Review Huawei Ascend Mate7: Laris Manis Andai Beda Satu Hal

Decak kagum langsung menyeruak kala melihat bentuk fisik Huawei Ascend Mate7. Bodi berbahan aluminium dipadu dengan warna emas yang tidak norak membuat ponsel itu terlihat elegan. Ketika dipandang dari samping, ia tampak cukup tipis.

Dua selot terdapat di sisi kiri ponsel berdimensi fisik 157 x 81 x 7,9 milimeter dan berat 185 gram itu. Selot paling atas untuk menampung satu kartu micro SIM, sedangkan selot di bawahnya untuk menyelipkan kartu microSD. Sisi belakang bodi ponsel tak dapat dibuka. Baterai lithium polymer berkapasitas 4.100 mAh tertanam di dalamnya.

Ascend Mate7-1

Ascend Mate7 dibekali layar IPS enam inci beresolusi 1.920 x 1.080 piksel. Layar itu mampu menyajikan gambar dan huruf dengan prima. Sedap dipandang mata. Di bagian bawah layar terlihat deretan tombol navigasi. Hal yang menarik, pengguna bebas menentukan susunan tombol navigasi berdasarkan selera dan kebiasaan mereka. Tersedia empat pilihan susunan tombol.

Bukan hanya itu. Pengguna bertelapak tangan relatif kecil biasanya agak kesulitan menarik panel notifikasi di ponsel berlayar lebar. Mereka mustahil memegang ponsel dengan satu tangan, lalu mengakses panel notifikasi di deretan teratas layar.

Huawei rupanya sudah menyiapkan solusi atas kesulitan tersebut. Perusahaan berlogo kipas merah itu menambahkan tombol panel notifikasi di deretan tombol navigasi. Jadi, saat ingin menarik panel notifikasi, pengguna cukup menekan satu tombol sentuh di bagian bawah layar. Tak usah lagi menyapukan jari dari bagian teratas layar ke bawah.

Ascend Mate7-9

Sekarang perhatikan sisi belakang ponsel. Di bawah kamera terlihat area kotak. Itu adalah pemindai sidik jari alias fingerprint scanner. Sebagian orang lebih sering menyebutnya sensor sidik jari.

Lima sidik jari yang berbeda mampu diingat oleh Ascend Mate7. Kala ponsel siaga dan layar padam, pengguna tak perlu lagi menekan tombol power, lalu menyapukan jari ke layar untuk menuju home screen. Pengguna cukup menyentuhkan jari ke pemindai sidik jari. Layar ponsel akan menyala, pengunci layar pun otomatis terbuka.

Ascend Mate7-2

Ascend Mate7-5

Lho kok mirip dengan pemindai sidik jari di Samsung Galaxy S6? Benar. Kalau mengacu kepada aneka video yang penulis saksikan di YouTube, cara kerja pemindai sidik jari Ascend Mate7 tampaknya serupa dengan Galaxy S6. Bedanya, Galaxy S6 baru diperkenalkan awal bulan ini di Barcelona, Spanyol dan belum tersedia di pasar. Sedangkan Ascend Mate7 sudah beredar resmi di Indonesia. Mau beli selusin pun sangat bisa.

Kalau dibandingkan Samsung Galaxy S5 maupun Galaxy Note 4, proses menyalakan dan membuka layar di Ascend Mate7 lebih praktis. Pengguna tak perlu menekan tombol tertentu dulu. Pengguna juga tidak usah menyapukan jari (swipe) ke permukaan pemindai sidik jari. Satu-satunya hal yang harus dilakukan pengguna adalah menyentuhkan jari ke pemindai sidik jari tersebut.

Kegunaan lain sensor sidik jari di Ascend Mate7 untuk mengamankan folder tertentu di ponsel. Anggaplah di folder itu tersimpan kumpulan foto dan dokumen yang sangat pribadi. Tanpa menyentuhkan jari yang sah, folder tersebut takkan bisa dibuka. Pengguna juga dapat memblokir akses ke aplikasi tertentu yang diinginkannya. Sidik jarilah yang menjadi kunci pembuka.

Hendak melakukan foto selfie? Pemindai sidik jari lagi-lagi bermanfaat. Aktifkan kamera depan, arahkan ke diri sendiri, kemudian sentuhlah pemindai sidik jari sampai kamera tuntas menjepret. Selain mempermudah proses pemotretan, hal itu mampu meminimalkan guncangan pada ponsel.

Dua kamera dibenamkan ke Ascend Mate7. Kamera di bagian belakang ponsel dibekali lampu kilat dan fokus otomatis. Kamera itu memakai sensor Sony dan lensa dengan bukaan f/2. Ia mampu memproduksi foto beresolusi hingga 13 megapiksel dan klip video full HD 1080p. Pengguna bisa mengatur ISO/ASA, white balance, pencahayaan, saturasi warna, dan kontras secara manual. Ada pula pilihan all-focus yang memungkinkan pengguna memilih area pemfokusan.

Sementara itu, meskipun memang lebih rendah, spesifikasi kamera depan ponsel Ascend Mate7 bukan ala kadarnya. Beberapa parameter pemotretan dapat diatur manual. Kamera tersebut sanggup menghasilkan foto lima megapiksel dan klip video full HD 1080p.

Ascend Mate7-3

Dapur pacu Ascend Mate7 memanfaatkan prosesor octa core Hisilicon Kirin 925 yang terdiri atas quad core 1,8 GHz dan quad core 1,3 GHz. Kirin? Wajar kalau nama itu masih terdengar asing di telinga. Kirin adalah prosesor buatan Huawei. Huawei terlihat ingin mengikuti jejak Apple dan Samsung yang membuat prosesor sendiri untuk gawainya.

RAM 2 GB, ROM 16 GB, Wi-Fi, bluetooth, NFC, dan GPS merupakan sebagian spesifikasi lain Ascend Mate7. Memori internal ponsel digabungkan dalam satu partisi yang diberi nama internal storage. Ketika ponsel usai di-reset, kapasitas kosong di internal storage mencapai 11,21 GB.

Ponsel tersebut juga memiliki pedometer untuk menghitung langkah kaki pengguna. Bila karena sesuatu hal pengguna ingin menyederhanakan tampilan home screen, ia tinggal masuk ke menu home screen style dan memilih simple. Layar utama ponsel langsung berubah menjadi minimalis. Cocok untuk orang tua yang mungkin kebingungan kalau disodori banyak ikon.

Ascend Mate7-6

Ascend Mate7-7

Ascend Mate7 yang mendukung USB On-The-Go itu bersistem operasi Android 4.4.2 dengan tampilan antarmuka (user interface) EMUI 3.0. Kedudukan EMUI relatif sama dengan MIUI ala Xiaomi, Vibe UI ala Lenovo, maupun Color OS ala Oppo. Tampilan menu dan beberapa fitur ponsel dipermak, tetapi basisnya tetap Android.

Selain 3G dan HSPA, Ascend Mate7 dapat digunakan untuk menikmati layanan LTE FDD Band 1/2/3/4/5/7/8/20/28. Dalam bahasa yang lebih sederhana, ponsel itu cocok dengan layanan LTE Telkomsel, XL, dan Indosat, baik sekarang maupun kelak. Saat ini tiga operator itu menggelar layanan komersial LTE di frekuensi 900 MHz. Setelah penataan frekuensi rampung dan mendapatkan lampu hijau dari pemerintah, rencananya tahun ini layanan LTE mereka juga memanfaatkan frekuensi 1.800 MHz.

Pelindung Privasi

Masih ingat dengan pemindai sidik jari yang dibahas di bagian awal tulisan ini, bukan? Fitur itu meningkatkan perlindungan terhadap privasi pengguna. Menyangkut privasi, Ascend Mate7 sebenarnya dilengkapi pula dengan aneka fitur lain yang pantas dioptimalkan pengguna.

Ascend Mate7-4

Ponsel itu memiliki mode do not disturb. Ponsel dapat diatur supaya hanya berbunyi saat ada panggilan telepon dan SMS masuk dari nomor-nomor yang tertentu yang diizinkan. Telepon dan SMS dari nomor lain tetap akan masuk. Namun, ponsel senantiasa diam membisu. Dengan demikian, pengguna yang sedang beristirahat atau rapat takkan terganggu. Kalau mau, aktivasi mode do not disturb bisa dibuat terjadwal. Misalnya, otomatis aktif mulai pukul 23.00 sampai 06.00.

Ada pula harrassment filter yang layak dicoba pengguna. Fitur itu memiliki tiga fungsi utama. Pertama, menghadang telepon dan SMS dari nomor yang tercantum di dalam daftar hitam. Kedua, memblokir telepon dan SMS dari nomor yang tak tersimpan di daftar kontak. Ketiga, langsung menolak panggilan masuk dari private number alias unknown number.

Kalau disarikan, menurut penulis, secara umum kinerja Ascend Mate7 tergolong prima. Tingkat kegegasannya patut diapresiasi. Antilemot deh. Daya tahan baterainya bahkan pantas diberi acungan dua jempol. Asalkan tidak dipakai untuk tethering alias berbagi koneksi internet dengan peranti lain via Wi-Fi, sehari penuh ia tak perlu bersentuhan dengan charger. Daya baterai ponsel itu malahan seringkali masih tersisa walaupun sudah dipakai selama 24 jam.

Fitur LTE-nya juga terbukti bisa digunakan. Penulis sempat memadukannya dengan layanan LTE XL di Surabaya. Soal kamera, performanya tergolong cukup bagus. Ya, cukup bagus, bukan sangat bagus atau istimewa.

Dimensi fisik yang lumayan bongsor sehingga kurang nyaman dikantongi menjadi pengurang daya tarik Ascend Mate7. Hal lain, tidak tersedia pilihan untuk mengunci ponsel agar selalu berada di jaringan LTE. Akibatnya, kala jaringan LTE belum optimal seperti sekarang, ponsel seringkali berpindah ke jaringan HSPA atau 3G. Niat penulis merasakan jaringan LTE, apa pun kondisinya, menjadi terganggu.

Ascend Mate7-8

Harga ritel resmi Ascend Mate7 saat ini Rp 6,499 juta. Kaget? Sama dong. Penulis pun terkejut dengan banderol harga tersebut. Namun, penulis sebenarnya yakin Ascend Mate7 akan laris manis seandainya ada satu hal yang berbeda. Perbedaan kecil yang sangat menentukan hasil akhir. Apakah itu? Mau tahu saja atau mau tahu banget? Ini lho: tulisan di bawah layar ponsel tersebut bukan Huawei, melainkan Samsung.

***

Foto-foto yang dihasilkan Ascend Mate7.

Ascend Mate7-12

Ascend Mate7-13

Ascend Mate7-14

Ascend Mate7-15

Ascend Mate7-16

Ascend Mate7-17

Ascend Mate7-18

Ascend Mate7-19

Ascend Mate7-20

Ascend Mate7-21

Satu foto di bawah ini dijepret menggunakan kamera depan.

Ascend Mate7-22

***

Screen capture Antutu Benchmark dan Sensor Box for Android.

Ascend Mate7-10

Ascend Mate7-11

61 thoughts to “Review Huawei Ascend Mate7: Laris Manis Andai Beda Satu Hal”

  1. Suka dengan warna theme kecoklatan.Tertarik banget dengan ponsel ini sampai pada bagian terkuak harganya. Ini bukan ponsel buat saya. Hihihi.

    Sekedar pengen tahu, ponsel termurah apa yang memiliki fitur pengaturan aperture pada kameranya?

    1. Pak/Bu Audi,

      He… he… iya, harganya mengejutkan.

      Pengaturan aperture berarti mengubah diagrafma (besaran f) secara manual ya, Pak? Hmmm… kayaknya tidak ada deh. Kalau mengubahnya di shutter speed, exposure compensation, atau ISO/ASA, ada Vivo Y22 yang harga barunya Rp 2,199 juta.

  2. Fitur paling menariknya adalah Do Not Disturb, dan Harrassment Filter.
    Bagi saya itu luar biasa bermanfaat… Ponsel android lain yang punya fitur itu apa ya pak… Dengan harga yang lebih masuk akal tentunya…. hehe…

    1. Pak Donnie,

      Nah… itu dia masalahnya. Di Xiaomi Redmi 1S ada fitur penyaring panggilan. Namun, tidak selengkap ala Ascend Mate7.

      Di Vivo Xshot ada fitur serupa, tetapi harganya Rp 5,999 juta. Karena fitur umum Vivo biasanya sama, siapa tahu di Y22 yang dijual Rp 2,199 juta tersedia fitur tersebut. Ini baru dugaan saya. Saya belum pernah membuktikannya sendiri karena belum pernah menguji pakai Y22.

  3. Dilihat dr segi design udah keren, spek ok. Tp pas liat harganya jd mikir hehehe. Apalagi service center huawei kayaknya tidak ada di kota saya.

  4. “…..Ini lho: tulisan di bawah layar ponsel tersebut bukan Huawei, melainkan Samsung.”

    Itu yg dbagian mana ya? Hehe…

    1. Pak Ahmad,

      Itu lho, di bawah layar kan ada tulisan Huawei. Seandainya tulisannya Samsung sehingga Ascend Mate7 berarti bermerek Samsung, ponsel tersebut bakal laris manis deh. Banyak konsumen di sini yang gila merek, bukan?

  5. “Ini lho: tulisan di bawah layar ponsel tersebut bukan Huawei, melainkan Samsung.” … Hahahahahahahaha … baru kali ini saya ngakak habis-habisan baca kalimat penutup tulisan pak Herry … hahahahahahaha. Btw, gambar Ascend Mate7-nya yang tampak samping, depan, belakang, yang berlatar belakang putih polos, serta tampak belakang yang menonjolkan bagian kamera dan pemindai sidik jari, yang juga berlatar belakang putih polos, kedua gambar tersebut “sempurna” sekali fotonya, terlalu sempurna malah, … seperti mabis melewati tahap “rekayasa digital”, pak Herry sendiri yang bikin?

    1. Pak Doubleyoueyedee,

      Foto/gambar yang Anda sebutkan itu saya ambil dari situs Huawei. Kalau yang hasil jepretan saya sendiri sudah bisa ditebak yang mana, bukan?

  6. Membaca paragraf demi paragraf… Wah RACUN baru nih dari OM HSW…
    Mantappp…
    Tapi setelah sampai pada paragraf harganya… GAK jadi RACUN deh…
    Wkwkwkwk…
    Kata Cak Lontong: MIKIRRRRRRR !!!
    Hehhehe…

  7. Am using this phone. It is as Sir Herry described. I think the price is somehow still reasonable as should the word below is “not Huawei”, I assume it will be plastic instead of metal, and the price will be doubled?

  8. Pak Herry,
    bukankah fitur Do Not Disturb dan Harrassment Filter sama dengan di Redmi Note yang pernah Pak Herry uji pakai ?
    Setahu saya di Redmi Note ada fitur Do Not Disturb di bagian settings, dan fitur Blocklist di bagian aplikasi Security bawaan Redmi Note yang mirip dengan Harrassment Filter.
    Di Blocklist bisa dibikin setting secara custom : sms dan telpon dari contact bisa diblok atau diijinkan, sms dan telpon dari nomor asing bisa diblok atau diijinkan, lalu telpon dari private number bisa diblok atau diijinkan.

    1. Pak Yopie,

      Benar, di Redmi 1S dan Redmi Note juga ada penyaring panggilan maupun SMS. Namun, seingat saya, tidak sekomplet di Ascend Mate7. Sayang saya tidak bisa ngecek langsung karena sudah tidak memakai dua ponsel Xiaomi itu.

    1. Pak Allfreed,

      Saya juga pernah mengalami hal serupa di Galaxy Note 4 kok. Mesti diubah manual dulu biar jadi Surabaya.

  9. Pak minta pendapat dong mengenai Huawei Honor 6 layak untuk dibeli tidak? untuk harganya yg 5.5 jt kalau tidak salah apakah pantas untuk spesifikasi yg di tawarkan?

    1. Pak Marundruri,

      Saya belum pernah menyentuh Honor 6. Jadi, belum tahu ponsel itu layak beli atau tidak.

  10. “Ini lho: tulisan di bawah layar ponsel tersebut bukan Huawei, melainkan Samsung.”

    kalau tulisannya berubah, harganya pun berubah jd ala samsung.. melambung…

    1. Pak GM,

      Ha.. ha.. ha… Itu yang saya bayangkan harga sama, tapi mereknya Samsung. Pasti laris manis deh.

  11. LOL bro RT
    very true sir, if should s4msung made this one, they will change the metals to cheap plastics, slap some over-hyped yet useless features like smart gesture and bloatwares, reduce the battery capacity for the sake of design, and double the price tag

  12. Saya kutip dan saya alih bahasakan pertanyaan “RT” di atas, yang menggunakan bahasa Inggris (mengapa menggunakan bahasa Inggris, ya?).
    ‘Saya menggunakan telepon ini. Semuanya persis seperti yang pak Herry jelaskan. Saya rasa harganya relatif masih masuk akal andaikata tulisan di bagian bawahnya “bukan Huawei”, andaikata bodinya dari plastik dan bukannya dari metal, akankah harganya menjadi dua kali lipat?’
    … Lho, bukannya klo bodinya dari plastik harganya justru jadi turun? Gimana pak Herry? Bukankah seharusnya, “I assume it will be plastic instead of metal, and the price will be lowered?”

    1. Pak Doubleyoueyedee,

      Saya paham kok maksudnya. Selama ini Samsung dikenal dengan harga mahal dan bodi plastik. Bodi Samsung baru mulai berubah kala ada Galaxy Alpha dan beberapa tipe berikutnya.

      Nah, rekan tersebut sebenarnya ingin menyindir Samsung.

  13. salam pak HSW…
    saya mau tanya tapi OOT ya… 🙂
    1. mengenai smartphone dual GSM-CDMA
    selama ini yang saya tahu jika kita menggunakan internet dengan kartu GSM, maka koneksinya “mentok” hanya EDGE.
    Ada tidak dual GSM-CDMA yg mengijinkan kita berselancar hingga 3G atau lebih?
    kalau ada tipe apa ya pak?
    dan harganya berapa?
    2. untuk produk ANDROMIXX PIXCOM layak beli atau tidak ya pak?
    http://smartfren.popsho.ps/1Smartfren_Andromixx_Pixcom.html
    terima kasih sebelumnya pak…

    1. Pak Andrey,

      1. Coba cek ZTE Nubia Z7 Max dan ZTE Nubia Z7 Mini. Keduanya tidak beredar resmi di sini. Namun, yang tanpa garansi sempat saya lihat ada yang jual. Harganya sekitar Rp 4,5 juta dan Rp 4 juta.

      2. Saya belum pernah coba. Pengalaman mencoba ponsel Pixcom tipe lain sih tidak mengesankan. Entah yang Andromixx itu.

  14. Hahahaha … iya bener juga, saya “telat” paham sindirannya ke Samsung, … Samsung itu kayaknya selalu “overprice” di masa sekarang ini (padahal dulu kan nggak gitu-gitu amat, apakah ini akibat dari keberhasilan Samsung menggulingkan dominasi pemimpin pasar sebelumnya?), desain begitu-begitu saja, fitur banyak yang nggak guna, batere kapasitasnya relatif kurang, dan harganya “ketinggian”. Kira-kira adakah calon terkuat yang perlahan akan menggeser juga dominasi Samsung? Ataukah Samsung masih akan kokoh bercokol untuk waktu yang lama?

    1. Pak Doubleyoueyedee,

      Saya perhatikan sejak Samsung tampil menjadi pemimpin pasar, mereka mulai percaya diri banget. Harga dikerek tinggi, menekan diler, dll. Sepertinya itu “penyakit” pemimpin pasar deh. Hal serupa sebelumnya dilakukan Nokia.

      Merek lain yang berpotensi mengganggu (belum menggusur) Samsung, kalau di Indonesia ada Andromax, Vivo, dan Xiaomi.

      Saya pribadi berharap Samsung segera tergusur dari posisinya sebagai pemimpin pasar. Biar pasar lebih seru.

    1. Pak Fat,

      Huawei Ascend Mate7 kan? Paling gampang mampir ke Oke Shop dan Global Teleshop.

      Kalau di toko online, sebenarnya Oke.com jualan. Namun, barusan saya cek, stok sepertinya sedang habis. Di Lazada masih ada stok, tetapi saya sangat menyarankan Anda tidak berbelanja di sana.

  15. sumpah saya ketawa pas bagian
    “…..Ini lho: tulisan di bawah layar ponsel
    tersebut bukan Huawei, melainkan Samsung.”
    ahahaha, bener pak orang di Indo cuma gila merek mereka lebih mentingin merek daripada kualitas barang.

  16. Seharusnya strategi xiaomi di pakai huawei. Hp murah spek cadas,jual flashsale. Emang huawei pemain lama jg di indonesia. Tp namanya blum bertaring. Angkat nama huawei dulu. Seperti xiaomi,saya tidak ragu beli mi4 nanti kalau udah dirilis,karena nama xiaomi sudah cukup meyakinkan.

  17. Saya setuju dengan opini bahwa produk2 Samsung cenderung overprice, bila dibandingkan dengan kualitas produknya. Seperti kata Om Herry, ini penyakit market leader. Mungkin itu harga yg harus ditebus karena biaya marketing yg tinggi & fasilitas aftersales yg baik.
    Untuk point kedua, rasanya masih ada penggemar Samsung yg beli karena jaminan aftersales nya. Saya tidak bisa bayangkan beli gadget dengan harga di atas 3 juta (apalagi 6,5 juta seperti artikel ini) dengan jaminan aftersales yg meragukan? No way!!
    Kalau hemat saya, untuk gadget dengan harga max di bawah 3 juta, masih reasonable jika aftersales nya standar (asal bisa klaim garansi). Kalau harga sudah di atas itu, harus ada jaminan layanan aftersales yg bagus, bukan hanya standar.
    But hey, it’s just my opinion. Thaks…

  18. oot ya pak Herry, untuk dana kisaran 2,5-3jt hp android apa yg ada fitur kamera manual seperti lumia, fitur musik bagus, tidak lemot dan bisa dipakai sampai 2 atau 3 tahun kedepan. o ya …baterai awet seperti lumia 730. terima kasih atas sarannya pak.

    1. Pak Wahid,

      Vivo Y28 yang harga barunya Rp 2,699 juta kameranya memiliki pilihan pengaturan manual. Namun, saya belum pernah menguji pakai ponsel itu sehingga kinerjanya belum saya ketahui.

  19. Pak HSW…
    mau tanya,
    untuk smartphone dengan layar 4′ dan berharga paling murah rekomendasi bapak apa ya?
    keperluannya tidak terlalu banyak pak, hanya untuk bbm dan whatsapp, karena yang mau pakai orang tua saya sehingga tidak.diperlukan banyak aplikasi.

    1. Pak Wahid,

      Saya belum pernah menguji pakai Vivo Y28. Jadi, belum tahu lebih bagus mana dibandingkan LG G2 Mini.

  20. rekomendasi di antara ponsel ini pilih mana ya Pak? lenovo a7000, asus zenphone 5, lnvo a6000plus, redmi note 4g, dan huawei hnor 4c. saya kok tertarik dgan huawei hnor 4c dari desain,kamera dan procesor.menurut bpk gmana. trma ksh.

    1. Pak Bagus,

      A7000 saya belum pernah coba.

      Tak ada ponsel bernama Asus Zenphone 5.

      Tak ada pula ponsel bernama lnvo A6000 Plus.

      Redmi Note 4G pasti bukan bergaransi resmi. Sebaiknya tidak dibeli.

      Tidak ada ponsel dengan tipe Hnor 4C.

  21. Ko, mau tanya kinerja service center nya Huawei. Menurut website ada di Plaza Marina. Apakah layanannya bisa diandalkan semacam Samsung/ LG/ Acer.
    Kemudian, pernah dengar kalo produk Huawei itu Huawet. apakah benar? mungkin ada pengalaman?
    Thanks.

    1. Pak SasBud,

      Kondisi terkini saya kurang tahu. Kalau dulu, layanan pusat perbaikan resmi Huawei tergolong buruk. Mereka bisa menolak memperbaiki ponsel yang rusak dengan alasan suku cadangnya sudah tidak ada. Padahal, ponsel itu masih dalam masa garansi. Setelah saya koar-koar di media sosial, barulah mereka bersedia memperbaiki.

      Ponsel Huawei itu huawet (baca: awet)? Oh ya? Mungkin bergantung tipe deh.

    1. Pak Adi,

      Mate 7 menang tipis. Namun, harga barunya kan beda jauh. Mate 7 masih dekat Rp 6 juta, sedangkan G2 Rp 3,299 juta.

  22. Pak HSW,
    Apakah ada rencana utk review Huawei P8 lite? Kemarin di TP lantai 5 ada boothnya dan saya sempat jatuh cinta dg bodynya yg cantik nyaris premium dg harga <3jt. Tapi jujur masih ragu dg kinerja dan terutama hasil kameranya. Barangkali review dari Pak HSW bisa jadi penawar racun atau bahkan semakin meracuni saya 🙂
    Btw, selamat atas "penemuan" sertifikasi ZUKnya. Semoga bisa membawa pengaruh positif di karirnya Pak HSW

    1. Pak Dharma Sugandhi,

      Saya tidak berencana me-review P8 Lite. Kalau review P8 tanpa Lite minggu depan akan siap dibaca di sini.

  23. Permisi mau nanya, untuk hasil jepretannya huawei p8 dengan huawei 7i atau huawei ascend mate 7 sama-sama 13mp, cameranya yg paling bagus yg mana ya?

    1. Bu Rara,

      Huawei 7i? Apakah yang dimaksud Huawei Honor 7i? Kalau iya, saya belum pernah coba.

      Kalau P8 versus Ascend Mate7, hasil jepretan P8 lebih bagus.

  24. Pak Herry,

    Sekitar tanggal 9 July 2017 saya baru ambil Huawei Honor 6 Plus karena tertarik design nya. Tapi ternyata bermasalah ketika mengambil foto di kondisi kurang cahaya dengan setting flash auto, dan hasilnya hanya hitam (baru ketemu masalah ini di tanggal 12 July 2017.
    Setelah dibawa ke service center resmi, dicek dan mau ditukar dengan Honor 6 Plus (3 RAM/32 ROM). Karena kosong, ditawarkan Huawei Ascend Mate 7 2GB RAM/16GB ROM.
    Kalau menurut Pak Herry, sebaiknya saya mengambil tawaran ganti ke Huawei Ascend Mate 7 2/16 atau menunggu Huawei Honor 6 Plus nya tersedia untuk ditukar?

    Terima kasih

    1. Pak Richard,

      Saya agak lupa. Honor 6 Plus ada yang bergaransi resmi ya?

      Kalau nggak keberatan dengan bodi yang lebih bongsor, ambil Ascend Mate 7-nya deh.

      1. Pak Herry,

        Ya, Honor 6 Plus ada yg garansi resmi. Saya ambil ini karena tertarik dengan design nya, tapi ternyata malah dapat defect.
        Berarti lebih bagus Ascend Mate 7 dibandingkan Honor 6 Plus ya walaupun secara RAM dan storage lebih kecil (3/32 vs 2/16)?

        Terima kasih

        1. Pak Richard,

          Saya tak berani mengatakan Ascend Mate 7 lebih bagus atau lebih jelek daripada Honor 6 Plus. Lha saya belum pernah mencoba Honor 6 Plus.

          Saya menyarankan ambil Ascend Mate 7 semata-mata karena ponsel itu yang saat ini tersedia. Daripada dibuat tak menentu menunggu kehadiran Honor 6 Plus kan.

          1. Pak Herry,

            Terima kasih atas sarannya. Akhirnya saya ambil Ascend Mate 7 nya.
            Secara performa sepertinya lebih baik dibandingkan Honor 6 Plus.
            Camera juga lebih gegas dalam pengambilan tapi fitur Dual SIM dan infrared jadi tidak ada.

            Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *