Review Thuraya: Ada Langit Terbuka, Ada Sinyal

Ponsel apakah yang identik dengan bencana? Ya, tepat kalau Anda menjawab Byru, R190, atau telepon satelit. Tiga hal itu sebenarnya merujuk ke satu peranti saja: telepon satelit Ericsson R190 dengan kartu Byru yang memanfaatkan satelit milik ACeS.

Setiap terjadi bencana alam yang mengakibatkan jaringan telekomunikasi terganggu, Byru selalu dibicarakan. Demikian pula kala terjadi kecelakaan di lokasi terpencil. Maklum, dalam kondisi seperti itu, alternatif komunikasi yang paling jitu biasanya memang telepon satelit (selanjutnya disingkat ponsat).

Thuraya-1

Layanan ponsat yang bisa dinikmati konsumen Indonesia sebenarnya bukan hanya Byru. Thuraya, perusahaan asal Dubai, juga telah mengepakkan sayapnya di sini. Penulis sempat mencicipi layanan Thuraya dengan menggunakan XT-Dual, salah satu tipe ponsat terbaru yang mereka tawarkan. Uji coba dilakukan di tiga negara: Indonesia, Hong Kong, dan Singapura. Karena kebetulan tak ada jadwal bepergian ke pelosok, tengah hutan, atau lokasi terpencil, penulis sebatas mencoba layanan Thuraya di perkotaan. Maksimal di tepi laut. Namun, hal itu seharusnya sudah mampu memberikan gambaran nyata.

Mengapa? Sebab, syarat pemakaian ponsel satelit biasanya sederhana. Ponsel satelit bukan untuk dipakai di dalam ruangan, melainkan di luar ruangan. Asalkan antena ponsel menghadap ke langit terbuka, sinyal akan diperoleh dan layanan telekomunikasi siap digunakan. Semakin sedikit halangan di sekitar ponsel, penangkapan sinyal biasanya semakin bagus. Nah, kalau di perkotaan yang padat bangunan saja ponsel sukses meraup sinyal, apalagi di lokasi terpencil yang terbuka.

Sejak ponsel diaktifkan sampai mendapatkan sinyal dan siap dipakai bertelepon, penulis harus menanti sekitar lima menit. Selanjutnya, bila ingin bertelepon lagi, proses koneksi memerlukan waktu kurang dari satu menit.

Ketika ponsel siaga, di layar ponsel tersaji kondisi sinyal, baterai, dan lokasi. Saat dipakai di Surabaya, lokasi yang tertera Indonesia. Kala penulis ber-Thuraya di Singapura, lokasi yang tampil Singapura. Sedangkan waktu dibawa ke Hong Kong, yang tersaji di layar bukan Hong Kong, melainkan China.

Thuraya-2

Suara yang dihasilkan Thuraya, menurut penulis, lebih jernih daripada Byru. Thuraya tetap unggul bila diadu dengan suara satu ponsel satelit lain yang penulis coba dalam sebuah pameran di Singapura, beberapa tahun lalu. Entah apa namanya. Penulis lupa. Yang masih penulis ingat, pramuniaga ponsel satelit itu fotogenik dan mengenakan busana yang (maaf) memamerkan pusar. Bagaimana bila dikomparasikan dengan ponsel GSM biasa? Harus diakui, suara yang dihasilkan Thuraya masih kalah bening.

Hal menarik lain, kala penulis bertelepon via Thuraya sambil berjalan kaki, sambungan tidak terputus. Kondisi serupa dulu mustahil dilakukan saat bertelepon memakai ponsel satelit lain.

Penasaran dengan ponsel satelit yang konon lebih optimal bila digunakan di lokasi terbuka, di Singapura penulis sengaja mencari lokasi penuh halangan. Penulis berdiri di lokasi yang dikelilingi oleh gedung-gedung jangkung. Kalau penulis menengadah, di atas sana memang masih terlihat langit. Namun, bila penulis menengok ke depan, belakang, kiri, dan kanan, yang terlihat adalah deretan bangunan tinggi. Hasilnya, Thuraya berhasil mendapatkan sinyal, tetapi kurang stabil. Kadang sinyal menghilang belasan detik, lalu muncul lagi. Panggilan telepon keluar lebih sulit dilakukan.

Thuraya-4

Selain bertelepon, Thuraya dapat dipakai untuk ber-SMS dan berinternet. Thuraya mengklaim saat ini mereka telah menjangkau lebih dari 140 negara atau sekitar dua per tiga bumi. Benua Amerika, Kutub Utara, dan Kutub Selatan belum terlayani.

Thuraya sudah menjalin kerja sama roaming dengan lebih dari 356 operator GSM di sekitar 161 negara. Dengan demikian, saat gagal mendapatkan sinyal satelit, pengguna bisa masuk ke jaringan mitra operator GSM. Selama di Indonesia, kala berada di dalam gedung, nomor Thuraya yang penulis gunakan biasanya masuk ke jaringan Telkomsel atau Indosat.

Tarif bertelepon memakai kartu prabayar Thuraya mulai USD 0,85 (sekitar Rp 8.415) per menit ke sesama nomor Thuraya dan mulai USD 0,9 ke nomor operator lain. Anggaplah penulis berada di Bosnia and Herzegovina, Denmark, Kamerun, Perancis, atau Spanyol. Dari sana, biaya bertelepon ke Indonesia, Singapura, Malaysia, atau Italia sama saja: USD 0,9 atau setara dengan Rp 8.910 per menit. Tarif pengiriman SMS ke mana pun USD 0,35 atau sekitar Rp 3.465. Sedangkan saat menerima panggilan telepon maupun SMS, pengguna Thuraya sama sekali tak dikenakan biaya.

Bila dihitung, dalam kondisi tertentu, ber-Thuraya justru lebih murah daripada memanfaatkan layanan roaming internasional operator GSM Indonesia. Thuraya tentu juga pantas dijadikan pendamping setia seseorang yang mendaki gunung, berada di pengeboran lepas pantai, berpetualang ke tengah hutan, atau memancing di tengah laut.

4 thoughts to “Review Thuraya: Ada Langit Terbuka, Ada Sinyal”

  1. Mat malam…..mohon informasi terkait ericsson R190
    ..apakah satelite yg di gunakan aces mengalami gangguan..sebab telpon R190 yg kami gunakan diwilayah kab.kaimana papua barat tidak mendpat sinyal…terima kasih atas infonya

    1. Byru dari PSN ya pak? Saat ini kabarnya layanan telepon satelitnya sudah dihentikan sejak maret kemarin karena ada masalah pada satelitnya

      1. Pak Octfi,

        Oh, Byru sudah berhenti beroperasi ya? Saya baru tahu. Kebetulan saya memang tidak mengetahui perkembangan ponsel satelit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *