Review LG G2 (1): Lebih Mudah, Lebih Personal

Sebuah acang alias gadget diciptakan untuk mempermudah penggunanya dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Bila gagal memberikan kemudahan dan kenyamanan, suatu acang sejatinya telah gagal menjalankan tugasnya.

Kali pertama mengetahui tombol power dan volume di ponsel LG G2 berada di bagian belakang bodi, bayang-bayang ketidaknyamanan menghampiri calon pengguna. Apalagi, layar ponsel itu juga disebutkan bisa dinyalakan atau dipadamkan hanya dengan ketukan jari. “Wah, kalau dikantongi kan bisa nyala-nyala sendiri,” kata belasan orang yang sebenarnya belum pernah mencicipi G2.

G2-1

Bagi penulis, dua hal tersebut tak sampai menimbulkan kerisauan, melainkan justru menjadi pemicu untuk segera mencoba G2. Penulis ingin menjawab keingintahuan plus kekhawatiran banyak orang yang sebenarnya belum pernah menggenggam G2.

Ternyata, G2 mampu memenuhi esensi sebuah acang, dalam hal ini sebagai ponsel Android jagoan perusahaan kelas dunia asal Korea. Peletakan tombol power dan volume di bagian belakang bodi tidak terasa mengganggu. Dalam hitungan menit sejak mencoba G2, jari telunjuk penulis sudah akrab dengan tombol belakang tersebut.

Pengguna juga tak perlu khawatir tombol belakang akan tertekan tanpa sengaja saat ponsel dimasukkan ke dalam saku atau diletakkan di meja. Aneka percobaan telah dilakukan penulis, termasuk meletakkan G2 di meja, lalu dengan sangat sengaja menekan layar ke arah meja. Hasilnya, tombol power yang menonjol sama sekali tak tertekan. Desain yang cermat, dengan lekukan yang tepat, rupanya sukses mencegah terjadinya insiden salah tekan.

G2-2

Saat ponsel siaga, pengguna cukup mengetuk layar dua kali untuk menyalakan layar. Lakukan hal serupa untuk memadamkan layar. Seberapa keras dan cepat ketukan yang harus dilakukan? Bayangkan saja Anda mengetuk pintu ruang kerja bos di kantor. Bedanya, kali ini Anda mengetuk memakai ujung jari, bukan ruas jari.

Sejak G2 resmi diluncurkan di Indonesia sampai ketika penulis mengetikkan tulisan ini, cukup banyak email masuk yang menanyakan keampuhan ketukan jari tersebut. Sebab, mereka mendapatkan kabar kalau fitur yang oleh LG disebut knock on itu kurang efektif. Konon sering gagal berfungsi.

Dengan tegas seluruh email yang masuk penulis jawab, “Fitur ketuk-ketuk layar itu lancar dan benar-benar bermanfaat. Tingkat kegagalannya rendah kok.” Penulis menyebutkan, pada menit-menit awal mencoba G2, satu di antara sepuluh percobaan mengetuk layar menuai kegagalan. Keesokan harinya, karena sudah terbiasa, tingkat kegagalan menurun drastis. Kira-kira penulis hanya satu kali gagal dari 30 kali percobaan.

Kemudahan yang ditawarkan G2 bukan hanya itu. Saat ada panggilan telepon masuk dan ingin menerimanya, pengguna sama sekali tak perlu menekan tombol virtual di layar. Cukup dekatkan ponsel ke telinga. Maka, panggilan masuk tersebut otomatis akan diterima.

“Kalau ditutupi pakai tangan apakah bisa?” Pertanyaan itu terlontar spontan dari mantan rekan kerja penulis kala berjumpa di sebuah acara. Percobaan pun dilakukan. Ada panggilan masuk, lalu penulis menutupi G2 menggunakan telapak tangan. Hasilnya, panggilan masuk itu tak kunjung diterima. Selain sensor di atas layar harus tertutup, kemampuan yang dinamakan answer me tersebut sepertinya juga memperhatikan sudut kemiringan ponsel.

Suatu saat, pengguna mungkin mendapatkan panggilan telepon masuk pada kondisi yang kurang tepat. Entah sedang rapat, jamuan makan siang bersama relasi, atau menikmati pijat refleksi. Tak perlu bingung. Cukup balikkan ponsel untuk membungkam dering ponsel.

G2 front touch

Di bagian bawah layar sentuh ponsel Android biasanya tersedia sederet tombol virtual untuk menjalankan perintah menuju home screen, kembali (back), dan mengakses menu. Setiap pengguna memiliki preferensi yang berbeda. Misalnya, ada pengguna yang lebih menyukai tombol back berada di ujung kiri, ada pula yang mengidamkan tombol back di ujung kanan. G2 dapat mengakomodasi aneka selera. Pengguna bebas memilih susunan tombol dari dalam menu front touch buttons.

G2 Quick Remote

Fitur lain yang pantas dioptimalkan pengguna G2 adalah quick remote dan guest mode. Quick remote memungkinkan pengguna G2 memanfaatkan ponsel itu sebagai remote control televisi, AC, pemutar DVD, proyektor, dan aneka peranti lain. Merek perangkat elektronik yang digunakan tidak harus LG.

G2 Guest Mode

Sementara itu, guest mode membuat pengguna leluasa meminjamkan G2 kepada orang lain tanpa khawatir data personal bakal diintip. Pengguna dapat menentukan sampai 30 aplikasi yang boleh diakses oleh orang lain. Sayang, tampilan wallpaper pada mode tamu tak dapat diganti. Dengan demikian, peminjam yang sudah familiar dengan G2 bisa mengetahui kalau ia berada pada mode tamu.

Catatan:

* Paket penjualan G2 terdiri atas ponsel, kepala charger dengan output 1,6 ampere, kabel micro USB, dan premium earphone QuadBeat 2.

* Review ini merupakan bagian pertama dari dua naskah yang penulis buat. Naskah kedua bisa dibaca di tautan ini (silakan klik).

29 thoughts to “Review LG G2 (1): Lebih Mudah, Lebih Personal”

    1. Pak Amen,

      Glodaks… baru sadar. Otak dan jari nggak sinkron. Segera dikoreksi. Padahal, penjelasannya sudah benar ya. πŸ™‚

    1. Pak Android,

      Beberapa hari lalu saya pernah menjawab pertanyaan yang sama. Entah itu dari Bapak atau bukan.

      Saya memang berencana me-review LG L1 II.

      Untuk tipe pertama, yang Anda maksud adalah LG Optimus L3 dual (E405) atau LG Optimus L3 II dual (E435)? Kalau E405, saya sudah pernah me-review-nya. Silakan baca di http://ponselmu.com/indikator-radio-fm-meleset/.

      Kalau yang Anda maksud adalah E435, saya takkan me-review-nya. Sebab, ponsel itu sudah terlalu lama beredar dan selama rentang waktu tersebut saya belum berkesempatan mencobanya.

  1. hehehehe iya pak herry, saya pernah tanya sebelumnya, tapi lupa dimana jadi bingung nyari nya. πŸ™‚

    iya maksudnya LG L3 E435, tp gak apa, yg LG L1 II saja saya tunggu, yg masih keluaran terbaru, pingin beli hp android yg mungil2 soalnya. mau liat reviewnya dulu, takutnya lag nya parah.

    Ok pak herry, saya tunggu ya, thanks πŸ™‚

  2. Mau tanya, tombol home virtual yang terletak dibawah, bisa tidak dibuat mode auto hide. Soalnya saat main game, tombol virtual itu muncul terus yang notabene mengurangi lebar layar.
    Maklum sebelumnya terbiasa pakai Gpro.

    1. Pak Hasim,

      Di G2 tidak ada pengaturan untuk menyembunyikan tombol virtual di bawah layar.

      Kalau di G Pro seperti apa, Pak? Saya belum pernah mencoba ponsel itu.

    1. Pak Ade,

      Karena saya tak pernah memakai iPhone 5, maaf, saya tak bisa menjawab pertanyaan Anda.

  3. Pak HSW,
    Untuk saat ini beli lg g2 masih recommended ga ya?
    Apakah masih ada yg baru atau hanya yg second dan untuk harganya berapa ya untuk yg baru atau yg second?

    1. Pak Marundruri,

      G2 masih boleh dibeli.

      Baru dan bergaransi resmi masih ada kok. Yang 16 GB terakhir sekitar Rp 4,3 juta, sedangkan yang 32 GB sekitar Rp 4,7 juta.

    1. Pak Bahrul,

      Pantauan saya sebelum Selasa lalu berangkat ke Jakarta, Rp 3,999 juta. Namun, terakhir ada yang menginformasikan kalau di Erafone sedang ada diskon jadi Rp 3,499 juta. Saya belum mengeceknya langsung.

    1. Bu Icha,

      LG G2 bergaransi resmi LG Electronics Indonesia tidak dilengkapi selot memori eksternal. Kalau G2 yang beredar di Korea ada selot microSD-nya.

  4. thankz infonya..

    kalau dilihat dr spek hp cina keluaran baru sekarang, speknya masih dibawah G2.. jadi pengen beli.. n spertinya msh layak beli.. kira-kira apa msh ada yg baru? atau second?

  5. Pak Herry,
    Amankah membeli LG G2 versi korea?
    Apa dpt dipastikan pasti ori bm atau refurb?
    Apakah ver korea LTE bisa dipakai disini?
    Msh bingung nih dibanding Samsung S4 i9505 versi singapore….
    Mohon sarannya, saya pengin yg audio, display dan camera ok utk harga 2.5jt…

    Tks

    1. Pak Ari,

      Kalau yang dimaksud aman adalah layanan purna jualnya, ya pasti tidak aman.

      Ori BM dan refurb adalah dua hal yang tidak bisa dibandingkan.
      * Orisinal itu lawan katanya replika atau palsu. G2 orisinal Korea memang ada.
      * BM menyangkut status garansi. Kalau Anda membeli G2 versi Korea, ya ponsel itu pasti BM.
      * Refurb alias refurbished itu menyangkut tingkat kebaruan. Di “kelas” yang sama ada barang baru dan barang bekas.

      Menurut saya, kalau Anda saat ini membeli G2 versi Korea, kemungkinan yang paling besar adalah mendapatkan barang orisinal, pasti BM, dan bekas. Saya tak berani memastikan LTE-nya bisa dipakai di sini atau tidak.

      Hmm… dengan kriteria seperti itu, beli Hisense Pureshot baru saja. Harganya Rp 1,999 juta.

  6. Misi gan herry saya mau tanya,saya punya budget 2jt niatnya mau mau ambil LG G2 versi korea,tp setelah baca” komentar d atas ane jd agak ragu,menurut agan smartphone dgn budget sgtu ada rekomendasi HH lain dgn kualitas kamera setara LG G2 (trima kasih atas jawabannya)

    1. Pak Fadillah,

      Mohon maaf karena saya lambat sekali dalam merespons komentar/pertanyaan Anda. Hingga awal Juni 2016 saya harus sering ke luar kota sehingga tak bisa membalas komentar/pertanyaan dengan cepat.

      Kita coba nantikan jawaban dari Gan Herry ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *