Review Polytron C240: Ponsel Dual SIM Rakitan Kudus

Kudus selama ini dikenal sebagai kota jenang. Kudus juga dijuluki kota kretek karena merupakan kota penghasil rokok kretek terbesar di Jawa Tengah. Kini di kota yang sama telah dilakukan aktivitas merakit ponsel. Kapasitas produksinya mencapai 60 ribu unit per bulan.

Ingin mencoba ponsel dari Kudus? Silakan mencari Polytron C240 di pusat-pusat penjualan ponsel. Dalam pengamatan penulis, pemilik toko biasanya mematok harga jual mulai Rp 199 ribu sampai Rp 210 ribu. Setelah mendapatkannya, bukalah penutup belakang ponsel itu, lalu cermati stiker yang menempel di balik ponsel. Di situ tercetak tulisan Dirancang oleh Polytron. Dibuat di Indonesia.

C240-3

Proses perakitan C240 di Kudus tak sebatas memasangkan casing. Bukan pula sekadar memasukkan ponsel jadi ke dalam kardus, lalu mendistribusikannya ke pasar. Ada serangkaian aktivitas lumayan panjang yang dilakukan. Misalnya, merakit papan sirkuit alias printed circuit board (PCB), LCD, mikrofon, dan aneka komponen kecil lainnya. Pemasangan casing dan pengujian atas performa frekuensi radio ponsel (RF test) juga dilakukan di tempat yang sama.

Dual on GSM-GSM menjadi nilai jual utama C240. Sepasang nomor GSM, apa pun operatornya, dapat siaga bersamaan. Keypad ponsel itu cukup empuk dan membal. Namun, ukuran huruf yang tersaji di layar buat sebagian pengguna mungkin terasa kurang besar dan tebal.

Hal yang menarik, siaran radio FM di ponsel itu bisa direkam secara spontan maupun terjadwal. Terjadwal? Ya! Anggaplah pukul 23.00 ada talkshow menarik di sebuah stasiun radio. Pengguna ingin mengikutinya, tetapi mata sudah tak bisa diajak kompromi. Solusinya, aturlah supaya ponsel otomatis melakukan perekaman secara otomatis pada waktu tersebut. Pengguna dapat tidur nyenyak dan keesokan harinya tinggal memutar ulang rekaman yang dihasilkan.

C240-1

C240 juga dibekali fitur yang memungkinkan ponsel selalu merekam percakapan telepon yang dilakukan. Kalau ingin menghadang panggilan telepon maupun SMS masuk dari nomor yang tak diinginkan, optimalkan fitur black list.

Layar 2,4 inci, buku telepon 300 nama single entry, GPRS, bluetooth, dan SIM tool kit untuk dua nomor yang terpasang merupakan sebagian spesifikasi lain C240. Ponsel berukuran 121 x 53 x 10,9 mm dan berat 85,5 gram itu dibekali sebuah kamera tanpa fokus otomatis maupun lampu kilat. Ia sanggup memproduksi foto VGA yang diinterpolasi menjadi 1,23 megapiksel dan klip video 320 x 240 piksel.

Bila dicermati, memori internal C240 yang leluasa dioptimalkan pengguna hanya 85,5 KB. Sangat minim, bukan? Karena itu, idealnya pengguna menyelipkan kartu microSD ke selot yang tersedia.

C240-2

Sumber daya C240 berasal dari baterai lithium ion berkapasitas 800 mAh. Kalau mau, pengguna bisa memasangkan baterai Nokia BL-4C ke ponsel itu. Sebenarnya baterai Nokia BL-5C juga dapat digunakan. Namun, lantaran dimensi fisiknya lebih tebal, penutup belakang ponsel pasti gagal dipasangkan sempurna.

Ketika baterai mulai melemah, pengguna tinggal menghubungkan ponsel ke charger. Tersedia dua konektor charger yang leluasa dipilih pengguna. Satu memanfaatkan konektor micro USB, satu lainnya berupa konektor bundar kecil alias konektor dua milimeter ala Nokia.

***

Isi paket penjualan terdiri atas ponsel, baterai, kepala charger 500 mA, kabel micro USB, dan handsfree berkabel.

***

Contoh foto yang dihasilkan kamera C240.

C240-4

C240-5

C240-6

C240-7

32 thoughts to “Review Polytron C240: Ponsel Dual SIM Rakitan Kudus”

  1. Wah murah juga ya apalagi kalo cuma sekedar buat nelpon dan sms. Kalo kualitas layar dan kekuatan baterainya gimana P Herry? Sayang sekali saya baru saja membeli nokia 220 yg menurut saya layarnya bikin capek mata

    1. Pak Han,

      Layar sih biasa-biasa saja. Baterai bisa tembus 2-3 hari, bergantung kuantitas penggunaan.

      Wah, 220 layarnya kurang mantap ya, Pak? Kalau mau dijual, kabar-kabari ya. Saya kebetulan ingin mencoba ponsel itu untuk diulas di blog.

  2. Iya pak kalo menurut saya masih bagus layar samsung gt c3322. Maaf P Herry ponsel tsb tidak dijual karena digunakan orang tua saya he3. Saya mendapatkan ponsel tsb di malang dengan harga Rp 480.000

    1. Pak Han,

      Oh ok, kalau untuk orang tua mungkin Nokia 206 lebih tepat.

      Layar 220 kan kurang sip. Kalau keypad-nya keras atau empuk, Pak?

  3. untuk smsnya seperti hape2 jadul atau sudah mode chat pak hery ? ada slo mem sd card ? kapasitas max sampai brapa ? kualitas BT device bagaimana pak ? thanks advicenya 😀

    1. Pak Feri,

      Wah, saya nggak terlalu memperhatikan. Seingat saya bukan model chat. Ya, ada selot micro SD. Entah maksimal bisa berapa GB. Kemarinnya saya padukan dengan microSD 4 GB saja. Bluetooth ya standar, Pak.

  4. Sebenarnya awalnya saya mau membeli nokia 206 tapi berhubung yg tersedia hanya warna kuning dan orang tua saya tidak suka warna yg menyala akhirnya saya membeli nokia 220 warna putih. Oya warna nokia 220 adalah doft, warna yg tersedia putih, hitam, kuning, merah. Untuk keypad menurut saya lumayan empuk tp masih lebih nyaman keypad nokia 206 dan samsung gt c3322, karena keypad nokia 220 berbentuk datar tidak timbul. Satu lagi P Herry kualitas casing menurut saya kok ringkih ya kurang mantap

  5. Mau tanya pak itu radio apa harus colok handsfree dulu? Jack handsfree nya apa yg universal 3.5? Dan kalau untuk merekam radio yang telah dijadwal apa suaranya langsung pake loudspeaker? Pengalaman punya ponsel lg yang radionya bisa rekam pake jadwal, langsung menyala pake loudspeaker

    1. Pak Ukub,

      Ya, untuk mengaktifkan radio pengguna harus menancapkan handsfree. Konektornya pakai konektor 3,5 mm. Untuk merekam secara terjadwal, suara akan muncul di handsfree, bukan speaker internal alias loudspeaker.

  6. Mas Herry,
    Fitur blacklistnya itu apa bisa memblok panggilan dari nomor yang tersembunyi (Unknown Number)?
    Dipakai Mas Herry batrenya tahan berapa hari?

    1. Pak Yayan,

      Seingat saya, tak ada pilihan untuk memblok unknown number hidden number.

      Baterai bisa tembus dua hari.

  7. Pa Herry selain ponsel ini, ponsel mana lagi yang ada fitur rekam radio pakai jadwal? Harganya di bawah 250.000 an. Saya susah cari ponsel ini di bandung. Kalau untuk beli online sih sayanya tidak mau.
    Terimakasih

    1. Pak/Bu Da Ni,

      Dulu pernah ada beberapa ponsel merek lokal dan global yang memiliki kemampuan seperti itu. Namun, saya tak ingat satu per satu tipenya. Lagipula, karena masa edarnya sudah lama, ponsel-ponsel itu telah diskontinyu.

      Di Bandung apakah tak ada diler Polytron? Sudah coba cari di, misalnya, BEC?

  8. Saya tanya lewat tweet pada toko ponsel yg lumayan besar di bec yaitu mega cell dan atlantik cell, dua duanya tidak jual polytron. Tanya di dukomsel katanya habis 🙁
    Mungkin memang harus datang langsung nyari di bec nya. Terimakasih pa herry

  9. Btw saya laki laki 😀 pa herry. Oot pernahkah bapak membeli ponsel di luar negeri dan menulis tipsnya?
    Kebetulan bulan juni saya ikut tur ke shenzhen dan rencananya mau beli xiaomi mi3s kalau sudah beredar, atau one plus one atau yang agak booming berita penjualannya disini.
    Kira kira apa saja tipsnya yah
    Saya browsing browsing sih ada yang sarankan dus tidak usah dibawa/dilipat di tas berbeda.
    Terimakasih

    1. Bu Da Ni,

      Ups… maaf. Saya pernah membeli ponsel di luar negeri, tepatnya di bandara. Tidak ada tip khusus sih.

      Kalau mau beli Xiaomi di Tiongkok, ada dua hal utama yang perlu diperhatikan. Pastikan beli yang spesifikasinya mendukung WCDMA, bukan TD-SCDMA. Kedua, pastikan dapat Xiaomi yang asli, bukan aspal yang kini telah banyak beredar.

      Ini ceritanya cuma beli satu unit kan? Ya, kardus cukup dilipat dan dimasukkan ke dalam tas. Ponselnya cukup dikantongi.

  10. Secara keseluruhan, menurut pak Herry, apakah Polytron sudah bisa dihandalkan secara kualitas produk perangkat mobile. Soal produk smartphonenya apakah sudah bagus? Saya lihat yang flagshipnya harga termahal sekitar 3,8jt an. Apakah sudah layak menjadi pilihan. Oh iya aftersales bagus tidak ya? Terima kasih.

    1. Pak Adhi,

      Saya belum bisa memberikan kesimpulan yang komprehensif. Sebab, saya baru coba dua tipe Polytron dan kebetulan yang bukan smartphone.

    1. Pak Fat,

      Bergantung Anda lebih suka model candybar atau clamshell (lipatan). Kalau suka candybar, silakan ambil C240. kalau lebih suka model lipatan, silakan meminang Caramel.

  11. Om herry sw yg gendut yaaaa? Hihihi
    Saya selalu ikuti ulasan om di majalah langganan mama saya. Om herry sw koyok dukune hape 😀

    1. Bu/Pak Irhas Ilmi,

      Mohon maaf karena saya baru bisa menjawab pertanyaan Anda pada pagi ini. Sesuai pengumuman di blog, pada 8-11 September 2015 saya libur merespons pertanyaan. Sebab, saya sedang berada di Jakarta dan Belitung. Selama di sana, jadwal aktivitas saya tergolong padat.

      Iya, saya memang gendut. 🙂

      Majalah atau tabloid? Kalau tabloid berinisial N, sekarang saya sudah tidak mengasuh rubrik ponsel di sana lagi.

  12. Saya cinta produk indonesia,
    Semoga produk buatan anak bangsa indonesia.
    Menjadi jawara di tanah air maupun luar negeri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *