Review HDC One: Pakai D, Bukan T

Kalau tertarik HTC One, tetapi dana yang tersedia belum mencukupi, peminat mempunyai beragam alternatif tindakan. Yaitu, menunda pembelian, membeli secara kredit, atau… membawa pulang HDC One. Ya, HDC One. Pakai D, bukan T.

Tampilan fisik HDC One alias HX-9299A 99 persen sama dengan HTC One. Cermatilah fotonya. Setuju kan? Hanya ada perbedaan kecil di antaranya keduanya. Misalnya, di bagian muka HDC One tidak tertera merek, sedangkan di bagian belakangnya tidak ada logo Beats Audio. Pada sisi belakang tak ada pula garis yang melintang di atas dan bawah. Sementara itu, sisi atas, kiri, kanan, dan bawah HDC One kembar identik dengan HTC One. Kartu yang dipakai pun micro SIM.

HDC One-1

HDC One-2

Tombol power HDC One berada di kiri atas. Uniknya, bagian kanan atas ponsel kalau ditekan terasa memberikan respons. Seolah dibalik casing One itu terdapat tombol yang membal. Mungkinkah cetakan alias moulding bodi One sebenarnya sama dengan ponsel lain yang dibekali tombol power di kanan atas ponsel? Entahlah.

Layar sentuh HDC One berukuran 4,7 inci dengan resolusi 1.280 x 720 piksel. Tampilan antarmuka (user interface) atau menunya memang tak sama dengan HTC One. Namun, ia mampu menyajikan gambar dan huruf dengan tajam. Layar itu juga responsif terhadap sentuhan.

HDC One-3

Di atas dan bawah layar terdapat lubang speaker. Saat ponsel dipakai memutar musik atau video, hanya bagian atas yang benar-benar bisa bersuara. Lubang speaker di bagian bawah sepertinya cuma lubang tanpa speaker.

Spesifikasi lain One bukan ala kadarnya. Di antaranya, prosesor empat inti (quad core) Mediatek MT6589 1,2 MHz, RAM 1 GB, dan ROM 4 GB. Tidak tersedia selot microSD. Tetapi, kalau dicermati, di dalam ponsel telah tertanam memori tambahan berkapasitas 16 GB yang diberi nama SD Card.

HDC One-4

Ponsel yang mendukung layanan 3G itu dibekali sepasang kamera. Kamera belakang dilengkapi fokus otomatis dan lampu kilat. Ia sanggup menghasilkan foto delapan megapiksel dan klip video full HD 1080p.

Satu kamera lain berada di sisi muka. Seperti biasa, tanpa fokus otomatis dan lampu kilat. Kamera itu dapat memproduksi foto beresolusi dua megapiksel dan klip video HD 720p. Performa dua kamera yang tersedia pantas dikategorikan bagus.

HDC One-5

Wi-Fi, bluetooth, GPS, lampu senter, dan radio FM merupakan sebagian spesifikasi lain ponsel Android 4.2 Jelly Bean itu. Aneka produk Google, antara lain, Gmail, Chrome, Maps, dan YouTube, tidak tersedia saat One diaktifkan. Untunglah Play Store tetap tersedia. Dengan demikian, pengguna tak kesulitan mengunduh aneka aplikasi tambahan, termasuk salah satunya Gmail.

Sumber tenaga One berasal dari baterai berkapasitas 1.600 mAh yang ditanamkan. Sekali diisi ulang sampai penuh, HDC One rata-rata dapat penulis gunakan selama 15 jam. Hal itu berarti lebih hemat daripada ponsel Android quad core lain yang memiliki kapasitas baterai lebih besar. Misalnya, Acer Liquid E2, Sony Xperia Z, LG Nexus 4, dan HTC One.

HDC One-6

Selama menguji pakai One, penulis menilai sisi minus utama ponsel itu satu saja. Fungsi getar One kurang prima karena lebih menyerupai getaran dari vibrator setengah rusak. Betapa pun, sebagai replika HTC One, secara umum kinerja HDC One tidak mengecewakan.

Setelah ditambah ongkos kirim, biaya pengurusan izin ini-itu, dan tentu saja keuntungan penjual, harga jual terkini HDC One sekitar Rp 2,8 juta. Harga tersebut bisa naik turun bergantung nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. Kebetulan belakangan ini nilai tukar rupiah sedang cenderung melemah.

***

Berikut beberapa foto yang dihasilkan oleh HDC One. Olah digital yang dilakukan hanya resize dan penambahan watermark.

Hasil HDC One-1

Hasil HDC One-2

Hasil HDC One-3

Hasil HDC One-4

Hasil HDC One-5

Hasil HDC One-6

Hasil HDC One-7

15 thoughts to “Review HDC One: Pakai D, Bukan T”

    1. Pak Rizal Surabaya,

      Hmm… kurang bisa dibandingkan sih. HDC One hanya satu selot kartu (micro SIM), sedangkan Grand Duos dua selot kartu (mini SIM). Untuk ponsel utama sih saya lebih memilih Lenovo P770. Baterainya mantap, harga lebih murah.

  1. Maaf pak Herry SW, saya mau nanya tapi ga nyambung dengan yg di bahas di atas. Bingung mau nanya dimana soalnya
    Kalau di android ada aplikasi GPS kayak di lumia ga, namanya HERE Drive dan HERE Maps ? Jadi GPS nya ga perlu koneksi internet, sama kayak di GPS mobil.
    Terima kasih.

    1. Pak Anton,

      Saya nggak pernah bermain GPS offline di Android. Namun, setahu saya ada GPS offline kok. Salah satunya, Sygic.

  2. Ikut jawab pertanyaan pak Anton
    ada Gps offline di android saya pernah coba pake IGO ,asal tidak terhalang atap atau pepohonan bisa berfungsi.

    1. Pak Rama,

      Saat mencoba ponsel, saya tak pernah melakukan rooting. Saya mencobanya dalam kondisi standar.

      HDC One-nya sudah tidak di tangan saya.

  3. Pak herry, apakah material bodi hdc one ini menggunakan metal jg seperti htc one ?
    Dan kalau boleh tahu, dimana bisa memesan hdc one ini..
    Terima kasih

    1. Pak Wahyudi,

      Bodinya seingat saya ada logamnya, tetapi tidak sebanyak di HTC One. Setahu saya importer HDC One sudah pensiun semua. Karena nilai tukar rupiah melemah, harga HDC One menjadi terlalu tinggi.

    1. Pak Jutawan,

      Saya baru satu kali mencoba HDC. Unit yang saya pakai sih lebih bagus daripada merek lokal seperti Mito, Advan, dan Evercoss.

    1. Pak Jutawan,

      Untuk ukuran saat ini sudah tak menarik lagi.

      Boleh tahu berapa bulan lagi Anda akan membeli ponsel?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *