Review Oppo N1 (1): Pemuas Narsis, Penguras Fulus

Oppo, ponsel asal Tiongkok yang belum setahun beredar di Indonesia, terus menggelontor pasar dengan aneka produk baru. Oppo N1 menjadi produk tercanggih sekaligus termahal yang kini ditawarkan mereka. Hadir dengan layar bongsor 5,9 inci dan baterai tanam 3.610 mAh, ponsel itu memiliki beragam diferensiasi yang membuatnya menarik dicermati.

N1 hanya dibekali satu kamera. Kamera dengan fokus otomatis dan lampu kilat ganda itu mampu menghasilkan foto beresolusi 13 megapiksel dan klip video full HD 1080p. Seperti yang sebelumnya tersedia di ponsel LG, pengguna cukup berkata cheese untuk memerintahkan kamera memotret.

Oppo N1-2

Satu hal yang tidak pasaran, kamera di N1 bisa diputar sampai 206 derajat sehingga pengguna dapat memotret diri sendiri dengan sangat mudah. Asyiknya, karena pemotretan itu berarti dilakukan memakai kamera utama yang berspesifikasi tinggi, foto yang dihasilkan bukan ala kadarnya.

Dalam berbagai kesempatan, Oppo mengklaim N1 adalah ponsel pintar alias smartphone pertama di dunia dengan kamera putar. Benarkah? Hmm… bila memori di kepala penulis dibongkar, ponsel berkamera putar sebenarnya sudah muncul sebelas tahun lalu. Pada 2003 Samsung menawarkan SGH-P400 dan SGH-V200 dengan kamera putar beresolusi 0,1 megapiksel. Canggih pada saat itu, kuno untuk standar masa kini. Namun, dua ponsel itu memang belum bisa dikategorikan sebagai ponsel pintar atau smartphone.

Berikutnya, pada 27 April 2005 Nokia memperkenalkan N90 yang bersistem operasi Symbian dan dilengkapi kamera putar berlensa Carl Zeiss. Kebetulan saat itu penulis diundang menghadiri peluncuran yang digelar bersamaan di empat negara: Belanda, Malaysia, Meksiko, dan Hong Kong. Karena Symbian termasuk ponsel pintar, berarti N1 mestinya bukan ponsel pintar pertama berkamera putar dong. Pasca-N90 Nokia masih menghadirkan berbagai tipe ponsel berkamera putar lagi. Misalnya, N92, N93, N93i, 3250, dan 5700 XpressMusic.

Kembali ke Oppo N1. Ketika aktivitas memotret diri sendiri alias selfie dilakukan di tempat yang gelap, pengguna tak perlu khawatir. Lampu kilat di N1 cukup cerdas untuk membedakan pemotretan selfie dengan pemotretan bukan selfie. Pada pemotretan selfie, kilatan cahaya akan dibuat lebih lembut dan merata. Kalau masih kurang puas, foto selfie yang dihasilkan bisa dipermak dengan memanfaatkan fungsi make up. Pipi penulis yang kasar, contohnya, dapat dibuat lebih halus hanya dengan satu sentuhan.

Keuntungan lain dari kamera N1 yang bisa diputar, pengguna lebih leluasa melakukan pemotretan secara diam-diam (candid photograph). Entah untuk mendapatkan ekspresi yang lebih natural atau pemotretan itu memang untuk tujuan rahasia. Saat sebenarnya sedang membidik sasaran, pengguna cukup berpura-pura bermain game atau membaca email.

Asal tahu, kamera di N1 menggunakan lensa optik dengan enam lapisan. Bukaan lensanya f/2.0 sehingga tetap andal kala digunakan di lokasi berpencahayaan kurang memadai. Kamera itu juga dibekali fitur long shutter yang memungkinkan lensa kamera dibuka hingga delapan detik.

Sebelum akhirnya diproduksi masal dan dipasarkan, kamera putar di N1 konon telah menjalani pengujian berat. Ia diputar 25 kali per menit. Terus menerus tanpa henti sampai menembus seratus ribu kali putaran. Di dalam kamera putar itu terdapat sepuluh modul, 56 kabel, dan 67 komponen. Terus terang penulis belum pernah membongkarnya sendiri. Seandainya penjelasan di situs resminya tidak benar, berarti Oppo harus menanggung dosa!

Pembeda lain N1 dibandingkan ratusan tipe ponsel Android yang beredar di pasar, ia dilengkapi panel sentuh 3 x 4 cm yang disebut O-Touch. Pengguna cukup menyentuhkan atau menggerakkan jari di area itu untuk menjalankan perintah tertentu. Misalnya, saat membaca berita di internet, pengguna hanya perlu menggeserkan jari ke atas atau bawah agar tampilan halaman bergulir (scrolling).

Oppo N1-3

Sama dengan kamera putar, panel sentuh di N1 sebenarnya bukan barang baru. Empat tahun lalu Motorola pernah menghadirkan ponsel tipe Charm dan Backflip dengan panel sentuh serupa. Panel sentuh itu oleh Motorola dinamakan backtrack.

Tidak bisa dikunci supaya selalu berada di jaringan 3G, menurut penulis, menjadi sisi minus utama ponsel yang kurang nyaman dikantongi tersebut. Penggunaan baterai tanam boleh pula ditambahkan sebagai poin minus, mengingat eksistensi jangka panjang Oppo belum terbukti. Selain dua hal itu, N1 adalah ponsel bongsor yang sangat menarik.

Penulis memberikan predikat “pemuas narsis, penguras fulus” kepada N1. Pengguna yang gemar melakukan selfie alias memotret diri sendiri secara mandiri pasti bakal puas. Sebab, berbekal N1, aktivitas itu dapat dituntaskan dengan mudah dan cepat. Hasil fotonya pun pantas diacungi jempol.

Di sisi lain, N1 adalah ponsel penguras fulus. Harga jualnya yang Rp 6,999 juta belum bisa disebut sepadan, apalagi murah. Kalau seseorang telah rela menghamburkan dana sejumlah itu, ia sebaiknya juga meminang O-Click yang dijual sekitar Rp 400 ribu. Benda mungil itu memungkinkan pengguna mengendalikan kamera dari jarak jauh via bluetooth. O-Click bisa pula berfungsi sebagai alarm, seandainya N1 ketinggalan atau akan dicuri orang.

***

Isi paket penjualan: ponsel, charger 2,1 ampere, kabel micro USB, handsfree berkabel, SIM ejector, dan flip cover.

***

Beberapa contoh foto yang dihasilkan oleh N1.

Dijepret dengan memanfaatkan fitur long shutter selama satu detik. Tanpa lampu kilat, tanpa tripod.

Oppo N1-4

Yang ini long shutter selama dua detik, juga tanpa lampu kilat maupun tripod.

Oppo N1-5

Bagian dalam kulkas.

Oppo N1-6

Kamera diputar ke depan. Tak perlu heran bila hasil fotonya bagus. Maklum, objek fotonya memang keren. *semoga tidak ada yang mual*

Oppo N1-7

Mari makan….

Oppo N1-8

Kalau ujian bahasa Indonesia, dapat nilai D nih.

Oppo N1-9

***

Tampilan layar ponsel usai menjalankan Quadrant Standard Edition, Antutu Benchmark, dan Android Sensor Box.

Oppo N1-12

Oppo N1-11

Oppo N1-13

17 thoughts to “Review Oppo N1 (1): Pemuas Narsis, Penguras Fulus”

  1. Rp 6,999 jt? untuk oppo?
    Wah mikir dulu deh kayaknya…
    Ada teman pny oppo aja susah mau jual 2nd nya, ada yang maupun, harganya cuma di tawar “ASBUN” Asal Bunyi… πŸ™

    Btw, foto yang di isi kulkas itu ada minyak ikan, saya juga minum itu Om HSW… sayang belinya harus nitip teman bila berada di luar negeri.. di Indo ga ada…
    Bagus buat kardiovaskuler om..

    Hehehe…

    1. Pak Jefry W, SH,

      Iya, mesti beli di luar negeri. Minyak ikan itu rutin dikonsumsi oleh mama saya atas anjuran dokter. Kebetulan mama saya sangat sensitif terhadap kandungan obat maupun suplemen. Salah pilih sedikit saja, perut bakal sakit, mual, atau mengalami ketidaknyamanan lain.

      Nah, kebetulan mama cocok dengan produk tersebut. Karena di sini tak ada yang menjualnya, selama ini terpaksa harus menyusahkan kenalan yang bepergian ke luar negeri. Minta tolong dibelikan minyak ikan tersebut.

      Selain minyak ikan, mama saya mengonsumsi suplemen bermerek sama untuk kesehatan lutut. Suplemen yang ini lagi-lagi mesti dibeli di luar negeri, meskipun di Indonesia sebenarnya juga dijual. Mengapa? Sebab, kandungan produk yang dijual di luar negeri berbeda dengan yang dipasarkan di Indonesia. Produk yang dijual di sini mengandung satu unsur yang tidak cocok untuk mama saya. Saya lupa kandungan apakah itu.

    1. Pak Soleh,

      Dengan mengabaikan perbedaan resolusi kamera, hasil jepretan Lumia 720 lebih tajam dan cemerlang daripada Oppo N1.

    1. Pak Eko,

      Saya tak tahu dua BBM yang ada di Cerry Slim itu sistemnya seperti apa.

      Sebelum ada Cerry Slim dan tak lama setelah BBM untuk Android resmi diluncurkan, sebagian pengguna sudah bisa menginstalasikan lebih dari satu BBM kok. Satu aplikasi BBM yang resmi dari Play Store, sedangkan aplikasi BBM yang lain memakai versi modifikasi yang beredar di internet.

    1. Bu Alycia,

      Hanya ada satu alasan untuk membeli N1: suka narsis memotret diri sendiri. Selain alasan itu, membeli G2 jauh lebih bijak.

  2. Pak Herry & Pak Halloarie,

    Thanks infonya & sudah saya coba. Hasilnya 2 bbm dalam 1 acang android bisa berjalan dengan mulus

  3. Pak Herry, tanya donk,

    Bagaimana cara menon-aktifkan say ‘cheese’ or ‘color’ ya waktu kita akan memotret suatu objek pakai kameranya oppo?
    Saya merasa itu sensitif sekali, begitu ada suara sedikit sudah langsung memotret dengan sendirinya, padahal bukan ‘cheese’ atau ‘color’

    Thanks sebelumnya pak

    1. Bu Juwita,

      Maaf, saya tak ingat posisi tepat menunya ada di mana. Coba utak-atik di dalam menu kamera. Kalau tak salah ada semacam ikon speaker. Namun, ini benar-benar setengah menebak. N1-nya sudah lama tidak di tangan saya lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *