namun, bila Anda memperoleh harga di atas itu, apalagi sampai menyentuh Rp 2,35 juta yang diklaim merupakan harga normal, buanglah jauh-jauh niat membeli A76.

***

Inilah berbagai foto yang dihasilkan A76.

Evercoss A76-1

Mode HDR nonaktif.

Evercoss A76-2

Mode HDR aktif.

Evercoss A76-3

Evercoss A76-4

HDR nonaktif.

Evercoss A76-5

HDR aktif.

Evercoss A76-6

Evercoss A76-7

Evercoss A76-8

Evercoss A76-9

Evercoss A76-10

Evercoss A76-11

Evercoss A76-12

Satu foto selfie di bawah ini dijepret memakai kamera depan.

Evercoss A76-13

***

Screen capture Antutu Benchmark, Sensor Box for Android, dan kondisi awal RAM.

Evercoss A76-14

Evercoss A76-15

Evercoss A76-16

56 thoughts to “Review Evercoss A76 – Winner Y: Ponsel Octa Core dari Pemimpin Pasar Ponsel Merek Lokal”

  1. Beberapa hape china kebanyakan nginstal game atau aplikasi tanpa diminta,walhasil lama2 pulsa habis,terjadi di saya pake advan s5e om, sungguh menjengkelkan,

    1. Pak Rizky,

      Oh begitu tho. Kebetulan selama saya mencoba beberapa tipe ponsel Advan, tak pernah nginstall game atau aplikasi sendiri.

  2. Wah, ponsel lokalnya kq kurang menarik ya om … pas lihat foto barangnya rasanya gimana gitu…hehe..

    Polytron Zap 5 ada kabarnya ga om? Sepertinya itu lebih menarik…hehe

    1. Pak Kuatwj,

      Zap 5 masih antre uji pakai. Tadi siang ponsel sudah saya keluarkan dari kardusnya. Kesan satu jam pertama memakainya, harapan awal yang saya patok tampaknya terlalu tinggi.

  3. selamat sore ko heri πŸ˜€

    sebelumnya selamat hari imlek bg mrayakan πŸ˜€

    iya ko, blakangnya mirip bgt sm s5
    hasil bidikan A76 hdr tidak bgtu mengecewakan jg ya ko

    oia ko, review untuk samsung grand prime donk jika berkenan.
    makasih koko πŸ˜€

    1. Pak Victor,

      Oh, MT8392 itu mestinya buat tablet ya? Di tangan saya, daya tahan baterai A76 maksimal 14 jam. Rata-rata 12 jam.

  4. Saya salah satu pembeli evercoss winner y yang baru di buka, hidupin, test sana sini, terus masukin kardus lagi, paginya kirim balik kelazada. Saya salah satu pembeli yang banyak kecewanya sama lazada & evercoss karena :
    1 . Pesan putih dikirimnya hitam ( awal beli tertarik karena lihat warna fisik full putih) . Dan ternyata salah besar.
    2. Bener yang koh herry bilang, segel hologram menempel apa adanya ????
    3. Produk cacat , banyak stuck pixel bintik2 kecil berwarna terang di bagian kiri, kanan, atas bawah layar.

  5. Pak Herry, tanpa menggunakan aplikasi “benchmark”, dengan hanya mengandalkan “perasaan”, bisakah ke-“octa-core”-an Evercoss Winner Y ini “dirasakan”? Maksud saya, langsung terasa perbedaan yang sangat mencolok dalam hal “kegegasan” misalnya, jika dibandingkan dengan menggunakan ponsel lain yang “hanya” quad-core? Ataukah sebenarnya bisa dikatakan, menggunakan ponsel Evercoss Winner Y “octa-core” ini tak ada bedanya sama sekali jika dibandingkan dengan menggunakan ponsel lain yang masih “quad-core”?

    1. Pak Doubleyoueyedee,

      Dalam merekomendasikan atau membeli ponsel, saya biasanya tidak mempertimbangkan skor hasil aplikasi benchmark. Ponsel dengan skor tinggi belum tentu nyaman dipakai. Demikian sebaliknya. Di setiap review ponsel Android saya sengaja mencantumkan screen capture Antutu Benchmark karena dulu sering ada pembaca yang memintanya.

      Mengacu kepada pengalaman pribadi, Evercoss A76 alias Winner Y ini seolah tak berbeda dengan ponsel quad core. Tetap terasa ada bedanya dengan ponsel quad core, tetapi sangat tipis.

      Sekadar pembanding, beberapa waktu lalu saya mencoba ZTE Blade Vec Pro yang menggunakan prosesor octa core dan memiliki RAM 1 GB. Saya merasa Blade Vec Pro lebih gegas daripada A76 yang sama-sama octa core dan RAM 1 GB. Padahal, resolusi layar Blade Vec Pro lebih tinggi.

    1. Pak Chitrawan,

      Itu Acer Liquid Leap. Mungkin lebih tepat disebut smartband daripada smartwatch ya. Kelak saya akan me-review-nya.

  6. Saya sempat tertarik dengan smartphone ini, tapi akhirnya ambil Zap 5… Betul ternyata pak, ekspektasinya terrlalu tingg thd Zap 5, tapi masih lumayan lah πŸ˜€

  7. Satu lagi pak Herry, apa yang membuat Evercoss itu jadi pemimpin pasar ponsel pintar merek lokal di Indonesia, ya? Apa karena faktor harganya yang bisa dibilang kelewat murah, sehingga banyak diminati oleh mereka yang hanya membutuhkan ponsel “yang penting bisa nyala”? “Yang penting bisa nyala” maksudnya, kebutuhan fungsi minimum sebuah ponsel sudah bisa terpenuhi.

    1. Pak Doubleyoueyedee,

      Gara-gara membaca pertanyaan Anda, saya jadi tersadar kalau telah salah tulis.

      Yang benar, Evercoss itu “pemimpin pasar ponsel merek lokal di Indonesia”. Bukan “pemimpin pasar ponsel pintar merek lokal di Indonesia”.

      Jaringan distribusi yang kuat, iklan yang gencar, dan harga yang relatif miring membuat Evercoss dilirik oleh segmen konsumen tertentu.

  8. Maaf oot apakah P Herry berminat mereview LG L Bello? Kelihatannya menarik pak apalagi saat ini ada promo bonus headphone merk Sennheiser hd 180 setiap pembelian ponsel tsb. Trims

    1. Pak Han,

      Anda mau meminjamkan ponsel itu kepada saya? Kalau iya, saya berminat review. πŸ™‚

      Saya tidak berencana menguji pakai L Bello karena masa edarnya sudah lumayan lama.

  9. Oh … Evercoss bukan pemimpin pasar ponsel “pintar”. Jadi siapa yang memimpin pasar ponsel “pintar” sekarang ini, pak Herry? Kalau boleh saya tebak, Samsung, bukan? Soalnya dia berani jual dengan harga relatif lebih tinggi ponsel dengan spek yang lebih rendah (dibanding merek lain).

    1. Pak Doubleyoueyedee,

      Kalau pemimpin pasar ponsel pintar di Indonesia: Samsung.
      Kalau pemimpin pasar ponsel pintar merek lokal di Indonesia: Andromax.

    1. Pak Harris,

      Liquid Leap kompatibel dengan Android 4.4 KitKat. Kalau Galaxy Tab 3-nya sudah pakai 4.4, kemungkinan bisa.

  10. pak herry…. saya mau bertanya tentang polytron zap 5….
    di postel tertulis ponsel ini dari indonesia… apakah benar ponsel ini buatan asli indonesia ?
    ataukah hanya rebranding seperti kebanyakan smartphone polytron sebelumnya.. jika rebranding, apakah saya bisa tahu rebranding dari apa ? terima kasih. maaf oot

    1. Pak Jemmy,

      Proses produksi Polytron Zap 5 belum sepenuhnya dilaukan di Indonesia. Namun, perakitan finalnya memang dilakukan di Kudus, Jawa Tengah.

      Saya kurang tahu rebranding atau bukan.

      Kalau Anda belum terlanjur membeli ponsel itu, berpikirlah berkali-kali dulu sebelum membelinya. Anda hanya layak membelinya bila mempunyai minimal satu alasan berikut ini:
      1. Membutuhkan ponsel LTE dalam kondisi baru dan harga termurah.
      2. Ingin punya ponsel LTE buatan Indonesia, bagaimana pun kinerjanya.

    1. Pak Agung Azrin,

      Cara memilihnya sederhana saja. Anda suka selfie atau tidak? Kalau suka, silakan membeli Galaxy Grand Prime.

      Kalau tak suka selfie, silakan memilih Xperia M2 atau LG G2 Mini.

  11. Pak Herry SW..
    di dinomarket ada preorder wiko rainbow, spesifikasinya hampir mirip seperti xiaomi redmi 1s tapi harganya cuma 999 ribu..
    kayanya wiko ini ponsel besutan perancis dan menguasai pasar di negerinya dan nomor dua di eropa CMIIW..
    katanya ponsel ini masuk ke indonesia dengan menggandeng distributor lokal yang menaungi ponsel dan tablet merk Movi..
    bagaimana tanggapan pak Herry nich,terima kasih…

    1. Pak Arik,

      Wiko memang ponsel asal Perancis. Produksinya sih dilakukan di Tiongkok. Soal klaim menguasai pasar di Perancis dan nomor dua di Eropa, saya tak punya data untuk mendukung atau menyangkalnya.

      Distributor Wiko di sini memang Parastar. Parastar itu sejak lama sudah jadi distributor Nokia, Alcatel, lalu membidani merek lokal Wovi, mengoperasikan gerai Sentra Ponsel di berbagai kota, dll.

  12. Pak Herry maaf oot, mohon informasinya untuk merk dan type ponsel yang paling rekomen untuk dibeli dengan kisaran harga 2-3 jt. Kebutuhan kamera yang fantastis (diklasnya), kapasitas memory besar, nyaman dan tidak lemot. Terus terang sy g paham spek ponsel, manut rekomennya Pak Herry. Trimakasih

    1. Bu Muthia,

      Dengan kriteria seperti itu, saya cenderung menyarankan Acer Liquid E3. Harga baru saat ini Rp 2,299 juta. Review bisa dibaca di http://ponselmu.com/review-acer-liquid-e3-kamera-depan-dilengkapi-lampu-kilat/

      Kalau mau yang tampilan fisiknya lebih seksi, sedangkan kameranya sama-sama bagus, ada Acer Liquid Jade. Harga barunya Rp 2,599 juta. Untuk wanita, Liquid Jade warna putih cocok banget deh. Review bisa dibaca di http://ponselmu.com/review-acer-liquid-jade-tipis-ringan-dan-berkamera-mantap/

  13. “Ketiga, entah mengapa, setiap 1-2 hari A76 menginstalasikan satu permainan tambahan tanpa diminta. Judul game yang tiba-tiba muncul sendiri di ponsel penulis, contohnya, Bubble Shooter, Jewels Saga, dan Zuma Frog.”

    Membaca paragraf ini seharusnya sudah menjadi peringatan bagi yang membaca artikel ini untuk menghindari sejauh-jauhnya merek evercoss, tampaknya belum saatnya melirik merek lokal jika etikanya memperlakukan konsumen malah lebih buruk daripada merek cina seperti Xiaomi atau Huawei.

  14. Oh ya, sebaiknya merek Lenovo juga dihindari, belum lama ini ada berita dari media teknologi dari luar bahwa Lenovo juga menginstal spyware di laptop mereka meskipun belum tentu ponsel mereka juga diinstal spyware, tiada salahnya waspada.

  15. Wah ko pada nyirik2 merk sih..yg disusupi spyware kan di laptop merk lenovo bkn di hape, q pake evercoss tapi tipe elevate Y sejauh ini ga nemui perintah instalasi tambahan yg aneh2 gitu kecuali setelah download apps dr google play yg kebanyakan ada advertisementnya

  16. Pak Herry, HP Android 4-5 inch, RAM 1 GB, harga dibawah 1.5 juta yg relatif bandel dan tahan banting (hehehe..gak ada ya..maksudnya relatif tahan benturan soalnya buat anak 7 tahun) kira2 apa pak ?

    1. Pak Dohny,

      Hmm… kalau untuk anak-anak, Acer Liquid Z205 yang harga barunya Rp 749 ribu mestinya sudah cukup. Ponsel Android dual SIM itu memiliki RAM 1 GB.

      Kalau mau nambah anggaran untuk mendapatkan spesifikasi yang lebih baik, silakan melirik Xiaomi Redmi 1S. Pasaran harga barunya Rp 1,6 juta sampai Rp 1,75 juta.

  17. Di Lazada, kemaren ada promo Evercoss Elevate Y2 Pak, ini linknya Pak http://www.lazada.co.id/evercoss-elevate-y2-octacore-16-gb-hitam-858847.html?wt_af=id.affiliate.criteo.lfcustomersdisplay&utm_source=criteo&utm_medium=cpcmedia&utm_campaign=lfcustomersdisplay .
    harga pasaran sih masih 2- 2,1 jutaan.. (ngecek di toko hp besar di Malang).
    Tapi di Lazada sih jualnya 2,499 juta pada harga normal. Mumpung kmaren ada promo jadinya cuma 1,499 juta, Pak πŸ™‚
    Pengennya sih dibeli terus dijual lagi.
    Pendapat Bapak gimana ya? apa kira2 peminatnya banyak ya kl elevate y2 ini saya jual harga miring? hehe
    Takutnya beli di Lazada harga promo, barangnya ternyata defect..hehe

    1. Pak Febrian,

      Menjual ponsel Evercoss di kisaran harga segitu tidak mudah lho.

      Hal lain, mengacu kepada pengalaman saya berbelanja di Lazada, beragam pengalaman pahit telah saya dapatkan. Salah satunya, saat membeli ponsel Evercoss baru, barang saya terima dalam kondisi segel sudah terbuka. Komplain saya sama sekali tidak direspons oleh Lazada.

  18. Pak Herry SW, mohon info dari pengalaman anda untuk kategori merk lokal yang punya rekam jejak kualitas produk dan layanan purna jual yang baik apa ya? Terima kasih

    1. Pak Adrian,

      Kalau saat ini ya paling tinggal Axioo, Polytron, dan SpeedUp ya. Kalau zaman dulu juga ada Hi Tech dan Taxco.

  19. Terima kasih infonya pak Herry SW, jika ingin membeli tablet merk lokal apakah kualitas produk dari Polytron dan SpeedUp layak beli? Atau dengan anggaran maks 1 juta, apa pak Herry SW punya gawai lain yang direkomendasikan?

  20. beberapa review mengklain score antutu mencapai 29000 s.d. 30000, kok bisa disini hanya 23.000 ya pak? apa bisa dikatakan cacat produk? atau belinya untung-untungan, sebenarnya niat mu beli hp ini, tapi saya agak ragu. mohon saran, terima kasih.

    1. Pak Roni,

      Skor Antutu bukan segalanya lho. Perbedaan skor bisa disebabkan aneka hal. Misalnya, versi firmware. Saya cenderung menyarankan Anda jangan membeli ponsel merek Evercoss, Mito, Imo, Advan, dan sejenisnya. Kecuali, Anda menomorduakan daya tahan dan built quality.

  21. sekarang saya mengerti kenapa evercross jangan di beli bisa install game sendiri.saya batal ambil evercross t 4g m40.terima kasih reviewnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *