Review Nokia X: Ponsel Pertama Usai Kencing di Celana

Pada September 2010, Anssi Vanjoki yang saat itu menjadi salah satu petinggi Nokia menyatakan tak berminat dengan Android. Menurutnya, mengadopsi Android ibarat (maaf) kencing di celana ketika musim dingin. Cuma hangat sebentar, kemudian menggigil kedinginan.

Dua bulan lalu, Nokia akhirnya (maaf lagi) pipis di celana. Hasil pertamanya adalah Nokia X yang mulai 12 April 2014 akan dijual di Indonesia. Ponsel pertama Nokia yang dapat menjalankan aplikasi Android itu dibanderol Rp 1,6 juta. Sedangkan harga promo yang berlaku dengan persyaratan tertentu konon dipatok Rp 1,2 juta.

Nokia X-1

Bentuk Fisik

Penulis kebetulan telah mencoba X. Dua unit sekaligus malahan. Satu berwarna hitam, satu lagi hijau. Kali pertama melihat produk aslinya, penulis langsung teringat dengan aneka tipe ponsel Nokia Lumia yang pernah diuji pakai. Permukaan bodi belakang X cenderung doff dan kesat. Penampakan unit berwarna hitam relatif sama dengan foto yang tersaji di situs Nokia. Sedangkan wujud nyata X hijau lebih tua dan norak daripada yang tergambar.

Kalau bagian belakang ponsel berdimensi fisik 115,5 x 63 x 10,4 mm dan berat 128,7 gram itu dibuka, bakal terlihat tiga selot kartu. Dua di antaranya untuk kartu SIM mikro, sedangkan satu selot yang berada di tengah untuk kartu memori microSD. Baterai bawaan ponsel berjenis lithium ion dengan kapasitas 1.500 mAh.

Sistem Operasi dan Tampilan Antarmuka

Meskipun dapat menjalankan aplikasi Android, sejak awal peminat X pantang menganggap ponsel itu sama dengan ponsel Android yang telah beredar di pasar. Ia tidak dilengkapi Google Mobile Services seperti Play Store, Gmail, YouTube, dan Google Maps.

Nokia menyatakan X memakai Nokia X software platform 1.1. Dalam bahasa yang lebih mudah, hal itu merupakan perpaduan antara Android Open Source Project (AOSP), layanan khas Nokia, dan layanan khas Microsoft.

Bila dicermati, versi Android yang dipakai di X adalah Android 4.1 Jelly Bean. Layanan khas Nokia yang dapat dinikmati pengguna, antara lain, HERE Maps, Here Drive, dan MixRadio. Sedangkan layanan Microsoft yang siap dioptimalkan, contohnya, Skype dan OneDrive.

Tak perlu heran kalau tampilan antarmuka (user interface) X menyerupai live tiles alias “kotak-kotak keramik” ala ponsel bersistem operasi Windows Phone. Nokia memang sengaja membuatnya seperti itu. Cukup cantik sih. Namun, mantan pengguna ponsel Android lain berarti harus beradaptasi dulu.

Berburu Aplikasi Tambahan

Saat diaktifkan untuk kali pertama, beragam aplikasi langsung dapat dijumpai di X. Di antaranya, BlackBerry Messenger (BBM), Facebook, Twitter, Skype, WeChat, dan Astro File Manager. Ada pula permainan Fruit Ninja, Danger Dash, Bejeweled 2, Tetris, dan Monopoly Classic.

X tanpa Play Store. Bagaimana caranya menginstalasikan aplikasi tambahan? Pengguna dipersilakan masuk ke Nokia Store dan berburu di sana. Dalam pantauan penulis, ragam aplikasi yang tersedia masih relatif terbatas. Saat penulis mencari WhatsApp, misalnya, ternyata belum ada. Padahal, WhatsApp merupakan salah satu aplikasi yang sangat populer di berbagai sistem operasi.

Solusi atas keterbatasan itu ada dua macam. Pertama, pengguna bisa memanfaatkan pasar aplikasi pihak ketiga. Misalnya, 1Mobile.com dan Aptoide.com. Alternatif kedua, instalasikan file mentahan berformat APK yang sebelumnya telah diunduh dari Play Store. Kopikan file itu ke X, instalasikan, lalu jalankan.

Nokia X-2

Spesifikasi Teknis

Prosesor berinti ganda (dual core) Qualcomm MSM8225 1 GHz, RAM 512 MB, ROM 4 GB, bluetooth, Wi-Fi, dan GPS merupakan sebagian spesifikasi X. Memori internal ponsel dibagi dua, yaitu 1,29 GB internal storage dan 1,17 GB phone storage. Kala ponsel masih dalam kondisi segar, sisa kapasitas internal storage mencapai 668 MB, sedangkan phone storage sama sekali belum terpakai.

Layar sentuh X berukuran empat inci dengan resolusi 800 x 480 piksel. Ponsel dengan radio FM itu hanya memiliki satu kamera. Kamera tanpa fokus otomatis dan lampu kilat tersebut mampu menghasilkan foto beresolusi maksimal 2.048 x 1.536 piksel atau setara dengan 3,15 megapiksel. Kalau difungsikan sebagai perekam video, ia dapat memproduksi klip video beresolusi hingga 864 x 480 piksel.

Dua nomor GSM, seluruhnya memakai kartu micro SIM, dapat siaga bersamaan di X. Nomor yang terpasang di selot pertama berkesempatan menikmati akses HSDPA dengan kecepatan unduh sampai 7,2 Mbps. Namun, pengguna tak bisa mengunci ponsel supaya selalu berada di jaringan 3G. Sementara itu, nomor yang terpasang di selot kedua harus puas merasakan jaringan 2G.

Kinerja

Karena spesifikasi X pantas disebut amat biasa, sejak sediakala penulis tidak mematok harapan berlebihan terhadap ponsel itu. “Yang penting saya segera mencoba ponsel pertama Nokia yang bisa menjalankan Android tersebut. Biar tak penasaran lagi,” kata penulis dalam hati.

Usai beberapa hari menguji pakai X, ekspektasi yang sengaja dipatok ala kadarnya itu rupanya tetap gagal terpenuhi. Kinerja umum ponsel tersebut pantas dinilai buruk. Ia cenderung lambat. Jauh dari kesan trengginas. Kalau di-scroll dari atas ke bawah atau sebaliknya, layar bergulir kurang lembut.

Kala dipakai untuk aktivitas internet yang ringan, entah browsing atau memantau email, bodi ponsel sudah terasa hangat mendekati panas. Daya tahan baterai X pun tidak istimewa. Rata-rata bertahan delapan jam saja.

X sebenarnya dibekali kemampuan screen double tap. Pengguna cukup mengetuk layar dua kali untuk menyalakan layar. Praktiknya, tingkat keberhasilan fitur tersebut sangat rendah. Sepuluh kali penulis mencobanya, belum tentu satu kali berhasil. Probabilitas kesuksesan fitur serupa di Nokia Asha 501 jauh lebih tinggi.

Rekomendasi

Membeli ponsel lain tampaknya lebih bijak. Kalimat singkat itu merupakan rekomendasi paling menukik yang dapat penulis berikan, setelah tuntas mencicipi Nokia X. Dengan memperhatikan spesifikasi, performa, dan “harga” merek Nokia, penulis menilai X idealnya dijual dengan harga maksimal Rp 1 juta.

Ambang atas harga itu bisa lebih rendah kalau penulis diminta melakukan penilaian buta. Anggaplah X disodorkan tanpa merek kepada penulis. Penulis dipersilakan mencobanya, lalu memberikan label harga yang pantas. Dalam kondisi itu, penulis tampaknya bakal menyebutkan angka Rp 799 ribu.

Daripada melirik X, meminang Smartfren Andromax C yang harga jualnya kini Rp 700 ribuan tampaknya lebih tepat. Alternatif lain, membelanjakan dana Rp 775 ribu untuk membawa pulang ponsel Android dual SIM GSM-GSM Acer Liquid Z2. Kalau wajib Nokia, tersedia Lumia 520 yang harga jual barunya telah menyentuh Rp 1,2 juta.

***

Isi paket penjualan terdiri atas ponsel, baterai, handsfree berkabel, dan charger. Tidak disertakan kabel data.

***

Beberapa foto yang dihasilkan kamera X.

Nokia X-3

Nokia X-4

Nokia X-5

Nokia X-6

Nokia X-7

Nokia X-8

Nokia X-9

***

Hasil pengukuran Antutu Benchmark, Quadrant Standard Edition, dan Android Sensor Box.

Nokia X-10

Nokia X-11

Nokia X-12

30 thoughts to “Review Nokia X: Ponsel Pertama Usai Kencing di Celana”

  1. Sungguh memalukan nokia.sudah kencing dicelana ,produk pipisnya pun gatot,gagal total.android itu pd dasarnya butuh spek tinggi supaya segalanya lancar.dengan membuat hp android minim spek jelas kesalahan fatal.

  2. Makasih review nya, Om HSW. Niat nostalgia ama Nokia kudu diurungkan dulu.. hehehe..

    *pelukEratRazrMaxx

  3. Wah, dikira bagus, ternyata biasa bgt ya pak buat harga 1.6 jt…
    Nunggu harganya turun jd 999rb baru bagus… 😀

  4. Lama nunggu Nokia Android, jadinya hape yang ga jelas. Disebut Android tapi ga ada google play dan layanan google. Disebut Windows phone juga bukan. Aneh memang Nokia ini? Urung deh meminang Nokia X (tapi kalo dikasih sih mau).

  5. Wah Pak Herry terima kasih atas review nya..batal saya me-recommend X ke nokia die hard fans 😀
    saya tunggu review asus zenfone 4 kalau sudah ready di pasar…di online store “JN” sudah ditulis harga 1,1jt.

    1. Pak Prayogi2k,

      Mohon maaf karena saya baru bisa merespons pertanyaan pada saat ini. Beberapa hari terakhir saya terkena sinusitis sehingga kesulitan berlama-lama menatap layar laptop atau ponsel.

      Iya, Zenfone 4 mestinya mulai minggu depan akan tersedia di pasar. Harga ritel resminya Rp 1,099 juta. Mungkin saya akan iseng ambil yang warna biru.

  6. Mau tanya selain Nokia Pak.

    Pak, Sony Xperia S apa sudah bisa upgrade KitKat? Soalnya bawaannya Gingerbread

    1. Pak Adrian,

      Maaf, saya sudah tidak mengikuti perkembangan firmware Xperia S. Silakan langsung dicek dari menu software update di ponsel. Kalau ada update, seharusnya akan muncul notifikasi di layar.

    1. Pak Ikipyon,

      Mohon maaf karena saya baru bisa merespons pertanyaan pada saat ini. Beberapa hari terakhir saya terkena sinusitis sehingga kesulitan berlama-lama menatap layar laptop atau ponsel.

      He.. he.. iya, saya memang ingin mencoba Xperia E1, entah yang single SIM atau dual SIM.

  7. Bung HSW, sayang banget ya.
    Padahal jauh hari udah kebayang betapa dahsyatnya kalau Nokia ber-Android. Ternyata setelah nyata, lha kok “njekethek” gini. Tetep pake Nokia lama aja aah, hueuehe.

    Oya, Nokia N8 sy lg merajuk, Setelah browsing gejalanya ternyata ada gangguan pd proximity censor. Hanya ada 2 pilihan, ganti yg baru (kalau masih ada stock-nya) atau dibuat disable (via ubah jumper).
    Bung Herry tau gak servis di Sby yg bisa tangani ini (klo bisa selain Nokia Center, lama banget prosesnya)? Matur nuwun.

    1. Pak Cak Hananto,

      Iya nih. Performa Nokia X jauh di bawah bayangan.

      Untuk N8, tukang servis Nokia yang andal dan memiliki suku cadang original di WTC Surabaya kini sudah tidak menangani Nokia. Ia beralih konsentrasi ke merek lain.

      Hmm… coba bawalah ponsel itu ke Khing GSM di WTC lantai 2.

  8. salam kenal Mas Herry…

    Saya dapat Nokia X via blibli.com yg harga normalnya 1,599rb (1,6jt kurang seribu).
    Trus karena promo launching saya dapat diskon 400rb dari kartu kredit BCA, plus ada kesalahan sistem blibli.com (entah bagaimana) jadinya saya dapat double diskon (total diskon 800rb) sehingga harga Nokia X menjadi 799rb.

    Betul sekali Mas, setelah dipake, Nokia X pas nya dikasih harga 799rb. Saya cukup puas dengan harga segitu. Loading ke homescreen nya itu lho bisa bikin keki, bisa 10 detik ketika menutup aplikasi. Kalo harga 1,6jt sangat kemahalan. Harga 1,2jt pun masih kemahalan. Masih mending Lumia 520.

    1. Pak Rusmanov,

      Terima kasih atas sharing-nya. Berarti, dulu Anda bertransaksi tengah malam ya. Kesalahan yang membuat pembeli mendapatkan diskon ganda itu agak terlambat disadari oleh Blibli. Saat sadar, sudah terlanjur ada 200-an transaksi. Yang membuat saya salut, Blibli tetap berkomitmen mengirimkan pesanan yang sebenarnya salah harga tersebut.

    1. Pak Hendra Yo,

      Di naskah review apakah saya mengatakan siaran radio FM di Nokia X bisa direkam? Seingat saya tak bisa direkam deh.

  9. Yah. Pdahal saya butuh fitur itu. Saya udah coba cari sih tapi emang ga ada. :(.
    Ada saran pak biar bisa rekam radio? Lewat aplikasi mungkin???

  10. Pak Herry,

    Saya ingin membeli gawai baru dg harga maksimal 1 juta utk menggantikan bb davis yg udh rusak. Kemarin udh survei ke toko ada beberapa alternatif, acer z200 Rp 645k, z4 Rp 949k, lenovo a369i Rp 690k a319 Rp 985k, zte w811w Rp700k, lg l1 dual Rp860k dan nokia X seharga 1 juta. Menurut bapak apa yang sebaiknya saya pilih mengingat ini akan jadi gawai android pertama saya dan apa alasannya? apakah nokia x dg harga 1 juta udh layak beli? Pertanyaan berikutnya , Sementara ini saya pakai 520 windows 8.1 denim kalo buat main game kesukaan saya angry bird dan candy crush kok cepat panas ya, apakah itu normal?

    terima kasih

    1. Bu Lusi,

      Dengan harga maksimal Rp 1 juta, menurut saya, Acer Liquid Z4 adalah pilihan terbaik.

      Jangan membeli Nokia X. Ponsel itu sangat tidak menarik. Android-nya juga bisa dianggap sebagai Android banci plus setengah hati.

      Lho, Lumia 520 sudah dapat update sampai Windows 8.1 Denim ya? Dengan asumsi tidak ada masalah dengan firmware, seharusnya bermain Angry Birds dan Candy Crush takkan membuat ponsel panas.

  11. jadi pilihan terbaik z4 ya pak? bagaimana kalau lg L20 atau acer z200 yg udh kitkat, bukankah z4 masih jelly bean??

    benar pak, lumia 520 udh dapat update ke denim, ku update 3 minggu yang lalu, batrei jadi lebih irit dan bbm serta aplikasi yg lain jadi lebih lancar, tapi kalo buat main game baru 30 menit sudah terasa panas cover belakangnya, tapi kalau utk browsing dan office tidak panas sih..

    1. Bu Lusi,

      Liquid Z4 lebih bagus daripada dua ponsel lain yang Anda sebutkan. Perbedaan yang paling kentara di hasil jepretan kamera.

      Oh ok. Terima kasih informasinya soal Lumia 520.

  12. Pak Herry SW,

    Terima kasih sarannya pak, hari ini saya sudah beli Z4 kena harga sejuta sudah dengan anti gores dan kartu memori 16 GB, semoga nggak kemahalan karena saya lihat ditoko itu juga ada asus z4 dengan harga sejuta juga sudah ada kamera depannya (nggak butuh video call juga sih). Yah semoga si acer ini awet krn kebiasaan saya nggak bakalan ganti hape kalo belum rusak hehehehee…

    1. Bu Lusi,

      Sampai batas waktu yang belum saya ketahui, jangan membeli tablet dan ponsel merek Asus. Kalau laptop masih boleh.

      Karena dapat kartu microSD 16 GB dan pelindung layar, harga Rp 1 juta yang Anda bayarkan tergolong wajar. Tidak terlalu mahal maupun murah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *