Review Pocophone F1: Harga Tak Sesuai Spesifikasi dan Kinerja

Aktivitas menghadirkan submerek kian lazim dilakukan produsen ponsel. Terlepas dari submerek itu dibiarkan tetap menginduk atau kemudian disapih, setidaknya kita mengenal Huawei-Honor, Alcatel-Flash, ZTE-Nubia, Oppo-Realme, lalu Xiaomi-Pocophone. Pocophone. Bacalah sebagai poko-fon, bukan poco-fon ala senam poco-poco.

Kehadiran Pocophone F1 di Indonesia direspons beragam. Ada yang memberikan predikat flagship killer. Ada yang langsung menduga Pocophone menggunakan komponen kualitas nomor dua. Buangan dari Xiaomi.

Kelompok bak pengamat dan komentator, tapi sepertinya jarang membeli ponsel baru, memiliki pendapat lebih mengigit. “Flagship kok bodi plastik. Pocophone cocoknya dijual Rp2 jutaan,” kata mereka. Seandainya tak mengingat filosofi Jawa ajining diri soko lathi, rasanya penulis alias HSW bakal spontan merespons, “Semprul. Ponsel Snapdragon 845 Rp2 jutaan? Bathukmu sempal!”

F1 dibekali layar IPS 6,18 inci beresolusi full HD+ 2.246 x 1.080 piksel. Permukaan layar berponi dengan rasio 18,7:9 itu telah mengadopsi Corning Gorilla Glass. Namun, di situs Xiaomi maupun Corning tidak disebutkan versi Gorilla Glass yang digunakan.

Tampilan layar F1 sebenarnya tak bisa dibilang jelek. Walaupun demikian, kalau diadu dengan layar ponsel flagship merek lain, sebut saja LG G7+ ThinQ, Samsung Galaxy S9+, dan Huawei P20 Pro, layar F1 harus diakui kalah prima. Warna dan ketajaman gambar yang disodorkan layar F1 terasa kurang greget. Untungnya ada alasan pemaaf. Harga F1 kan jauh lebih murah daripada tiga ponsel flagship yang HSW sebutkan.

Di sisi atas ponsel terdapat konektor audio 3,5 milimeter, sedangkan di bawah ada speaker dan konektor USB tipe C. Tombol volume dan power ditempatkan di kanan ponsel. Sementara itu, selot kartu dual nano SIM hybrid tersedia di sisi kiri ponsel. Pengguna bebas memilih akan menyelipkan dua nano SIM atau satu nano SIM dan satu kartu microSD.

Anggaplah para pengguna F1 mengikuti jejak HSW yang memasangkan dua nano SIM sekaligus. Keduanya dapat siaga bersamaan di jaringan 4G LTE. Karena mendukung native VoLTE Smartfren, pengguna langsung leluasa bertelepon di jaringan 4G LTE operator yang identik dengan warna merah itu.

Kamera utama F1 berlensa ganda 12 megapiksel dan lima megapiksel dengan fokus otomatis berpiksel ganda dan lampu kilat. Ia mampu menghasilkan foto beresolusi maksimal 12 megapiksel dan klip video UHD 4K. Tersedia fitur kecerdasan buatan (artificial inteligence, AI) maupun mode portrait dan manual. Fitur AI-nya, menurut HSW, masih kurang optimal. Berkali-kali ia gagal mengidentifikasi objek dengan cepat.

Pada mode portrait, foto dengan efek bokeh yang dihasilkan masih bisa disunting berdasarkan blur level, light trails, dan 3D lighting. Pengguna disarankan sesekali mencobanya untuk bereksperimen. Carilah efek yang dianggap terbaik dan sesuai selera.

Bila mode manual kamera diaktifkan, pengguna dapat mengubah white balance, pemfokusan, kecepatan rana, dan ISO secara manual. Kecepatan rana bebas diatur mulai 1/1.000 detik sampai 32 detik. Sedangkan pilihan ISO-nya mulai 100 hingga 3200.

Resolusi kamera depan F1 justru lebih besar. Kamera tanpa fokus otomatis itu sanggup memproduksi foto beresolusi 20 megapiksel. Di lokasi berpencahayaan temaram, layar ponsel dapat difungsikan sebagai lampu kilat darurat. Apakah ada mode portrait? Ada! Kalau digunakan sebagai perekam video, kamera depan F1 mampu menghasilkan klip video beresolusi maksimal full HD 1080p.

Diposisikan sebagai ponsel flagship, wajar bila F1 memakai prosesor delapan inti (octa core) Snapdragon 845 yang terdiri atas empat inti 2,8 GHz dan empat inti 1,8 GHz. Spesifikasi lain F1, di antaranya, Wi-Fi, bluetoth, GPS, sensor sidik jari, pemindai wajah, dan RAM 6 GB.

F1 yang HSW uji pakai dibekali ROM 128 GB. Ketika ponsel kali pertama diaktifkan, ruang kosong di memori internal mencapai 117,7 GB. Fitur ketuk dua kali untuk mengaktifkan layar (double tap to wake), second space, dan dual apps dapat ditemukan di F1. Ada pula radio FM yang siarannya bisa direkam.

Ponsel Android 8.1 Oreo itu memanfaatkan tampilan antarmuka MIUI ala Xiaomi yang kali ini disebut MIUI for Poco. Beberapa hal membuatnya berbeda dengan MIUI di ponsel-ponsel Xiaomi. Misalnya, ia dilengkapi apps drawer yang penampakannya sepintas sama dengan Android polosan. Daftar aplikasi juga bisa dikelompokkan berdasarkan fungsi (communication, tools, dll) atau warna ikon.

Sumber daya ponsel berasal dari baterai tanam berkapasitas 4.000 mAh. Di tangan HSW baterai itu rata-rata sanggup bertahan 18 jam. Dengan memanfaatkan charger bawaan yang berstandar Qualcomm Quick Charge 3.0, baterai F1 dapat diisi ulang sampai penuh dalam waktu sekitar 1 jam 50 menit.

Katanya begini…

Keberadaan F1 di Indonesia tak lepas dari berbagai kabar miring. Berikut yang sempat HSW catat: layar menghitam (screen bleeding), ghost touch, kamera jelek dan sering error, memakai komponen KW2, serta gampang panas.

Mari kita mengulasnya satu per satu. HSW pernah menggunakan dua unit F1 yang berbeda. Satu berkapasitas 64 GB yang dipakai untuk towel-towel di Jakarta, Bandung, Jogja, dan Semarang. Berikutnya, HSW berganti ke varian 128 GB.

Layar sepasang F1 itu baik-baik saja. Di tepi layar tidak ditemukan bayangan atau jejak tertentu yang membuatnya layak disebut mengalami screen bleeding. Namun, tak bisa dimungkiri, memang ada pembeli F1 yang area tertentu layarnya terlihat menghitam.

Seandainya problem itu langsung diketahui saat konsumen bertransaksi di toko, langsung saja meminta penggantian unit baru. Kalau permasalahan baru ditemukan beberapa hari kemudian, segeralah mengunjungi pusat perbaikan resmi Xiaomi. Petugas di sana akan melakukan pengecekan lalu memberikan solusi terbaik berdasarkan kondisi spesifik setiap ponsel. Gratis!

Beralih ke ghost touch. Ketika pengguna menyentuh, sebut saja, titik A di layar, eh… titik B ikut bereaksi. Hal itu konon sering terjadi di bagian tepi layar. Berbekal aplikasi Multi-touch Tester yang dapat diunduh di Play Store, HSW melakukan pengujian singkat. Inilah hasilnya. Satu sentuhan tetap dikenali sebagai satu sentuhan.

Kamera jelek dan sering error? Kita bahas error-nya dulu deh. Error dalam arti kamera mendadak macet. Xiaomi mengakui problem itu terjadi secara acak di sebagian unit F1 yang masih menggunakan firmware versi MIUI 9.6.11.0. Solusinya, langsung dari menu ponsel, pengguna cukup melakukan pembaruan firmware ke versi MIUI 9.6.14.0. Sejak firmware versi 14 lalu naik ke 18, 22, dan kini 25, kasus error tak terjadi lagi.

Tentang kinerja kamera yang dinilai jelek, HSW sependapat. Ketika masih memakai firmware versi lama, performa kamera F1 mengecewakan. Jangankan diadu dengan flagship ponsel merek lain yang jauh lebih mahal, dibandingkan hasil jepretan kamera Xiaomi Redmi Note 5 yang lebih murah pun bertekuk lutut kok.

Kondisinya baru berubah ketika F1 memperoleh pembaruan firmware ke versi 22 lalu 25. Kinerja kamera membaik signifikan. Foto-foto yang dihasilkan setidaknya sanggup mengimbangi Redmi Note 5. Sedangkan klip video yang diproduksi sukses mengungguli Redmi Note 5. Gara-gara peningkatan performa kamera itu, HSW memutuskan proses uji pakai F1 yang sudah selesai diulang dari awal lagi.

Sempat beredar rumor F1 menggunakan komponen berkualitas nomor dua (KW2). Bahkan, ponsel itu memanfaatkan komponen yang tidak memenuhi standar Xiaomi. Dalam suatu diskusi singkat di Jakarta yang dihadiri HSW, hal tersebut pernah ditanyakan langsung kepada Head of Poco Global Alvin Tse.

Alvin memastikan F1 tetap memakai komponen berkualitas terbaik. Untuk menekan harga jual, Pocophone melakukan jurus lain yang nanti akan HSW bahas.

Sekarang menyangkut kabar bahwa F1 gampang panas. Terus terang HSW penasaran mengetahui kronologinya. Dipakai untuk aktivitas apa saja sehingga F1 diklaim mudah panas? Pasalnya, selama dua bulan menjajal F1, hanya satu kali ponsel tersebut terasa cukup panas. Siang itu HSW memakai F1 di luar ruangan. Kamera tak kunjung henti dipakai memotret dan melakukan live streaming.

Selain pada satu kejadian tersebut, bodi F1 tidak pernah panas kala digunakan beraktivitas. Live tweet sambil berbagi koneksi internet via tethering Wi-Fi pun tak memicu panas yang berlebihan. “Pipa pendingin” ala teknologi LiquidCool yang diterapkan di F1 rupanya memang manjur.

Tak usah menyangsikan kegegasan F1. Dipakai menjalankan belasan aplikasi pun ponsel itu tetap terasa gegas. Selain memanfaatkan sensor sidik jari, ada satu alternatif lain untuk mengaktifkan sekaligus membuka layar. Manfaatkan pemindai wajah alias face unlock saja. Padukan itu dengan aktivasi raise to wake di dalam menu settings lalu display.

Implementasinya begini. Bayangkan ponsel sedang diletakkan di meja lalu pengguna ingin mengoperasikannya. Ambillah ponsel dan hadapkan ke wajah. Raise to wake akan menyalakan cahaya layar, sedangkan pemindai wajah bakal membuka pengunci layar ponsel. Aktivitas itu tetap bisa dilakukan di lokasi yang gelap. Contohnya, di dalam mobil pada malam hari dan gedung bioskop.

Tidak tersedianya inframerah dan NFC sedikit mengurangi kelengkapan fitur F1. Seandainya dua poin itu tersedia, ponsel berdimensi fisik 155,5 x 75,2 x 8,8 milimeter dan berat 182 gram tersebut akan lebih komplet. Buat HSW, tak adanya NFC sebenarnya bukan menjadi masalah fatal. Toh HSW paling-paling hanya memakainya untuk mengecek sisa saldo kartu e-money.

Bertolak belakang dengan NFC, dihilangkannya inframerah sangat disesalkan HSW. Sebab, inframerah yang bisa difungsikan sebagai pengendali jarak jauh (remote control) aneka perangkat elektronik itu sehari-hari diperlukan. Setidaknya, bermanfaat sekali untuk HSW.

Bisa murah karena…

Saat naskah ini diketikkan, F1 yang telah beredar resmi di Indonesia berbodi polikarbonat dan dibekali RAM 6 GB. Tersedia pilihan warna graphite black dan steel blue. Masing-masing ditawarkan dalam dua varian kapasitas memori. F1 dengan ROM alias memori internal 64 GB dibanderol Rp4,599 juta, sedangkan F1 128 GB Rp4,999 juta.

Kalau tak ada aral melintang, F1 Armoured Edition akan hadir pada November 2018 dengan harga Rp5,199 juta. Spesifikasinya sama dengan F1 6/128, kecuali bodinya berbahan kevlar yang dikenal ringan, kuat, dan tahan panas. Kevlar produksi DuPont itu rutin dipakai di industri penerbangan dan militer. Salah satunya untuk rompi tahan peluru.

Dibandingkan ponsel merek lain yang menggunakan Snapdragon 845 dan beredar resmi di Indonesia, harga F1 terlihat jelas jauh lebih murah. Saat ini ponsel Snapdragon 845 termurah non-Pocophone adalah Asus Zenfone 5Z varian 6/128. Harga jualnya Rp6,699 juta. Berikutnya, Zenfone 5Z 8/256 Rp7,799 juta, LG G7+ ThinQ Rp9,499 juta, dan Oppo Find X Rp13,499 juta.

Mengapa harga F1 bisa begitu murah? Salah satu rahasianya, Pocophone menggantungkan diri kepada supply chain, service, dan quality Xiaomi. Contoh sederhananya begini. Anda mampir ke pusat grosir jaket. Bila Anda membeli seratus jaket sekaligus, harga per jaket akan lebih murah daripada bila hanya membeli sepuluh jaket.

Jadi, untuk pembelian komponen, Pocophone yang masih pendatang baru menumpang kepada Xiaomi agar dapat memperoleh “harga grosir”. Di Indonesia, jalur distribusi dan layanan purna jual Pocophone pun menumpang kepada Xiaomi. Kombinasi ketiganya tentu berdampak signifikan terhadap harga jual.

Bukan hanya itu. Pocophone memangkas spesifikasi yang dianggap dapat dikurangi atau tak terlalu dibutuhkan pengguna. Bodi ponsel memakai bahan polikarbonat, bukan kaca atau logam. Tampilan fisik ponsel memang menjadi kurang mewah, tetapi sebenarnya tetap kukuh.

Layar ponsel bukan memakai Super AMOLED, melainkan LCD IPS. Fitur NFC yang dianggap jarang dipakai juga dihilangkan. Seandainya Anda yang menjadi desainer F1, apalagi yang bakal Anda hilangkan?

Sudah semakin terang benderang ya. Langsung menuju kesimpulan akhir saja. Naskah review kali ini sudah superpanjang. Menurut HSW, dengan memperhatikan beragam faktor, harga jual Pocophone F1 tak sesuai dengan spesifikasi dan kinerja. Terlalu murah. Ponsel itu menjadi pilihan terbaik bagi individu yang mengidamkan ponsel flagship dengan harga amat masuk akal.

***

Berikut contoh hasil jepretan kamera Pocophone F1. Semua menggunakan mode otomatis dan tanpa menggunakan lampu kilat, kecuali disebutkan khusus. Ukuran foto telah diperkecil agar lebih ringan saat diakses. Tidak ada olah digital lain yang dilakukan.

Kini mencoba mode portrait dan efek light trails. Jangan menanyakan rasa minuman tersebut karena HSW sekadar memotretnya di sebuah hotel. πŸ™‚

Dua foto berikut dijepret memakai kamera depan. Satu saat mode portrait nonaktif, satu lagi mode portrait aktif.

***

Tangkapan layar Antutu Benchmark, Sensor Box for Android, kondisi awal RAM, dan versi firmware ponsel saat uji pakai.

139 thoughts to “Review Pocophone F1: Harga Tak Sesuai Spesifikasi dan Kinerja”

    1. Bu Mutiara,

      Saya tak berani memberikan kepastian karena tidak pernah mencoba S7 flat. Diduga kamera menurun, sedangkan yang lain meningkat.

        1. Pak Christian,

          Yang menentukan hasil foto kan bukan hanya sensor. Ada lensa, prosesor, juga firmware.

          Lha yang lensa, sensor, dan prosesor persis sama pun, tetapi beda versi firwmare, hasil akhirnya bisa berbeda signifikan kok.

  1. pak herry, dengan dana hanya 1,5. tipe apa yang paling direkomendasikan, khususnya di bagian kamera dan daya tahan baterai?
    terima kasih

    1. Pak Abid,

      Hmmm… dengan anggaran segitu, nggak ada yang menonjol di dua poin itu sih, Pak. Paling-paling saya sarankan mencoba Redmi 5A, Redmi 6A, atau Zenfone Live L1.

      1. Mungkin untuk perbandingan, sampai sekarang masih pake hisense pureshot plus dan sangat puas dengan performa keseluruhan, terutama kamera.
        Antara Redmi 6A dan Zenfone Live L1 tadi, mana yang paling mendekati performa hisense pureshot plus?

        terima kasih pak herry.

        1. Pak Abid,

          Hmmm… berarti mestinya Anda bukan mencari Redmi 6A atau Zenfone Live L1 deh. Mengapa? Sebab, ponsel lama Anda tergolong ponsel kelas menengah pada masanya. Jadi, idealnya sekarang juga mencari ponsel kelas menengah lagi. Bukan ponsel entry level.

  2. Aq fokus d kamera, bagus hasil jepretanya. Tajam & terpercaya, apalagi pas foto cortidex dan epexol klihatan jelas banget. Dengan membaca blog ini tmbah paham pergawaian meskipun ga punya gawai, ketika d ajak ngobrol soal gawai, ag g goblok2 amat, ya masih nyambung lah. Malah ada bbrp teman yg tanya2 soal gawai sbelum dia beli, aq kasih az tautan ponselmu.com ke dia….
    Makasih pak herry.

  3. om, nanti kalau review MI A2, mau request disebutkan juga perbandingan hasil kamera (normal light, low light, dan perekaman) antara MI A2 – Pocophone F1 – Redmi Note 5 yah.
    trims om
    *btw ditunggu towal towel lagi di bandung , hehe

    1. Pak Reza,

      Seandainya saya lupa menyebutkannya, kelak setelah review Mi A2 tayang, silakan Anda menanyakannya kepada saya.

  4. Pak Herry SW, maaf diluar topik bahasan..menurut bapak ada tidak ponsel yang maksimal layarnya 5 inchi dengan kamera setara minimal redmi note 5.. soalnya saya aga kurang nyaman dengan ponsel keluaran sekarang yang “big-big” hehe..

      1. maaf melanjutkan, kalau menurut Pak Herry Sw, ponsel maksimal layar 5″ terbaik apa ya Pak.. terima kasih sebelumnya..

  5. Untuk varian ROM 64 GB dan 128 GB apakah ada perbedaaan kegegasan pak? dan perbedaaan apa saja yang dirasakan setelah mencoba menggunanakan Pocophone ke 2 varian tersebut?

    1. Pak Abu Haidar Alfanur,

      * Saya merasa kegegasannya sama saja sih. Entahlah kalau memori internal terisi sampai hampir penuh.
      * Yang 128 GB memori internalnya lebih besar. Itu saja.

  6. halo pak herry
    saya yakin pengunjung di sini adalah mereka yang mencari hp dengan kamera terbaik. saya menangkap ungkapan tak tersirat bahwa kamera pocophone f1 tidak lebih baik daripada redmi note 5.
    btw oot, saya berharap pak herry segera mereview huawei mate 20 pro, karena dxomark belum berani merilis hasil pengujiannya karena konon kabarnya itu akan merubah keseluruhan skor dari semua hp kamera yang pernah diuji.
    terima kasih.

    1. Pak Denny,

      * Ya, hasil fotonya begitu. Untuk rekaman video, Pocophone F1 lebih bagus daripada Redmi Note 5.
      * He… he… Mate 20 Pro kan belum beredar resmi. Kalau sekadar towel-towel, saya sudah melakukannya. Silakan mencari cuitan saya di Twitter @herrysw pada 30 Oktober 2018 siang.

  7. Pak Herry,

    – Pada saat saya beli Redmi note 5 4/64 Resmi, tidak lama kemudian, eh ada kabar Pocophone bakal rilis, yah…Tapi Alhamdulillah…hasil jepretan kamera seimbang dengan redmi note 5 ya Pak?, cuma hasil Video masih bagus PocoPhone F1?..ya ga papa deh, saya setuju tidak tersedianya IR blaster pada Pocophone jadi ada yang kurang ya pak (Jadi ga bisa “jahil” di tempat umum he..he..)
    – Oh ya Pak, Smartphone macam apa yang akan menjadi trend selanjutnya pada waktu dekat ini dan untuk jangka panjangnya.., secara saya memakai Redmi note 5 saja sudah cukup puas dengan kinerja baik itu kamera maupun kegegasannya..cuma setelah beberapa kali update..sampai sekarang di MiUI 10, Xiaomi koq banyak iklannya ya Pak?? Minta tolong sampaikan ke petinggi xiaomi donk he..he…memang jadi aneh aja, semisal buka file manager, music ada iklan sepenuh layar, apakah pada Pocophone F1 ada iklannya juga Pak?
    – Terima kasih

    1. Pak Slamet,

      * Ya, betul.
      * Perbaikan di kualitas kamera, memori lebih besar, dan 1-2 tahun lagi mulai merambah 5G.
      * Lha iklan di MIUI kan memang menjadi sumber pendapatan Xiaomi, Pak. Sebenarnya bisa diminimalkan dengan melakukan pengaturan di sana-sini sih, Pak.
      * Ya, Pocophone juga ada iklannya.
      * Sama-sama.

  8. Saya termasuk pembeli pertama Poco F1 di Erafone melalui Tokopedia. Tanggal 29 September. Dgn harga 5.299.000. Padahal harusnya 4.999.000 kan ? Ah biarlah. Resiko pembeli awal. Sampai sekarang sangat puas. Masalah kamera, saya install mod Google camera. Detail dan pencahayaan jadi lebih baik. Sangat layak beli.

    1. Pak Victorius Pribadi,

      Harga jual ponsel Xiaomi dan Pocophone di Erafone memang biasanya lebih tinggi daripada harga ritel resmi.

  9. Pak Herry, kinerja kamera dalam pencahayaan baik, sangat prima.
    Untuk hasil foto dalam keadaan gelap, apakah sudah setingkat dengan ponsel dengan Snapdragon 845 yang lain?

    1. Pak Ragil,

      Selain Pocophone F1, ponsel dengan Snapdragon 845 yang pernah saya coba adalah LG G7+ ThinQ. Kamera G7+ ThinQ lebih bagus sih. Namun, harganya kan jauh lebih mahal daripada F1.

  10. Pak HSW, mau tanya. varian yang merah sebenernya keluar ga sih di sini?
    kepincut sama warna merah soalnya πŸ˜€

      1. yah sayang sekali πŸ™ padahal merahnya lumayan oke.. berarti yang kevlar aja ya yang keluar nanti..
        makasih pak atas jawabannya

  11. jika sy menjadi desainer F1, konektor audio 3.5mm sy hilangkan. sudah ada usb type c. mohon dikoreksi. terima kasih.

  12. Maaf om herry, kalau dana 4 juta pas ponsel yang paling layak beli apa ya. Pengen beli pocophone apa daya uang masi kurang hehehe

    1. Pak Ngoty,

      Pocophone F1 bekas yang 64 GB mestinya bisa diperoleh dengan harga Rp4 juta. Namun, kondisinya mungkin tidak sangat mulus.

    1. Pak Benny,

      Mengacu kepada uji pakai yang saya lakukan, layar ponsel tersebut baik-baik saja. Silakan mencermati video yang saya sertakan di naskah.

  13. Pak HSW menurut beberapa sumber hp ini terasa kekurangannya pada layar ketika melakukan multitouch secara cepat dan intens misalnya ketika bermain games atau memainkan aplikasi seperti ‘real drum’. Sentuhan dan responsnya kurang akurat

    1. Pak All,

      Saya tak pernah memainkan aplikasi Real Drum. Kalau untuk mengetik cepat dan bermain game tenis sih tak ada masalah.

  14. Permisi om, mau tanya, hp dengan kisaran harga seperti Pocophone tapi memiliki fitur dual sim dan memori eksternal terpisah, kira-kira apa saja pilihannya ya? Terima kasih.

  15. Koh HSW,
    Ada rencana akan review Realme 2 dan Realme 2 Pro kah, Koh? Kalau ada, saya mau nunggu, sebelum mau ganti smartphone.

  16. Pak HSW, setelah update firmware di pocophone performa kamera membaik, apakah kedepannya ada info akan update firmware lg pak?
    Mnrt bapak, kalo dibandingkan dgn zenfone 5 dan xiaomi redmi note 5, kamera dan videonya seperti apa urutannya? Makasih pak

  17. kenapa smua reviewer ga ada yg jujur knapa siomay/pocong bisa murah gara2 iklan sih?
    uda jelas2 hp buatan mereka cuma jdi billboard iklan masak masih mau?
    lu bayar hp mahal2 diisi iklan lol ..

  18. Terima kasih Ko Herry untuk review nya.
    Saya termasuk pembeli Pocophone F1 pertama (Flash Sale pertama).
    Varian Blue 6/128 GB, dan tidak menemukan kekurangan-kekurangan yang sering disebutkan oleh warganet (Screen Bleeding, Ghost Touch, dan Kamera yang bermasalah).
    Berhubung saya join Grup Facebook Official Pocophone F1 Indonesia, di sana memang banyak yang beli/punya pun tidak, namun komentar tentang gawai ini pedas-pedas.

    Dapat bocoran dari teman yang join Beta Tester, MIUI Developer versi 8.10.30 sudah mendapat Android 9 Pie.
    Mungkin pada versi MIUI 10 Stable bisa saja sama-sama mendapat Android 9.
    Saya pun sedang menunggu update Global Beta untuk minggu ini.

      1. Hahaha, bener Ko Herry, CLBK, hmm, sepertinya ada bug di MIUI Global Beta Pocophone F1 versi Android Pie, sudah 2 minggu tidak ada update nih Ko.

  19. Sore Pak Herry, kalo dr segi “kegegasan” Pokofon F1 ini dibandingkan dgn Vivo V11 Pro, gmn Pak? Pemakaian biasa aja Pak, ga main game. Paling cuma buka2 medsos sama jepret2 aja…

  20. Pak Herry SW,

    Dalam beberapa foto terlihat navbar Poco beda sama MIUI. Apakah itu fitur dari MIUI for Poco atau aplikasi pihak ketiga?

  21. Dibandingkan LG V20, peningkatannya signifikan atau tidak pak?
    Layakkah untuk upgrade ke pocophone f1 mengingat V20 masih bisa diandalkan untuk saat ini…?
    Terima kasih Pak Herry
    Tuhan memberkati

  22. Kayanya unit yang ko Herry pakai ada screen bleeding di sisi bawah deket dagu, keliatan itu backlight lcd putihnya nya gak rata, tapi kalo gak di perhatiin banget emang gak begitu terlihat sih, btw ada rencana review vivo v11 pro apa gak? Sepertinya menarik, apalagi sekarang ada cashback 500ribu memperingati 5 tahun kiprah vivo di Indonesia (walaupun saya gak yakin bakalan naik lagi harganya, bahkan di e-commerce banyak yang jual dibawah 4,5juta kondisi BNIB) pasti banyak pembeli (pre order maupun early adopter) vivo v11 pro “misuh” dalam hati garaΒ² belum sebulan udah turun 500 ribu harganya, kalopun ada rencana review, sekalian di compare sama pocophone bisa tuh ko, kisaran harganya mirip soalnya, thanks.

    1. Pak Ario,

      * Sisi kiri bawah? Langsung mencermati foto. Hmm… di bagian lekukan?
      * Ya, saya akan me-review V11 Pro. Yang dapat cashback Rp500 ribu itu V11 lho, bukan V11 Pro.
      * Takkan saya komparasikan dengan Pocophone. Nggak pas buat diadu.

      1. Compare performa jelas kalah antara poco f1 sama v11 pro, mungkin dari sisi lain seperti build quality, user experience, kamera, kualitas audio hasil rekam video, audio (musik), baterai mungkin bisa jadi pertimbangan

  23. Pocophone F1 pake MIUI. Ada iklannya ga pak Herry di dalam hapenya, di bagian setting, theme, file manager, app music, bawaan app keamanan bawaan ?

  24. Pak Herry , saya mau tanya, dengan harga garansi resmi 3.600.000 apakah Huawei Nova 3i direkomendasikan untuk dibeli?

    1. Pak Darel,

      Saya belum menguji pakai Nova 3i dengan mendalam. Cuma pernah pakai sebentar. Saat itu sih kinerja kameranya saya nilai buruk dibandingkan ponsel lain yang sekelas.

  25. Koh Herry,
    1. Aman kah liquid cool ini? Seandainya jatuh, apa mungkin bocor? Kalau bocor, kan bisa merusak komponen lain?
    2. Pocophone F1 yg 6/64 kalau dibandingkan Redmi Note 5 yg 6/64, mana yg lebih value buy?
    Thanks.

    1. Pak Josef,

      1. Seharusnya aman. Peluangnya sangat kecil. Posisi kan di dalam ponsel dan berpengaman.
      2. Pocophone F1 6/64.

    1. Pak Tian,

      Mitra pusat perbaikan resmi eksklusif Xiaomi (Mi Exclusive Service Center) ada lebih dari satu. Yang dikelola Unicom biasanya bagus. Jangan rancu dengan Unicom Care ya, Pak.

        1. Pak Djunaedi,

          Unicom Care: WTC lantai 2 gedung lama.
          Pusat perbaikan resmi Xiaomi yang dikelola Unicom: WTC lantai 4 gedung baru.

  26. Om herry… Pocophone saya kaca layar nya uda ada baret nya.
    Kira2 di ganti kaca nya aja bisa kah ?
    Atau musti ganti satu set beserta lcd ?
    Terima kasih

  27. Pak Herry, apa Uber di Surabaya masih ada? Pas saya ada di sebrang TP dekat MC Donald, saya lihat ada bapak2 Uber jemput penumpang.

  28. Kalo menurut Pak Herry, enak MiUI xiaomi atau yg versi pocophone?
    Kalo kita beli pocophone resmi, apakah servis nya bisa ditempat xiaomi? Untuk sub brand biasanya, tempat servis nya itu menyatu atau terpisah ya pak?

    1. Pak Amaris,

      * Saya lebih suka versi Pocophone. Salah satu alasannya, ada apps drawer.
      * Bisa.
      * Beda-beda. Xiaomi dan Oppo saat ini masih sama. Sedangkan Huawei dan ZTE terpisah, bahkan ditangani perusahaan yang sama sekali berbeda.

      1. Pak Herry, kalo beli Realme berarti bisa service di tempatnya OPPO ya? Kalo beli Honor bisa service di tempatnya Huawei, betul?

        1. Pak Amaris,

          * Realme bergaransi resmi bisa diserviskan di pusat perbaikan resmi Oppo.
          * Honor bergaransi resmi tidak bisa diserviskan di pusat perbaikan resmi Huawei.

  29. Cara mengaktifkan efek light trail dimana pak? Saya coba ubek ubek edit di galeri atau pengaturan camera kok belum dapat ya

    1. Bu Titi,

      Yang benar Erafone, bukan Eraphone.

      Untuk Pocophone F1, lebih baik beli di Mi Store karena harganya lebih murah daripada Erafone.

  30. Wah baru baca ulasannya….sebenarnya sempat tertarik sama hape ini tapi ternyata ndak ada nfc-nya ya? Buat saya jauh lebih masalah karena perlu buat e-toll dan mungkin kartu2 lainnya lagi, saya masih bisa nerima kalau hybrid karena toh memory internal sekarang sudah gede kapasitasnya, tapi gak ada nfc di hape membuat hape ini saya coret dari list.

    1. Bu Aulia Intan,

      LG V20. Namun, karena alasan tertentu, mulai akhir bulan ini kita sebaiknya move on dari ponsel LG.

  31. Haloo Pak Herry..

    Saya melihat akhir2 ini Xiaomi termasuk sub-brand Xiaomi ini sering sekali mengeluarkan ponsel barunya. Secara pribadi Saya koq bingung ya sama Xiaomi. Belum juga ngerasain ponsel kemaren yg baru beredar resmi di Indonesia, eeh udah muncul lagi 2-3 kali tipe ponsel baru mereka. Sebenernya strategi bisnis Xiaomi itu inginnya seperti apa sih? Lagipula Saya lihat secara spek juga ga beda2 jauh dg spek ponsel yg baru dirilis, harga juga beda2 tipis, dan satu lagi model/desainnya gitu2 aja. Saya cuman heran kenapa mereka rajin sekali ngeluarin produk2 baru dalam rentang waktu sesingkat itu? Jujur, saya cukup terkesima dg produk Xiomi yg meski harga murah tp punya spek/kualitas mumpuni, disisi lain ngerasa jenuh juga. Thx.

    1. Pak Dico,

      Strategi pastinya saya tak tahu. Sepintas Xiaomi terlihat seperti mengikuti jejak Nokia zaman dulu. Rumornya Samsung pun akan melakukan hal serupa di Indonesia.

  32. Ko Herry, minta rekomendasi smartphone yang sudah punya koneksi NFC, port USB type-C, nantinya bisa suport 5G, dan dengan harga paling terjangkau, apa ada yang bisa di sarankan? Kalau bisa menjadi tambahan dengan kamera bagus dan layar AMOLED/OLED. Terima kasih dan sukses selalu

      1. Kalau sepesifikasinya sudah punya koneksi NFC, port USB type-C, dan kamera bagus? Kalau bisa sudah AMOLED/OLED. Karena memang jarang ganti smartphone, dan kebutuhan itu yang akan sering dipakai, jadi cari saran yang bisa cukup buat jangka panjang dengan harga paling terjangkau, terima kasih ko Herry atas responya

  33. Om Herry, maaf oot, dari sekian banyak ponsel yg diuji , manakah yg menurut Om Herry paling ciamik/suka untuk foto bokeh hasil kamera belakang dari ponsel Huawei P9, Pocophone F1, MiA2, MiA1, Vivo V11 pro Zenfone Zoom S, maupun Zenfone 5 , atau Om Herry punya jagoan yg lain ? Minta tolong bisa di urutin Om dari list diatas ? Trims ya Om

    1. Bu Aulia Intan,

      * Huawei P20 Pro paling mantap.
      * Saya sengaja tidak membuatkan urutannya karena ponsel yang Anda sebutkan berbeda generasi. Ada yang keluaran beberapa tahun silam. Jadi, tak cocok dibandingkan deh.

  34. Maaf oot
    1. Gawai realme tipe apa yang akan HSW review?
    2. Untuk budget 1.5-1.8 jt gawai apa yg HSW rekomendasikan, untuk orang tua dengan pemakaian condong ke baterai setidaknya satu kali cas perhari dan kamera yang lumayan tidak jelek sekali
    3. Apakah nokia 6.1 akan HSW review?
    Trimakasih

    1. Pak Jefri,

      1. Realme 2 Pro.
      2. Hmmmm… di rentang segitu agak kosong nih. Kalau bisa menambahkan anggaran Rp100 ribuan, belilah Redmi 5 Plus.
      3. Tidak. Sebab, Nokia 6.1 tidak beredar resmi di sini. Yang beredar resmi di Indonesia Nokia 6.1 Plus.

  35. Pak herry lebih bagus mana antara lg g7+ dengan asus zenfone 5z 8gb?soalnya hrgnya kan skrg selisihnya cm 1jtan. G7+ sekarang sekitar 8,8jtan asus 5z 8gb 7,8jtan.thanks

    1. Pak Hendry,

      Saya belum pernah menguji pakai Zenfone 5Z varian RAM 8 GB. LG saat ini sebaiknya dilupakan karena usia LG Mobile di Indonesia takkan lama lagi.

  36. Pak Herry, mau tanya:
    1. Mengapa harga gawai dengan prosesor Mediatek lebih murah dibanding Snapdragon?
    2. Apa saja kelebihan procesor snapdragon dibanding kan Mediatek?
    3. Apakah untuk sekarang masih worth beli gawai dengan procesor Mediatek?
    4. Kenapa sekarang brand Xiaomi ada beberapa yang menggunakan procesor Mediatek (contoh redmi 6A), padahal sejak dulu selalu pakai Snapdragon? Apakah tidak menurunkan kualitas?
    5. Pilih gawai dengan sistem hybrid atau bisa koh?
    6. Apakah batere non removable bisa diganti?
    Terimakasih pak Herry

    1. Pak Damar,

      1. Dengar-dengar karena harga chipset MediaTek memang lebih murah.
      2. Dulu sih GPS-nya lebih cepat mengunci. Sekarang sih MediaTek sudah jauh lebih bagus. Jadi, sebenanrya mau MediaTek atau Snapdragon ya sama saja.
      3. Ya.
      4. Mungkin saja bagian dari strategi bisnis. Bukan penurunan kualitas.
      5. “Sistem hybrid atau bisa?” Maksudnya gimana ya?
      6. Bisa.

  37. Koh Herry,
    Minta rekomendasi smartphone yang sudah punya koneksi NFC, kamera bagus, layar AMOLED dan baterai tahan seharian dengan harga range harga 2,5 s.d 3 juta, apa ada yang bisa di sarankan? Terima kasih…

  38. Ko, dari segi harga dan performance, lebih baik beli pocophone F1 6/128 atau pocophone armoured edition? Lalu, kenapa belum ada yang menjual pocophone armoured edition? Apakah ponsel ini masuk ke Indonesia?

    1. Pak Rie,

      Performa seharusnya sama saja. Lha perbedaan dua varian itu hanya di bahan bodi kok. Kalau anggaran tak masalah, kayaknya lebih menarik beli yang Armoured Edition.

      Armoured Edition akan masuk resmi ke sini, tetapi sepertinya molor dari rencana semula.

  39. Pak Herry, apakah ada perbedaan yang sangat besar antara layar IPS LCD dan Super AMOLED?

    Untuk penggunaan di luar ruangan / di bawah cahaya matahari, apakah layar Pocofone F1 tetap nyaman dilihat?

    Terima kasih atas respon Bapak sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *