Review Sony SmartBand 2: Gelang Kesehatan Pemberi Notifikasi

Karena julukan gelang pintar sudah terlalu pasaran, bolehlah Anda menyebut Sony SmartBand 2 sebagai gelang kesehatan. Fungsinya bukan menyehatkan tubuh pemakai, melainkan memantau aktivitas pengguna yang berhubungan dengan tingkat kebugaran.

Saat pengguna menerima panggilan telepon, SMS, email, atau pesan instan, SmartBand 2 alias SWR12 akan memberikan notifikasi. Ia bakal bergetar. Lampu mungil di sisi bodi juga menyala. Ssst… peranti tersebut sanggup pula membantu pengguna yang lupa telah meletakkan ponselnya di mana.

Sony SmartBand 2-1

SmartBand 2 terdiri atas dua bagian utama. Pertama, tali jam alias wrist strap yang terbuat dari karet. Panjangnya 25 sentimeter. Saat membeli SmartBand 2, konsumen bebas memilih tali jam berwarna hitam atau putih.

Kedua, core unit. Inilah “otak” SmartBand 2. Di benda mungil berukuran 40,7 x 15,3 x 9,5 milimeter dan berat enam gram itu terdapat heart rate sensor. Fungsinya mengukur denyut nadi yang mencerminkan detak jantung pengguna. Ada pula tiga lampu mungil, konektor charger micro USB, dan aneka komponen lain yang dibenamkan di dalamnya.

Sony SmartBand 2-2

Sony SmartBand 2-4

Sony SmartBand 2-3

Biarpun bermerek Sony, SmartBand 2 tidak harus dipadukan dengan ponsel Sony. Peranti tanpa layar itu kompatibel dengan beragam merek dan tipe ponsel Android. Syaratnya, ponsel tersebut bersistem operasi minimal Android 4.4 dan dibekali konektivitas bluetooth. SmartBand 2 juga cocok dengan iOS. Gelang multiguna itu siap dipasangkan dengan Apple iPhone 4s dan generasi berikutnya yang bersistem operasi minimal iOS 8.2.

Agar seluruh fitur SmartBand 2 bisa dinikmati dengan optimal, pengguna idealnya menginstalasikan dua aplikasi dulu. Yaitu, SmartBand 2 SWR12 dan Lifelog. Koneksi awal antara SmartBand 2 dan ponsel bisa memanfaatkan koneksi nirkabel NFC maupun bluetooth. Setelah terkoneksi, kedua peranti akan selalu “bercakap-cakap” via bluetooth.

Di halaman utama aplikasi SmartBand 2 SWR12, pengguna bisa memantau durasi dan kualitas tidur, denyut nadi dan tingkat stres, jumlah langkah kaki, durasi berjalan kaki, maupun durasi berlari. Kalau ingin mendapatkan informasi lebih detail, pengguna tinggal membuka aplikasi Lifelog. Jumlah kalori yang dibakar, frekuensi pemakaian kamera ponsel, hingga rute aktivitas bisa diintip lewat Lifelog. Grafik harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan pun dapat dipantau.

Sony SmartBand 2-12

Sony SmartBand 2-13

Sony SmartBand 2-14

Sony SmartBand 2-15

Sony SmartBand 2-16

Sony SmartBand 2-17

Apakah pencatatan itu akurat? Harus diakui tidak 100% tepat. Contohnya, penulis alias HSW yang berjalan kaki pernah dianggap telah berlari. HSW yang berbaring di kasur sambil memantau email dan WhatsApp pernah pula diasumsikan sedang tidur. Betapa pun, secara umum tingkat akurasi pencatatan SmartBand 2 tergolong tinggi.

Menyoal akurasi, Sony sebenarnya sudah memberikan disclaimer. Di salah satu dokumen, produsen asal Jepang itu menuliskan “This device is not a medical device. It is not intended for medical use or to replace the advice of a qualified medical professional. Singkatnya, kalau ingin mengukur secara presisi, pengguna disarankan memakai perangkat lain yang memenuhi standar medis profesional.

Fungsi lain SmartBand 2 sebagai alarm dan pemberi notifikasi. Pengguna bebas mengatur peranti itu akan memberikan notifikasi apa saja. Misalnya, notifikasi bila ada panggilan telepon, SMS, email baru, dan pesan WhatsApp masuk. Saat itu SmartBand 2 bakal bergetar. Lampu di sisi bodi juga akan menyala.

Sony SmartBand 2-5

Sony SmartBand 2-8

Bagi HSW, notifikasi dalam bentuk getaran itulah yang membuat SmartBand 2 sangat bermanfaat. Sebaliknya, lampu mungil di peranti tersebut praktis tak berguna. Pasalnya, lampu itu terletak di samping bodi. Kalau HSW tidak khusus memantaunya, cahaya yang dipendarkan takkan mampu memancing perhatian mata. Kecuali, HSW sedang berada di lokasi yang sangat gelap. Seandainya tiga lampu mungil di SmartBand 2 terletak di sisi atas dan menghadap ke wajah pengguna, HSW yakin lampu notifikasi itu akan lebih berdaya guna.

Sony SmartBand 2-6

Sony SmartBand 2-7

Sering lupa meletakkan ponsel di mana? Sebelum hal itu terjadi lagi, pengguna sebaiknya mengaktifkan fitur remote control via aplikasi SmartBand 2 SWR12. Suatu ketika, bila pengguna kebingungan mencari ponselnya, ia cukup menekan tombol power di SmartBand 2 satu kali diikuti dengan mengetuk peranti itu. Ponsel spontan berdering untuk memberitahukan posisinya. Aktivitas itu tetap dapat dilakukan meskipun ponsel sedang dalam mode silent.

Sony SmartBand 2-18

Sony SmartBand 2-19

Lantaran telah memenuhi standar rating IP68, SmartBand 2 tidak takut berbasah-basah. Keringat dan air hujan seolah menjadi teman akrabnya. Saat mandi pun pengguna tak perlu melepaskannya. Bahkan, mengacu kepada buku panduan pemakaian dan informasi di situs Sony Mobile, pengguna boleh tetap mengenakan SmartBand 2 saat berenang. Usai dipakai berenang, peranti itu perlu dibilas memakai air keran kemudian dikeringkan.

Selama menguji pakai SmartBand 2, penulis tetap memakai peranti itu saat mencuci tangan maupun mandi. Gelang pintar tersebut akan bergetar kala penulis mendapatkan panggilan telepon, SMS, dan WhatsApp. Notifikasi email sengaja tidak penulis aktifkan karena dalam sehari penulis rata-rata menerima 800 email. Bila diaktifkan, betapa seringnya penulis harus merasakan getaran SmartBand 2.

Dengan perilaku pemakaian seperti di atas, baterai SmartBand 2 biasanya bertahan dua hari. Anggaplah hari ini penulis mulai mengaktifkannya pada pukul 06.00. Peringatan baterai lemah akan muncul besok malam sekitar pukul 21.00. Proses pengisian ulang baterai membutuhkan waktu sekitar satu jam.

Kalau sensor detak jantung (heart rate sensor) dipadamkan, baterai SmartBand 2 akan bertahan dua kali lipat lebih lama. Setidaknya sanggup menembus empat hari pemakaian. Sesekali malahan baru low battery pada hari kelima.

Saat ini Sony SmartBand 2 alias SWR12 dijual dengan harga ritel resmi Rp 1.999.000 dan bergaransi resmi setahun. Harga unit dengan tali berwarna hitam tidak dibedakan dengan varian berwarna putih. Kalau tak ingin tampil monoton, pengguna tinggal membeli tali tambahan. Tersedia dua pilihan warna, biru dan merah muda. Masing-masing dibanderol Rp 379.000.

Sony SmartBand 2-9

Sony SmartBand 2-10

Sony SmartBand 2-11

42 thoughts to “Review Sony SmartBand 2: Gelang Kesehatan Pemberi Notifikasi”

    1. Pak Putra,

      Karena saya sehari-hari sebenarnya tidak memerlukan heart rate sensor, harga Rp 1,999 juta terasa terlalu tinggi. Namun, buat yang membutuhkan sensor itu, kondisinya mungkin bertolak belakang.

  1. Dear pak HSW

    Harga yg hampir 2 juta sepertinya tidak terjangkau bagi saya, adakah pilihan produk lain dengan harga jual dibawahnya?

  2. Dibanding Mi Band, lebih akurat mana Pak? Mi Band saya sdh 2 mingguan ini ngaco berat, data tidur nya menghilang padahal sebelumnya pas sync sdh muncul di apps. Dan data tidur nya lumayan akurat minimal deteksi waktu tidur, kalau deep sleep nya sih gak ngerti 😀

  3. Waduh waduhh harganya bikin geleng2 kepala ya pak.secara fungsi mirip skli sma miband nya xiaomi ya pak tp miband dngn harga yg terjangkau.dan sya jg pengguna miband.tp mnurut saya keakuratannya jg sma masih bnyk yg salah.ya buat notif aj.???

  4. Pak HSW…

    Sepertinya menilik harganya, perangkat ini jadi kurang menarik ya… Walaupun fiturnya tidak selengkap smart band2, menurut saya mi band keluaran xiaomi lebih menarik untuk dilirik deh. Harganya hanya seper delapannya saja, sayangnya belum ada sensor detak jantung.

    1. belilah Mi Band Pulse kalau ingin punya fitur deteksi heart rate, tapi sepertinya belum diedarkan secara resmi di Indonesia

        1. mi band 1s/pulse sudah banyak beredar di toko2 online lokal ko, kisaran harga 3xx ribu sampai 4xx ribu

          tentu saja tidak bergaransi resmi, sejak kapan mi Indo dagangannya selengkap di negeri tetangga, bahkan di negara asalnya? 🙂

  5. Ini benar-benar gelang yang sangat cerdik. Bukan hanya pintar. Selain memberikan notifikasi berkaitan dengan smartphone kita, ia juga bisa memberikan informasi tentang catatan awal kesehatan kita.
    Seperti durasi dan kualitas tidur, denyut nadi dan tingkat stres, jumlah langkah kaki, durasi berjalan kaki, maupun durasi berlari. Kalau ingin mendapatkan informasi lebih detail, pengguna tinggal membuka aplikasi Lifelog. Jumlah kalori yang dibakar, frekuensi pemakaian kamera ponsel, hingga rute aktivitas bisa diintip lewat Lifelog. Grafik harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan pun dapat dipantau.
    Bagi kita yang punya sakit khusus seperti darah tinggi, diabetes, jantung, asam urat, dsb, perangkat ini bisa membantu banyak. Ia membantu memberikan informasi awal tentang kesehatan kita. Kita bisa segera menindaklanjuti sebelum berkembang lebih buruk
    Bukan main hebatnya teknologi zaman sekarang. Jika kita bisa memanfaatkan dengan baik, ini sangat bermanfaat. Terima kasih Pak HSW. Reviewnya benar-benar lengkap dan bernilai guna tinggi.

  6. Ko, tanya
    Untuk tampilan standby dan ingin melihat jam apakah langsung tampil atau musti pencet atau ketuk ketuk dahulu
    Thx

  7. keren, saingan berat Mi Band Pulse nih
    baterai sanggup bertahan 2 hari dengan pemakaian ala ko Herry ya?
    sudah pernah dicoba setting hanya bergetar pas ada panggilan telepon dan alarm saja ko? sanggup berapa hari?

    mi band biasa, bergetar cuma pas ada panggilan dan alarm, sanggup 25 hari rata2 usia baterainya

    1. Pak Shinosuka Nohara,

      Mi Band Pulse? Itu benda yang sama dengan Mi Band 1S atau tidak?

      Tak pernah coba hanya untuk notifikasi telepon dan alarm.

      1. itu benda yang sama ko
        dengan harga cuma ¼ yang ini, sepertinya lebih masuk akal untuk dilirik, namun setahu saya tidak ada fitur find phone, karena tidak ada tombol apapun cmiiw

        1. Pak Shinosuke Nohara,

          Oh ok. Sebab, selama ini teman-teman saya selalu menyebutnya Mi Band 1S. Baru kali ini saya membaca istilah Mi Band Pulse.

  8. Koh herry bohong nih…klo g salah di postingan acer atau sony smart talk dibagian kolom komentar ada komentator yg nanya mau review miband ga,koh herry bilang tidak tertarik yang tidak pakai layar.. 😀
    Menurut saya smartband maupun smartwatch masih terlalu mahal untuk saat ini,yg fungsinya mmg sebagai pendamping HH. Bagi saya smua fitur yang ada yang benar bermanfaat itu cuma find my phone,sama notifikasi saja,heart rate,deep sleep,calorie maupun steps itu hanya gimmick saja. Tangan mengayun bisa dianggap melangkah ataupun berlari,dari situ sudah bakalan kacau hitungan kalorinya. Tapi saya ga tau untuk smartband sony ini apa juga begitu belom pernah mencoba soalnya.. 😀 ,intinya fitur yg betul2 berguna ya notifikasi sms/telpon,selebihnya bonus saja,buat ayem2 hati 😀

    1. Pak Lekpujo,

      Benar. Saya tak tertarik mencoba Mi Band karena polosan. Tanpa layar. SmartBand 2 iseng coba karena meski tanpa layar, peranti itu dilengkapi sensor detak jantung.

  9. Ko Herry

    Jauh dari topik, mungkin sedikit usul saja
    bagaimana jika ko herry membuat kilas balik di 2015
    dengan memasukkan kategori ponsel-ponsel menyandang status “dijauhi” hingga “sangat layak beli”.
    Jika tidak berkenan ya mungkin beri info kesaya sepanjang 2015, ponsel yang “sangat layak beli” itu apa saja

    Thx

    1. Pak Endo,

      Terima kasih atas masukannya. Saya tidak berencana membuat tulisan tersebut.

      Yang patut dijauhi sih sudah jelas: semua ponsel merek Oppo. 🙂
      Yang sangat layak beli, tanpa melihat harga ya: LG G4.
      Yang layak beli dengan memperhatikan kesepadanan antara harga, fitur, dan kinerja: Xiaomi Redmi 2 Prime dan Hisense Pureshot.

  10. Selamat sore Pak Herry SW.

    Saya lagi cari hp Android, modal sekitar 2 juta.
    Merk apapun gak masalah yang penting kamera bagus dan batrei awet.
    Mohon pencerahannya ya Bapak Herry SW.

    1. Pak Okky Bimo,

      Kalau cari yang kamera bagus dan baterai awet dengan harga Rp 2 juta, saat ini belum ada. Harus ada langkah kompromi yang Anda lakukan:
      * Kamera bagus, baterai agak awet: Hisense Pureshot.
      * Kamera lumayan, baterai awet: Infinix Note 2.

  11. Salam Pak Herry, udah lama ga bicara lagi nih di blog nya pak Herry. Hahaha.
    Pertama saya mau ucapin selamat tahun baru dulu untuk Pak Herry semoga blog nya tambah maju & gaya bahasanya tetap gokil seperti selama ini.
    Lalu mau tanya OOT pak dari post ini (seperti biasa saya suka OOT), kan dulu Pak Herry mungkin masih ingat ya saya berpindah dari Lenovo K860 ke LG G3 16GB, nah ini saya mau bertanya pak, selain dari dulu (hingga sekarang) G3 saya ini masih problem “Unfortunately, home has stopped” sekarang ketambahan battery G3 yang super boros, dipakai online chatting Line aja cuma bertahan tidak sampai 6 jam, bahkan ketika seharian jarang dibuka cuma tahan sekitar 6 jam. Kira-kira kenapa ya pak ?
    Di Battery usage saya dulu yang banyak makan battery itu paling atas yaitu Screen, sekarang Android OS nya pun ikut bersaing “makan” battery dengan Screen tadi. Padahal selama ini saya tidak mengganti atau melakukan apa-apa ke G3 saya ini.

    Oh iya sekedar tambahan curhat, kan Acer A1-811 yang dulu Pak Herry bantu recommend rekan bapak untuk jual ke saya (masih sangat berterima kasih saya) kan sudah cukup berumur dan tombol nya sudah mulai lecek, dan kan dulu saya sempat tanya apakah Pak Herry ada recommend tab yang sama 8″ tapi yang setara lebih baru seperti LG G Pad I 8″ tapi kan katanya Pak Herry belum pernah nyicip & selihat saya di toko, body nya tergolong jelek bahannya. Akhirnya sesudah berbulan-bulan mendaki gunung lewati lembah, saya barusan menemukan pengganti yang cocok yaitu Samsung Tab A 8″ with S Pen harganya 4 jeti & pas lagi promo Desember ini free flipcover ori Samsung. Speknya bagus, harga bagus, design exteriornya ciamik, dapat S pen pula. Battery ga setahan Acer A1 dulu sih yang super extreme battery nya, tapi ini cukup lah daripada tab / note lain yang biasanya tahan cuma 6 jam (menurut review orag umum), ini 10 jam pun sampai sambil bermain game berat. Minusnya hanya flipcover orinya ini yang berbahan magnet ternyata sedikit memengaruhi touchscreen nya selama game, untungya selama pemakaian selain game ga masalah.

    Sekian pak, maaf comment saya puuuanjang :p

    1. Pak Rianto,

      Selamat Tahun Baru juga. Iya, sudah lama Anda tidak muncul di sini. Sibuk kuliah ya?

      Soal G3, sudah coba dibawa ke pusat perbaikan resmi LG dan minta dicek plus (kalau perlu) di-flash ulang?

      Tab A menarik karena ada S-Pen-nya. Namun, saya menilai layarnya kurang cemerlang. Kalau mau yang Wi-Fi only, Xiaomi Mi Pad sebenarnya lebih menggiurkan.

      1. Wah iya pak kuliah teknik sipil ini melelahkan hati saya selama ini. Hahahaha.
        Jarang juga ketemu lagi seperti dulu terakhir ketemu di WTC ya.

        Ah ke LG centre sudah tapi dulu sudah flash ulang ke OS sebelumnya (Kitkat) pun ga berhasil, lalu akhirnya mereka cuma ngasih solusi dicek menginap beberapa hari yang jujur sih saya malas sekali kalo diminta bolak-balik WTC & komunikasi jadi berkurang.

        Nah itu pak masalah utamanya, di sini sering ga ada wifi, pak. Tethring pun ya seperti tadi G3 saya boros minta ampun battery nya malah ga nahan. Kalo ada wifi palingan connection nya bermasalah, dah dengan asumsi semua itu saya dari awal sudah menentukan semua acang saya harus ada SIM nya. Dan yang paling mumpuni ya Tab A ini sih dari semuanya (sempat ngelirik Fonepad 8 tapi katanya banyak problem dengan wifi ; G Pad II 8.0 belum rilis di Indo juga ; Nvidia shield tablet K1 tapi ga ada jual official di Indo). Iya Xiaomi maaf langsung coret sih pak karena ga ada SIM, kenapa ya mereka ga mau produksi yang pake SIM aja, padahal 3G aja saya sudah minat kok. Hahahaha

        1. Pak Rianto,

          Kalau disuruh ninggal, menurut saya, mending ditinggal saja. Bila ditemukan masalah siapa tahu diganti baru. 🙂 Minimal komponen yang bermasalah diganti.

          Oh begitu tho. Saya kurang tahu mengapa Xiaomi tidak mengeluarkan tablet yang dibekali selot kartu SIM.

          1. Makasih sarannya, pak tapi saya juga terpikirkan garansi G3 saya ini sudah habis juga jangka waktunya, kalo benar masalah di hardware / motherboard nya kan harganya hampir sama seperti HP baru lagi biasanya. Atau mungkin meskipun garansi habis, tetapi tetap diganti baru ya?
            Untuk jaga-jaga nih, pak. Kira-kira HP apa ya yang level & harganya di bawah G3 tapi punya battery yang tahan 1 hari full pemakaian online, lalu berfitur kamera minimal laser focus seperti G3 atau fitur kamera lain yang pokoknya dapat fokus cepat & minimalis getaran seperti di G3? Apakah Asus Zenfone laser worth, pak?
            Sekalian juga pak Herry, di pasaran sini apa masih ada ya yang jual HP baru (non-second) yang murah, dan masih menggunakan keyboard qwerty fisik seperti Blackberry begitu? Tapi kalo bisa merknya jangan terlalu kelas lokal sih.

            Makasih, pak.

          2. Pak Rianto,

            Kalau sekadar mengecek, biarpun garansi sudah habis, biasanya petugas bersedia membantu. Gimana kalau harus ada komponen yang diganti? Lihat saja penjelasan dari teknisi di sana dulu. Dalam beberapa kasus, LG memberikan layanan yang melebihi harapan. Yang jelas-jelas rusak karena kesalahan pengguna pun bisa diganti komponen baru secara gratis.

            Terkait pertanyaan kedua, anggaran berapa dulu. Saya sedang memakai Zenfone Laser. Secara umum layak beli.

            Kalau qwerty merek global tinggal BlackBerry deh.

          3. Hmmm oke deh kalo begitu, pak. Minggu depan saya coba ke LG nya lagi deh.

            Anggarannya anggap saja G3 nya dijual bekas, lalu uangnya dibuat beli HP yang baru ini sih. Zenfone Laser dalam sehari-hari tahan berapa lama battery nya, pak? Keadaan normal, free RAM nya berapa? Fokus lasernya apakah sama atau lebih baik daripada G3 dulu ya pak?
            Atau mungkin lebih worth G3 yang 32GB itu ya, tapi apa masih ada yang jual baru?

            Blackberry yang qwerty paling murah tapi masih dijual nonsecond apa ya kalo begitu?

            Makasih, pak.

          4. Pak Rianto,

            Ok. Berarti anggaran maksimal Rp 3 juta ya.

            Saya pakai Zenfone Laser 3G yang harga barunya Rp 1,9 jutaan. Baterai sekitar 14 jam. Free RAM saat dipakai sekitar 0,5 GB. Fokus lasernya mirip-mirip G3 deh.

            G3 32 GB masih ada yang jual. Namun, harganya nggak menarik (baca: terlalu tinggi).

            Coba cari BlackBerry Armstrong alias 9320 baru dan bergaransi resmi, Pak. Awal bulan lalu di Apollo masih ada stok. Entah sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *