Sayembara “Ponsel Pertamaku”

Yang pertama konon selalu terkenang dan meninggalkan kesan mendalam. Entah cinta pertama, kecupan pertama, atau malahan tamparan pertama dari pacar.

Sayembara iseng ala Ponselmu.com kali ini mengusung tema Ponsel Pertamaku. Anda bebas bercerita apa pun tentang ponsel pertama yang Anda miliki. Isi dan gaya penulisan bebas sebebas-bebasnya. Saya sih berharap Anda tidak mengetikkannya memakai kalimat alay, apalagi menggunakan bahasa alien.

Oh ya, ada beberapa hal yang tak boleh Anda lupakan. Merek dan tipe ponsel pertama Anda wajib disebutkan dengan komplet di cerita. Anda juga harus mencantumkan nama lengkap dan kota tempat tinggal Anda. Aneka informasi itu boleh ditempatkan di mana saja.

Untuk menghargai kesediaan Anda berbagi cerita, saya mempunyai sedikit hadiah ala kadarnya. Ada ponsel yang diklaim tahan benturan maupun cipratan air. Ini penampakannya…

HP solar

Ponsel tersebut bukan barang yang 100 persen baru. Itu barang lama yang sudah pernah saya coba. Dicoba untuk pemakaian normal. Belum pernah iseng saya banting, mandikan, apalagi disiram kuah rawon.

Kalau ponsel di atas mewakili sosok macho atau maskulin, saya juga menyiapkan benda mungil yang unyu-unyu.  Ada earphone Hello Kitty dan Minion. Sejak iseng meminangnya karena terkena demam pembelian impulsif, earphone itu belum pernah saya keluarkan dari kardusnya.

DSC02967

Hadiahnya sementara itu dulu. Kalau saat bongkar-bongkar laci dan lemari ternyata ada barang lain yang lumayan menarik, saya akan update di sini. Dengan kata lain, seiring bergulirnya waktu, jumlah hadiah mungkin bakal bertambah. Namun, karena jumlah hadiah pasti takkan sebanyak jumlah peserta, tidak semua peserta akan memperoleh hadiah. Sebagai penyelenggara sekaligus juri tunggal, saya berhak menentukan pemenang sayembara ini dengan memperhatikan berbagai faktor.

Update 3 Januari 2014: Hadiah ditambah satu buah, berupa charger USB multikonektor. Meskipun tampilannya sepintas mungkin mirip, yang saya berikan ini bukan charger berkualitas ala kadarnya dengan harga belasan ribu rupiah lho. 

Hadiah Bazel

Berminat ikut? Silakan mengetikkan cerita Anda di bagian bawah halaman ini paling lambat pada 5 Januari 2014 pukul 19.00. Usai mengetikkan dan mengklik tombol submit, cerita Anda memang takkan langsung muncul di blog ini. Saya sengaja menahannya dulu supaya cerita Anda tidak bisa diintip oleh peserta lain. Biar nggak dicontek atau minimal memberikan secercah ide. Setelah batas akhir pengumpulan cerita, seluruh karya yang masuk baru akan saya tampilkan.

Pemenang akan diumumkan di Ponselmu.com paling lambat pada 7 Januari 2014 pukul 19.00. Asalkan masih di Indonesia, ongkos kirim hadiah ke alamat pemenang menjadi tanggungan saya. Untuk mengikuti sayembara Ponsel Pertamaku ini, peserta tidak dipungut biaya apa pun.

112 thoughts to “Sayembara “Ponsel Pertamaku””

  1. ponsel pertamaku “nokia 6600″
    saya pengguna nokia e6-00,5320xm,5800xm dan blackberry 8520
    nokia gambot+analog mungkin hal yg terpikir pertama kali saat mendengar 6600, ya meskipun begitu nokia 6600 sangat bermakna bagi saya, hp itu saya dapat dari kakak yg dulu membelinya seharga 2jutaan pada tahun 2007/8, hp itu saya pakai untuk bermain game hasil download, sampai” arah kiri pada analog tak bisa digunakan, saat mulai dewasa saya baru mengetahui bahwa 6600 memiliki os symbian, mulai dari situ saya belajar modding, dari install apps ultramp3, ganti font, ganti tampilan. Sampai suatu hari ketika gagal ganti font hp itu matot, saya binggung dan dngan latah langsung bawa ke konter, tapi naas konter tak tau cara memperbaikinya. Hingga saya sendiri yg mempunyai ide hard reset 3 jari, langsung saya praktekan dengan menekan c+call+bintang dan tereeettttt, hp nyala! Langsung saya koprol,guling” dan sujut cukur 😀
    tapi semua berakhir ketika kakak menjual hp itu, entah buat apa saya tak tahu, yg jelan beberapa bulan kakak saya menggantinya dengan nokia 5320xm tahun 2010 yg masih saya pakai sampai sekarang dalam keadaan keypad luntur,tutup usb+memori hilang,batre ganti bl 5c yg sebelumnya bl 5b, hanya saya pakai online gratisan dan setia memantau updatean blog pak herry sw 🙂

  2. Ponsel pertama yg saya miliki adalah Nokia 2626 di tahun 2008,waktu itu saya beli dgn harga Rp.700.000 + kartu perdana simPATI.Saya tertarik dengan ponsel ini karena pada saat itu,ponsel ini merupakan salah satu ponsel yang banyak di pakai oleh remaja seusia saya kala itu.Apalagi saat itu tengah booming Grup Vokal BBB yang digawangi Raffi Ahmad cs dg hits Let’s Dance Together nya yg dijadikan ringtone di ponsel ini.Membuat saya ingin memiliki ponsel ini.Kala itu saya berusaha menabung dan bekerja untuk mendapatkan ponsel ini.Akhir nya setelah menabung selama 6 bulan tepat nya pada tanggal 17 desember 2008,saya pun membeli ponsel ini di counter ponsel di kota saya dan tadaaaaa…saya mendapatkan Nokia 2626 yang berwarna pink keunguan,hahaha..sebenar nya saya ingin mendapatkan yang berwarna orange tapi saat itu hanya ada yang warna pink,ya sudah saya ambil aja..Pengalaman pake ponsel ini cukup bagus.Ada games yang lumayan membuat saya ketagihan memainkan nya,dan kemudian juga ada radio fm nya..hahaha..tiap sore dan malam pasti dengerin radio deh waktu itu.tombol keypad nya pun lumayan enak diajak buat ngetik cepat.Satu hal yang saya ingat adalah ketika kita menggunakan ponsel Nokia maka kita bisa mengganti casing ponsel kita dengan warna atau corak apapun yg kita suka dengan cara membeli casing di counter ponsel yang harga nya cukup murah.Hanya dengan Rp.15.000 kita bisa mendapatkan casing dengan gambar karakter Bugs Bunny..hehe..dan kemudian juga baterai nya yang tahan lama,walaupun sering nelpon dan sms’an,ponsel saya hanya di cas setiap 3 atau 4 hari saja.beda dengan ponsel atau smartphone jaman sekarang yang boros batere..hehehe..Sayang nya saya menggunakan ponsel itu hanya selama 7 bulan karena saya saat itu tergoda dengan i-mobile 520 wrn silver yang keren itu..dan saya pun akhir nya menjual Nokia 2626 saya dengan harga Rp.250.000 saja..hiksss..hiksss…demikianlah cerita saya.ini cerita ku dengan Nokia 2626.Mana cerita kalian?hehehe…

  3. Nama saya Hadi Gunawan Siahaan, berdomisili di Jakarta. Awal mula HP saya adalah Nokia N-Gage QD yang tetap masih jadi favorit saya sekarang. Perkenalan saya dengan ponsel dimulai dari SMP. Bukan ponsel saya memang, tapi ponsel orang tua saya. Motorolla yang saya lupa jenisnya. Tidak perlu jelas tipe nya kan? Kan bukan ponsel pertama saya tapi ponsel orang tua 😀 . Yang jelas masih monochrome, baris layar Cuma 1 inch barangkali. HP itu saya mainkan diam-diam untuk iseng-iseng telepon (kalau waktu kecil isengnya pakai telepon rumah, mungkin ada yang punya pengalaman serupa). Sejak itu saya penasaran dengan ponsel. Sewaktu saya masuk SMA, saya begitu ngiler melihat teman2 saya memakai HP, bahkan ada yang menggunakan HP berwarna pertama kali saat itu, nokia 3350 kalau tidak salah ingat. Ya memang Nokia sedang jaya-jayanya saat itu. Terpikat dengan pesona ponsel buatan Nokia.
    Sewaktu saya juara di kelas 2 SMA saya dihadapkan pada pilihan sulit pertama saya, pilih HP atau gitar. Saya yang tatkala itu bingung menjatuhkan pilihan kepada gitar. Alasannya adalah uang jajan yang saya rasa belum bisa untuk menghidupi ponsel saya dalam berkomunikasi. Klasik memang. Tapi begitulah keadaannya. Itulah penyesalan saya waktu itu. Setelah saya lulus SMA, saya akhirnya dibelikan ponsel pertama saya tersebut. Saya ditawarkan mau beli ponsel apa, ada budget Cuma 1,5 juta. Saya yang saat itu memang sedang doyan main game akhirnya memutuskan pilihan terbaik saya yaitu Nokia N-Gage QD. Saya tidak memilih N-Gage yang besar karena N-Gage agak terasa aneh kalau sedang menelepon. Seperti menaruh tatakan di telinga :D. Kebetulan saat itu sudah keluar adiknya yang perbaikan dari kakaknya. Lebih enak untuk main game, lebih compact, penggunaan normal ketika bertelepon, dan tentunya bisa menonton video adalah kelebihan yang ditawarkan pada saya.
    Nokia N-Gage adalah HP pertama saya yang sungguh berkesan. Seperti cinta pada pandangan pertama. Takkan pernah menyesal pernah memilikinya. Sayang HP itu sudah hilang sewaktu dihibahkan ke saudara saya. Panjang ya, capek juga ngetiknya. Ini ceritaku, mana ceritamu 😀

  4. Ponsel pertamaku

    Ponsel pertamaku yang aku beli yaitu ketika aku menjelang kelulusanku dari bangku kuliah. Waktu itu lagi laris-larisnya bak kacang goreng dijual di konter NOKIA, karena tergiur dengan teman-teman yang pamer karena lebih dulu membelinya, akupun membelinya beserta kartu perdana Mentari yang didapat dengan harga 175rb.

    Harga 2.5juta tidak menjadi halangan bagi peminat ponsel pada waktu itu untuk memilikinya. Ponsel pertama yang kumiliki tersebut adalah Nokia 2110 warna hitam. Ponsel yang kemudian terkenal dengan nama ponsel sejuta umat, ukurannya besar dan berat tersebut selalu kubawa kemanapun aku pergi meski jarang sekali ponsel tersebtu bunyi mengingat tidak begitu banyak teman-temanku waktu itu.

    Kini ponsel tersebut sudah raib dari peredaran, ponsel itupun tidak segan-segan kubuang di tempat sampah karena sudah tidak berfungsi pada bagian layar serta baterrynya. Ponsel idamanku sekarang adalah ponsel yang kecil, ringan serta kuat baterrynya.

    Begitu cerita ponsel pertamaku di tahun 2005.

    Salam,
    Andi Kartika Yuwono | Bandung, West Java, Indonesia |

  5. Nokia N-Gage QD adalah ponsel pertama saya yang saya beli tahun 2005 dengan harga Rp.800ribu. Ponsel yang bertubuh bongsor ini masih tetap nyaman digenggam, khususnya untuk main game. Namun untuk berkirim pesan singkat, tangan sudah tidak bisa mengikuti irama keypad. Ntah,mungkin sudah terbiasa dengan istri baru, si qwerty.

    selama beberapa tahun, N-Gage ini sempat dimadu beberapa kali. Bahkan saat ini ada Blackberry 9320 dan HTC sensation yang jadi istri mudanya. Lagi-lagi, walau N-Gage ini saya pakai hanya untuk penggilan suara, banyak bermain game, dan sedikit smsan namun tetap mendapat posisi dihati saya.

    N-gage walau berbadan bongsor, tapi untuk masalah makanan, dia hemat. mungkin dia penganut diet ekstrim. ia hanya perlu beberapa jam untuk dicas, kemudian dipakai beberapa hari. beda dengan 2 saingannya. Si BB dan HTC ini cuma tahan dalam hitungan jam saja. Selain hemat daya, N-Gage ini juga hemat pulsa. HP dengan memoricard 1Gb ini disentuh kalau ada perlunya saja, atau yang lain sudah tak ada daya.

    Dalam perjalanan setianya dalam mendampingi saya,Hp ini tidak mempunyai kendala berarti. andai dulu tidak diganti tulangannya, mungkin sampai sekarang masih tersemat segel garansi. Koleksi cashingnya pun beragam, dari yang warna hitam, putih, biru, transparan sampai cashing modifikasi dan beberapa karet bezel yang sudah tak utuh lagi.

    Beberapa bulan yang lalu saya sempat bereksperimen dengan menempelkan analog dari joystick PS ke tombol navigasi N-Gage QD ini. Hasilnya tidak terlalu buruk. Walau saya tidak punya PSP, Namun dengan ini saya bisa memiliki HP serasa PSP.

    Saya bangga masih memilikimu, N-Gage QD. Walau teman-temanmu sudah tak bernyawa lagi ataupun berpindah majikan, kamu tak akan pernah kesepian. Ada aq,yang akan selalu memainkanmu,walau hanya saat aq kesepian 😀

    Sandi Pradana
    Gedong Tataan, Pesawaran – Lampung

  6. Ponsel Pertamaku

    Bicara Ponsel pertama tentulah bicara ponsel jadul, mengingat umur saya yang sudah tidak muda lagi :p
    Ponsel pertama saya adalah Ericsson GA 628, sebuah ponsel candybar pemberian dari paman saya, lupa tepatnya kapan saya memiliki ponsel tersebut yang saya ingat adalah kala itu harga nomor perdana sangat mahal dan operator yang beroperasi hanya tiga yaitu Telkomsel, Indosat dan Excelcomindo.

    Karena saat itu harga perdana cukup mahal, maka Ponsel Ericsson GA 628 tidak saya gunakan segera, namun karena agak norak dan sok keren, walau belum berfungsi alias tidak bisa dipakai untuk menelpon dan di telpon, ponsel saya bawa bawa kampus dan saya tenteng kemana mana untuk menunjukan saya punya ponsel, kalau saya ingat kembali masa tersebut betapa memalukannya saya waktu itu. Sempat ada yang ingin meminjam ponsel saya tersebut naon saya menolak meminjamkannya dengan alasan batere habis :p

    Sekira 1 tahun saya memiliki Ericsson GA 628 tersebut dan akhirna dijual dan beralih ke Ericsson T10, lalu ke Siemens S45, Siemens CX45, Siemens S65, Treo 650, Treo Centro dan seterusnya.

    Yang lucu adalah saya mendapatkan kembali Ericsson GA628 pemberian saudara ipar yang hendak dia buang namun saya minta karena ponsel tersebut masih berfungsi namun baterenya sudah rusak dan saya simpan sebagai kenang kenangan

    Sebenarnya yang sangat berkesan buat saya bukan ponsel pertama saya namun ponsel Siemens S45, karena ponsel tersebut sudah saya oprek abis abisan (mirip custom rom Android) dan ponsel tersbut sempat tercebur ke kakus namun masih tetap berfungsi normal :p

    Alvin M. W
    Bandung

  7. Ponsel Pertamaku

    Wah, pak Herry buat kuisnya menarik nih. jadi inget ponsel yang saya pake pertama dulu, Siemens S35. Ponsel ini jadi pilihan waktu baru gajian pertama di kantor yang kasih gaji lumayan di akhir 2001.
    Pilihan jatuh ke ponsel ini dengan pertimbangan ketahanannya & reputasi merk Siemens yang tangguh. Saat itu harga ponsel baru tidak ada yang dibawah Rp. 1 Juta, dibandingkan saat ini sangat jauh berbeda. Fitur yang didapat hanya layar monochrome, 100 memory nomer telp, dering pun hanya monofonik. Sempat terpikir mau ambil Nokia 3210 yang lebih keren, tapi harganya saat itu masih di atas budget.
    Thanks pak Herry sudah kasih kesempatan berbagi disini ^_^

  8. PONSEL PERTAMAKU

    Saat ini aku punya 3 telepon seluler. Dalam perjalanan mencapai 3 ponsel tersebut kisahnya diawali oleh sebuah ponsel yang kumiliki di tahun 2000, tahun pergantian millenium.

    Ponsel pertamaku itu ku beli dengan duit orang tuaku. Maklum saat itu baru lulus kuliah dan penghasilan dari guru les tidak cukup buat beli ponsel.
    Ponsel tersebut mungil bentuknya (u/ ukuran saat itu), orange warnanya…. Penasaran? Sabar ya…

    Ponselku itu merupakan salah satu pesaing dari Nokia 5110, sang raja ponsel sejuta umat. Bila sang raja punya layar beberapa baris, ponselku itu hanya punya 1 baris saja. Hmm…kalau sekarang ini pake ponsel yang cuma 1 baris aja bagaimana ya rasanya?

    Mulai jelas ponsel apa itu?

    Dia punya antena besar berwarna hitam. Agak mengganggu bila disaku. Ada juga flip untuk melindungi keypad.
    Asalnya….dari Eropa. Sekarang sudah tiada gara-gara dikawin paksa (atau terpaksa kawin ya?) dengan mas Sony.

    Udah bisa menebak?…..Ya betul sekali, dialah Ericsson T10.

    End of part I (…to be continue nunggu sayembara berikutnya hehehe)

    Nama: Iwan
    Kota: Surabaya

  9. Ponsel pertama saya adalah nokia 3210….pada waktu itu kuliah semester pertama, dibayar ortu sebesar 250rb rupiah, langsung saja saya beli perdana mentari waktu itu seharga 50rb dengan pulsa 20rb kalo ga salah.

    Udah pede abis bakalan keren kalo dibawa kuliah, eh pas dikampus ternyata hape temen2 lebih keren, ada yg 3310…m35….bahkan ada yg 8310 yg harga belinya sejutaan, dan pemiliknya juga sombong amat, pegang aja ga boleh wkwkwkw

    Pada jaman itu, terkenal ama telp 2detik an, jadi nelpon 2 detik trus ditutup, pihak yg ditelp juga gt, 2detik nelpon ditutup wkwkwk absurd dan lucu, karena bug nya indosat yg baru membilling pembicaraan diatas 2detik. Walhasil kita cuman bisa bilang satu kata saja “kenapa,kemana,iya,engga,boleh,dsb”

    Aneh tapi kalo diingat ingat lucu juga wkwkwkwk 2 detik an, momen yg bakalan ga ada jaman sekarang

  10. Kalau saja pak herry bikin sayembara 3 hari yang lalu… kenapa..? Karena pada 24 desember 2004 itu tepat 11 tahun yang lalu saya punya hp untuk pertama kalinya.. ya.., dua hari sebelum bencana tsunami di aceh. Saya ingat betul karena hp itu saya beli dengan uang honor dari kegiatan saya tiap hari dari jam 3-6 sore selama satu bulan sebagai partner bicara para volunteer dari korea selatan yang sedang belajar bahasa indonesia di kampus tempat saya kuliah. Honor 400 ribu rupiah yang besarnya sama dengan spp kuliah saya untuk satu semester itu saya belikan Nokia 3315 bekas karena itulah hp yang paling murah pada saat itu. Rasanya wahhh banget.. pertama kali punya hp plus beli dengan uang hasil sendiri sampe pas kuliah tidak memperhatikan dosen mengajar karena sibuk ngotak-ngatik hp dan sengaja duduknya di bagian belakang.. hehehe… apalagi pas pertama memasukkan simcard kemudian hp diaktifkan, terasa deg-degan pak.. Dan biar tampil beda casingnya saya ganti yang transparan, harganya 8 ribu rupiah. Saya terus pakai hp itu bahkan menjadi andalan ketika saya ikut Kuliah Kerja Nyata di wamena-papua pada agustus-september 2006. Karena susahnya dapat sinyal disana maka harus naik ke pohon dan hp digantung di ranting baru kemudian bisa dapat sinyal dan itu pun cuma satu atau dua batang kemudian baru bisa digunakan sms atau nelpon dengan mengaktifkan speakerphone atau menggunakan handsfree/earphone, dan tidak semua hp bisa dapat sinyal disana, hanya hp tipe-tipe “jadul” seperti Nokia 3315 punya saya, bahkan sempat hp saya ditawar dengan harga 600 ribu rupiah oleh tentara yang sedang bertugas disana tapi jelas saya tolak.. rasanya jadi gimana gitu punya hp yang “istimewa”. Hingga tahun 2007 kebersamaan saya dengan Nokia 3315 tersebut karena layarnya pecah ketika dipinjam ayah saya.

    Mulya Rahman
    Utan jati, Jakarta Barat

  11. ponsel pertama saya adalah S4 power. Kalo gak salah punya Ericsson ya? Waktu itu sekitar tahun 98an kalo gak salah.. waktu awal awal kuliah (saya angkatan 97). Jaman itu mah udah keren banget dah.. walau gedenya kaya batu bata dan antenanya bisa ditarik memanjang, kalo udah diselipin di pa*t*t alias kantong jeans celana belakang, rasanya usah gaya minta ampun. hehehehe… jalan jalan ke mall terasa beda gaya jalannya (kalo sekarang mah norak abis). Tolong diingat latar belakang tahunnya ya :-). Belinya bekas punya teman, harganya 1,4 juta.. tuh ponsel sampe saya bawa tidur saking happy nya punya ponsel. No pertama kali saya sampai sekarang masih ingat, 0812295****, beli di jogja seharga 750 rb. Demi mendapatkan ponsel dan no perdana, saya sampai rela gak pulang kampung di banjarmasin dan makan nasi kucing ala anak kos utk beberapa bulan. gak papa lah, yg penting dulu bisa ikutan ngegaya. hahahaa.. (Virta Muhammad Ramfidhin. Saat ini kerja di Jakarta, dan saban minggu balik ke Yogyakarta. ponsel saat ini galaxy mega)

  12. Ponsel pertama saya Nokia 5110 yg legendaris itu 🙂 masih teringat sampai sekarang ketangguhanny, baterai yg tahan lebih dari seminggu, fisik ponsel yg sangat tangguh walaupun jatuh dari lemari hingga terbuka casing & baterai..terjatuh ketika naik bajaj dan terlindas..tp masih bisa digunakan dengan baik. Dengan casing yg bisa diganti-ganti, sangat menyenangkan menggunakan Nokia 5110.

    Rizky – Sidoarjo

  13. Masih terkenang pas dapetin ponsel pertamaku dulu yaitu Nokia 1600 warna hitam, beli di JMP pada pertama kali keluar dengan iklan dari band D**a yg akhirnya merengek-rengek minta ortu untuk membelikannya (maklum SMP masih labil).

    Pertama kali dapet dan ngeliat tentunya seneng banget bisa dapetin ponsel berhubung pas tahun itu (2005) ponsel masih dibilang barang yg jarang dimiliki dan aku dah punya. Namun karena belum tahu apa-apa (ya iyalah masih SMP) termakan korban iklan deh yang akhirnya setelah otak-atik ponsel tersebut saya pun agak kecewa. Namun terlepas dari rasa itu pun bersyukur jg.

    Ponsel pertama pastinya sangat istimewa hingga dibawa kemana-mana hingga saat tidur mengatur profil beri nama alay dan semua yang dilakukan utk membuatnya kece (haha). Meskipun pada saat itu nokia 1600 masih dibilang biasa saja, tapi game nya cukup lumayanlah utk menemani kebosanan lalu sms ke temen-temen deket yang ga jelas isinya apa, ya itulah kehidupan pada waktu SMP dengan ponsel.

    Tapi hal itu cuman berjalan sekitar 9bulan sejak pembelian karena pada waktu itu tidak ada yang bisa menjemput dan akhirnya pulang naik angkutan umum dan disana kebetulan banget ada 2 perampok, kena deh. Amblas sudah ponsel pertamaku, tanpa adanya perlawanan dan keinginan utk menelpon pihak berwajib. Hmmm sepertinya itu saja yang dapat saya ceritakan ttg ponsel pertamaku. Terima kasih

  14. Saya ingat persis jaman handphone pertama kali booming pas saya sudah sekolah menengah atas. Jadi bisa dibayangkan kan masa kecil saya masih kuno. Nggak ada hp, nggak ada laptop, apalagi ipad. Telepon rumah aja masih dalam bentuk unik yang kini jadi barang mahal buat kolektor. Cerita singkat, saya dibelikan sama orang tua setelah merengek-rengek abis karena ingin merasakan ‘keajaiban’ handphone. Nokia 5510 adalah handphone pertama saya dan belinya masih sejutaan lebih. Bunyinya masih mono dan gakbisa internet kayak android sekarang. Belinya di WTC Surabaya yah bisa dikatakan itulah pusat handphone terdekat dari rumah saya. Jaman itu handphone nokia 5510 sudah tergolong ‘wow’, mengingat sebelumnya semua telepon pasti menggunakan kabel. Yah… memiliki sebuah alat yang bisa berdering tanpa kabel adalah sebuah kemewahan buat saya kala itu. -Yunita-

  15. hemmm cerita ponsel pertama saya mungkin kurang menarik menurut orang lain.
    pertama beli hp (beli karena disuruh orang tua, dengan uang dr ortu jg tentunya) sekitar tahun 2006, agak telat memang karena waktu itu sudah menginjak semester 3 kuliah. alasan disuruh beli hp karena kuliah di luar kota jd agar mudah dihubungi. oh iya, ponsel pertama saya adalah nokia 6030, pada saat itu dibeli dengan harga Rp. 1.149.000 saya masih hafal harganya karena saya yg beli. hehe
    kalo dibandingkan dengan hp orang lain memang jauh dari kata keren apalagi canggih, tp buat saya hp itu sangat istimewa. karena dr ho itu saya pertama kali belajar internet (aneh memang mahasiswa tp baru tahu internet setelah smester 3). dulu apapun saya dapatkan dr internet ya lewat hp ini, termasuk materi kuliah. karena nggak pernah sekalipun masuk ke warnet yg masih jarang pada masa itu.
    jujur, dulu saya sering iseng mengacak nomer untuk mendapat kenalan baru, sampe sering nggak jajan biar bisa beli pulsa untuk smsan dengan nomer baru yg saya sendiri nggak tau seperti apa orangnya. haha aneh memang.
    seenggaknya ponsel pertama saya (nokia 6030) sudah sangat membantu saya dalam hal komunikasi baik dg orang tua maupun teman2, jg membantu dalam menyelesaikan tugas kuliah saya. sampai sekitar 6 bulanan saya pakai hp tersebut sebelum saya kembalikan pada bapak karena saya lebih memilih memakai ericsson R380s yg saat itu saya beli dg harga rp. 600rb dari tabungan saya sendiri. alasan memberikan hp kpd bapak soalnya dirumah cuma ada hp milik kakak, sedangkan kakak tidak setiap hari ada dirumah karena harus bekerja. hingga akhirnya hp nokia tersebut hilang waktu dibawa adik saya kesekolah. sekian cerita dr saya, bila ada kata yg kurang berkenan harap di maklumi karene ini tulisan pertama saya di blog internet, salam dr pekalongan.

  16. Ponsel pertamaku adalah Samsung SGH 2400…Emang gokil ni tantangannya gua udah lupa tipe hpnya gua mesti seach di google…. singkat cerita hp itu g beli second di jkt, waktu itu mesti kuliah n jarak jauh sama bokap nyokap jadi mesti beli, hp sama kartu waktu itu sama mahalnya nomer 600 ribu, hpnya 2 jutaan, tapi hebatnya hp itu pernah jatuh pas gua turun dari mobil sampe terbelah 3 hpnya masih bisa nyala, waktu itu soalnya gua juga jauhan sama pacar di sby petra, anehnya waktu itu gua jadian setelah gua diterima di Jkt cewek gua di sby so pacaran long distance sih …Banyak kenangan sama hp itu sih, g jual hp itu juga laku mahal lo, nokia 5110 waktu dulu 2 jutaan cuma dihargai 200-300 samsung gua bisa 700 an…waktu sma kakak gua udah pada punya nokia 5110 yang waktu itu hp sejuta umat…tapi gua ga mau minta karena emang belum butuh so menunda kesenangan itu juga berlaku lo …kalo sabar bsk pasti dapatnya lebih baik….waktu itu gua demen soalnya hpnya kecil dan yg pasti ga sejuta umat….:p 🙂

  17. Ponsel pertamaku adalah Motorola E398.

    Saya punya waktu awal-awal jaman kuliah sekitar tahun 2005-2006. Yups, saya termasuk yang terlambat untuk membeli sebuah ponsel waktu itu. Membelinya pun tidak dapat saya lakukan dikota kelahiran saya, Jember melainkan harus ke Surabaya yang membutuhkan waktu sekitar 5 jam perjalanan naik bis. Saya membelinya pun bukan karena rekomendasi dari teman, liat-liat diinternet, di majalah ataupun yang lain-lain, tapi karena saya benar-benar “pengen saja” ambil ponsel tersebut dan memang kebetulan uang yang saya bawa dari jember cukup untuk menebusnya. he8x.

    Setelah browsing-browsing, dan dapat info teman, katanya ponsel tersebut dapat dioprek-oprek, kemudian saya rajin banget update mod-mod di http://www.e398mod.com/, sehari bisa meng-instal mod 3x (ga suka, ganti lagi, ga suka ganti lagi) begitu seterusnya, saya juga pernah banyak nge-hang beberapa kali, backup-restore, hilang no kontak teman-teman tetapi hal tersebut saya anggap hal yang amat sangat menyenangkan dan ditunjang memiliki banyak waktu kosong waktu kuliah. saya memakainya cukup lama sekitar 2008, sampai akhirnya saya jual karena buat nambah uang saya untuk membeli ponsel yang bisa buat videocall karena waktu itu lagi LDR dan digantikan dengan Nokia 3120 Classic yang sampe sekarang masih ada tapi tidak terpakai. he8x.

    Quddus Ma’rufiannur Adji. Surabaya

  18. Ponsel pertamaku adalah Nokia 3330.

    Saya membelinya saat saya sedang berstatus pelajar di perguruan tinggi di Yogyakarta.
    Saya berasal dari Solo / Surakarta. Ya, saya kuliah dan ngekost di Yogyakarta.

    Pada saat itu sekitar tahun 2002 masih jamannya Nokia : Nokia 3310, 3315, 3330, 3350, 8210, 8250, 8310.
    Saya tertarik dengan 3330 karena merupakan seri terendah/termurah dengan kapasitas phonebook internal, sedangkan Nokia 3310 dan 3315 tidak memilikinya.
    Selain itu gambar screensavernya juga bisa bergerak.

    Karena saat itu masih berstatus mahasiswa dan bukan dari kalangan menengah ke atas, saya hanya memiliki budget untuk membeli ponsel bekas.
    Hampir setiap hari saya membaca koran Kedaulatan Rakyat untuk melihat di bagian iklan ponsel.
    Di situ terdapat banyak iklan konter ponsel yang menjual bermacam-macam tipe ponsel bekas beserta harganya.
    Jadi setidaknya saya sudah memiliki patokan harga sebelum membeli.

    Saya sempat ditawari Nokia 3330 bekas BM(Black Market) oleh teman kost, kondisi masih bagus, namun saya menolaknya, karena yang saya cari adalah ex-garansi (dulunya ponsel bergaransi, namun garansinya sudah habis).

    Saya mulai berkeliling di berbagai toko/konter ponsel baik yang di sekitar Jl. Gejayan atau gedung ex-BDNI, maupun di toko Ramai.
    Ternyata Nokia 3330 sangat jarang ditemui, lebih sering 3310 dan 3315.
    Namun akhirnya saya menemukannya di salah satu konter di toko Ramai, saat itu waktunya adalah malam hari.
    Di situ terdapat dua Nokia 3330, kata penjualnya barang tersebut adalah ex-garansi.
    Saya menanyakan harganya, saya lupa berapa harga yang ditawarkan saat itu, namun yang pasti setelah saya mencoba keduanya dan membandingkan, lalu saya mencoba menawar sampai deal dengan harga 830, dengan diperbolehkan memilih komponen2 yang saya pilih, contoh: saya pilih casing depan dari ponsel 3330 a, casing belakang dari ponsel 3330 b, keypad dari ponsel 3330 b, tulang beserta mesin dari ponsel 3330 a.

    Setelah saya pulang mencoba utak-atik sampai baterai habis, lalu saya charge ternyata tidak bisa ngecharge,
    coba pinjam charger punya teman, tetap tidak bisa charge, panik…
    Tidur malam tidak nyenyak, apalagi besok siang ada UAS(Ujian Akhir Semester), walaupun sudah belajar.

    Besoknya sekitar jam 10an, saya mendatangi konter ponsel di toko Ramai tempat saya membeli Nokia 3330 tersebut, ternyata konter masih tutup. Kata penjual di sebelahnya, pemilik konter tersebut biasanya datang sekitar jam 12, lalu dengan menunggu lama sambil harap2 cemas, akhirnya sekitar jam 12 siang datanglah pemilik konter, langsung saya sampaikan masalah charging Nokia 3330 itu, setelah dicek, tanpa basa-basi pemilik konter itu menawarkan penukaran tulang beserta mesin Nokia 3330 tersebut dengan yang satunya yang masih ada disitu.
    Setelah dicek untuk charging ternyata bisa, lalu saya buru2 langsung ke kampus untuk ikut UAS.

    Selama saya gunakan baik2 saja, namun yang cukup mengganjal hati saya adalah ada kenalan teman saya yang sudah berpengalaman di bidang ponsel berkata kalau ponsel Nokia 3330 saya tersebut adalah barang BM dari Singapore, itu bisa terlihat dari segel di body di balik baterai, bukan Trikomsel atau Parastar atau Nokia Indonesia.
    Untunglah selama saya gunakan tidak ada masalah dan sudah pernah ganti lampu yang merupaka tren saat itu, lampu layar jadi putih dan lampu keypad jadi biru (aslinya hijau muda),
    ganti casing ber-kali2 dan ber-macam2, ada yang transparan glossy, ada yang transparan doff, ada yang bentuknya seperti ponsel Vertu (ponsel mahal), rata2 berwarna gelap.
    ganti baterai 2-3 kali sampai akhirnya saya jual kembali dengan harga 100 ribu 😀

    Itulah sedikit cerita tentang ponsel pertama saya yang saya ingat.

    Yopie Kristianto
    Solo / Surakarta

  19. HP pertama saya yaitu Motorola C650 hadiah dari ayah saya saat saya kelas 3 SMP sekitar tahun 2005. Namanya hp hadiah dari ayah saya jadi saya terima mau brand nokia,motorola atau sony ericsson. Tahun 2005 motorola merupakan brand hp global yg masih bertaji di Dunia dan di Indonesia bersama dengan Nokia & sony ericsson, harganya waktu sekitar satu jutaan dgn spek yg oke dan harga yg relatif lebih murah dibanding nokia atau SonEr.

    Senang sekali punya HP pertama yg layarnya sudah berwarna dan polyphonic,body HPnya Candybar dengan dimensi 103 x 44 x 20 mm dan cukup ringan beratnya 85gram dan bodynya berwarna Biru laut mengelilingi separuh body atas serta warna silver di keyboard dan bagian sisi bawah ponsel sangat elegen menurut saya waktu itu. layar warna dan polyphonic merupakan standar hp tahun 2005an apalagi ada kamera VGA di belakangnya dan bisa muter file mp3 itu sudah lebih dari cukup,walau memori internal terbatas dan tanpa memori eksternal,sebagai informasi tahun 2004 hp berkamera dengan resolusi tertinggi dipegang oleh Nokia 7610 dengan kameranya 1MegaPixel

    Utk internetan cuma ada GPRS class10, waktu itu internet di hp tdk begitu dibutuhkan sekali & koneksi internet dr operator jg masih sangat lambat yg penting zaman itu bisa SMSan sepuasnya,bisa muter mp3 layar warna 65rb.Fitur yang asik itu ada musicDj seperti membuat komposer lagu format MP3 cukup menghibur, kamera di HP waktu itu sudah sangat keren walau baru VGA dan hasilnya ngeBlur yg pasti sudah keren. untuk Game masih Java dan sangat menghibur dengan layar yg sudah berwarna.

    Saya sangat senang dan puas sekali pake hp motorola dgn interface yg kece dan beda dgn brand sejuta umat seperti nokia apalagi motorola brand global dari amerika dan servis centernya saja ada di kota kecil saya di Purwokerto sehingga setahun kemuadian saya menjual C650 dan saya ganti dengan brand yg sama yaitu Motorola seri Slvr L7i dilanjut Motorola razr v3i. Sayang motorola di indonesia skrng sudah redup padahal produknya menurut saya sangat oke & saya berharap motorola memasukan motorola moto x ke indonesia saya bakal nabung utk beli moto x deh.

    Rengga Ginanjar
    Purwokerto Jawa Tengah
    Motorola C650

  20. Jadi inget cerita lucu dulu,,, teman miscall, saya kira hape saya rusak,,, masak tiap kali ada panggilan masuk, saat diangkat mati.
    ternyata miscall, kelihatan bodoh bangetnya aku. Jadi gara gara dikira hape rusak, aku jual itu hape Siemens C25 ku.

    Siemens C25 itulah handphone pertamaku,,, apalagi warna kuning, jadi terlihat modis dan gaya… walaupun masih pake antena luar… oh iya ga ada fungsi getarnya juga, tapi perasaan tiap kali bawa hape itu, jadi tambah pede. masalahnya th 2002. masih jarang yg punya hape. perdana simpati aja 400 ribu, mahal banget… ditambah lagi klo telp kena roaming… pasti pak herry mengalaminya juga to..

    agus teguh pribadi
    bekasi
    === II ===

  21. Ponsel pertamaku : sony ericsson T300.warna biruuu muda.
    Kenagan yg masi ku ingat sampe saat ini :

    Dibeli sekitar th 2000 – 2001, atao 2002, tp pastinya kapan lupa sihhh udah lamaa bgt soalnya.
    Harganya cukup mahal saat itu , mungkin 2.4jt an ,
    hasil perjuangan menabung saat itu krn harganya termasuk mahal untuk ukuran kantongku yg masi setaun – 2 taun kerja tp ngidam pengin beli hape sendiri. hahhaa.
    Belinya pun jauh2 ke wtc surabaya, counter resminya pisann, walau d toko2 hape biasa mungkin ada yg jual. Tp lebih sreg beli d pusat resminya hehehe *kebiasaan sihh*

    Ponsel ‘terkeren’ se pabrik di pasuruan saat itu krn blm ada punya hape berwarna disitu. Krn yg lain rata2 masi pake hape itam putih.

    Paling suka ama tombol joysticknya. Klo hape lain masi hrs d klik2 buat pindah2 menunya. Klo t300 serasa mainan aja tinggal geser2.

    Kameranya musti d tancepin d bagian bawah ponsel, tp kadang suka bikin lupa naruh kameranya dimana krn keseringan dipinjam ama teman2 buat poto2.
    Bertahan sekitar 3th.an lebihh lalu d jual soalnya batrenya udah drop.
    Lalu Ganti tipe lainnya tp tetap sony ericsson (k500i…. ada yg tipis kecil. dll inget bentuk hp nya tp lupa tipenya)

    Sekilas cerita hape pertamaku ^^v

  22. Selamat pagi ko, happy last sunday in 2013 ya 😀 hehe..
    Ehm ngomong2 ttg pengalaman ponsel pertama yg saya miliki, saya jadi ingat ponsel pertama saya.
    Waktu itu saya masih sma, sekitar tahun 2003’an kalau ga slh.
    Saya belum mempunyai ponsel sama sekali, dan sangat ingin mempunyai ponsel dengan layar warna.
    Berbekal dengan uang saku saya yg setiap hari cuma goceng, saya pun menabungnya dan menyisihkan buat ikut arisan tetangga sebelah rumah.
    Tak disangka arisan saya keluar pas baru beberapa bulan ikut, tanpa nunggu waktu yg lama, saya ajak mama saya ke delta plaza, dan memilih2 hp yg cocok buat saya.
    Akhirnya pilihan hati saya jatuh ke hp nokia type 3200 😀
    Hrganya wktu itu sekitar 1,5 jeti. Saya suka hp itu krn layarnya udh warna, ada kameranya, ada radionya, dan tak lupa bisa buat senter hihihi :p
    ya walaupun skrg sudah tidak ada harganya, tp saya bangga pernah membeli hp itu dengan jeri payah saya menabung uang jajan 🙂

    Nama: hengky indra wardany
    Kota: surabaya (kapasan dalam)

    GBU ko ^^

  23. Saya pertama kali memiliki hape pada tahun 2004, ketika baru pertama kali masuk SMA. Orang tua berpendapat bahwa saya cukup dewasa untuk mempunyai hape sendiri, mengingat banyaknya aktivitas saya disaat itu atau lebih tepatnya agar mudah dikontrol agar tidak bandel keluyuran (dikit-dikit ditelpon, dikit-dikit di sms).
    Hape pertama saya waktu itu adalah Nokia 3660, hape bongsor dengan bentuk aneh ditambah lensa cameranya yang besar. Kalau tidak salah, harganya berkisar 3 jutaan pada saat itu. Pada tahun tersebut, belum banyak pelajar di kota Kupang-NTT yang memakai hape berwarna dan berkamera mengingat harganya yang masih sangat mahal. Teman-teman saya rata-rata menggunakan Nokia seri 3310 dan sodara-sodaranya. Anak yang punya hape berkamera, pasti jadi sasaran dengki teman yang gak punya, apalagi yang punya Nokia 3660 dan 6600. Hape tersebut adalah primadona dan impian saat itu. Terkenalnya hape ini dikalangan pelajar dikarenakan versi serial TV “ADA APA DENGAN CINTA” yang jadi favorit remaja saat itu. Apalagi dengan ringtone legendarisnya “ESPIONAGE”. Alhasil, anak-anak yang punya hape tipe tersebut jadi terkenal di kelas apalagi di kalangan cewek-cewek. Saya masih ingat momen ketika ada sms masuk (pas jam istirahat sengaja tidak di silent :P) terus berbunyi ringtone “ESPIONAGE”, seluruh mata (cewek) langsung tertuju padaku dengan mata berbinar-binar sambil mendekati terus menyapa “wah keren ya, hapemu sama kayak punyanya Cinta (tokoh di serial AADC), boleh dipinjem liat gak?”. Setelah itu, 3660 mulai hilir mudik dari satu tangan cewek ke cewek lain. Begitu 3660-nya balik, memory hapenya full dengan berbagai macam pose selfie dari berbagai macam makhluk di kelas. Memang sih ada enaknya punya hape ini tapi banyak juga sisi menyebalkannya. Kalau foto yang jelek-jelek saya hapus, yang cakep baru saya simpan, hehehe. Akan tetapi, setahun setelah itu dan seterusnya, hape sudah banyak dijumpai terutama hape 2nd dan hape camera bukan lagi barang yang mahal. Sehingga perlahan-lahan teman-teman yang kepo (kepingin tahu) sudah mulai berkurang karena sudah bisa membelinya. Mungkin ini juga dikarenakan seiring dengan pembangunan kota Kupang yang semakin maju setiap tahun sehingga kesejahteraan masyarakatnya meningkat secara bertahap dan meningkatnya daya beli. Rasanya bersyukur bercampur bangga jika mengingat saat itu, Nokia 3660 berhasil membuat saya menjadi anak yang terkenal di kelas dan memiliki banyak teman, mengingat pada saat itu saya orangnya pemalu dan alim. TERIMA KASIH NOKIA 3660.

    Sofyan Sidin, Surabaya

  24. Nama saya Dede Supriadi tinggal di kota Bandung . .

    Ponsel pertama
    bagi saya ini luarbiasa
    bercampur berbagai rasa
    sejenak biarlah saya bercerita

    dulu, tepatnya saya lupa
    bisa jadi saat saya masuk SMA
    saya minta ponsel ke bapak saya
    dengan trik trik rayuan akhirnya ?

    asikk… bapak menuruti saya

    berhubung kampung tempat saya
    45 menit naik angkot menuju kota
    bareng bapak tentu saya super ceria
    ingin rasanya segera itu ponsel pertama

    ahhh … akhirnya time tiba
    di sebuah counter yang begitu istimewa
    terjadilah naik turun transaksi
    hingga satu titik menjawab segalanya

    adalah sony ericsson merknya
    k510 tipe terpampang di dusnya
    benar benar ini mimpi nyata
    ponsel pertama berasa jatuh cinta ( hahaa…)

    sampai dirumah kubuka mesra
    hingga akhirnya dia menggoda eh nyala

    fiturnya ?

    inframerah dulu ini istimewa
    tanpa extcard dulu juga tidak apa apa
    pixel kamera biasa biarkan saja
    karena dulu ini ponsel buat saya luarbiasa

    dan, akhir kata
    terima kasih buat bapak saya
    udah beliin hingga saya begitu bahagia
    terimakasih juga
    pak herry, sonny ericsson k510i “ponsel pertama”

  25. Ponsel pertama saya mereknya Siemen C35. Saya membelinya bekas dari teman kantor pada tahun 2002. Sebenarnya ingin membeli ponsel baru, tapi mengingat waktu itu harga ponsel masih mahal dibandingkan sekarang, sehingga saya memutuskan membeli ponsel seken dari teman.

    Alasan kedua karena ponsel berwarna hitam gradasi abu-abu itu masih mulus dan baru beberapa bulan dibeli oleh teman itu. Karena butuh uang ia terpaksa menjualnya.

    Alasan ketiga karena kata teman ponsel itu ada fitur untuk akses internet. Sebagai pengguna internet aktif waktu itu saya makin tertarik untuk membelinya.

    Akhirnya ponsel yang memakai antena itu, berpindah ke tangan saya dengan harga Rp 750 ribu. Waktu itu saya merasa sangat gaya sudah punya ponsel. Apalagi mengingat saat itu masih jarang orang yang menggunakan ponsel, dibandingkan sekarang anak kecil saja sudah memakai gadget keren dan canggih.

    Tapi, gaya saya masih kurang karena ponsel saya masih belum berdering karena belum ada sim card. Ditemani seorang teman saya membeli kartu perdana ke sebuah mall. Mungkin sudah rezeki saya mendapatkan nomor yang cantik 08126******.

    Mengapa saya katakan nomor cantik, karena tiga angka dibelakangnya adalah tiga angka yang berurutan dan mudah diingat oleh orang.

    Waktu itu kartu perdana masih sangat mahal, Rp 250 ribu dengan pulsa 100 ribu di dalamnya. Akhirnya, ponsel saya bisa digunakan juga. Dengan senangnya saya menelpon teman dan kolega yang sudah punya ponsel untuk memberitahukan kalau saya sudah punya ponsel dan meminta mereka menyimpan nomor saya.

    Norak-norak bergembira satu hari itu saya lakoni saking senang dan gayanya baru punya ponsel. Endingnya pulsa 100 ribu itu ludes dalam satu hari hiks.

    Ya, biaya telepon pada waktu masih tergolong mahal, sehingga wajar saja menelpon beberapa orang hanya beberapa menit saja sudah menguras pulsa. Padahal saya bisa saja mengiris pesan pendek atau sms, tapi dasar norak baru punya ponsel saya lebih suka menelpon mereka 😀

    Keesokan harinya saya membeli lagi pulsa Rp 100 ribu, karena waktu itu belum ada pulsa Rp 20 ribu apalagi 10 ribu. Rasanya bangga dan senang kalau ponsel berbunyi dan cepat-cepat diangkat.

    Kalau tidak ada kerjaan, saya hobi utak-atik itu ponsel, baik nada dering yang masih monophnic maupun mengganti tampilan screenservernya yang masih hitam putih.

    Tapi, ternyata untuk akses internet tidak segampang yang saya bayangkan. Karena akses gprs dari provider seluler yang saya gunakan belum mendukung untuk mengakses internet.Kecewa deh

    Suatu hari saya pergi ke kamar mandi, karena masih norak itu ponsel saya bawa dan endingnya tercebur ke dalam bak. Histeris melihat itu ponsel berendam dan tenggelam ke dasar bak air.

    Saya langsung mengambilnya dan mengelap dengan handuk. Saya juga membuka baterainya, dilap dan dikeringkan di bawah kipas angin. Endingnya itu ponsel tidak menyala, Oh Tuhan stress luar biasa.

    Atas anjuran seorang teman saya disuruh membawa konter tempat memperbaiki ponsel yang konon ternama di kota saya. Alhamdulillah tiga hari menginap itu ponsel menyala kembali. Senang luar biasa karena saya bisa bergaya lagi 😀

    Pernah suatu hari juga ponsel itu terbanting dan mati, saya pun histeris karena sudah berpikir kalau akan mati total. Tapi ketika saya buka baterainya dan dinyalakan kembali, ponsel itu masih menyala. Legaaa

    Ponsel itu bertahan satu tahun di tangan saya, karena saya memberikannya untuk adik dan saya membeli ponsel baru meski masih merek yang sama tapi beda seri dan tidak pakai antena.

  26. Ponsel pertama? Jadi ingat waktu jaman sma 14 atau 15 tahun yang lalu. Boro2 punya ponsel, pacaran aja masih pakai telpon rumah sampai tahihan bengkak dan alhasil kena semprot ortu.. x_x
    Waktu itu sedang ‘in’ ponsel kecil macam nokia 82xx dan Sony Ericsson T10.. kebetulan temen ortu ada yang kebanyakan ponsel jadilah kita dapat hibah ponsel ‘besar’. Satu nokia pisang berwarna kuning, entah kode nya apa, satu lagi nokia kotak pensil dengan kode NHE-3DN berwarna abu-abu, baru aja tanya google baru ingat tipenya nokia 2010. Kondisi fisiknya masih mulus, tombol power bersimbol merah dibagian kanan atas, layarnya yang lebih kecil daripada remote ac kamar saya dan antena kecil diatasnya buatku tersenyum kecil. Hanya sayang baterai nya sudah tewas termakan usia.
    Yang teringat hanya sms pertama pada calon kekasih yang saat itu sama2 masih berkostum putih abu2, 160 karakter yang tak pernah penuh karena malu2 kucing hanya bertanya “lg ngap?”, dan pulsa yang tidak pernah habis karena pelit telepon pulsa mahal sih.
    Plus teringat cinta pertama tersebut mungkin hanya cinta monyet yang tidak kesampaian.

    Done, masukkan lagi nokia 2010 jadul menemani nokia jadul 7600 ketupat di laci kenangan.
    Salam..

  27. Saya ridwan wijaya, saat ini tinggalbdi cimahi bandung.

    Ponsel pertama saya adalah nokia 2110. Salah satu ponsel legend yang muncul pertama kali di indonesia. Saat itu belum banyak pengguna ponsel, saya anak kuliahan dari keluarga pas pas an termasuk beruntung dapat lungsuran ponsel nokia 2110

    Tapi waktu itu punya ponsel bisa dibilang hampir tidak ada gunanya kecuali mengganti fungsi telepon umum koin atau kartu yg saat ini sudah punah. Belum banyak yg pakai ponsel waktu itu, pakai pager sudah dianggap keren dan cool banget waktu itu. Sms? Belum ada operator yg menyediakan fitur sms waktu itu.

    Akhirnya nokia 2110 saya waktu itu lebih banyak cuma dipakai untuk menerima telepon urgent dari keluarga dan buat gaya aja.

  28. Perkenalkan nama saya m samsul arif yang beralamatkan di kabupaten lumajang. Handphone pertama kali yang saya beli adalah motorole E398 pada tahun 2006 dengan harga second atau bekas pada saat itu 1,5 juta. Saya memilih handphone ini karena saya baca di forum forum kaskus hampir semua yang pernah pakai puas dengan performa suaranya yang ngebass dan gambarnya yang tajam. Akhirnya setelah baca baca di forum saya beli handphone motorola e398 di WTC surabaya untuk secondnya dimana rata rata harga 1,5 juta dengan kondisi bervariasi. Saya memakai handphone tersebut cuma bertahan sekitar 8 bulanan karena pada saat lebaran tahun 2006 handphone tersebut di beli oleh kakak sepupu saya setelah merasakan suara bassnya dan ketajaman gambarnya. Selama saya memakai handphone tersebut saya sudah mengupgrade handphone tersebut ke tampilan motorola rokr dengan menggunakan motorla phone tool sebagai penghubung handphone dengan PC. Kesimpulan selama memakai handphone tersebut saya sangat puas sekali meskipun cuma bertahan 8 bulan. trima kasih

  29. Selamat malem Om Herry
    Mau nyoba ikut sayembaranya nih om
    Untuk hape yang pertama kali saya pakai yaitu siemen type C45. Waktu itu kurang lebih tahun 1999 atau 2000, saya beli dengan harga Rp 900 ribuan, dengan menggunakan kartu mentari. Saya membelinya di counter di kota Semarang, waktu itu saya kuliah disitu, sementara tempat tinggal saya di Kudus. Hape pada tahun itu ya hanya bisa untuk telepon dan sms. Itupun saya sangat- sangat jarang telpone mengingat pulsa mahal, tariff sms juga lumayan mahal. Tariff sms mentari yang Rp 100 sesama operator dan rp 250 untuk lintas operator, setahu saya itu yang paling murah. Layarnya warna orange, nada deringnya masih poliphonik. Itupun sudah mendingan daripada hape nokia pada waktu itu yang masih monophonic. Ada juga fasilitas download ringtone, tapi ga pernah saya coba. Maklum saja tarif internet waktu itu sangat- sangat mahal, saya yang waktu itu anak kost tentu mikir seribu kali buat download. Ada juga game nya yaitu Stack Attack, Balloon Shooter, BattleMail. Heheee walaupun cuma game seperti itu tapi waktu itu lumayan banyak yang suka mainin, tinggi- tinggian skor sama temen- temen kost. Oiya waktu itu untuk operator mentari tarif pulsa mentari baru dihitung setelah detik ketiga. Ya akhirnya dimanfaatkan saya dan temen- temen buat BTS ( before Three Second) begitu istilahnya waktu itu. Jadi pas kita telpon yacuma ngomong bbrp kata aja. Misalnya: “haloo”, “sudah makan”, “lagi apa”, dll heheee… dan konyolnya lagi..cewek- cewek kami kok mau aja ya diajak BTS an…hihiii. Demikian Om Herry, sedikit cerita tentang hape pertama saya. Oiya hape nya sendiri sudah hilang, ketinggalan di bus waktu saya mudik ke Kudus. :'(

  30. Saya memang tergolong telat punya ponsel. Saat teman2 saya sudah punya sejak dari semester awal, saya baru punya pada bulan Desember 2003, sehari menjelang lulus kuliah. Itupun setelah dipaksa2 oleh orang rumah. Supaya gampang dihubungi, katanya. Maklum, saya doyan kelayapan.

    Maka dengan bermodal uang 650 ribu, berangkatlah saya ditemani seorang kawan ke sebuah pusat penjualan ponsel di kota Malang.

    Sejak awal kedatangan kami ke sana, saya langsung terpikat oleh bodi mungil warna biru dan layar oranye cerah milik Siemens A50 yang dipajang di salah satu etalase toko. Saat itu, ‘ndilalah’ harganya pas 650 ribu.

    Timbang ini-itu dan lihat sana-sini, akhirnya saya putuskan untuk meminang si kecil bandel itu. Namun karena uang yang saya bawa pas2an, saya harus pinjam 50 ribu milik kawan untuk beli kartu perdana Indosat (dulu Satelindo) Mentari, yang hingga saat ini nomornya masih saya gunakan.

    18 Desember 2013 menjadi hari bersejarah di mana secara resmi saya akhirnya punya ponsel untuk pertama kali.

    Siemens A50. Trendi (menurut ukuran saat itu) meski minim fitur. Hanya ada fungsi telepon, SMS dan alarm yang tertanam di dalamnya. Tak jadi soal. Toh memang hanya itu yang saya butuhkan.

    Satu hal yang saya kagumi dari ponsel ini adalah tangguh dan tahan banting, dalam arti sebenarnya. Entah sudah berapa kali dia jatuh dari kantong jaket, meja komputer atau tempat tidur.

    Hal2 itu yang membuat ponsel tersebut cukup awet saya miliki hingga pada akhirnya saya ganti ponsel, hampir 3 tahun kemudian.

    Berkesan? Tentu saja. Karena panggilan perdana yang saya lakukan menggunakan ponsel pertama saya itu adalah pada tanggal 19 Desember 2013, mengabarkan ke Ibu saya bahwa saya baru saja lulus Ujian Akhir.

    Ditulis oleh Ambariyanto (Gum) di Jakarta

  31. Ijinkan saya bercerita tentang ponsel pertama saya.

    Ponsel pertama pribadi saya adalah Nokia 3210. Saya lupa tahunnya, tapi ponsel ini dulu saya beli di Bandung ditemani almarhum Papa. Hal itu menjadi tambahan mengapa ponsel itu begitu berkesan, sampai saat ini walau saya sudah bertahun2 di Bandung hal ini tetap tak terlupakan.

    Punya ponsel 3210 itu pada jamannya eksis banget. Bisa gonta-ganti cover, bisa compose ringtone sendiri, dan.. Bisa main Snake sambil kuliah, hahaha.

    Dengan fitur sms yg belum bisa antar operator, pemilihan kartu perdana pun membutuhkan pertimbangan yg lama (selain faktor harga), tidak seperti sekarang yg kartu perdana bisa dibeli dengan murahnya.

    Setelah puas cukup lama saya pakai (sekitar 3 tahun) dan ingin berganti, 3210 ini saya jual ke ayahnya mantan pacar (dengan harapan bisa tetap saya lihat setiap ngapel :p ). Apa mau dikata, saya putus dengan pacar dan ponsel 3210 itu menjadi tak terlihat lagi.

    Sekian cerita saya.. Mohon maaf jika tidak bagus penulisannya.

    Terima kasih.

  32. Posel pertama, beberapa tahun lalu entah tahun berapa aku sudah hampir lupa, saat pertama meluhat HP saya sudah sangat tertarik. Dan niat saya harus bisa memilikinya. Dengan jadi waiter atau pelayan restaurant yang notabene gaji pas pasan, saya harus menabung tiga bulan untuk memiliki HP tersebut. Dan terpilihlah Nokia 3310 yang saat itu sudah canggih menurut saya, karna sudah tidak adannya antena secara fisik. Dengan harga yang cukup mahal waktu itu, hampir 1,6 juta. Tapi Bukan pujian yang aku dapat dari teman temanku, melainkan sindiran cacian dan makian, karena memang waktu itu hanya bisnisman yang memiliki HP. Sampe beberapa bulan saya tidak berani memamerkan HP baru saya. Sampe salah satu temanku memiliki sebuah HP siemen. Dan seiring berjalannya waktu akhirnya semua mengikuti jejak saya membeli sebuah HP yang selain mengangkat derajat karena bikin penampilan tambah Keren Jika memegang HP. Bahkan dahulu kartu perdana masih sangat mahal, aku memilih simpati Dengan harga 500ribu untuk aku sandingkan Dengan ponsel manisku Nokia 3310. Ponsel sejuta umat yang penuh cerita bagi saya. Dan member kepuasan saat mereka belum mempunyai HP, agak sombong tapi ini memang kenyataan. Setelah hampir dua tahun aku memakainya dan aku ganti Dengan HP Nokia lainnya. Miss you my first phone.. itulah cerita ponsel pertamaku. Terima kasih

  33. Salam kenal pak herry,..
    Nama saya Robby Suhandinata, saat ini saya tinggal di daerah tegal parang jakarta selatan, saya mau cerita sedikit tentang ponsel pertama yang saya miliki,.. ponsel Motorola C113, ponsel tersebut dibelikan oleh orang tua saya tahun 2004, dimana pada waktu itu awal saya kuliah dan jauh dari rumah,.ponsel monophonic itu dibeli dengan harga sekitar 400 ribuan, ya lumayanlah masih bisa buat telp, sms. yang paling saya suka dari ponsel GSM ini adalah bentuk atasnya yang oval, casing biru yang semi transparan,.. ponsel ini termasuk tahan banting, pernah jatuh berkali-kali dari posisi saya berdiri ke lantai (mungkin karena bodinya yang agak licin), pernah kerendam air disaku jacket saat berkendara hujan-hujanan,.. tapi yang lebih membuat saya bangga, ponsel pertama saya itu menemani 4 tahun saya kuliah..pada saat saya memberi kabar kepada keluarga dirumah bahwa saya telah lulus ujian komprehensif, ponsel tersebut langsung mati..saat itu saya langsung menuju counter hp, tapi gak ada yang bisa perbaiki, alias mati total.. saat ini ponsel tersebut masih saya bungkus rapi kembali dalam kotaknya.. mungkin hanya itu cerita tentang ponsel pertama dari saya pak..terima kasih,.

  34. Om Herry, ponsel pertama saya itu Motorola 8700, dapet dari Bapak (waktu itu masih kuliah semester 3 sekitar tahun 2000). Sempet malu juga sih pake itu karena temen-temen udah pake Nokia atau Ericsson yang kecil-kecil, saya masih pake HP yang segede bata dan antenanya harus ditarik kalo mo nelepon :)). Tapi sebenarnya saya paling suka HP yang seperti Motorola, karena kesannya kokoh (kebanting berapa kali masih normal aja) dan HP ini juga yang membuat saya memutuskan kalo Motorola itu merupakan merk HP yang bisa diandalkan. Seterusnya HP saya seringnya Motorola, baru setelah ada Blackberry ganti. Entah kebetulan ato ngga Blackberry pertama saya juga tipenya 8700 :))

  35. Handphone second berwarna biru itu pun berpindah tangan setelah saya menyerahkan beberapa lembar uang sejumlah 450,000 rupiah ke si engkoh, 13 tahun yang lalu. Mungkin barang mewah pertama buat saya waktu itu. Bagaimana tidak? Dengan duit segitu cukup untuk hidup sebulan, tapi berhubung saya salah satu penyebab jakarta makin tambah sempit (baca: anak perantauan) HP menjadi cukup krusial untuk membuat komunikasi dengan orang tua tetap lancar.

    Ericsson T-10 itu masih mulus, tidak terlihat goresan sedikit pun saat berada di genggaman pertama kali, namun karena pada dasarnya saya ceroboh, ganasnya gravitasi yang tak kenal ampun pun pelan-pelan mulai mengoyak bodynya, sampai akhirnya saya mendapati antennanya copot, setelah tidak sengaja kedudukan di kasur 0.o

    Signal lost! Saya bahkan tidak bisa mengirim S.O.S ke orang tua saat ibu kost menanti bayaran dengan senyum sinis. Aksi ala McGyver pun harus dijalani. Senar gitar yang kebetulan memang sudah mulai kusam dimakan waktu, saya cabut dan dibuat seperti per, sebelum akhirnya saya sambungkan ke HP nan malang tersebut, dan… It works! Sinyalnya kenceng lagi dan bantuan ransom pun tiba tidak lama setelah pesan SOS tersampaikan.

    Antenna ala McGyver itu pun bertahan cukup lama, sebelum akhirnya saya putuskan untuk ganti casing karena bodynya yang sudah tidak karuan, dengan warna yang sama.

    Perpisahan dengannya cukup membekas, Rp 75,000 membuat saya harus merelakannya padahal belum beberapa bulan kena ongkos ganti baterai Rp 150,000 (suatu langkah yang saya sesali sampai sekarang, bahkan sampai sekarang saya masih ingin mencari T-10 NOS (New old stock) )

    Well, itulah cerita lama saya dengan si “blutiten” (blue T-10), really good to share things like this 😀

  36. Siang,
    mau share nih. ponsel pertama kali yang dimiliki atau didapat ketika saya masih duduk di bangku smp..ya kira-kira tahun 2000an.. kenapa saya bilang “didapat” karena jujur saja saya menemukan di jalan, bukan membeli secara langsung haha.. ya ceritanya sekitar tahun 2000an sedang gempar2nya FO atau Factory Outlet. Ketika itu d daerah kertajaya FO sudah menjamur. Saat saya menemani orang tua saya berbelanja dr 1 FO ke FO lain karena jaraknya yang dekat kami memutuskan parkir di 1 tmpt dan berjalan ke FO yang lain. nah ketika menyebrang jalan secara tak sengaja saya menendang ponsel tersebut (siemens c35) haha.. singkat cerita saya sudah menghubungi pemilik maupun keluarga dan kontak-kontak yang ada di ponsel tersebut malah mendapat sambutan yang kurang baik karena dikira penipu. padahal saya sudah berniat baik mengembalikan ke pemilik. setelah menunggu selama satu bulan tidak ada yang menghubungi sm sekali di ponsel tersebut maka saya putuskan mungkin itu berkat saya hahaha.. cukup lama ponsel itu menemani saya dan tergolong cukup awet mungkin beberapa kali ganti baterai hingga akirnya saya ganti ponsel karena sudah terlalu jadul jg haha. Yang membuat happy ending adalah ponsel tersebut saya gunakan pada tugas akhir saya pada tahun 2010an. ya mungkin bisa menjadi salah satu ponsel berkesan saya karena kegunaannya hingga akhir hayatnya haha
    sekian terima kasih

    Denny Christian – Surabaya

  37. Hari pertama aku memiliki telepon genggam adalah hari yang tidak pernah aku lupakan dalam hidupku. Ponsel kecil berwarna biru, berantena, dengan layar monochrome. Ya, Sony Ericsson T-10, berhasil aku beli dengan gaji hasil keringatku sendiri sebesar 400 ribu rupiah. Aku membelinya di sebuah counter hp di wilayah Bandung.

    Aku masih ingat, hal yang aku lakukan pertama kali dengan T-10 ini adalah mengirim pesan singkat (SMS) kepada semua teman dan relasi kerja dengan pesan yang sama “Halo, ini Andri Fitriyadi. Tolong simpan nomor ini ya!”. Ha ha ha…seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Sepanjang perjalanan kembali ke lokasi kerjaku di Cikarang, aku membaca buku manualnya dan mencoba semua fitur yang ada.

    Sejak itu, petualanganku dengan Sony Ericsson pun berlanjut. Dari T-10, R-310, R600, P800 hingga P910.

  38. Jika membahas ponsel pertama, maka tidak bisa dihindari oleh saya untuk teringat akan dahulu kala diwaktu jaman Indonesia masih susah semua (susah gk ada HSDPA, susah tarif tlp dan SMS masih mahal, susah harga perdana masih ningrat semua, dll),

    Telepon dan SMS (SMS hanya sesama operator -> sungguh menyedihkan kalau lg PDKT sm cewek tp pakai nomor dr operator lain T_T), hanya itu saja fungsi dari Handphone pertamaku.
    ditambah dengan beberapa fitur mewah seperti games snake dan alarm, HP pertamaku menjadi HP yang super cool dijaman itu.

    Nokia 5110, itulah Handphone pertama saya.
    Nokia 5110, Handphone Nokia yang stylish dengan layar lebar (5 lines) dan casing dapat diganti-ganti.
    Nokia 5110, HP terkeren karena mempunyai UI yang friendly dan enak dipakai (kakek dan emak aja bisa makainya)
    Nokia 5110, HP tercanggih yang mempunyai fitur game (snake, logic dan memory) dan alarm
    Nokia 5110, HP yang membuat ku galau tidak bisa tidur karena aku harus bermain snake semalaman untuk menghabiskan baterimu sebelum aku charge kembali untuk persiapan kegiatan besok

    Nokia 5110, HP yang bisa membuat orang disekitar kita tiba-tiba jadi GR dan kompak mengecek HP-nya jika mendengar dering ringtones khas nokia (maklum, ringtones hanya ada beberapa pilihannya dan blm ada fitur getar, jadi pada GR kalau ada bunyi dering HP)

    Nokia 5110, HP yang kuat dan tahan banting, bertahan sampai 5 tahun lebih masih berfungsi ok(beli 2nd, jd gak th sebelumnya sudah berapa lama juga digunakan)

    Nokia 5110, HP sejuta umat

    Nokia 5110, HP yang buat nokia jadi terkenal

    Nokia 5110, HP yang membawa hokky buatku (order bisa diterima sewaktu”)

    Nokia 5110, HP pertamaku yang tidak akan kulupakan…… gak ada yang bisa mengalahkan kenangan bersamamu

    best regards

    Rahadian Chandranata
    Surabaya

  39. Ponsel pertamaku adalah ericsson t20..bentuknya flip dan badannya sedikit gemuk dengsn antena pendeknya warna coklat muda. Waktu itu aku masih di kelas 1 SMU, dibekali ponsel baru plus kartu Halo sama ortu membuat jadi lupa diri. Alhasil bulan pertama tagihan langsung meledak Rp.600.000 hanya untuk sms saja.Saat lihat tagihan Halo, Ortu langsung naik pitam dan bulan berikutnya kartu Haloku diclose. Moment yg tidak akan terlupakan.

    By,
    Christian-Surabaya

  40. Ponsel Pertamaku: Nokia 3315

    Kalau sudah jodoh, takkan lari kemana.
    Begitulah cinta pertama saya pada Nokia 3315. Hp sejuta umat.
    Handphone pertama itu saya beli sekitar tahun 2002. Saat itu saya baru menempuh 2tahun kuliah di ITS SBY.
    Pada jaman itu, sangat jarang mahasiswa yang memiliki HP. Di kos saya yang terdiri 13 orang, hanya
    ada satu orang yang punya. Itupun teman seangkatan + satu jurusan di ITS.

    Niat membeli hp sebenarnya udah ada sejak lama. Terutama setelah kuliah dan jauh dari orang tua.
    Sebagai orang desa dan jauh dari layanan telepon, saya sangat kesulitan berkomunikasi dengan orang tua di 2tahun pertama kuliah.
    Tiap kali mau menelpon ortu, saya harus menghubungi wartel di daerah saya. Meninggalkan pesan,
    kalo jam sekian saya akan menelpon dari Surabaya. Itupun wartelnya masih 10km dari rumah saya.
    Merepotkan sekali.

    Ketika niat saya untuk membeli hp begitu menggebu, saya harus dihadapkan dengan anggaran terbatas ortu saya.
    HP termurah saat itu adalah Nokia 3315. Harganya sekitar 900rb termasuk simcard simpati.
    Fiturnya? Jangan berharap lebih, monokrom, cuma bisa sms dan telpon. tanpa ada memori buat phonebook.

    Dengan modal nekat, saya menulis surat ke Kakak saya yang bekerja di ternate u/ minta dibelikan hp.
    Syukurlah, walaupun tidak dibelikan hp, tp ada kiriman 500rb dari kakak saya .
    Dengan modal uang 500rb dari kakak + dan 500rb dari ortu, saya ke kota beli hp.
    Seingat saya, konter hp hanya menjual Nokia 3315. Dan itupun cuma ada warna hitam dan biru.
    Saya memilih warna biru dan nomer 081.335.71**** sbg perdananya. Sayang, no perdana simpati saya harus ‘terbuang’ gara2 saya lupa kode pengaman
    simcardnya. Dan anehnya, walau hampir 11tahun, saya masih bisa mengingat no perdana itu,
    walau saya tidak tahu siapa yang memilikinya sekarang..

    setelah 2tahun menemani saya kuliah, nokia 3315 saya dibeli adik saya. sebabnya, hp adik saya yang juga nokia 3315 kena air.
    sebagai gantinya saya beli Nokia 5510 (bekas).. Lama tak terdengar, beberapa tahun kemudian saya menanyakan hp saya itu ke
    adik saya. jawabannya, hp nokia 3315 itu masih hidup dan disimpan dilaci adik iparnya. Rupanya, nokia 3315 itu sudah lama
    diberikan ke adik iparnya. Dengan berat hati saya menanyakan, apakah boleh saya membeli hp nokia 3315 daripada disimpan dalam laci.
    Alasan yang saya berikan ; itu adalah hp pertama saya dan saya masih pingin memilikinya sbg kenang-kenangan.
    untunglah, adik iparnya merelakannya dengan harga 50rb. Nokia 3315 itu kembali ke pelukan saya.

    Begitu sampai di tangan saya, saya cek hp nokia 3315 itu. Baterainya sudah drop. layarnya mulai menghitam.
    Tapi semua fiturnya masih berfungsi. Dengan alasan masih sayang, saya membelikan baterai baru buat 3315.
    Baru sekitar 2bulan ditangan saya, Nokia 3315 itu harus berpindah tangan. Kali ini dipinjam bibi saya yang hpnya sedang rusak.
    Awalnya keberatan, tapi akhirnya saya relakan… Beberapa bulan tanpa kabar, saya menanyakan kondisi hp saya.
    Hasilnya, bibi saya sudah bisa membeli hp dan nokia 3315 ada dilaci.

    Senangnya, itulah akhir dari perjalanan nokia 3315. Dan Hp nokia 3315 kini sudah kembali dipelukan saya.
    Takkan saya lepaskan. Dan saya simpan selamanya. Karena dia cinta pertama saya.
    Nokia 3315 (2002-2013) 11 tahun lamanya!

    Eguh Ridho Laksono
    Bandungan, Saradan, Madiun

  41. Ponsel pertama dan resmi gadget pertama saya yang dibeli dari kerja keras sendiri adalah siemen s55 itupun setelah 1 tahun peluncurannya. sekarang kalau lihat fotonya teringat akan dua hal pertama proses pembeliannya kedua kisah cinta yang gagal :). Ponsel S55 tersebut diperoleh ketika saya baru saja lulus kuliah S2 TS di surabaya dan diminta untuk mengajari anak salah seorang pengacara di Sampoerna Group. mengajarinya nggak tanggung tanggung 5 hari x 24 jam non stop di rumah beliau. Niat beli pun karena ingin bersms dengan pujaan hati di Banjarmasin. setelah 5 hari dan kursus pun selesai, dikasih amplop buat pembayaran kursus. Pas pada saat itu ngeliat iklan S55 yang rasanya keren banget (yang ingat pasti ngerasa iklannya keren). Alhasil amplop tersebut langsung habis buat beli siemen S55 yang diidam idamkan. tapi rasanya bangga sekali bisa beli Hp ini, sampai sampai bertekad tidak akan beli hp lain dan akan selama lamanya pakai HP S55 akhirnya si HP ada, sms mesra pun melayang kepada kekasih hati, sms sms sms sampai 4 bulan eh ternyata malah bertengkar hebat di sms dan berpisah (akibat sms terpotong)…. alhasil s55 nya sempat mengalami proses hukum Newton. sampai akhirnya tergeletak pasrah. Si HP pertama langsung dimadu dengan HP lain yang biasanya juga tidak bertahan lama. sekarang kalau liat di box di gudang, liat Casing S55 suka tersenyum simpul ingat sulitnya cari uang beli buat beli Hp biar sms kekasih nun jauh disana (oooh Jodoh pasti bertemu …………)

  42. HP pertama saya adalah Motorola StarTAC AMPS. Bagi yang tidak tahu AMPS itu apa, AMPS adalah cikal bakal dari CDMA.
    Saya jatuh hati dengan model Motorala StarTac karena modelnya mengingatkan saya pada alat komunikasi yang dipakai oleh kru StarTrek 🙂
    Pada mulanya sih saya selalu ditertawakan oleh teman-teman yang pada saat itu (1994) sudah menggunakan operator GSM, dan selalu dijadikan becadaan, karena AMPS tidak ada fitur Caller ID, sehingga kita tidak tahu siapa yang menelpon. Jadi mereka diam-diam menelpon saya, lalu begitu diangkat dimatikan. (asem… hehe)
    Tapi senyum mereka berbalik menjadi senyum saya, pada saat kita bersama-sama ada didaerah blank spot GSM (pada saat itu di Bandung coverage area GSM belum terlalu bagus) mereka sibuk mondar-mandir mencari sinyal yang bagus, sedangkan saya dengan tenang duduk menerima telepon dengan suara yang jernih.

    Demikian pak sharing saya.. 🙂

  43. Nama Saya Danny, Saya Tinggal dipemalang sekarang. Talk Saya Punya hp pertama kira2 12 th yg lalu. Saat sma Saya jatuh cinta sama Siemens m35 yg warna kuning. Meskipun jaman dulu belum ada foto, android, dll. Talk m35 cukup setia menemani sampai kuliah di awal2 smester. Si kuning kaya e mirip yg Mau dibagikan yah. Jadi teringat mass lalu. padahal dari segi kekuatan Dan tahan bantingnya lebih mantap Siemens sayang td ad lagi penggantinya. Setelah m35 ganti jg siemen s57. Mantap deh. Sekian tebar pesonanya

  44. IKUT!
    Ponsel Pertamaku aku dapatkan waktu masih kuliah sekitar tahun 2005 adalah Sony Ericsson T105, sebetulnya ga gitu pengen ponsel dan ga freak sama HP karena rumahku di jogja sudah ada jaringan telpon kabel jadi aku masih fokus sama PC dekstop gaming. memang sebagian besar anak kuliah di kampus Atma jaya tempatku rata2 memakai ponsel, nat nit nut sampai sharing not-balok untuk monophonic ringtone, sampai sempat ketika itu dititipi kawan HP karena dia mau beli makan, aku coba buka tp entah masuk kemana, takut rusak aku pencet aja tombol merah karena secara naluri, merah itu pasti ga jauh2 sama yg namanya mematikan hehhe.

    menuju cerita gimana aku mendapatkan ponsel pertama, diawali perkenalanku dengan seorang gadis waktu aku magang di jakarta, perkenalan dimulai ketika aku sering berpapasan dengan dia waktu aku turun bis dan dia naik bis,,, 1 minggu bisa 5x berpapasan tanpa tersenyum sedikitpun! sebagai cowok yang waras, waktu itu aku nekat naik bis itu lagi dan duduk disebelah dia, aku ajak kenalan dan dia pun menyambut hore :D, pertanyaan awal dia adalah… “kok naik lagi bukan turun, emang mau kemana?” aku jawab aja “mau kenalan aja sih, 2 bulan papasan kok ga ada tegur sapa ehehe”… pendek kata dari situ kami dekat, no hp dapat tp waktu itu aku pakai no hp kakakku aja, jadi klo mau ketemuan kadang pinjam hp kakakku kadang juga nunggu di halte fav kami hehe.

    kembali ke jogja untuk melanjutkan kuliah, untuk menjaga komunikasi kami memanfaatkan media Email, YM dan HP kakakku. berhubung waktu komunikasi lewat
    HP kakakku terbatas karena kakakku juga perlu HP nya untuk telp doi dia, aku pun pake telpon rumah, lumayan rajin tp ga lama, tau karena pasti mahal… ternyata benar, tagihan sampai 300rb waktu itu, pendek kata telpon di gembok, tombol “0” ga bisa dipencet duluan… putus asa, aku pake YM lagi sore2, terkadang pacarku juga telp pake telpon kantor tp pernah kena audit karena tagihan office dia membengkak, beruntung pacarku ga mengakui telp rumahku waktu itu, jadi karena keterbatasan komunikasi dan kangen tak tertahankan, aku nekat buka lemari mamaku dan cari kunci telp,,, DAPAT! lalu rajinlah tiap pagi aku telpon ketika ibuku lagi cuci baju pagi2.

    kangen ga tertahankan buat lupa waktu, setengah jam 4 sampai 5x seminggu,,, tagihan tembus 500rb dan ada bukti print out berserta no hp tujuan plus jam2nya, kena marah dan merasa bersalah, uang untuk les inggeris suntikan dana dari kakakku di jkt aku kasih mamaku dibarengi sujud minta maaf+air mata didapur, tp mamaku nolak, ga usah katanya, nanti les mu ga selesai, mama ga marah, udah gpp… sedih plus kapok ga mau lagi buat susah, sempat pengen ga pake telp tp ternyata khilaf cuma 1 minggu… bulan depannya tembus lagi ternyata tagihan hampir 1jt… kali ini mamaku cuma diam,,, hari sabtu papaku datang sore pergi belanja sama ibuku sambil bayar tagihan telp… pulang bawa HP Sony Ericsson T105 ini 😀 haha, seneng sih campur sedih juga masih sempet belikan anaknya hp pdhl tagihan telp dah mpir 1jt.

    bela2in beli perdana im3 cantik 50rb dari juragan nomer yang mpe sekarang masih aku pake, lancar jaya komunikasi kami hingga akhirnya dia di-“siti nurbayakan” oleh mamanya dengan tetangga dia di jkt dan i hate that girl for the rest of my life coz she accepted that guy proposal

  45. ponsel pertamaku adalah Siemens S35, yang saya beli sekitar awal tahun 2000, dulu beli nomer dan handphone sama mahalnya buat anak kost dan orang yang baru pertama kali kerja dan punya penghasilan

    waktu itu belinya di salah satu toko di daerah Nagoya, Batam, karena Batam pada saat itu penuh dengan barang BM, termasuk handphone saya ini, termasuk barang BM

    dibeli dari gaji bulan kedua ku kerja di Batam (gaji pertama pasti dikirim ke kampung buat ortu).

    tahan banting juga nih handphone, walopun masih monochrome dan ringtonenya juga masih polyphonic, suka dengan layarnya yang cukup lebar di zamannya

    bertahan sampai dengan awal tahun 2001 sebelum beralih ke merek lain, terpaksa ganti karena batere nya mulai drop, sedangkan harga batere ori pada tahun itu sama aja dengan beli handphone baru, sayang bangkainya entah hilang dimana, sedangkan itu handphone ku selanjutnya bangkainya masih tersimpan rapi di d laci lemari lho

    aku termasuk pencoba semua merek handphone lho, urutannya mulai dr awal sampai terkini : siemens S35, nokia 3330, sony erricson K530, nokia 5800, nokia E-72, BB 9860, samsung S4 mini

    demikian cerita ku..

  46. Pertama kali melihat secara langsung ponsel adalah pada tahun 1997, setelah sebelumnya hanya melihat dari film televisi. Saat itu ada temen yang mendapat hadiah kelulusan SMA berupa HP Ericson GA628, yang merupakan orang pemakai HP GSM pertama yang saya kenal.
    Rasa penasaran dan ingin memiliki membuat saya sedikit demi sedikit menabung sisa gaji setelah dipotong biaya kuliah. Sampai pada akhirnya pada tahun 2001 menjelang lulus kuliah setelah empat tahun menabung saya membulatkan tekad membeli hape nokia 3350. Saat itu hape merupakan barang termahal dan termewah yang pernah saya beli.
    Namun ternyata kenangan memakai hape itu tidak lama, karena baru berumur 3 bulan hape nokia terpaksa dijual dan saya belikan hape seken merk siemens yang lebih murah. Kenangan menggunakan hape pertama kali dengan merk nokia membuat saya seperti gak bisa lepas dari merk nokia, meskipun sekarang hanya menggunakan nokia seri low end termurah yaitu nokia 103.

  47. aahhh………mengenang lagi ponsel pertamaku……..
    pertama tahu dan kenal dengan barang yang disebut telpon tanpa kabel yg asli (bukan wireless telpon rumah) adl ketika boss ku pake provider ” metrosel” dgn handset buatan NEC….trus ganti dgn motorola startec yg besar spt batubata , masih susah dibawa luarkota (roaming) …trus pake nokia dan entah gonta ganti.
    saya sendiri pertamakali pake ericson ga 628 , candybar ,single liner monochrome dgn antene kaku, ganti siemen c35 yg monochrome , siemens s35 color , nokia dan akhirnya ‘stuck’ dgn android lenovo…………eh pernah juga ding pake ericson model tas koper 🙂 beratnya …..ampuh……
    demian sedikit cerita ttg ponsel yg pernah saya pake berdasar ‘racun’ dari boss :D………..

  48. henpon.. wow… tahun 1998 saya masuk kuliah di ubaya, melihat org berjalan sambil halo2an kliatannya sangat perlente. dalam hati berucap pasti wong sugih iki. suatu saat saya harus punya biar bisa kliatan cool. hahaha.
    singkat cerita dengan penuh perjuangan dari hasil keringat sendiri, dan menyisihkan sebagian uang saku ortu saya bisa beli hape.

    Ericsson GH 688 adalah hape pertama saya. alasan beli tipe itu karena males kembaran sama mahasiswa/i laiinnya yg rata2 belinya merk nokia smua. mikirku lak muni mosok meh podo kabeh (nada deringya hmpir sama smua nadanya).

    pertama kali pegang GH 688. puas lah. tombol mantap. suara juga kenceng. bisa sms an, hahaha…
    baterai saya beli buat cadangan satu. yg tipe gendut. jadi lumayan bisa tetep on seharian.
    pas lg kuliah.. temen di luar ipok2 (pura2) saya suruh miscall. wkwk.. biar suara hape kedengeran temen kuliah lainnya sehingga saya dianggap mahasiswa perlente (walau tiap hari aslinya makan pete. wkwk)

    kalo ingat masa lalu pertama kali py hape geli juga. maunya dikeluarin terus… catat nomor telp sana sini. tiap hari nongkrong di galeri FE (tempat nongkrong mahasiswa jurusan ekonomi). liat cewek caem. deketin.. nanya “py nomor hp nik?” hahaha….

    Pertama kali hp jatuh.. dilap digosok2… ditiup2.. jiakwkwkw.. kebykan jatuh.. lama2 yo wes ben.

    pulsa mesti ngirit. uang saku terbatas. mengandalkan 2 dtk an (dulu operator telp 2 dtk gak byr).. jadi ya gitu mau telp teman.. halo.. mati.. kw nang ndi.. matikan lagi… keluaro.. mati.. aku di depan.. matiiin lagi.. hahaha…

    sekian dulu cerita hape pertama dari heru santoso sandra di tulungagung. jawa timur.

    terima kasih… ciaauuwww,,,,

  49. Nokia 5110 ponsel pertamaku

    Awal saat aku punya ponsel….tahunnya dah lupa persisnya. Yg aku ingat hanya bulannya aku beli ketika itu Juli. Pertama beli Nokia type 5110 harganya kalau tidak salah sekitar 1,7 juta (dah lupa) persisnya. Warna yang kupilih hijau…..hmm….entah kenapa aku pilih hijau, padahal ada banyak warna dan semuanya bagus2.

    Aku Novayanti yang saat ini tinggal di sidoarjo, berjuang untuk bisa mendapatkan ponsel Nokia yang memang gak mudah…

    Karena aku awam dengan yang namanya ponsel (kala itu– hehehehe soalnya aku gak mau kalau dikata gaptek) makanya butuh info banyak hal terkait ponsel itu sendiri dan lain sebagainya…mana yang bagus dan harga yang terjangkau…..sesuai dengan isi kantong hehehehe.

    Kalau ada dan dah kenal Koh Hery sih…enak. Tinggal nanya, aku punya dana segini, butuh hape yg lumayan bagus de el el….langsung deh Koh Hery kasih rekom..beli ponsel merek ini dan type ini, specnya begini…begitu. harganya di kisaran sekian…(Koh Hery dah hapal diluar kepala)

    Oh ya…aku belinya Nokia 5110 di Ivan Jaya jl pemuda sebelahnya Granada toko roti di pojokan. Jalan pemuda- pangsud. Tokonya berukuran kecil, namun ada jaminan barang asli. Di WTC kan banyak toko??? Iya. Tapi sebagai pendatang baru yang ingin sekali memiliki ponsel tanpa ada resiko kena tipu harga mahal atau barang tiruan, aku pilih aman dengan beli di toko tersebut. Hmm…sebelum aku beli ponsel,,,,terlebih dahulu beli kartu perdana,… Kenapa kok beli kartu lebih dulu? Wong ponsel aja belum punya. Alasannya….biar aku terpacu ngumpulkan uang untuk bisa beli ponsel idaman.

    Selain itu, untuk bisa dapatkan kartu perdana susahnya bukan main dan harganya terbilang mahal…. Waktu itu pilihan jatuh pada simpati dengan harga 175 ribu dan mendapat nomor 0812325****. Karena ada penawaran dari PR Garden Palace Marfika yang jika dibandingkan dengan tempat lain, harga yang diberikan ke aku lumayan miring. Dan satu lagi beli kartu perdana pro XL dengan harga 125 ribu nomernya 081732**** dan sampai sekarang dipakai sama suami. Harganya perdana segitu terbilang mahal untuk saat ini, namun ketika aku beli, harganya lumayan murah. Karena satu minggu kemudian harga kartu perdana sudah mencapai ratusan ribu hingga jutaan????? Kok bisa ya.
    Kembali pada ponsel Nokia 5110 yang kata orang adalah hape paling bandel, dengan model ada sedikit antenanya (mecungul) di bagian atas sisi kiri.
    Pede? Tentu saja karena kala itu orang yang gunakan hape sepertinya keren bangettttt dan GJ. Nokia…untuk bisa bergaya…aku juga beli chasing dengan warna lain, kebetulan hanya hape Nokia yg bisa ganti baju. Biar dikira memiliki hape banyak dan pakainya disesuaikan dengan warna baju yang dikenakan saat itu.
    Cukup lama aku pakai Nokoi 5110 sebelum akhirnya hape tersebut berpindah tangan dan kini hanya tinggal kenangan…sebenarnya mau aku simpan sebagai kenang2an…namun kakak yang dibandung juga menginginkan hapenya…hingga aku relakan kuberikan kepada kakak.
    Itulah sekilas kenanganku terhadap Nokia 5110 ponsel pertama yg berhasil aku beli dengan penuh semangat, antusias dan tentu saja dengan jerih payah kumpulkan uang.

  50. Tiada sekarang tanpa masa lalu. Hal inilah kalimat yang tepat untuk melukiskan kecintaan saya pada gadget yang dimulai dari ponsel genggam pertama saya.

    Saya tidak ingat kapan persisnya menggenggam benda itu untuk pertama kalinya, yang saya tahu, saat itu saya sedang duduk di bangku SD, sekitar tahun 2003. Sebenarnya, ponsel tersebut adalah warisan dari kakak saya, yang juga merupakan ponsel pertamanya. Tentu saja saya tidak protes ketika diberi ponsel bekas, karena saat itu ponsel masih tergolong benda yang baru dan mewah. Walapun tak dapat saya sangkali, ada secercah perasaan kecewa yang timbul di hati ketika teringat kata “bekas”.

    Bentuknya nyaris menyerupai sabun batangan, hanya lebih ramping. Warna bodynya biru, dipadu dengan tuts klasik abc-def-ghi yang akan bewarna kuning jika ditekan, senada dengan warna layar yang hanya memiliki warna kuning menyala. Sebagai aksesoris, saya memasangkan gantungan kunci yang akan berkedap-kedip jika ada sms atau telepon masuk. Untuk lebih menjiwai kedatangan ponsel baru, saya juga rutin membeli tabloid yang mengulas ponsel, dengan tujuan mencari info sebanyak mungkin keistimewaan ponsel yang saya miliki, juga mengunduh ringtone-ringtone terbaru yang berbayar.

    Senang rasanya setiap melintas di depan ITC Roxy Mas, melihat banner besar bergambar sebuah ponsel terpampang jelas, ya, itu adalah gambar ponsel saya. Saat itu ponsel saya adalah yang terbagus dari masanya. Wajah sumringah secara tidak sadar saya tampilkan setiap mendengar komentar-komentar pujian dari teman-teman sebaya yang melihat ponsel saya. Bangga, ketika ada lagu keras, yang cenderung norak sebenarnya, yang berdering dari ponsel saya ketika sedang di tempat umum, walaupun mungkin itu hanya bunyi sms dari operator yang mengingatkan masa aktif kartu saya hampir habis.

    Ponsel saya pada saat itu memiliki fitur yang sangat minim. Pulsa untuk sms-an dan telpon-an masih sangat mahal, belum ada operator yang berani banting harga demi menggaet sejuta konsumen yang “gila komunikasi”, malahan nama operator yang terdengar di telinga anak kampungan seperti saya hanya satu.

    Jika pulsa mahal, lalu apa yang saya lakukan dengan ponsel saya? Saya terjebak di dunia space impact, di mana pagi dan malam hari terasa tidak ada bedanya. Tiap melawan “raja”, sebutan saya untuk musuh terakhir di setiap level, jantung saya berdegup kencang tidak karuan, takut kalah, dan mengulang level dari awal. Jika kalah, saya kesal dan tidak nafsu makan. Permainan lainnya adalah snake, permainan yang legendaris. Semakin bertambahnya waktu, jari-jemari saya seakan otomatis menekan tuts tombol untuk menggerakkan sang ular, tanpa banyak berpikir, karena tuntutan pergerakan ular yang semakin cepat. Namun, bagi saya, hingga saat ini pun, space impact tetap menjadi kenangan saya yang paling membekas.

    Beberapa tahun dari waktu itu, ponsel-ponsel bermunculan, setiap bulan bertambah canggih, iklan operator di mana-mana. Saat itulah, saya putuskan untuk move on dari ponsel saya tersebut, dan membeli ponsel baru dari merk perusahaan yang sama.

    Ah.. Mungkin ponsel Anda sekarang sudah sangat jauh jika dibandingkan dengan ponsel saya itu. Namun, apa bisa dikata, itulah ponsel pertama saya, cikal bakal gadget-gadget yang saya cintai sekarang. Ponsel pertama saya itu bernama Nokia 3350, sebuah benda, sebuah impian.

    Nama saya Ratna, dan saat ini saya sedang menyerap ilmu di sebuah perguruan tinggi di sebuah kota kecil, yang disebut orang, Paris van Java, Bandung.

  51. Ponsel pertama saya nokia 1100 saat saya masih kelas 2 smp, walau sebenarnya bukan saya yang benar-benar tangan pertama yang meminang ponsel itu melainkan warisan dari ayah saya tapi tetap saja kala itu benar-benar pemberian yang sangat istimewa betapa tidak salah satu kecanggihan waktu itu yang saya kagumi dari nokia 1100 yaitu senternya, padahal waktu itu di tempat saya belum ada signal harus berjalan kurang lebih 1km untuk dapat signal tapi ponsel ini selalu saja saya bawa kemana saya pergi bahkan waktu bermain, hal yang paling sering saya lakukan dengan ponsel ini saat dapat signal menelpon 116 cs telkomsel.

  52. To the point aja yaa. . Waktu itu tahun 1997 jaman saya masih kuliah di salah satu P.T swasta di jalan dinoyo. Berawal dari teman sekelas saya yg waktu itu sdh membawa ponsel. Saya memutuskan untuk menggunakan segala cara untuk menggantikan Pager yg waktu itu saya pakai untuk alat komunikasi. Untuk mendapatkan ponsel tsb saya “terpaksa” berbohong kpd ortu habis kecelakaan menabrak mobil org. Tujuan berbohong supaya saya dpt kiriman uang untuk “ganti rugi” kpd si pemilik mobil :p. Akhirnya uang “ganti rugi” tsb ditransfer via bank :D, lanjut saya membeli ponsel merk MOTOROLA 7200 (seingat sy typenya itu). Setelah ponsel ditangan, muncul masalah berikutnya yaitu, bgmn caranya sy mendapatkan simcard yg pada waktu itu masih tersedia pasca bayar saja? Dengan sangat terpaksa saya “berbohong” lagi kepada operator T**k***L dengan cara membuat slip gaji palsu agar nomer Sim card saya segera diaktifkan :), setelah menunggu sekitar sebulan setelah pembelian ponsel tersebut akhirnya saya bergaya spt seorang profesional, krn pada saat itu masih jarang ada org2 yg pake ponsel. Sekian cerita dari saya.tq

    edwardy tinggal di surabaya barat

  53. 2001 baru lulus kuliah n ketrima kerja diluar kota, tentu hp bukanlah prioritas utk posting belanja dari gaji pertama. Jadi mas ku menghibahkan hp miliknya buat aku agar bisa komunikasi dengan rumah (baca : ortu).
    Hp itu sendiri juga punya story bagi masku karna itu barang yg dimenangkan dari taruhan !! Jadi, Siemen C45 biru tua yg imut n exchangeable cover, its totally fashionable cell phone on that era, has become my first cellular phone

  54. Ponsel pertamaku kudapat dari almarhum papa tahun 1996, merek nokia. Tipenya aku lupa tapi orang mengenalnya dengan sebutan nokia pisang. Bentuknya tipis dan melengkung dan sliding, dibalut dengan perdana mentari 0816488****. Ponsel itu sebagai hadiah dari alm papa atas lulus kuliah. Harapan alm papa ponsel itu bisa membantu mencari pekerjaan supaya jika ditelpon perusahaan untuk test mudah. Dengan ponsel itu aku mendapatkan pekerjaan pertama tidak lama berselang dari wisuda, diperusahaan asing di surabaya. Ponsel itu setia menemaniku selama 3 tahun, hingga kuganti baterei tebal agar lebih awet, maklum pekerjaanku sebagai pengawas qc di perusahaan tersebut. Ponsel itu juga yg menolongku ketika dibegal orang di terminal bus ketika pulang kerja. Maklum kantor di bambe gresik dan rumah di pasar turi surabaya. Begal itu menodongkan pisau ke pinggang meminta dompet, saya hanya diam ketika dia mulai kasar, aku pukul kepalanya sekencang kencangnya dengan hp itu, hpnya gpp kepalanya bocor krn baterei tebal begitu keras. Itulah beda nokia finland dengan nokia2 sekarang yang gampang pecah.luar biasa memang nokia pisang itu. Itulah hp pertamaku yang paling mengesankan.

  55. Saat itu saya berusia 17 tahun… saat dimana saya mengenyam pendidikan kelas 2 sma… saat dimana masa masa paling indah disaat remaja… sebagaimana umumnya remaja saat itu… saya sedang mengalami masa masa pubertas… masa dimana remaja mulai saling mengenal lawan jenis, dan saat itupun saya mempunyai seorang kekasih( sekarang sudah jadi mantan alias istri hehehehe) Pacaran… itu sebutan kerennya kala itu… bagi kami komunikasi itu penting… hampir setiap malam saya selalu menjadi langganan tetap sebuah Warung Telepon atau WarTel… banyak waktu dan uang saku tentunya terkuras untuk hal satu ini… Namun ini adalah awal saya “bertemu” dengan handphone awal saya… Suatu saat uang saku saya habis di sekolah, padahal malam hari saya harus menelepon kekasih saya. Seribu bingung pun melanda hati saya… Tak kurang akal, akhirnya saya nekat “mencuri”. Setelah ayah saya tidur terlelap, saya pun diam diam memakai handphone ayah saya yaitu handphone NOKIA type 5110. Akhirnya setiap malam saya selalu memakai diam diam handphone berantena ini, lumayan uang saku saya masih bisa saya simpan hehee…. Sampai suatu pagi ayah saya terkaget kaget, karena saat beliau akan menghubungi rekan kerjanya handphone tidak bisa melakukan panggilan karena pulsa tidak mencukupi.. akhirnya “kejahatan” ku pun terkuak… Bukannya marah, ayah saya malah memberikan handphone itu ke saya. Ternyata selama ini “kejahatan” saya diketahui oleh ibu saya, padahal saya memakai handphone dengan bertelepon di tempat tidur dengan ditutupi bantal. Rasa malu bercampur senang karena saya mempunyai handphone walaupun “lengseran” punya ayah. Handphone berlayar monokrom berwarna hijau kekuning kuningan ini pun menemaniku untuk berkomunikasi dengan kekasih saya… Namun kebersamaan saya dengan handphone jadul ini harus berakhir 4 tahun setelah saya mendapatkan handphone ini dikarenakan sulitnya mencari baterai orisinil handphone ini, berkali kali saya ganti dengan yang KW namun usia baterai KW tidak sekuat baterai bawaan aslinya. Sekarang si NOKIA jadul ini tersimpan rapi di lemari… menyimpan banyak cerita perjalanan saya dengan kekasih saya yang sekarang menjadi istri saya… Saya ; BANU KUKUH PANDIGA dari kota : JEMBER

  56. Saya Taufan
    Pekerjaan saya sehari2 adalah musisi, drummer
    Sekarang berdomisili di Pamulang Dua, Tangerang Selatan
    Sekarang kebutuhan untuk menggunakan HP sudah merupakan keharusan
    Berkat adanya sayembara dari Pak Herry SW ini, jadi pengen bernostalgia sedikit, mengenai pengalaman punya HP Pertama

    Saat itu, tahun 1996, saat saya baru lulus SMA dari Makassar, dan berencana mau melanjutkan kuliah di Jakarta
    Pada tahun itu sih, penggunaan telepon selular, apalagi yang GSM belum terlalu banyak
    Karena masih ingat, saat di Makassar, Almarhum bapak saya sudah menggunakan Handphone Motorola yang AMPS
    Sering saya pinjam, ketika beliau datang ke Jakarta, untuk menghubungi keluarga di Makassar
    Selain meminjam handphone beliau, alternatif saya untuk menghubungi keluarga yaitu kartu telepon, dan Wartel
    Seiring dengan sibuk nya tugas kuliah, dan juga di desak kebutuhan, akhir nya saya memberanikan diri untuk meminta di belikan HP kepada orangtua saya
    Waktu itu masih kost di daerah Cempaka Putih, jadi satu2 nya pusat untuk cek harga2 HP terbaru saat itu ya di Mall Kelapa Gading
    Setelah beberapa hari Hunting, akhir nya piilihan jatuh ke Ericsson GA 318, yang berwarna hitam, dan di depan nya berwarna biru
    Dan Kartu GSM yang saya pake Pertama adalah KartuHalo, dengan menggunakan data dari saudara saya, karena saya belum memiliki KTP Jakarta waktu itu, juga pekerjaan tetap

    Layar nya hanya 1 baris, dan waktu itu memang belum banyak menggunakan SMS, kebanyakan di pake telepon saja

    Jaman itu, kalo mau SMS susah nya minta ampun, karena kadang udah ngetik panjang, mau liat tulisan sebelum nya, harus mundur jauh ke belakang, karena layar nya yang cuman 1 baris

    1 hal yang saya membuat kangen dengan HP ini adalah bunyi Ringtone, yang Ericsson banget
    Ciri khas dia banget
    Sayang waktu itu tidak kepikiran untuk menyimpan hp tersebut untuk di koleksi, karena seiring waktu, udah mulai tertarik dengan beberapa model lain, seperti Motorola Startac, Nokia Pisang, dll hp Ericsson GA 318 itu udah di jual, dan di tukar tambah dengan HP model lain nya….

    Tidak terasa, udah hampir 18 tahun yang lalu, saat saya membeli HP Ericsson GA 318 tersebut, dan masih ingat banget bagaimana bentuk bodi nya, ringtone nya, dan bentuk font nya, hahahahahaha

  57. Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat tahun baru 2014 Pak Herry dan para pengunjung blog ini. Semoga tahun ini menjadi tahun yang baik. Saya sangat suka dengan dengan blog ini karena menyajikan review yang berbeda. Semoga tetap bisa menyajikan review gadget yang menarik kedepannya. Izinkan saya ikut berpartisipasi di kompetisi ini, bosen juga cuma jadi silent reader.hehe..

    Ungkapan bahwa yang pertama selalu meninggalkan kesan mendalam memang tidak salah. Ungkapan itu juga berlaku untuk ponsel pertama saya yaitu Nokia N-Gage QD. Kakak sepupu saya membelikanya waktu saya masih kelas 1 SMP (sekitar tahun 2007). Terima kasih buat kakak sepupu 🙂

    Ponsel ini menemani berbagai aktivitas saya, karena masih kelas 1 SMP kegiatan rutin hanya sebatas bermain game, sms, telepon, dan sedikit browsing (internet saat itu mahal dan koneksi di daerah saya sangat lambat sekarang juga masih lambat). Apalagi ponsel ini memang baru mendukung EDGE kelas 6.

    Saya lebih suka ponsel ini dibanding N-Gage klasik karena cara telepohon sudah biasa, tidak dengan memiringkan ponsel (maaf agak norak dan aneh menurut saya) dan bentuknya lebih simple. Menurut saya ponsel ini adalah pelopor munculnya game-game HD. Bayangkan ketika dulu game ponsel biasanya hanya kurang dari 5 MB, game N-Gage sudah menyentuh puluhan MB. Memori yang besar ini sesuai dengan kualitas grafis gamenya yang memang sangat baik, seperti game Splinter Cell, Ghost Rechon, dan lain-lain. Saya yakin game N-Gage tidak akan selesai dalam satu hari, sehinggga rasa bosan pun sulit datang. Bahkan game Rayman 3, sampai posel ini saya jual waktu kelas 1 SMA belum bisa terselesaikan. Sistem bermain multiplayer juga berjalan lancar, game yang menjadi favorit adalah game sepak bola dan smackdown. Teman-teman bergantian memainkanya dan menjadi salah satu ponsel yang paling laris dipinjam.hehe..

    Besarnya memori game membuat saya harus melakukan upgrade memori pada extrernal bertipe MMC sebesar 512 MB awalnya hanya sebesar 128 MB. Saya tidak tahu berapa memori maksimal ekternal yang bisa ditanamkan ke N-Gage QD ini, ketika saya memakai memori sebesar 512 MB kadang tidak terbaca (tetapi bisa juga memorinya yang bermasalah saya kurang tahu). Dari ponsel ini saya jadi belajar banyak hal, seperti mulai bisa mengistall bermacam aplikasi dan game. Bayangkan dulu jasa mengistall satu aplikasi 5 ribu rupiah dan satu game 10 ribu rupiah, lebih murah jika mendownload di Warnet satu jam hanya 3 ribu dan bisa mendapatkan banyak aplikasi dan game. Teman-teman saya akhirnya banyak yang meminta bantuan untuk menginstall aplikasi atau game. Dari ponsel pertama saya ini saya menemukan hobi baru yaitu mengotak-atik ponsel dan terus berlanjut sampai saat ini ketika saya telah memakai robot ijo (android).

    Tak ada gading yang tak retak, Nokia N-Gage QD ini juga memiliki kelemahan. Di ponsel ini terdapat karet yang yang mengelilingi body ponsel, menutupi tempat memori eksternal karena kartu memori bersifat swapable (bisa dikeluarkan tanpa mematikan ponsel) dibagian bawah dan menutupi lubang jack audio 2,5 mm serta lubang pengisisan daya di bagia atas. Karet pada bagian atas dan bawah ini mudah sekali rusak (patah) dan harus segera diganti yang paling penting untuk menutupi bagian memori eksternal. Mungkin seringnya karet ini rusak karena intensita saya mengganti memori eksternal juga tinggi karena saya mengggunakan dua MMC satu khusus untuk game (512 MB) dan satu untuk musik (128 MB). Selama 3,5 tahun pemakaian saya sudah menghabiskan lebih dari 10 buah karet, mulai dulu harganya 15 ribu rupiah sampai menjadi 10 ribu rupiah.

    Akhinya ketika saya kelas 1 SMA ponsel ini terpaksa saya jual seharga 400 ribu rupiah karena sudah rusak di beberapa tombol, casing sudah rusak lagi setelah ganti empat kali, dan baterai yang sangat boros. Sayang sekali, tetapi dari pada tidak bisa dimanfaatkan, semoga yang membeli bisa memperbaiki dan merawatnya. Uang itu ditambah tabungan akhirnya saya pake buat membeli nokia E63 dan memulai pengalaman baru.
    Demikian kisah dan si N-Gage QD semoga tulisan saya bermanfaat dan tidak hanya bikin penuh blog ini.hehe…Trimakasih 🙂

  58. Pengalaman pertama memiliki HP ericsson GH388.
    Pada jaman itu HP masih merupakan barang mahal, menggunakan operator telkomsel yg terkenal dgn simpati. Beli nomernya masih di harga 300rb ke atas.

    HP kecil yg ringkes, cuma bisa sms dan telepon… Cuma batterai aja tidak tahan lama, harus sedia dua buah, beli lagi yg tipe gendong jadi kelihatan kayak “orang bongkok” krn bagian belakang HP agak menebal di bagian belakangnya kayak orang bongkokan hehehehe

    Ke mana2 harus bawa batterai cadangan, siap sedia charger mobil (kayaknya jaman sekarang juga harus charg mobil)

    HP ini sangat rekomend sekali waktu itu, terbukti dgn pemakaian yg cukup sering jatuh ( klu jatuh batterai mencar dari hpnya ) dan kondisi body hp cacat dedel duwel, HP ini masih bisa hidup dan meladeni keperluan saya…. Tidak pernah sekalipun mati sampai saya jual kembali ganti ke generasi berikutnya, ericsson tipe GH688.

    HP inilah yg menyebabkan saya jatuh hati ke ericcson sampe berganti ke 688 dan T18. Ya karena kekuatannya yg memang tahan banting pada waktu itu….

    So, sekian cerita pengalaman pertama saya menggunakan HP

    Nama : albert
    Alamat : surabaya

  59. Kesempatan pertama mempunyai acang adalah pada saat saya harus memutuskan untuk hidup sendiri.
    Nama saya bimo,dulu saya lahir dan tinggal di jakarta sampai pecah kerusuhan mei di tahun 98.
    Pada tahun yang sama saya baru saja lulus sma,saya masih ingat betul kejadian pecahnya kerusuhan mei tepat di depan sekolah saya di rawasari by pass jakarta pusat.singkat cerita orang tua saya yang sudah memutuskan untuk pulang kampung ke magelang karena ayah saya sakit,meminta saya untuk melanjutkan kuliah ke jogja.
    Sebelum berangkat ke jogja,saya meminta ibu saya untuk membelikan sebuah acang yg saat itu saya jadikan alasan supaya saya bisa berkomunikasi dengan beliau saat saya ada di jogja nanti.
    Tepat 2 hari sebelum saya berangkat ke jogja,saya diajak kakak yg saat ini masih tinggal dan bekerja di jakarta untuk pergi ke roxy mas yaitu pusat acang terbesar di jakarta saat itu.
    Saya sama sekali tidak punya angan2 apapun atau keinginan apa pun acang apa yg saya ingin kan.
    Setelah putar2 dan bertanya,dan menyesuaikan budget yang ada saat itu yaitu maksimal 1,6 juta.jatuhlah pilihan ke Nokia 5110,yang sebenernya adalah pelarian dari pilihan pertama saya yaitu Nokia 6150 yg notabene mempunyai memori contact di acang itu sendiri.
    Saat ditawari untuk membeli perdana sekalian saya menolak karena saya mengetahui kartu mentari kakak saya pasti terkena biaya roaming bila dibawa ke luar kota jakarta,untuk tambahan saat itu kakak saya menggunakan Ericsson GF 768 acang pendahulu T10 yang sangat fenomenal.
    Akhirnya saya mempunyai acang saya sendiri sebuah Nokia 5110 warna hitam yang pada akhirnya akan menjadi acang sejuta umat.
    Selama dua hari mempunyai acang tersebut,yg belum mempunyai sim card saya cuma bisa membaca buku panduan dan berhayal2 untuk segera menggunakan dan memainkan game legendarisnya “snake”.
    Kebetulan saya adalah pemilik acang pertama diantara 4 sahabat saya yang lain,yg akhirnya cuma bisa menghidupkan dan mematikan acabg tersebut karena benar2 tdk dpt berfungsi tanpa sim card.
    Singkat cerita saya berangkat ke jogja,dan mulai mencari sim card.
    Saat itu saya jadi rajin membeli koran Kedaulatan Rakyat yang saat itu paling rajin menampilkan iklan nomer cantik.
    Sama dengan dijakarta,harga perdana di jogja juga ‘gila’.
    Untuk menebus sebuah perdana mentari yang nomernya biasa saja saat itu harus menyiapkan dana minimal 1juta rupiah lebih gila lagi untuk perdana simpati minimal 1,5 juta rupiah.belum lagi bula si pedagang mengklaim kalau perdana yang dijual adalah nomer cantik,tidak tanggung2 mereka meminta untuk menukar dengan sebuah mercedes c180 yg saat itu sedang naik daun.
    Setelah berburu kurang lebih seminggu di sela2 masa ujian masuk perguruan tinggi yang saya lakukan,mata saya tertuju ke sebuah iklan perdana XL bekas yang nomernya gak jelek2 banget dan harganya paling murah diantara iklan yang lain.kalau dipikir saat ini gak ada yang mau beli perdana second,saya pikir saya pasti gila,menebus perdana second sehara 600rb dengan pulsa sekitar 70rb an.dengan menggunakan taksi (krn saat itu saya belum punya motor) saya bergegas ke rumah si penjual yang lumayan jauh dari rumah kos saya.
    Setelah setengah jam mencari akhirnya saya bertemu dengan si penjual,awalnya dia menawarkan harga 650rb setelah tawar menawar akhirnya deal dengan harga 600ribu.sisa uang nya untuk naik angkot pulang ke rumah kos,itu pun harus bertanya2 dahulu harus naik jalur nomer berapa untuk sampai ke rumah kos.
    Dalam perjalanan saya sudah tidak sabar untuk sampai ke rumah kos yang baru saya sadari kenapa acang nya tidak saya bawa supaya bisa langsung dicoba,sampailah saya di rumah kos segera berlari ke kamar dan menyisipkan sim card tsb ke acang saya dan…
    Voilaaa Nokia 5110 saya akhirnya menyala denan sempurna.
    Setelah membaca tarif perdana tersebut akhirnya saya memberanukan diri untuk menghubungi pacar saya yang ada dijakarta sekedar untuk memberitahukan nomer saya yang baru.
    Tapi apa daya baru sekitar 7 menit berbicara akhirnya pulsa pun habis,dan baru bisa saya isi ulang nanti pada saat saya menerima uang saku awal bulan.dan akhirnya saya hanya bisa menjadi pengguna acang aktif ngegame tetapi pasif komunikasi.
    Cuma game snake dan setting ringtone yang bisa saya gunakan sampai awal bulan datang.
    Hingga suatu ketika ibu kos harus merelakan asisten rumah tangganya pulang krn suatu hal dan mengganti yang baru,yang awalnya terlihat baik sekali ternyata hanya membaca kondisi kos dan mengambil acang saya tersebut disaat saya mandi.
    Pencarian berlangsung sampai 3 hari dan akhirnya saya bisa menemukan dia dirumah kakaknya yg tidak jauh dari rumah kos saya.
    Saya diantar ke rumah pamannya di semarang dimana dia menjual acang saya ke pamannya.
    Dengan cuma2 acang saya dikembalikan tetapi permasalahan baru muncul,nomer saya sudah melewati masa tenggang dan hanya bisa diaktifkan kembali bila di migrasi menjadi pasca bayar.
    Setelah pertimbangan dan bertanya2,akhirnya saya memutuskan membeli perdana baru di XL Center cabang Mal Galeria,yg saat itu tdk boleh memilih nomer dengan harga 475rb dengan pulsa 200rb yang sampai saat ini masih saya gunakan sejak tahun 2000 awal.
    Cerita selanjutnya adalah saya menjual Nokia 5110 saya tersebut untuk ditukar dengan 2 (dua) Nokia 8110 (banana) yang saya niatkan untuk memberikan salah satunya ke ibu saya supaya beliau juga punya acang dan bisa berkomunikasi dengan saya yang di jogja dan kakak saya yang ada dijakarta.
    Sempat bekerja di beberapa counter acang,memiliki sendir counter acang dan terdampar di Call Center XL dan sekarang bekerja di perusahaan fotografi di jogja.
    Karena pernah bekerja di beberapa counter acang dan entah berapa kali saya berganti acang,akhirnya sampai saat ini saya jatuh cinta dengan communicator dan masih mengoleksi 9110,9110i,9210,9210i,9500,9300,9300i,E90 dan E7 dan E72 ( bukan commie).dan saat ini masih mencari Nokia 9000 yg sangat legendaris.
    Acang yang saya gunakan sekarang HTC One SC,Nokia 301 dual,Nokia 210 dual,Nokia 6275i cdma dan Nokia 6235 cdma.
    Itu lah sekelumit cerita tentang acang pertama saya yang ngelantur sampai ke acang yang saya gunakan saat ini.
    Terima kasih

  60. ‘Ericssonku Sayang, Ericssonku Malang’

    Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-XV yang digelar 19-30 Juni 2000 di Surabaya, ternyata menjadi momen paling bersejarah bagi
    perkembangan piranti telekomunikasiku. Di era itulah, aku ‘dipaksa’ memiliki perangkat teknologi bernama ponsel.

    Tidak seperti periode sekarang, di masa itu masih belum banyak orang Surabaya yang menenteng ponsel. Piranti telekomunikasi
    mobile yang banyak disarungkan di pinggang waktu itu, mayoritas masih berujud pager (radio panggil-red).

    Saya memang bukan atlet. Saya juga bukan juri cabang olahraga tertentu. Tapi sebagai jurnalis media terbitan Jakarta yang sedang diperbantukan di Surabaya, teknologi komunikasi untuk melaporkan update hasil pertandingan olahraga waktu itu, tak
    bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan pager.

    Atas dukungan kantor tempat saya bekerja, sebuah ponsel Ericsson GA-628 second akhirnya berhasil saya kantongi. Ponsel
    bersejarah itu dibeli dengan harga pertemanan Rp 600 ribu, dari seorang teman sesama wartawan.

    Menurut sang pemilik, ponsel berasesoris lampu kelap-kelip di antenanya itu dia beli Rp 1,2 juta, dua tahun sebelumnya.
    “Harga pasaran secondnya masih Rp 800 ribu, tak apalah Rp 600 ribu. Toh saya diuntungkan juga kalau kau punya ponsel,” ujar
    sang pemilik yang sama-sama diperbantukan di desk olahraga tersebut.

    Atas saran beberapa teman media terbitan Jakarta yang membuka posko sementara di Wisma PGRI Surabaya, saya akhirnya memilih kartu perdana XL. Harga kartu perdana yang kini bisa didapat dengan harga Rp 2 ribu perbuah itu, di masa lalu baru bisa saya miliki setelah merogoh kocek hingga Rp 300 ribu sebuah.

    Berkat Ericsson, saya tak merasa perlu lagi pontang-panting cari wartel, tiap kali usai meliput cabang olahraga karate di GOR
    Delta Sidoarjo. Warnet di masa itu, memang masih jarang bisa ditemui, apalagi di kota selevel Sidoarjo.

    Tapi masalahnya, tarif komunikasi waktu itu masih belum diobral seperti sekarang. Hanya butuh waktu satu minggu untuk menghabiskan voucher pulsa Rp 100 ribu. Bila dibandingkan kondisi sekarang, pulsa sebanyak itu bisa digunakan untuk masa
    pemakaian selama dua bulan.

    Bangga

    Punya ponsel memang memicu rasa percaya diri. Bangga rasanya bila sedang menerima telepon di depan publik. Apalagi asesoris
    antena Ericsson GA-628 yang kugenggam, terlihat menyala tiap kali digunakan. Sungguh ponsel yang lumayan hebat, pada
    zamannya.

    Tapi sayangnya, kebangaan menggunakan ponsel bersejarah itu, tak bertahan lama. Kecerdikan kawanan pencopet bus kota,
    ternyata jauh lebih hebat dibanding kewaspadaan yang sejak awal sudah kupersiapkan.

    Aku ingat betul ketika enam orang bertato, berdiri berjubelan mengerumuniku di pintu belakang bus kota jurusan Sidoarjo-
    Surabaya. Sadar sedang berada di tengah kawanan copet, spontan tangan kanan kugunakan untuk melindungi dompet di saku celana belakang.

    Tangan kiri kusiagakan dengan tetap memegangi saku baju depan yang didalamnya tersimpan ponsel kebanggaan. Tapi sang copet
    jauh lebih cerdik. Seseorang dari belakang tiba-tiba mendorongku keras-keras.

    Reflek, tangan kiriku langsung menggapai besi pegangan yang membujur di atas tempat duduk. Dalam hitungan detik, tangan
    kiriku kembali memegangi saku baju depan. Tapi ternyata, sang ponsel sudah berpindah tangan.

    Perasaan kecewa tentu saja ada. Apalagi sang kondektur yang kulapori, malah beringsut menjauhi kawanan copet bertato yang
    mendadak turun berhamburan di kawasan Waru Sidoarjo.

    Beruntung saya tinggal di Surabaya. Sebagai kota besar kedua setelah Jakarta, kota ini banyak dimanfaatkan para produsen
    ponsel untuk menggerojok pasar. Ericsson malangku mulai terlupakan, setelah Siemen C-35 berhasil kukantongi. Entah dimana kini Ericsson yang pernah mengukir sejarah kepemilikan ponselku itu kini berada.(Andira)

  61. Sampai tahun 2011 saya tidak tertarik untuk memiliki ponsel dengan alasan pemiliknya lebih cenderung memilih ponsel karena alasan ”gaya” ketimbang fungsinya.Sehingga dirumah hanya ada satu ponsel,milik istri saya.Hingga munculah kebutuhan saya akan informasi yang sulit saya penuhi karena saya tinggal di pedalaman Jalur lintas sumatra(sebelah Mapolsek MuaraBeliti)Lubuklinggau Sumsel,31661.Cara yang mudah dan cepat adalah memiliki ponsel dengan kemampuan browsing internet yang memadai.

    Setelah riset selama tiga bulan,jatuhlah pilihan saya pada Samsung Galaxy Mini.Padahal saat itu lingkungan saya sangat Nokia banget.Tapi bila dikompare,dengan harga yang lebih murah saya dapat spesifikasi yang lebih baik untuk ponsel kelas yang sama.

    Demikian pengalaman saya tentang ponsel pertama saya.Kiranya bisa menjadi pencerahan bagi yang sedang berencana memiliki ponsel baru.Fungsi lebih utama dari penampilan.He..he..he.

  62. Handphone pertama saya adalah Nokia 5210. Dibeli bulan September 2002. Waktu itu saya beli handphone karena agar gampang dihubungi kalo kakek lagi sakit. Maklum di rumah nggak ada telpon rumah.
    Kenapa memilih Nokia 5210 karena tampilannya yg sporty, kecil, dan kayaknya tahan banting. Handphone ini saya pakai sampai tahun 2006.
    Serunya pakai handphone ini walau layarnya masih monokrom, suara ringtonenya juga masih diedit pakai notasi, tapi tetep nggak terlupakan sampai sekarang.

  63. Ponsel pertamaku adalah Nokia 3210 warna Hitam, yang merupakan harta warisan keluarga. Dibilang harta warisan karena memang urut-urutannya dari ayah diwariskan ke kakak, lalu diwariskan ke saya. Tangan ke-3…

    Masih ter-ngiang di telinga bunyi sms-nya yang nyaring dari ponsel ini. tit tit tit.. tiiit tiiit.. tit tit tit.. Begitu bunyinya…

    Tahan banting!! Karena sudah berkali2 dijatuhkan oleh tangan ayah, tangan kakak, & tangan saya sendiri, tetapi tetap bisa berfungsi dengan normal. Untungnya juga ponsel ini bisa diganti-ganti casing, sehingga lecet, bocel & retak akibat jatuh dapat disamarkan dengan baik.. Tidak seperti ponsel touchscreen jaman sekarang yg sekali jatuh, bukan casingnya yg harus diganti, melainkan LCD-nya…

    Tidak lupa ponsel ini dipasangkan dengan nomor Simpati yg dulu harga perdananya masih 250 ribuan. Keduanya menjadi pendamping komunikasi yg handal.

    Petualangan Nokia 3210 ini pun tidak berhenti di tangan saya, karena kemudian ponsel ini diwariskan ke tangan ibu saya, yang kemudian diwariskan juga ke tangan saudara, sampai akhirnya tidak terdengar lagi bagaimana kabar terakhirnya…

    Nokia 3210 sudah menjadi bagian dalam keluarga kami & tetap menjadi kenangan…..

    Louis J Arthur
    Surabaya

  64. ponsel pertamaku yaitu nokia 3310 waduh lupa saya pake ponsel itu sekitar tahun berapa ya? saat itu saya sangat senang sekali pake nokia 3310, bisa ganti casing warna warni, terasa gaul gitu jika barusan ganti casing. Keypad empuk, dan pastinya khas dgn ringtone monoponic nokia dengan suara melengking dan bisa narik perhatian jika di setting volume besar. Walopun saat itu belum marak berinternet via ponsel rasanya pakai 3310 sudah keren dan update. Selain telpon dan SMS saya sering main game snake. Apalagi setelah agak lama saya pake katanya nokia 3310 dinobatkan sebagai ponsel sejuta umat. wiih makin cinta ama nih ponsel hehe

  65. Ponsel pertama saya adalah motorola d160.
    Saya inget banget tipenya karena saya nyebutnya motorola lontong (bentuknya kaya lontong dibagi dua, hehehehe….).
    Motorola ini saya dapat dari orang tua saya karena beliau dulu pakai kartu kredit tertentu dan motorola ini gratis dengan bundlingan excelcomindo.

    Saya masih kuliah dulu. Rasanya kalau bawa hape ini udah supergaya dan supercool di kampus.

    Dulu taruh di saku jeans belakang dan dapat dipastikan badan ponsel nongol dikit beserta antene nya.
    Kalau lagi nongkrong, tu ponsel digenggam terus supaya bisa dilihat cewek cewek kampus. Hahahaha….

    Trus juga karena bundlingan pascabayar excelcomindo, tagihan autodebet kartu kredit orangtua. Saya ingat diomelin habis habisan karena tagihannya mencapai 1.8 juta pada masa itu.

  66. Ponsel pertamaku adalah Siemens S25, bentuknya cukup mungil untuk ukuran ponsel pada masanya, masih menggunakan antena, layar monochrome, dan yang paling saya suka adalah anti mainstream karena pada saat itu mayoritas orang indonesia memakai Nokia.
    Yang membuat spesial adalah hp ini saya peroleh dari lungsuran ayah saya, yang ternyata lungsuran juga dari kakek saya.
    Hp ini saya peroleh sekitar tahun 2002 (kuliah semester 3) harga tentu saja tidak tahu (namanya juga lungsuran), namun performanya sangat memuaskan, bahkan secara penampilan lebih keren siemens s25 ini daripada beberapa merk nokia. mungkin hanya fitur yang membuat nokia unggul.
    Hal yang paling mengesankan adalah ketika baru jadian dengan pacar saya (sekarang istri saya) ternyata dia memakai hp Siemens S25 juga namun berbeda warna.
    Sampai menghilang dari pasaran, saya cukup setia dengan merk siemens karena saya memakai beberapa hp siemens selain s25, yaitu s45, c55 (dengan kamera portabel), dan BenQ Siemens.
    Namun yang paling menyedihkan adalah manakala ada yang rusak spareparts siemens susah didapat dan ketika dijual harga jualnya terjun bebas, selebihnya hp siemens ini terutama s25 sangat mengesankan buat saya

  67. hp pertama saya adalah hp siemens me45, itu adalah hp peninggalan almarhum bapak saya yang meninggal thn 2005, maklum pada saat itu saya lagi nganggur jadi untuk punya hp pada jaman itu adalah barang yang paling mewah, pada saat itu lagi trend trend nya nokia .
    menurut saya hp siemens me45 itu udah lumayan canggih dijamannya, layarnya udah monokrom warna kuning,udah bisa internetan walau cuma di gprs,udah bisa tukeran ringtone/kontak via infra red,fiturnya lumayan lengkap walau tanpa radio fm (pada jaman itu yang ada radionya baru nokia 2300 aja). game nya udah lebih canggih dibanding nokia yg cuma game snake, pokoknya hp siemens me 45 itu adalah hp featured phone pada jamannya, sayang nya hp itu hilang diangkot pada thn 2007,
    itulah kisah hp pertama saya, semoga bisa menang ya cak herry … 🙂

    joko agus sumantri
    Kebon Sayur, Jakarta

  68. Ponsel pertamaku adalah Samsung SGH 2400…Emang gokil ni tantangannya gua udah lupa tipe hpnya gua mesti seach di google…. singkat cerita hp itu g beli second di jkt, waktu itu mesti kuliah n jarak jauh sama bokap nyokap jadi mesti beli, hp sama kartu waktu itu sama mahalnya nomer 600 ribu, hpnya 2 jutaan, tapi hebatnya hp itu pernah jatuh pas gua turun dari mobil sampe terbelah 3 hpnya masih bisa nyala, waktu itu soalnya gua juga jauhan sama pacar di sby petra, anehnya waktu itu gua jadian setelah gua diterima di Jkt cewek gua di sby so pacaran long distance sih …Banyak kenangan sama hp itu sih, g pake sekitar 4 tahun lo, akhirnya waktu g jual hp itu juga laku mahal lo, nokia 5110 waktu dulu 2 jutaan cuma dihargai 200-300 samsung gua bisa 700 an…waktu sma kakak gua udah pada punya nokia 5110 yang waktu itu hp sejuta umat…tapi gua ga mau minta karena emang belum butuh so menunda kesenangan itu juga berlaku lo …kalo sabar bsk pasti dapatnya lebih baik….waktu itu gua demen soalnya hpnya kecil dan yg pasti ga sejuta umat….:p 🙂 Gitu dulu deh ini crita asli dari gua Purwaka yang saat ini di Yogyakarta.

  69. Motorola 8700, si bongsor dan boros power.

    Dikala film Hongkong, para mafia menenteng handphone seperti botol minum, saya menenteng Motorola 8700 di tahun 1997.
    Rasanya keren banget, warna hitamnya juga macho. Ketika butuh telepon, orang lain akan mencari uang logam untuk ke telepon umum, saya tinggal mengeluarkan si bongsor.

    Berapa harganya kala itu? Jangan ditanya, karena melewati perjuangan habis-habisan untuk mendapatkannya, hahaha…

    Lampu hijau menyala ketika pencet-pencet keypad, layar monochrome yang keren (kala itu). Pilihan untuk ringtone yang bunyi khas Motorola.

    Hal yang sangat saya banggakan dari handphone ini, sim card tidak perlu dipatahkan dari cangkangnya, tinggal masukkin, power on dan siap ber-telepon-ria. Kekuatan flipnya tidak perlu diragukan. Walau flipnya tipis, dalam posisi flip terbuka dan kita hanya memegang flip, flip tersebut tidak akan patah. Melihat ukuran handphone ini yang bongsor, kita pasti berpikir mudah patah. Mengenai kekuatan flip ini, vendor asal Korea pernah menerapkan kekuatan flip ini pada produk mereka menjelang tahun 2000.
    Sinyal kurang? Bisa dibantu dengan menarik antena.

    Sayang handphone ini battery-nya boros. Setelah penggunaan 6 bulan, saya harus berpisah darinya.

    Budiyanto – Jakarta Selatan
    === I ===

  70. Melihat perkembangan ponsel saat ini dari smartphone sampai tablet,saya membayangkan waktu berjalan mundur ke belakang sampai ponsel yang mendapat perhatian saya di tahun 2000. Ibarat seperti ungkapan “First love never die” seperti itulah kesan saya saat mulai mengenal ponsel.

    Ponsel pertama yang mencuri perhatian saya adalah Nokia 5110 saat saya ke Jakarta bulan Agustus 2000 untuk melihat keadaan ayah saya yang ke Jakarta bertepatan dengan kelahiran anak kedua saya (Silvia Sutio) tgl 19 Juni 2000. Biarpun Nokia 5110 itu milik saudara saya tapi saya diijinkan memakainya saat keluar rumah sementara ia memakai Nokia 6150. Kesan pada ponsel Nokia 5110 terutama pada casingnya yang bisa diganti terutama casing bergambar tokoh kartun Bugs Bunny (casing tersebut masih ada saat saya ke rumahnya di tahun 2010). Sejak saat itu saya ingin memiliki sebuah ponsel yang saat itu hanya bisa untuk telepon & SMS saja. Untuk tipe apa,saya sepenuhnya mendengar pendapat & referensi abang tertua saya yang memiliki Nokia 5110 & 6150 tersebut.
    Ia meminta temannya yang tinggal satu kota dengan saya untuk mencarikan ponsel bekas Nokia 6150/5110 yang masih baik & mulus untuk saya.

    Setelah menunggu beberapa bulan sejak pulang dari Jakarta,akhirnya teman abang saya mengantar sebuah ponsel bekas Nokia 6150 warna biru ke rumah saya yang terletak di Pematang Siantar, Sumatera Utara (Jarak toko teman abang saya ke rumah saya hanya sekitar 9-10 ruko).

    Saat pertama kali memegang Nokia 6150 tersebut,perasaan saya sangat gembira sekali karena saat itu yang saya pegang adalah ponsel PERTAMA saya biarpun sebelumnya saya pernah memegang Nokia 6150 milik abang saya. Perasaan tersebut pastilah sangat berbeda yang diibaratkan pepatah “Jelek jelek milik sendiri”

    Biarpun di tangan saya sudah memiliki ponsel Nokia 6150 tetapi itu tidak membuat saya lansung membeli kartu perdana agar dapat memakainya. Sampai saat kelahiran anak ketiga saya (Charlie Sutio) pada tanggal 9 Agustus 2001,barulah saya segera membeli kartu perdana Simpati edisi HUT 25 tahun Telkomsel seharga Rp 650.000 dgn pulsa didalamnya Rp 500.000. Kata pegawai toko ponsel yang menjualnya itu no perdana termasuk cantik karena tidak ada angka 4 dari no perdana Simpati 0812656****. Angka 4 dalam komunitas orang tionghua umumnya bukanlah angka bertuah/baik dibandingkan angka 8.
    Sebagai orang yang baru mulai start memakai ponsel,saya pun tidak banyak bertanya lagi lalu membelinya dan menuju klinik bersalin milik Dr.Maruli Pardede,SpOG (saat ini beliau sudah meninggal dunia) tempat dimana semua anak saya dilahirkan (Lily,Silvia,Charlie).

    Di klinik tersebut,saya memasang kartu perdana Simpati tadi ke ponsel pertama saya Nokia 6150 sambil menemani istri saya yang rehat di tempat tidur beberapa jam setelah ia melahirkan anak ketiga. Hal pertama yang saya lakukan setelah ponsel & SIM telah aktih adalah mengirim SMS tentang istri saya telah melahirkan anak ketiga pada hari itu (9-8-2001) ke ponsel abang pertama saya di Kebun Jeruk,Jakarta dan ponsel abang kedua di Taman Duta Mas,Jakarta.
    Saya tidak menelpon karena saat itu masih mahal dan saya memutuskan menyampaikan informasi tersebut melalui SMS yang biayanya saat itu Rp 350/SMS/160 karakter. Karena baru pertama kali memakainya,saya sampai mengirim SMS yang sama beberapa kali karena tidak tahu apakah kedua saudara saya ada menerima SMS saya tidak. Sampai kakak ipar saya telepon dari Jakarta barulah saya tahu SMS saya sudah mereka terima. Jadi saya sekalian minta tolong kakak ipar saya untuk menyampaikan kabar kelahiran anak ketiga saya kepada ayah saya yang masih di Jakarta sejak 19 juni 2000 (almarhum ayah saya tidak sempat bersua dengan anak ke2 & ke3 saya karena keburu meninggal pada 15 Juli 2002)

    Kini sudah sekitar 13 tahun berlalu & saya juga tidak memiliki ponsel pertamaku dan SIM card pertamaku,tetapi………casing Nokia 6150 yang masih baru (pemberian abang pertama saya) dan casing alumunium perdana HUT 6 Tahun Telkomsel masih saya simpan dengan baik. Setiap saya melihatnya,kenangan masa lalu selalu terlintas di pikiran saya dan saya selalu menceritakan kronologis ponsel & SIM card pertamaku kepada anak2 saya seperti orang tua yang menceritakan dongeng sebelum tidur yang dalam kenyataannya itu adalah cerita nyata yang bukan direka reka. 🙂

    Demikianlah kisah yang ingin saya ceritakan tentang “Ponsel Pertamaku” dan secara tak disengaja juga untuk menceritakan tentang “kartu Perdana Pertamaku”.

    Terima kasih.

  71. Siemens M35. Warna Kuning – Hitam.
    Ya. Itu ponsel yang pertama kali saya beli. Saya beli di Thamrin Handphone Center, Jakarta. Harganya, waduh lupa. Dulu sekalian beli perdana Simpati dengan pulsa 100 ribu. Harga perdana Simpati saat itu masih 400 ribu rupiah.
    Meskipun ponsel yang saya beli ini punya status BM, buat saya ngga masalah. Ini ponsel berasa bikin keren yang punya. Hahaha.. Coba ingat-ingat iklannya di TV, keren banget deh.
    Kira-kira 6 bulan pemakaian ternyata terdapat garis di layar ponsel. Meskipun ragu, ponsel saya bawa ke service center Siemens di jalan Iskandarsyah, Blok M, Jakarta Selatan. Ternyata tidak ada kesulitan berarti. Ponsel tetap diterima meskipun BM. Layar harus diganti dan saya harus membayar biaya sparepart dan jasa. Andai ponsel resmi dan masih garansi tentu saya membayar lebih murah atau mungkin tidak sama sekali.
    Seingat saya, saya tidak mempunyai keluhan apapun terhadap ponsel ini. Setelah sekian lama, saya lupa berapa lama, akhirnya saya harus merelakan menjual ponsel dikarenakan terpikat oleh merk dan type ponsel yang lain.

    Demikian.

    Taufik Ismail
    KTP Jakarta Timur – tinggal di Depok

  72. Ponsel pertama saya adalah Motorola Talkabout T205 warna kuning. Semoga Google Image tidak salah memberi info, karena jujur yg saya ingat hanyalah Talkabout. Lupa model apa.
    Saya cuma search “Motorola Talkabout”, lalu liat model mana yg paling pas.

    Ponsel itu dibelikan oleh orang tua saya tahun 2000 di Batam. Waktu itu saya masih kelas 3 SMP. Kebetulan saya bersekolah di SMP swasta, jadi tidak heran kalo
    lumayan banyak siswa yg sudah membawa HP. Seingat saya, di kelas saya tergolong “minoritas”, karena saya sendiri yg pakai Motorola. Sedangkan yg lain
    kalau gak Nokia ya Ericsson.

    Sebagai pelajar yang baru “ngeh” dengan HP, tentu saja HP saya gunakan hanya utk telpon dan SMS. Tidak lebih dari itu. Dan memang saat itu smartphone di Indonesia belum booming
    seperti sekarang. Sayangnya, umur ponsel ini tidak panjang. Hanya bertahan sampai saya kelas 1 SMA. Saat itu, mulai ada teman2 yg membawa HP yg lebih wah, misal
    Nokia 8310 yg kecil tapi cantik, atau smartphone Ericsson R380. Supaya dibelikan HP baru oleh orangtua, akhirnya Motorola Talkabout ini saya rendam di gelas plastik berair,
    lalu saya masukkan kulkas. Saya biarkan beku 1 atau 2 hari. Lalu saya keluarkan, keringkan, dan dicharge lagi. Sempat nyala utk beberapa saat lalu mati. Hehehe.
    Dan memang akhirnya saya mendapat HP pengganti, yaitu Nokia 5510.

    Oh ya, sejak tahun 2000 sampai post ini ditulis, saya masih berdomisili di Jakarta Selatan

  73. NOKIA 3330. Ini adalah HP pertama yang saya miliki. Harga HP saat itu masih selangit. Untuk membeli HP ini saya harus menabung dulu.Tetap aja untuk HP baru ternyata budget nggak nyampe, walhasil saya beli yang 2nd tapi kondisi masih sangat mulus dan lengkap. Kalau tidak salah ingat harga Nokia 3330 yang saya beli saat itu adalah sekitar 1.75 jutaan.

    Saat itu HP sejuta ummat adalah Nokia 3310, cuma karena ingin agak beda saya pilih kakaknya, yaitu Nokia 3330. Bedanya kalau tidak salah si 3330 ini udah support gprs sedangkan 3310 belum. Saat itu berasa canggih banget ini hp. Bangga gimana gitu memakai hp ini.

    Pengalaman bertelepon dengan ponsel pertama saya ini nggak mulus ternyata. Sebagai orang yang anti mainstream saya membeli perdana IM3 yang saat itu harganya masih di atas 250 ribu rupiah. Dan kecewa bukan main karena di tempat kerja saya, di Cikarang, saat itu belum ada sinyal IM3. Walhasil harus mengalah pada keadaan dan terpaksa membeli nomor sejuta ummat (telkomsel), lagi-lagi dengan harga yang hampir 300 ribuan.

    Saat itu aktifitas oprek HP yang paling sering saya lakukan hanya sebatas memasukkan ringtone2 lucu yang memang bisa dipersonalisasi. Tren masa itu adalah gonta-ganti ringtone, contoh-contoh ringtone banyak tersedia di media massa yang membahas tentang ponsel. Geli sendiri kalau mengingat hal ini hehehe.

    Perpisahan dengan HP pertama nan “unyu” ini terjadi di angkutan umum. Dan hilangnya si 3330 ini baru disadari ketika udah sampai rumah #huhuhu. Ini HP yang paling berkesan buat saya. Bener mungkin kata orang kalau cinta pertama itu sulit dilupakan #eaaa

    Nama : Iman Sulaiman
    Kota : Setiabudi – Jakarta Selatan

  74. Ponsel pertamaku adalah Siemens S35 silver.
    Waktu itu penulis berhasil magang sekitar awal 2003 di perusahaan otomotif terbesar di Indonesia yang kala itu masih memiliki divisi produksi di wilayah Sunter. Ketika mendapat uang saku di bulan pertama, langsung terpikir untuk mencari ponsel. “Pasti bangga bisa beli ponsel dengan uang sendiri”, pikir penulis. Akhirnya penulis pergi ke pusat pertokoan yang terletak di perempatan Cempaka Putih. Wah, harga ponsel waktu itu cukup mahal bagi kantong penulis. Uang saku yang hanya 1,5juta per bulan bisa habis untuk beli ponsel baru satu biji ^_^. Akhirnya diputuskan untuk beli ponsel tangan kedua. Pilihan dijatuhkan pada merek Siemens yang kala itu terkenal “high value” untuk perbandingan harga dan fiturnya. Pasti lebih ‘Good deal’ dibanding dengan dengan merek yang “overpriced” yaitu Nokia waktu itu. Dengan berbekal sedikit baca-baca iklan baris di koran, Siemens S35 lah yang dipilih. Ponsel itu berhasil dipinang dengan mahar sebesar 350rb setelah melewati sedikit tawar-menawar dengan penjual. Kondisinya lengkap dan masih bergaransi 3 bulan. Si Siemens S35 disandingkan dengan kartu perdana Mentari 11 digit yang masih berharga 250rb waktu itu. Tipe S merupakan tipe tertinggi di Siemens. Di kurun waktu yang sama, kalau tidak salah sudah beredar tipe yang lebih baru S45 (sudah ber GPRS dan mampu dijadikan sebagai modem) dan SL45 (ponsel pertama yang memiliki slot memori ekternal dengan kapasitas sampai 64MB dan bisa memutar file MP3). Ponsel ini cukup memiliki fitur standar kebutuhan saat itu. Selain telepon dan sms, ponsel GSM Dual Band ini sudah memiliki browser WAP 1.1. Tentu saja layar masih monokrom dengan resolusi 101×80 piksel tetapi mampu memuat 7 baris yang kala itu cukup lega untuk ukuran ponsel setara. Meskipun hanya memiliki ringtone monofonik, fitur yang cukup menarik adalah ‘composer’, yaitu pengguna bisa ‘menggubah lagu’ sendiri dengan menu yang ditampilkan dalam not balok. Penulis cukup senang memainkan fitur ini dan hasilnya bisa dipergunakan sebagai nada dering, pengingat, pesan masuk atau notifikasi lainnya. Fitur lain yang cukup istimewa adalah adanya perekam suara. Meskipun hanya mampu merekam 20 detik, fitur ini membuktikan bahwa ini adalah ponsel cukup berkelas pada masanya dibandingkan dengan ponsel sejenis dengan rentang harga yang sama. Terlebih lagi siemens S35 juga memiliki infrared yang mampu dipergunakan untuk bertukar kontak dan konten lainnya dengan peralatan sejenis yang kompatibel. ‘Overall’, penulis sangat puas dengan ponsel yang mampu bertahan lebih dari 2 hari sekali penuh baterainya.Ini cukup umum pada waktu itu tetapi sangat luar biasa untuk ponsel sekarang ini ^_^. Ponsel ini hanya bertahan 3 bulan di tangan penulis yang waktu itu memutuskan untuk meng-upgrade-nya, dan tebak apa pilihan penulis? iya, setipe lebih tinggi dan tangan kedua juga, S45 🙂 Itu cerita ponsel pertamaku, mana ceritamu?

    Wuri BC Prasetyo
    Pamulang

  75. Dear, Siemens a35.

    Makasih uda jadi ponsel pertamaku.
    Masi inget banget, waktu itu beli pas kelas 2 SMA. Emang sihh bukan ponsel canggih, karena temen-temen yang lain uda pada pake Nokia 8210, Ericsson t10s, dll. Tapi Siemens a35 ini aku beli dari hasil kumpulin duit jajan selama 6 bulan, kalau ga salah waktu itu harganya 600rban. Bangga banget dong.
    Yang bikin ga kalah ama ponsel lain, cover disekitar layar Siemens a35 ini juga bisa diganti lhoo. Dulu punya 3 macam, warna silver, kyk fire flame, ama biru laut. Eits satu lagi, ponselku ini juga badak banget alias tahan banting. Cukup puas dehh ama Siemens a35 ini, berasa ga salah beli dahh.

    Jd inget waktu iseng setting ponsel ini aku pake bahasa Prancis. Jd tau kalau bahasa Prancis nya “menunggu” itu “responde SVP”. Asli, norak banget. Tapi justru gegara itu ponselku jd jarang dipinjem ama temen-temen, pada bingung ama bahasanya, hahaa.

    Ahh, time flies. Kalau boleh mengulang, mau dong pake Siemens a35 lagi. Yayayaa.

    Rizqi Eko Nugroho
    Ngawi, Jawa Timur

  76. Ponsel pertama saya Ericsson GF 337, lupa berapa harga nya waktu beli tahun 1997-1998.waktu itu saya kerja disebuah PH didaerah Roxy Mas.Pernah waktu liputan ke rumah seorang seniman ternama di Jogya,tuan rumah nya sampe kagum”Wah qrew nya pada pake Handphone”,hehehe

  77. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Beli handphone karena MALU sama Pak Sopir
    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Setelah menikah, saya minta dimutasi bekerja di Jakarta, bukan tanpa alasan. Tetapi karena kekasih hati ada di Jakarta pula.

    Di awal era 2000 an sebenarnya handphone sudah mulai banyak, tetapi saya bekerja di bidang IT, yang hampir sepanjang hari “duduk manis” di kursi sambil “melotot” di komputer, plus ada seperangkat telpon yang terhubung PABX. Jadinya saya merasa tidak perlu untuk membeli handphone.

    Saya juga merasa tidak perlu beli handphone, karena sudah merasa jadi “penguasa” internet di kantor. Email dan YM adalah bukan barang mewah buat saya pada jaman itu, sebab tempat berkantor saya di gedung yang sudah support akses internet 24 jam, walaupun masih “miskin bandwidth”.

    Tetapi timbul masalah baru, setelah saya mulai dipercayai untuk juga “mengurusi” plan site yang masih se-holding, yang letaknya jauh dari kantor saya, di luar kota. Waktu itu kalau belum sampai di plan site, maka saya belum bisa dihubungi baik oleh orang – orang kantor maupun oleh istri. Sebenarnya dalam hati sudah “ingin” punya handphone, tapi saya masih bisa beralasan untuk tidak beli, sebab perjalanan ke plan site masih jarang – jarang sekali.

    Tapi karena kejadian yang saya alami inilah saya “kepepet” untuk harus punya handphone !!! harus !!! karena saya malu …..

    Kejadiannya, berulang beberapa kali selama 6 hari kerja seingat saya, pas suatu ketika saya harus implementasi sistem backup dengan menggunakan tape backup. Dimana saya harus ketemu vendor maupun cari “kaset” nya di salah satu daerah “elektronik” di jakarta

    Singkat cerita di tengah perjalanan “Big Boss” cari saya karena sesuatu hal, sekretaris nya bingung sebab saya sulit dihubungi karena nggak punya handphone. Tetapi si sekretaris ini memang “punya daya ingat tajam”, dia ingat kalau sopir kantor yang mengantar saya punya handphone, saya ulangi ya, sopir kantor punya handphone (jangan bayangkan ini terjadi di awal tahun 2000 an, dimana handphone belum semurah sekarang, apalagi merk China belum banjir kayak sekarang).

    Sekali, dua kali mungkin nggak apa – apa, pinjam handphone sama pak sopir. tetapi lama-lama khan malu. Handphone khan sesuatu yang pribadi banget, dan saya jadi nggak enak mosok saya “kalah” sama pak sopir (maaf saya tidak meremehkan profisi sopir).

    Dengan tekat hati yang bulat hari itu, saya pokoknya harus beli handphone, minimal bisa halo dan kirim sms (jangan bayangkan bisa internet atau gps ya).

    Handphone pertama saya adalah handphone “sejuta umat” yaitu Nokia 5110. Jaman dulu HP ini “keren” karena covernya bisa diganti-ganti dan yang paling spesial Nokia 5110 punya game Snake! Inilah mobile game yang populer jaman dulu

    Setijo Agus – Surabaya

  78. di pertengahan tahun 2011 kubeli hp pertamaku, adalah LG C100 wink.
    kenapa di tahun 2011 dan bukan di tahun-tahun sebelumnya? karena di tahun itu aku baru LULUS dari SMA, dan selama masa sekolah aku tidak memegang hp, biar fokus belajar, hehe

    saya pilih hp ini karena desain qwertynya yang waktu itu susah ditemukan pada hp merk global dengan harga 500ribuan, ukuran layarnya 2,2 inchi salah satu daya tarik tersendiri bagiku mengingat hp lainnya seperti nokia, SE, dll rata berukuran 2,0 inchi, tapi sayang resolusi cuma 176×220
    akhirnya dengan rasa mantap kutelusuri no.telepon penjual hp di JOgjaTronik, dan ternyata yang menyediakan hp ini cuma 1 konter.. itupun tinggal 1 buah, wah langka juga nih HP, akhirnya saya boking tuh hp n dibeli keesokan harinya
    sesampai di rumah langsung saya coba kemampuannya, beberapa hal unik yang kutemukan:
    – desain layarnya yang portrait, padahal semua hp QWERTY rata2 layarnya landscape
    – hasil kameranya tergolong bagus dan jernih untuk outdor.. walaupun cuma mengusung resolusi 1,3 MP tapi kualitasnya bisa mengalahkan kamera hp resolusi 2 MP di kelasnya.
    – hasil rekaman suaranynya pun jernih.
    – walau HP ini gak mengusung fitur multitasking, tapi klo kita sedang main game java atau browsing pake opera mini trus ada sms masuk ada pilihan muncul: apakah mau membaca sms dan membalasnya? setelah membalas sms kita bisa lanjutin main game atau browsingnya.

    tapi hp itu hanya bertahan setengah tahun, dan dengan sedih hati kulepas hp ini, karena ternyata saya membutuhkan 2 kartu SIM yang akhirnya kulamar SAMSUNG C3322 yang mempunyai bentang layar sama dan kualitas kamera yang gak jauh beda, tapi beberapa bulan kemudian saya pengen kembali pake QWERTY seperti pada hp pertamaku yang menurutku lebih nyaman untuk mengetik, akhirnya di awal tahun 2012 kubeli hp terakhirku yang menemaniku hingga kini awal tahun 2014, hp dengan desain QWERTY dan mendukung dual sim dari salah satu vendor global yang kurang dikenal di Indonesia dan saya mengenalnyapun melalui browsing Google, yaitu ALCATEL 813D, dan saya belum punya alasan untuk menggantinya kembali dengan yang lain 🙂

    Satu hal yang membuatku heran, kenapa setiap punya hp baru selalu saja di hari pertama atau kedua hp itu terjatuh dari tanganku yang akhirnya terbanting dan meninggalkan jejak goresan (ada bagusnya, jadi tanda permanen untuk hpku), mungkin faktor grogi karena megang hp baru, hehe

    sekian dan terima kasih.

  79. Hanphone pertamaku adalah c45 milik siemens pada tahun 2002.Karena pada saat itu handphone yang terkenal dan murah adalah siemens dan pada saat itu teknologi handphonenya lebih lengkap dibandingkan pesaingnya dengan harga yang sama.sampai munculnya nokia 3230 yang membuat aku berpindah ke lain hati dan vendor.

  80. Jaman Tante Dulu

    Susah sekali mengajarkan ke keponakan kalau punya gadget itu harus dirawat dengan benar. Bukan cuma pakai dan charge saja setiap hari. Ada saatnya gadget harus dibersihkan data-data yang tidak berguna, foto-foto yang terlalu banyak, serta cache di browser. Belum lagi update OS yang harus rajin dilakukan juga.

    iPad bawaan keponakan saya memang agak tua umurnya, tapi belum bekerja maksimal karena ia kurang paham dengan kegunaan lainnya selain untuk mencari informasi dan bermain games. Belum lagi tablet yang saya tinggal di rumah untuk membantunya belajar mengarsip tulisan-tulisan centilnya yang tidak ingin dibocorkan ke orangtua. Agak miris sih mengingat Jaman Tante Dulu engga ada namanya gadget seperti sekarang ini.

    Pacaran aja saya mending modal telepon umum biar engga dikuping sama bapak ibu. Baru setelah itu mengenal pager tidit tidit begitulah bunyinya. Senang sekali melihat kiriman pesan singkat dari pacar ke nama saya Dwi Ariyani. Jaman wartel berkibar di kota Malang, saya jadi lebih terbantu untuk menelepon pacar nun jauh di sana, walau harus diketok-ketok karena sudah terlalu lama di bilik wartel.

    Dan ketika ponsel mulai diperkenalkan, rasanya saya memasuki jaman aufklarung dan mulai melek teknologi. Ponsel pertama-tapi-bekas-lungsuran dari bapak adalah Nokia 3210 berwarna abu-abu. Ponsel yang diiklannya bisa dijilat kayak eskrim dan muncul dari kulit pisang yang dikupas, itu memang sangat legit (kalau tidak sengaja jatuh ke jempol kaki). Mantap dipegang dan mudah untuk dioperasikan biar saya masih nyubi sekalipun.

    Kata orang sih mantap dipegang…

    Kenyataannya ponsel seberat batu bata itu jatuh dari pangkuan saya waktu traveling ke Kaliurang. Setelah itu saya berkibar dengan aneka tipe Nokia yang saya sukai karena mudah memakainya. Dari Nokia 3210, 3310, 8210, 3315, dari yang bentuknya normal sampai yang hits banget seperti N-Gage pernah menjadi pegangan saya. Sempat ngiler pada Nokia 6600 yang gemuk itu tapi rejeki memang belum sampai ke kantong saya.

    Dari Nokia saya menyukai Sony Ericcson kembali ke Nokia, dan sekarang (masih) tertambat di BlackBerry dengan Samsung dan iPad membayangi koleksi gadget saya. Belajar menggunakan berbagai merk ponsel membuat saya mudah mempelajari teknologi seperti saya mudah mempelajari aneka jenis motor.

    Ngga bisa disamakan sih.. tapi saya bisa bilang sama ponakan saya.. Jaman Tante Dulu, hidup tidak semudah ini.

    Tidak semudah hidup dengan bantuan gadget-gadget canggih seperti sekarang ini. Keponakan saya harus tau itu.

  81. My first phone.
    Handphone pertama saya adalah hp bersama antara saya dan kakak. Waktu itu 2001 beli di WTC surabaya. kami berdua jatuh hati pada HP Siemens C30. Mungil, keypad empuk, bentuknya menarik. waktu itu HP masih barang eksklusif. Kami berdua dibelikan HP itu karena saya baru Lulus SMA dan Kakak saya selesai skripsi nya.
    Pulang ke Palangkaraya alangkah terkejutnya melihat harga jual perdana Simpati waktu itu. 250.000 per nomor. serasa darah mau keluar dari mata.pendek cerita hp siemens itu lebih sebagai radar keberadaan saya dan kakak. karena yang mengubungi paling sering: nomor rumah…

  82. Ponsel pertama saya adalah Siemens C35. Saya tak begitu ingat berapa harganya. Kalau tak salah sih sekitar sejutaan. Yang saya ingat saat itu harga simcard perdana masih relatif mahal, masih di atas seratusribuan.
    Tak ada yang istimewa pada Siemens C35 ini. Layarnya masih monokrom, ringtone juga masih monofonik. Secara bentuk fisik juga tak terlalu istimewa. Selain ukurannya relatif besar juga ada ‘tonjolan’ antena yang lumayan mengganggu. Di samping untuk menelpon dan ber-sms-ria praktis nyaris tak ada fitur lain. Untuk hiburan di kala iseng hanya ada beberapa game ‘primitif’ dan ada ringtone composer bila ingin menggunakan ringtone yg personal. Tapi untuk membuat ringtone sendiri seingat saya cukup sulit dan hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Tapi di luar segala kesederhanaannya, apalagi bila dibanding fitur-fitur ponsel masa kini, masih ada beberapa hal positif yaitu ketahanan baterainya yang tak perlu sering-sering dicharge seperti kebanyakan ponsel jaman sekarang dan ketahanannya terhadap goncangan. Siemens c35 saya telah beberapa kali terbanting bahkan pernah sekali nyaris dicopet di bus kota namun sukses saya rebut kembali (setelah terlempar beberapa kali di dalam bus). 🙂

  83. Ponsel pertamaku pada tahun 2001 adalah merek Ericsson T29, memang typenya agak jadul dan kuno, tetapi saya suka dengan bentuknya yaang unik, bisa dibuka dan ditutup, meskipun jelek dan kuno, ponsel tersebut sangat berjasa dalam kehidupan keluarga saya, meskipun hanya bisa telepon dan sms, saat ini ponsel Ericsson ini sudah masuk museum dan masih ada sampai sekarang, masih lengkap dengan dus dan charger, sedangkan batterynya sudah bergelembung gendut seperti ibu hamil, pada tahun 2001 saya pernah kerja sambilan pada hari sabtu dan minggu saja, sedangkan hari Senin sampai Jum’at saya bekerja di perusahaan swasta nasional dengan jabatan programmer komputer, sedangkan sabtu dan minggu saya kerja sambilan di perusahaan developer properti pada bagian pemasaraan, dengan ponsel T29 dan semangat kerja yang tinggi, saya mampu menjual puluhan unit rumah di Taman Duta Mas Jelambar dan Pantai Indah Kapuk, ponsel T29 menjadi andalan saya untuk mendapatkan customer, dimana dengan modal sebar brosur, telepon dan sms, saya mau menjual puluhan unit rumah dalam waktu sebulan dan mendapat komisi penjualan rumah ratusan juta, uang dari komisi penjualan rumah bisa membeli rumah yang cukup permanen di Karawaci, Tangerang, ponsel T29 sangat besar jasanya, maka saya tidak akan membuang ponsel T29 tersebut. Demikianlah pengalaman ponsel pertama saya.

    Erwin Ronuz
    Karawaci, Tangerang

  84. Ponsel pertama yang aku miliki merek Siemens C 35, sebuah ponsel imut dan lucu yang ada antenna kecilnya. Pertama kali memiliki posel itu, sekitar tahun 2002. Bukan ponsel baru memang, karena waktu itu aku membelinya dari teman kantor. Aku sendiri lupa berapa harganya, tapi ketika pertama kali memiliki ponsel itu sangat senang. Padahal belum punya teman yang akan di telpon atau di SMS. Setiap malam ponsel itu aku main-mainin, aku masukan nomor hape kawan-kawan yang aku punya. Beberapa teman aku sms, aku bilang ini nomorku ya, dengan sedikit malu-malu. Maklum baru pertama kali pakai ponsel dan kebutuhan menelpon atau sms belum seperti saat ini. Boro-boro digunakan untuk internetan.

    O iya, ponsel itu aku beli di Jakarta. Tentu saja di kota ini, persoalan sinyal tidak ada masalah. Namun ketika aku pulang kampong, persoalan pun terjadi. Pada waktu itu, di kampungku, sebuah kampong di Kabupaten Temanggung Jawa Tengah, sinyal operator belum terlalu kuat. Jadi kalau mau mendapat sinyal aku harus pergi ke tempat yang agak tinggi. Maklum kampungku kultur tanahnya berbukit-bukit.

    Satu hal yang menarik lagi, ketika aku bawa ponsel itu ke kampong adalah pada saat itu belum banyak orang kampong yang mempunyai ponsel. Tentu saja ini saatnya aku untuk pamer ke mereka. Tapi sekali lagi, karena sinyal yang susah, akhirnya tidak bisa pamer, karena tentu saja ketika mau telpon atau sms sangat sulit sekali.

    Ponsel itu aku miliki tidak terlalu lama, mungkin hanya setahun saja. Ponsel itu hilang disebuah bis kota ketika aku jalan-jalan ke Ancol. Jadi ketika mau turun dari bis, ada segerombolan orang yang mendesak-desak. Ternyata itu segerombolan copet. Aku baru menyadarinya setelah turun dari bis. Dengan perasaan sedih aku tetap melanjutkan jalan-jalanku di Ancol tanpa ponsel kesayanganku.

    Itu cerita ponsel pertamaku.

  85. Peter Adi
    lokasi di Malang

    Saya pertama kali memiliki ponsel waktu kelas 3 SMA,sekitar tahun 2002-2003 an,pada jaman itu memilih ponsel bisa dibilang jauh lebih mudah daripada sekarang..karena merk yg terkenal cuma nokia,ericsson,siemens seingat saya..samsung,sony masih dianggap HP kelas dua,dan belum ada HP merk lokal.

    karena ponsel pertama,dan waktu itu harus menabung dari uang jajan sedikit demi sedikit maka harus dipikirkan matang2,mungkin nyaris sebulan saya mencari2 review dari tabloid (dulu belum familiar dgn internet..hehehe)

    dan akhirnya saya memilih siemens C55 seharga Rp.1.200.000..HP yg menurut saya keren pada jaman itu dengan dimensi fisik yang mungil,backlight biru dan ringtone polyphonic..bahkan saya sering berbangga karena ringtone nya lebih merdu daripada nokia 8310 yg dulu harga jual nya 3-4jt rupiah

    Siemens C55 menemani saya selama sekitar 8 bulan,dan hp itu adalah HP yg paling lama ada di saya..karena sampai sekarang umur HP di tangan saya maksimal 6 bulan udah ganti yg lain lagi..

  86. Ponselku sayang, ponselku malang

    Sekitar 13 tahun lalu saat saya masih menimba ilmu di salah satu SMK di Malang saya mulai galau kalau kata anak muda jaman sekarang. Betapa tidak, saat teman-teman di sekolah mulai memadu nada untuk menjadi ringtone saya masih asik memainkan gitar disaat jam istirahat. Untungnya semester itu nilaiku tergolong lumayan, naik jadi peringkat 18 (yah 18, rangking terbaik saya) dimana sebelumnya selalu saja stabil di peringkat 10 besar bawah. Berbekal nilai rapor yang baik inilah saya memberanikan diri mengutarakan keinginan memiliki sebuah ponsel kepada ayah saya. Ayah saya mamahaminya karena memang juga merupakan kebutuhan, saya tinggal di Malang (kost) sedangkan orang tua di Mojokerto, alhasil saya dijanjikan sebuah ponsel.

    Lama menunggu yang dinanti belum juga ditepati, sampai akhirnya ayah saya dinas keluar kota beberapa hari, dari uang dinas tersebutlah impian saya memiliki ponsel mendekati kenyataan, sebuah Ericsson T10i bekas warna biru ditebus seharga 400 ribu oleh ayahku di Bandung. Saat akan pulang karena kopernya tidak muat untuk dos ponsel tersebut akhirnya dos buku dan lain-lain ditinggalkan begitu saja di penginapan, hanya charger yang tersisa. Sesampai dirumah ponsel tersebut disimpan begitu saja di dalam lemariku, rupanya ingin dijadikan kejutan walau sederhana, tanpa dos, tanpa pembungkus! hahaha.

    Setelah kembali ke Malang bingung mencari simcard yang murah, maklum uang saku pelajar kan pas-pasan. Akhirnya saya tebus kartu perdana Pro XL dengan kemasan bulat seperti tempat CD seharga 100rb, cukup mahal bagiku, dan itu artinya saya harus merelakan separuh dari uang saku bulanan.

    Ericsson T10i biru ini sudah lumayan keren dijamannya, setidaknya masih ada teman saya yang menggunakan seri dibawanya, kalau tidak salah Ericsson GF388, yang textnya cuma sebaris. Waktu terus berlalu dan ponsel teman-teman saya pun semakin silih berganti, ponsel makin keren, ada yang memainkan tetris di Nokia 8310 ada juga yang memainkan lampu biru dan ringtone nyaring Samsung ‘Blue On’, dan saya masih mensyukuri ponsel Ericsson T10i saya disaat masih banyak juga teman-teman yang tidak menggunakan ponsel.

    Tahun 2003 disaat saya sudah mengenyam bangku kuliah di Surabaya saya masih setia dengan Ericsson T10i tercinta, walau rasanya ingin juga berganti ponsel dengan nada merdu polifonik tidak sekedar tet tot tit tut seperti suara tukang  bel tukang roti.
    Tidak sedikit teman yang bercanda dan mengejek Ericsson T10i ini, tapi saya selalu berkilah bahwa ponsel ini teramat berharga nilai sejarahnya dan tidak tergantikan, tak jarang juga saya balas meledek, “percuma hp bagus-bagus kalau gak ada pulsanya, mending ini pulsa tak terbatas”, ya tak terbatas karena atas kebaikan teman saya waktu SMK yang sudah bekerja di Indosat saya diberi nomor paska bayar Im3 Bright dengan nomor sesuai permintaan saya (085530987**). Saya masih ingat betul nomor tersebut, bagaimana tidak, saya sempat dibikin ‘puasa’ karena tagihan 2 bulan total sebanyak 500ribu hehehe

    Menyadari kantong yang tipis, maka menganti ponsel jelas bukan pilihan, toh kalaupun dijual harganya amat jatuh mengingat tanpa dos buku yang waktu itu ntah rasanya sangat berharga. Akhirnya saya putuskan untuk memodif Ericsson T10i ini dengan casing modif model Nokia 8810 (kalau tidak salah, yang slide tutup keypad) lengkap dengan modif lampu yang semula kuning jadi biru dan modif antena jadi pendek, jadi tidak diledekin lagi antena ponsel bisa untuk ngupil hehehe

    Setelah modif Ericsson T10i rasa Nokia 8810 berhasil, saya tidak punya cukup waktu menikmatinya, karena tak lama setelah itu ponsel tersebut hilang dicuri orang, ponselku sayang ponselku malang.

    Rofas Aminata, Surabaya

  87. Ponsel pertama saya dulu adalah siemens a35. Jaman kuliah sekitar tahun 2001an. Yang jelas tidak beli sendiri alias ponsel lungsuran (bekas) dari kakak saya 😀 Ponsel ini dijuluki ponsel ulekan (munthu) karena bentuknya yg mirip. Seringnya sih buat sms sama terima telepon dari rumah. karena memang belum banyak teman yg memakai ponsel pada saat itu. Pacar jg belum punya jadi tidak dipakai buat sayang sayangan hehe

    Waktu itu memakai kartu xl dimana beli perdananya masih susah dan mahal. Beli pulsa juga tidak bisa dipinggir jalan dan hanya ada di toko tertentu. Pakai pulsa diirit2, tiap sms keluar dicatat nominal pulsanya 😀

    Beberapa waktu kemudian ponsel saya jual karena bosen dengan smsnya yang hanya bisa sebaris dan tidak berwarna. Kemudian ganti lagi dengan yang lain tapi masih siemens.

    Dl pernah cicip c45, c55 (masih monokrom tapi layarnya agak gedean dan warna lampunya orange), kemudian siemens m55 (yang ini masih saya simpan sampai sekarang) . Namun sayangnya kelamaan merk siemens mulai hilang. padahal merupakan salah satu ponsel yang saya suka karena tahan banting.

    Darmawan – Yogyakarta

  88. ponsel pertamaku keluaran ZTE dengan harga 499 ribu, berbundling dengan operator Smart jaman dulu, yang masih baru-baru keluar dengan berslogan “hebat. hemat.” tipenya adalah C261, dan dijuluki oleh smart dengan ‘Hape Modem Termurah’. pada awal beli, sebetulnya hanya perlu untuk kepentingan berinternet saja, hp digunakan sebagai modem untuk komputer dengan memakai kabel mini usb. saat dibuka dari kardusnya, ponsel ini terlihat sangat elegan, kombinasi warna silver dengan chromenya sangat mewah. dibagian belakang hp, terdapat cermin kecil, yang dulunya saya kira adalah kamera. Layar hp 2.4 inch ini tidak terlalu kecil seperti ponsel keluaran flexi. Baterai hp berkapasitas 1000mAh dapat menunjang aktivitas ber sms hingga 10 jam-saya tes sendiri-. dengan kapasitas yang hampir sama dengan baterai nokia lawas, hp ini dapat memutar lagu mp3 dengan volume maksimal hingga 3 jam penuh-saya juga tes sendiri-. hp bermodel candybar ini memiliki fitur CDMA 1900 MHz, dengan hanya mempunyai 1x modem, belum 1x EvDo atau yang lainya seperti smartfren yang sekarang, dan sudah support modem untuk berbagai os, seperti windows(XP,Vista) dan mac OS, lalu WAP 2.0, Opera Mini yang sudah terinstal / browser bawaan pabrik, brew 3.1.5 (saya nggak ngerti yang ini apaan hehe :D), lalu sudah memiliki slot micro SD yang kata penjualnya bisa sampai 16giga, tetapi saat saya coba diberi memory card 2 giga yang separuh terisi saja sudah lemot… Juga ada mp3 player, dan fitur lainnya 500 buah kontak telepon (internal), alarm, kalkulator, dan stopwatch. saat dipakai, ponsel terasa berbeda saat saya bandingkan dengan ponsel-ponsel lawas nokia bermodel candybar. penulisan simbol-simbol dan pengkodean nya juga berbeda. keyboardnya nyaman ketika dipencet, dengan lampu led biru di balik keyboarnya, tak kalah dengan ponsel nokia lawas. di bagian samping ponsel, terdapat colokan mini usb, tombol volume, serta satu tombol shortcut untuk mp3. saking saya dulu senang memakai hp ini, akhirnya saya beri gantungan hp berbentuk rokok 😀 hehe.. di dalam packing hp tersebut tersedia charger hp dengan output 5V 300mAh, kabel mini usb, headset bawaan, buku panduan, kartu servis, CD installer untuk modem, dan kartu perdana bundlingnya. kekurangan ponsel ini yang menurut saya sangat sayangkan adalah, tidak memiliki kamera sama sekali, serta jack untuk headset yang kecil seperti hp nokia lawas, bukan jack3.5mm yang sudah umum di waktu itu. saya memilih nomor yang menurut saya bagus, yaitu 08821000****. ini nomor smart yang lama, sekarang sudah berganti dengan 0888 dan 0881. HP ini sebenarnya sudah pensiun, alias rusak karena LCDnya kena benturan tepat di tengah hehe 😀 pertama kali kena, hanya terlihat seperti kena tinta spidol yang tumpah, tapi lama kelamaan layar jadi hang dan jadi white screen sampai sekarang. walaupun layar sudah ‘legrek’, tapi masih bisa menerima telepon dan masuk ke menu dan putar lagu, karena saya sering memakai hp itu hingga hafal letak-letak menunya hehehe 😀 sekarang, hp ini saya taruh di dalam dosbox nya dan mangkrak disitu, dan saya telanjangi hp itu alias dengan casing terbuka semua, dan duduk diam terpisah antara casing bodi dengan pcb hpnya hehehe 😀 yang saya ambil hanya dinamo untuk getar ponsel,baterai hp, charger hp, headset, kabel data mini usb, dan speaker hp saja hehe :D. meskipun mangkrak digudang sejak tahun 2009, 4 tahun terlewati, dan chrome ponsel tetap mulus dan mengkilau hingga sekarang, tidak seperti ponsel yang saya miliki bermerek titan tipe T8787 yang ‘mbulak’ chromenya setelah saya pakai hp ZTE ini hahaha… sekian dan terima kasih Om Herry 😀 mohon maaf jika ada sesuatu yang kurang berkenan hehe

  89. PONSEL PERTAMAKU

    Ketika itu, Juni 2002 saya baru saja lulus dari sebuah sekolah kejuruan di kota Malang, Jawa Timur. Kebetulan saya beruntung karena lolos seleksi dan berkesempatan untuk mengikuti program magang di salah satu perusahaan telekomunikasi yang baru 1 tahun berdiri dan ditempatkan di kantor pusat di Jakarta.

    Setelah mengikuti program magang selama +/- 1 bulan dan menerima gaji pertama yang tidak banyak, ada pertanyaan dari pembimbing magang saya. “Kamu sudah ada handphone apa belum?”, tanyanya pada suatu hari. “Belum Bu”, jawabku. “Kamu kayaknya sudah harus beli handphone deh. Lagian sayang kalau dapat fasilitas (tunjangan telekomunikasi) Rp. 100.000,-/bulan dari kantor.”, katanya kemudian. “Iya deh Bu. Nunggu gajian dulu.”, jawabku.

    Akhirnya, sampai tanggal gajian, saya mencari informasi di beberapa tabloid tentang spesifikasi handphone dan harganya. Karena saya tipe orang yang ‘anti mainstream’, akhirnya pilihan jatuh ke merk SIEMENS type C45 warna Biru Hitam. Kenapa pilih SIEMENS? Karena banyak orang memakai handphone merk NOKIA. Ya.. as simple as that hehe…
    Setelah gajian, saya ke pusat handphone terbesar di Jakarta, ROXY MAS. Siapa sih yang tidak tau ROXY MAS? Waktu itu saya pergi dengan beberapa teman magang saya yang kebetulan juga bermaksud membeli handphone. Dan bisa ditebak, mereka memilih NOKIA hehe… Setelah membandingkan harga di beberapa toko dan ternyata selisihnya hanya sekitar Rp. 10.000 antara toko satu dengan toko lain, akhirnya saya meminang satu handphone SIEMENS C45 warna Biru Hitam. Spesifikasi lengkap bisa dilihat di http://m.gsmarena.com/siemens_c45-278.php . Harganya waktu itu Rp. 900,000,-. Lumayan mahal kalau melihat jumlah gaji yang saya terima per bulannya. Tapi karena sudah terlanjur naksir ya harus dibeli meskipun harus membongkar tabungan, hiks…
    Setelah cek-cek kelengkapan dan tes beberapa fitur dasar, akhirnya secara resmi saya memiliki handphone untuk pertama kalinya dan dibeli dengan uang hasil memerah keringat sendiri hehe…

    Saat ini saya tinggal di Jakarta dan bekerja di tempat saya magang waktu itu. Bagaimana nasib handphone pertama saya? Setelah saya gunakan +/- 3 tahun, handphone tersebut saya wariskan ke adik saya (alm), setelah itu diwariskan ke ibu saya. Handphone tersebut akhirnya ‘pensiun’ ketika ibu saya membeli handphone dengan layar berwarna.

    Rengga Permana
    Jakarta, 3 Januari 2014.
    Diketik menggunakan Polaris Office dari Handphone Huawei Ascend D1 Quad Core.

  90. Ponselku yang pertama kudapat adalah saat aku duduk di bangku kelas 3 SMA. Walaupun setiap pagi jalanan Jakarta pasti macet, rasanya sangat singkat saat kuhabiskan waktu perjalananku dengan game “snake” yang sangat adiktif itu.

    Ponsel sejuta umat, ya itulah ponsel pertamaku.. Nokia 5110, warna biru dongker dan antenanya keren banget, suara ringtonenya sangat mencirikan nokia dan masih tetap terngiang di telingaku sampai sekarang.

    Belum lagi efek delay yg bisa terjadi bila aku mengetik SMS super cepat, ya.. aku mengenal papan keypadnya melebihi diriku sendiri, aku bisa mengetikkan semua karakter tanpa sekalipun melihat ke layar.

    Dengan ponsel itu juga, pertama kalinya aku mengenal “emoticon” dan ASCII art legendaris serta mengkoleksinya sampai limit memory SMS-ku penuh, oh ya.. pertama kalinya juga aku belajar menulis namaku terbalik seperti ini oh+3svjd nj3H. Apakah anda bisa membacanya? Ya, Heru Prasetyo namaku.

    Tidak terbayang bila di saat sekarang, hanya memakai ponsel ini. Pasti akan sangat menarik bila sepanjang hari hanya ditemani panggilan suara dan SMS saja. Anda mau coba? 🙂

    === III ===

  91. Ponsel pertama saya mungkin agak unik. Bukan karena tipe atau karena harganya, tapi karena proses dibaliknya. Kejadiannya di bulan November 1999 (hampir 15 tahun yang lalu). Mungkin ada yang masih ingat, saat itu kartu perdana GSM di pasaran bukan main mahalnya. Ratusan ribu rupiah dalam keadaan kosongan tanpa pulsa.
    Saya mendapat info bahwa grapari Solo akan melepas SP Simpati dengan harga resmi. Jadilah saya antre ke sana. Berhubung takut ditolak karena ber-KTP Yogyakarta, saya minta saudara yang ber-KTP Boyolali untuk mengantrekan. Konsekuensinya saya harus antar jemput dan beri uang rokok. Pada tanggal 5 November 1999, kami kesana. Saya sempat kenalan dengan sesama pengantre.
    “Namanya siapa, mas ?” Tanya dia.
    “Mohamad Riyanto, dari Yogya.” kata saya. Dia kaget orang Yogya ikut ngantre di Solo. Mungkin agak kesal juga, jatah buat orang Solo sendiri berkurang karena diembat orang seperti saya. Tapi cuek sajalah. Akhirnya dapat juga 1 SP dengan harga 375 ribu termasuk pulsa 300 ribu.
    Setelah dapat SP, baru saya cari HP. Setelah melihat-lihat iklan baris di koran lokal, akhirnya tanggal 7 November 1999 saya dapat HP Ericsson S868 second seharga 775 ribu. Yang saya suka dari HP ini adalah layar yang cukup lebar, 3 baris alphanumeric. Meski bentuknya agak besar, namun masih enak dipegang. HP ini masih pake antena dan lokasinya agak unik. Tidak persis di pinggir atau tengah, tapi diantaranya.
    HP ini cukup bandel dan memuaskan bagi saya, hingga mengakhiri tugasnya pada tanggal 27 Juni 2001 saat saya tukar tambah dengan Siemens C35i New.

  92. Masih inget banget nih dulu beberapa belas tahun lalu waktu saya duduk di bangku SMP kelas 2, mulai booming tuh di kota saya Palembang yang namanya handphone genggam, yg layar masih monochrome, ringtone monoponik (ampe ngumpulin nada2 lagu soalnya bisa bikin lagu sendiri), bahkan harga simcard nya 250.000 rupiah !!! (Bandingkan dg sekarang, yg 3.000 aja udah dapet nomer)

    Tapi fitur itu udah OK banget dijaman itu.

    Saya ga pernah minta dibelikan secara langsung sih sama ortu, cuman saya tiba tiba rajin ngumpulin potongan iklan hape dari koran yg biasa papa saya baca, cukup lengkap klipingan saya, ada yang dari merk Nokia, Siemens, Ericsson.
    Yah modus kali ya kalo bahasa jaman sekarang, hihihihi….

    Eh akhirnya dibeliin juga, soalnya dulu prestasi saya pas SD dan SMP lumayan bagus, hampir selalu rangking 3 besar.

    Jadi pas pula papa dapet rejeki, dikasihlah uang buat beli hape…

    Yaitu……

    Nokia tipe 8250 :))

    Sebenernya pas waktu itu ga punya inceran hape tertentu sih…pas budget nya segitu soalnya…

    Hape nya tipis, ringan, layarnya biru, wihhh seneng banget pokoknya!! Bisa sms’an sm temen, tuker tukeran nada ringtone, kirim kirim picture message via infrared, bisa gonta ganti casing juga. (Kalo ukuran sekarang jadul banget tuh kalo dipikir pikir)

    Bangga loh, bisa punya hape soalnya dulu termasuk barang yg mewah. Ga semua org bisa punya soalnya, hehehe…
    Sayangnya hape pertama itu ga bertahan lama, karena baterenya low. Mungkin karena tipis ya, jadi daya batere jg ga terlalu kuat. Akhirnya dijual deh :(((

    Yak, sekian cerita dari saya. Terima kasih buat Pak Herry SW yg udah bikin sayembara. Walaupun saingannya pasti banyak, semoga saya berkesempatan menang!!!

    Sekian cerita dari saya, Miliana
    Dari kota Palembang

  93. Semua yang judulnya “pertama” memang biasanya membawa kesan yg lebih. Pada kesempatan ini sy akan bercerita tentang handphone (selanjutnya sy sebut hp) pertama sy,yg sy miliki sewaktu masih duduk di semester akhir kuliah D3. Oya perkenalkan nama sy Tutik Safitri (sy penggemar tulisan tulisan Pak Herry baik di dumay atau di dunia nyata, percaayalah ini bukan modus :)). Waktu itu sekitar akhir 2002, sy membeli hp dengan merk siemens tipe M50. Saya beli seharga Rp 800.000 dan kartu perdana 125ribu yg telah terisi pulsa Rp 100.000. Tidak bisa dibayangkan senangnya sy sudah bisa membeli hp yg masih barang mahal dan langka ketika. Sampai beberapa waktu lalu, hp jadul itu masih ada di saya, walaupun sudah tewas sejak bertahun silam. Tapi hp itu sudah menemani hari-hari akhir perkuliahan sy, pacaran, berantem, selingkuh, dan berbaikan lagi dengan pacar saya. Hahaha….

  94. Ponsel yg pertama saya miliki adalah Ericsson GF-388. Masih teringat jelas waktu pembelian yaitu menjelang Imlek di bulan Februari 1997 di gerai Satelindo (kini Indosat) seharga Rp 1,2 jutaan (bundling kartu pascabayar). Belum ada simcard prabayar di jaman itu. Karena status saya yang masih mahasiswa semester 6 dan belum bekerja, maka tidak dapat mengajukan aplikasi nomer pascabayar yang salah satu syaratnya adalah melampirkan surat keterangan gaji. Karena itu maka orang tua saya yg mengajukan aplikasi.
    Saat itu bisa dibilang kalau tipe ini lumayan laris di pasaran. Terutama Nokia belumlah menjadi “raja”. Ericsson sudah punya varian yg relatif ramping dibanding pesaingnya seperti Motorola dan Nokia yg ponselnya besar-besar. Harga Rp 1,2 jutaan untuk tipe GF-388 pun termasuk murah mengingat 6 bulan sebelumnya harus ditebus dengan harga mendekati Rp 3 juta.
    Untuk fitur, walau ponselnya sudah mendukung mengirim pesan SMS, tapi semua operator belum ada yang mendukung. Praktis hanya bisa digunakan untuk menelepon. Boro-boro bisa radio, ada alarm saja sudah bersyukur.
    Punya ponsel di jaman bisa dibilang naik gengsi. Karena 1-2 tahun sebelumnya harus merogoh kocek sampai belasan juta untuk sebuah ponsel GSM ataupun AMPS. Apalagi tarif bicara yg tidak semurah sekarang. Makanya tidak heran banyak yang punya ponsel tapi bukannya ditaruh di saku/tas malah dipegang-pegang untuk pamer. #Norak :p
    Sampai sekarang nomer pascabayar Satelindo (sekarang berubah jadi Matrix) 10 digit dengan prefix 0816 tersebut masih saya pakai. Sedangkan untuk ponselnya sendiri entah terselip dimana.

    -Nixen-
    Di Jakarta

  95. SAYEMBARA PONSEL PERTAMAKU
    “NOKIA CDMA 1255”

    Perkenalkan saya Retno. Tempat tinggal saya terletak di Kota Malang, Jawa Timur. Dalam kesempatan ini, saya akan mengulas sebagian besar ingatan saya mengenai ponsel pertama yang saya gunakan. Ponsel tersebut adalah Nokia CDMA 1255. Dulu,di jaman saat saya memiliki ponsel ini, sekitaran tahun 2005 atau 2006, ponsel ini sudah cukup oke di kalangan masyarakat. Lihat saja body-nya yang sudah lebih modis ketimbang ponsel-ponsel keluaran sebelumnya yang kebanyakan mirip uleg-an. 😀

    Ponsel Nokia CDMA 1255 ini memiliki fitur yang amat sangat minim jika dibandingkan dengan ponsel CDMA jaman sekarang. Jelas saja, karena perkembangan teknologi sudah berkembang pesat. Tanpa adanya kamera ataupun fasilitas MP3, ponsel ini hanya mampu digunakan untuk fasilitas telepon dan ber-sms ria. fitur lainnya adalah Voice Recorder dengan durasi 1 menit, seingat saya. yah, setidaknya itu yang bisa didengarkan dari ponsel ini selain ringtone didalamnya.

    Mengingat minimnya fitur yang ditawarkan, ponsel ini jelas tidak dapat digunakan untuk ber-internet ria dengan layar yang tidak begitu besar (khas ponsel keluaran dulu). fitur-fitur standar lainnya berua kalkulator, jam alarm, kalender dan stopwatch. saya kurang begitu ingat berapa memori internal pada ponsel ini karena tidak adanya file yang bisa disimpan kecuali file dari Voice Recorder yang saya sebut tadi.

    Ponsel ini setahu saya dulu terdiri dari 3 varian warna, yakni hitam, biru dan coklat. kebetulan saat itu milik saya yang hitam dengan paduan warna putih. Selama menggunakan ponsel ini dengan mengabaikan fitur yang pas-pasan, saya cukup puas. ketahanan baterainya cukup tahan lama meski digunakan cukup sering untuk bersms-ria. Untuk kekuatan dari ‘adegan jatuh’, ponsel ini juga cukup kuat dibandingkan dengan ponsel masa kini yang lebih rapuh. Tidak mudah rusak alias nge-hang.

    Saat ini sepertinya ponsel ini sudah tidak diproduksi lagi, melihat banyaknya produk-produk Nokia yang lebih oke sekarang. Oh ya, untuk kapasitas penyimpanan kontak dan sms sepertinya juga tidak banyak karena dulu saya tidak pernah menyimpan kontak dan sms sampai beratus-ratus, paling banyak hanya sampai seratusan saja.

    Demikian review saya tentang ponsel pertama saya. semoga bermanfaat. Terima kasih.

  96. Ponsel pertama yg saya miliki adalah Nokia 2626 di tahun 2008,waktu itu saya beli dgn harga Rp.700.000 + kartu perdana simPATI.Saya tertarik dengan ponsel ini karena pada saat itu,ponsel ini merupakan salah satu ponsel yang banyak di pakai oleh remaja seusia saya kala itu.Apalagi saat itu tengah booming Grup Vokal BBB yang digawangi Raffi Ahmad cs dg hits Let’s Dance Together nya yg dijadikan ringtone di ponsel ini.Membuat saya ingin memiliki ponsel ini.Kala itu saya berusaha menabung dan bekerja untuk mendapatkan ponsel ini.Akhir nya setelah menabung selama 6 bulan tepat nya pada tanggal 17 desember 2008,saya pun membeli ponsel ini di counter ponsel di kota saya dan tadaaaaa…saya mendapatkan Nokia 2626 yang berwarna pink keunguan,hahaha..sebenar nya saya ingin mendapatkan yang berwarna orange tapi saat itu hanya ada yang warna pink,ya sudah saya ambil aja..Pengalaman pake ponsel ini cukup bagus.Ada games yang lumayan membuat saya ketagihan memainkan nya,dan kemudian juga ada radio fm nya..hahaha..tiap sore dan malam pasti dengerin radio deh waktu itu.tombol keypad nya pun lumayan enak diajak buat ngetik cepat.Satu hal yang saya ingat adalah ketika kita menggunakan ponsel Nokia maka kita bisa mengganti casing ponsel kita dengan warna atau corak apapun yg kita suka dengan cara membeli casing di counter ponsel yang harga nya cukup murah.Hanya dengan Rp.15.000 kita bisa mendapatkan casing dengan gambar karakter Bugs Bunny..hehe..dan kemudian juga baterai nya yang tahan lama,walaupun sering nelpon dan sms’an,ponsel saya hanya di cas setiap 3 atau 4 hari saja.beda dengan ponsel atau smartphone jaman sekarang yang boros batere..hehehe..Sayang nya saya menggunakan ponsel itu hanya selama 7 bulan karena saya saat itu tergoda dengan i-mobile 520 wrn silver yang keren itu..dan saya pun akhir nya menjual Nokia 2626 saya dengan harga Rp.250.000 saja..hiksss..hiksss…demikianlah cerita saya.ini cerita ku dengan Nokia 2626.Mana cerita kalian?hehehe…
    nama lengkap Yanto Chandra
    kota belinyu propinsi bangka belitung

  97. “Siemens S4 Power, Si Buruk Rupa yang Berhati Mulia”

    Sejarah selalu mencatat hal-hal yang pertama, seperti yang pertama kali ke bulan, yang pertama kali mendaki Mount Everest, atau yang sepele seperti orang yang pertama kali kita cium. Kalau ponsel yang menjadi sejarahku, Siemens S4 Power lah produknya. Ponsel yang pertama kali kumiliki.

    Dengan bentuk yang tidak umum yaitu kotak memanjang (jadi lucu kalau dimasukkan di saku depan celana, coba bayangkan seperti apa?), juga antena kecil yang bisa dipanjangkan, sangat tak menarik dibanding produk-produk dari Ericsson dan Motorola yang memiliki estetika lebih elegan. Memori untuk menyimpan nomor telpon pun terbatas 50 saja.

    Tetapi ponsel ini yang kupilih karena awetnya sang baterai (termasuk produk yang awal kali memakai baterai jenis Lithium), layarnya yang enak dilihat, dan menu khas Siemens yang menurutku paling mudah dipahami.
    Bahkan saat bersama teman-teman ke Bromo tahun 1997 untuk mengecek kualitas jaringan Telkomsel, saat itu hanya ponsel ini yang masih bisa menerima panggilan masuk dibanding ponsel lainnya seperti Nokia 2010 dan Ericsson GF377 yang langsung jadi ponsel bisu.
    Pada jaman itu sensitivitas suatu ponsel sangatlah penting karena coverage area jaringan GSM belum semewah seperti saat ini.

    Oya, mengenai baterai juga ada cerita tersendiri. Saat itu ponsel yang beredar sebagian besar masih menggunakan jenis baterai NiCad (Nickel Cadmium) dan NiMH (Nickel Metal Hydride). Ada istilah teknis “memory effect” yang dimiliki kedua jenis baterai tersebut sehingga proses charging harus dimulai dari kondisi kosong agar kapasitas baterai tidak berkurang. Tentu merepotkan jika kita harus benar-benar menunggu baterai kosong dahulu baru memulai charging-nya. Maka saat itu beberapa produsen ponsel menyertakan dua baterai dalam dus pembeliannya agar penggunaannya dapat bergantian. Yang satu sedang dipakai, yang satunya sedang di-charge.
    Maka begitu Siemens mengeluarkan ponsel generasi pertama dengan baterai berjenis Li-ion (Lithium Ion) yang tak lagi memiliki masalah memory effect, segala kerepotan terkait charging baterai langsung terlewati.

    Adanya berbagai macam ponsel memang suatu pilihan, tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk di suatu masa, Siemens S4 inilah yang paling pas menjadi sejarah ponsel pertamaku. Untuk menemaniku sesuai kondisi jaringan di Surabaya saat itu, di kota tempatku tinggal.

    Ini kisah si buruk rupa yang berhati mulia. Function over fashion…..

    Hananto
    Hp 0813-5898-****
    ca***@yahoo.com

  98. Hallo Pak Herry Perkenalkan nama Saya Haris Dwi Febrianto,Saya Asli Porong Sidoarjo.
    Hp pertama saya yang bener2 saya punya adalah Samsung Champ,mungkin terengar ketinggalan jaman,di umur sya 19Tahun yg sdang heboh2nya BB saya mlah bru bsa pnya samsung champ,tpi stdaknya sya bngga dgn hp itu,karna di dapat dengan gaji pertama sya. dan saja janji hp itu tidak akan saya jual, ,
    sekian crita sya pak,Trims. .

  99. Cerita di mulai bertahun tahun lalu ketika saya mempunyai handphone pertama saya yang paling canggih yaitu Nokia 3314 (busett) dan beginilah ceritanya : Hari ini eh kaga berapa minggu lalu hape alias handphone bahasa ilmiahnya cellular phone Gw jatuh hancur penyok dan luka diseluruh tubuh kemudian hancur berkeping2 (ga ding yang belakangan ini bohong huhuhu…) ok langusng aja kejadiannya gini, hari itu siang panas-panas kuku tepatnya. Gw berencana untuk melakukan perjalanan keluar kota dari kota salatiga . Gw bersiap-siap: makanan siap, tempat tidur siap, lemari siap, kursi siap (Bujuj nih mo pegi luar kotapa pindahan yak!). Waktu itu gw kan pengen keluar kota naek motor soalnya jaguar gw dipinjam supir buat ngeceng hehehe….nah ini kronologis kenapa kejadian tersebut terjadi:

    1. Lokasi: rumah. hape masih sehat wal a fiat masih becanda riang ketika gw lagi siap-siap

    2. Lokasi: depan pintu. hape berbunyi hape saya terima ternyata miskol doank, bunyi lage miskol lage , bunyi lage miskol lage gtu terus sampe mampus huhuhu

    3. lokasi diatas sedel becak ehm motor maksudnya hape masuk jaket dengan muka pasrah( biang keladi satu)

    4. pause dulu ya gw lage capek disambung besok

    5. Gara2 kaya gini nih cerita kaga kelar2 hehehe, ok gw terusin yak!

    6. Lokasi: jalan raya. Motor gw geber dengan kecepatn maksimum 20 km/jam (buset motor apa becak tuh!!) kepala kadang nengok kanan kiri klo ada cewek cakep huhuhu… hape masih di kantung jaket, tidur kali dia…

    7. lokasi jalan raya bergelombang ( maksudnya jalanan yang kaga rata dan penuh gelombang kayanya kaga perlu gw jelasin dari pada kepanjangan lo2 semua pada dah bisa ngebayangin apa sinonim dari gelombang ARRGHHHH.. . malah jadi panjang)( biang keladi dua)

    8. Nah disini dimana semuanya terjadi. lokasi masih sama kecepatan naik gila2an karena biasa mantan pembalap GP ( Gerobak Prix ); ada lubang di jalan ( biang keladi tiga), tidak sengaja saya masukin itu lubang dengan kecepatan tinggi , lubang mendesah mesra “aaahhh masukk masss sssahhh..” motor kluar dari lubang karena sudah puas, terdengar teriakaan di kejauhan “ majikan Mr. Michael Sam tolong saya…” muka ganteng saya menengok kekanan “uhui ada cewek cakep” terdengar teriakan lagi “sebelah sini monyong..” gw tengok sebelah kiri ternyata eh ternyata hape gw terbang melayang keluar dari jaket akibat guncangan orgasme antar motor dan lubang. Gw teriak “tidaaak…. Hapeeeeeeee…” si Hape berteriak “ Majikan yang cakep….” Gw teriak lage “Hapeee….” Si hape teriak “Majikan yang baik hati…” gw teriak lage “Hapeee…”gitu terus sampe kiamat kedua kalinya pfffffff …

    9. Lokasi jalanan berdarah si Hape jatuh gw kaga bisa menggapainya si hape menyentuh aspal yang panas. Motor gw kurangin kecepatanya sambil ngepet eh ngepot membuat cap ban disepanjang jalanan berdarah tersebut. Dari belakang gw ada motor( biang keladi keempat dan terparah membuat si hape diopname) dan … PREXX lebih tepatnya PRAAKKK hape gw kesambar tuh motor maka keluarlah busa dari mulut si Hape dia megap2 sambil ngomong “ aduh masuk neraka nih gw dulu masih idup korupsi pulsa “ hehehe… mereka ( penumpang motor belakang gw RED.) Panggil2 gw dikira gw kaga tau hape gw jatuh. Mereka bilang sambil ngebut mendahului gw “ iih masnya ternyata cakep deh “ heheh bukan deng mereka bilang “ Hape…. Hapee… tuh hape banyak duit ye hape dibuang2” terus mereka kabur sial teuing bis nabrak pegi!!! Gw berenti di pingir jalan lalu berlari ke arah si hape. Keadaan si Hape sungguh mengenaskan gw kaga tega menceritakan . garis besarnya sih usus keluar, otak pecah, kaki berubah arah ( buseet emang manusia om!) . si hape tercecer kemana2 casing pecah, baterai copot, Lcd pecah dan hancur separuh, bodi lecet2. kartu gw yang simpati kaga tau ilang kemana( sungguh malang nasib mu nak!)

    Dengan semangat 45 gw pungut tuh hape cepet2, sebenarnya sih gw dah pasrah biarlah tuh hape disono tapi berhubung ntar takutnya ada orang kesandung tuh bangkai hape, ya udah gw pungut skalian mo gw kubur di belakang rumah takutnya klo gw diemin ntar arwahnya gangguin gw lagi hehehe, setelah gw pungut dan gw masukin tas dengan hati berlapang dada gw lanjutin perjalanan. Yang jadi masalah adalah gimana nih ngehub-in cewek2 di kota yang gw tuju (tapi untuk hal itu ga usah dibahas kan ada wartel, tapi gimana nomornya kan di hape AAAARRGHHHH TIDAKKK). Sepulangnya dari sono hape gw opname di rumah. seminggu kaga ada yang ngehubin…dan gw susah dicari (kasian cewek2 itu dan tukang kredit hehehe). Sebenarnya beli yang baru dan canggih sih bisa tapi gimana ya, gw ga biasa gtu buang barang yang dah lama ma gw (ini dapat disimpul kan klo gw tipe yang setia huhuhu…). Abiz itu gw tanya2 soal operasi plastic dan suntik silikon buat hape gw, setalah nemu yang cocok gw jeblosin doi kesono. Selama itu pula gw vakum pake hape, komunikasi terhenti dan gw mulai sadar ternyata saat ini, jaman kaya gini hape jadi hal vital buat berkomuniaksi klo kita dah biasa pake hape dan tiba2 kaga pake rasanya aneh banget. Dulu waktu lum punya hape gw biasa aja mungkin karena dulu gw ga pengen di ganggu aja klo sedang ngelakuin sesuatu tapi karena desakan keluarga, yang bakal bingung klo sendok dan garpunya gw bawa terpaksa gw kudu punya hape. Dengan hape pula komunikasi ma cewek2 lancar ya bisa di bilang lebih baik aja huhuhu… setelah berapa minggu hape gw dah sembuh. Dokter mendiagnosa klo dia harus operasi LCD. Penyambungan sinyal, dan ganti kulit ck2 total jendral biaya yaitu, setengah dari harga hape tersebut busett ARGHHHHH!!!…

    Makna: Hati-hati terhadap barang berharga ( walopun tuh hape murah tapi fungsinya yang berharga) buset gw kok dewasa banget ya!!!

  100. Tahun 1999, pertama kalinya saya ingin membeli ponsel,
    Pilihannya nokia 5110, ericsson gf768, ericsson gh688, siemens s4
    Karena nokia 5110 adalah ponsel sejuta umat,
    Ditambah xpress cover™ , casing depan yg bisa diganti-ganti, dan juga permainan snake yang diiklankan Bill Clinton di televisi menjadi suatu daya tarik tersendiri bagi kawula muda termasuk saya
    Layar monokrom dengan lampu latar belakang berwarna kuning, logo operator bisa diganti-ganti, satu selot nada dering kustom monofonik, sudah sangat mewah dikala itu.
    Nokia 5110 yg saya pinang dengan harga 1,35 juta adalah ponsel yang sangat bandel.
    Jatuh sampai baterai terlepas, Berkendara dengan sepeda motor di kala hujan deras pun tidak sekali dua kali saya lakukan, tapi tidak membuat kinerja ponsel tersebut berkurang ataupun rusak.
    Ditemani perdana simpati yang saya beli seharga 935 ribu dengan pulsa 900 ribu rupiah, 081-2357-xxxx saat itu sudah cukup gaya, walaupun nomornya bukan triple atau kuartet 🙂

    Panggilan keluar pun jarang dilakukan, mengingat pemakai ponsel belum banyak, dan tarif panggilan cukup mahal, 455 rupiah per 30 detik untuk panggilan ke pstn lokal area dan 750 rupiah per 30 detik untuk panggilan ke seluler lokal area.
    Yang lebih sering dilakukan adalah dua detik-an, yaitu melakukan panggilan keluar selama dua detik lalu ditutup, agar tidak kena biaya. 🙂

    Ponsel tersebut menemani saya sampai 2006 sebelum saya berikan kepada seorang pegawai,
    Saat itu ponsel tidak mati total, hanya baterai cukup lemah, dipakai sekali panggilan sudah low battery.
    Ya, itulah nokia 5110, salah satu ponsel legendaris nokia di jamannya.
    Saat ini, masih ada dan bisa menyalakah ponsel nokia 5110 Anda? 🙂

    Lukman j – gadgetbekas
    Surabaya – denpasar

  101. Tahun 2000, dari segi angka bagus, nyebutnya jg enak. Tahun tersebut, tepat saya lulus dari sekolah menengah atas dan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi di luar kota, tepatnya kota malang – jawa timur.
    Untuk melancarkan komunikasi dengan keluarga yang ada di bangkalan – madura, saya menggunakan ponsel ericsson GF768 warna merah dengan menggunakan kartu halo paket keluarga dengan nomer 081137****. Ponsel yang dilengkapi flip dan masih menggunakan antene luar tersebut sangat membantu saya bersilaturahmi dengan keluarga. Bukan hanya saya yang mendapatkan manfaat dari ponsel dengan layar 1 baris tersebut, tapi juga ada beberapa teman yang dapat menikmati ponsel tersebut untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Itulah sedikit cerita dari ponsel pertama saya.

    By Mohammad Fitriady
    Bangkalan – Madura

  102. waktu saya SD saya berkeinginan untuk membeli handphone, tanpa tau apa yg sy unginkan dari aplikasi hp yg ingin sy beli. Yaa terkecuali sy cm mau game sm ingin memegang hp aj seperti tmn sy dulu. alhasil sy sering bangt membeli majalah hp seperti PULSA dan sejenisnya. hemm dulu sy membandingkan hanya dr harga dan cover hp sj tanpa membandingkan fiturnya. Alhasil dgn harga yg pas, sy telah memilih handphone keluaran nokia terbaru pd masanya yaitu NOKIA 2600. Kala itu sy senang skali akhirnya sy mempunyai hp dan karna KK sy memilih provider MENTARI dulu sy juga ikut dengan mentari. sy otak atik hp trsebut sy mainkan game yg trnyata bs menggunakan cheat yaitu game BOUNCE tp sayangnya 🙁 setelah sy melirik hp tmn sy Nokia 3100 dgn gampangnya koneksi GPRS di bowsernya sy terlihat sedikit kcewa dgna hp sy karena Nokia 2600 sy sulit untuk melakukan koneksi GPRS. karna providernya mentari. Teman sy menyarankan kalo suruh ganti ke IM3 biar bs aktv GPRS ternyata sy tidak berkeinginan. dan sy terus mencoba mencari cara bagaimana supaya mentari bs aktv gprs. Waktu itu memang sebenarnya provider tersebut blm bs untuk melakukan jaringan gprs. heemmm ini yg sy kagetkan, ketika sy dgn niatnya pergi ke Cust. Service galerry indosat, dgn tujuan mengetahui cr aktv gprs di mentari eh ternyata alhasil org sanapun bekerja keras menemukan cr bagaimana supaya gprs ini bs di mentari, akhirnya dgn sy menunggu lama kartu mentari sy pun bisa untuk internter dgn gprs. Sy sempat kaget ketika 2 hr kemudian provider mentari mengiklankan di TV bahwa memberikan informasi intnya kalo mentari sudah bisa menggunakan GPRS. hahahaha saya sempat ketawa dan kaget, apa jangan-jangan saya org pertama yg mengaktivkan gprs di provider mentari. dan lanjut ke hp Nokia 2600 ktika sudah aktiv eh ternyata sypun kurg nyaman memakai hp tersebut waktu sy koneksikan unternet lewat browser. heemmm sentak beberapa bulan sy pun berkeinginan untuk ganti handphone nokia 6230i sudah hampir 4 tahun hp tersebut sy jaga dan tdk rusak tp sayang handphone tersebut bukan rusak di tangan sy melainkan ada org yg mencopet hp sy 🙁 kembali lagi ketika saat itu hp nokia 2600 beredar gambarnya sy pun ingat selalu itu adalah handphone pertama saya bs di bilang handphone sebagai batu loncatan karna dr hp tersebut sy lebih mengetahui hp pun bs memberikan rasa nyaman kpada si pemakainya baik dr cover atau fiturnya. hehehe…

    Segitu aja Pak cerita dari sy ttg hp pertama sy dan sy sertakan cerita provider pertama sy. banyak kenangan di cerita itu 🙂 semoga Bpk Herry bs tersenyum membacanya ketika tahu cerita tentang hp pertama saya.

    Terimakasih

    Mulat Wijayanto

  103. Ponsel Dibanting, Rusak, Menangis

    Pagi-pagi di awal Juni 1998, pager merek starlink saya berbunyi pertanda ada pesan, dan setelah saya baca ternyata dari salah seorang teman wartawan Harian Surya mengirim pesan bahwa ada HP dijual di tempat penjualan ponsel bekas di kawasan Jl. Kertajaya VII. Teman dari Harian Surya tersebut memang memiliki saudara yang jualan ponsel bekas, dan saya sudah dua minggu pesan akan beli ponsel jika ada.

    Sebagai orang yang tinggal di Surabaya, tentu saja langsung saya datangi. Ponsel tersebut bermerek Nokia tipe 2010. Besarnya dan panjangnya mirip dengan gagang telepon rumah. Setelah tawar menawar, akhirnya disepakati dengan harga Rp 875.000, dan setelah saya bayar HP itu pun berpindah tangan, sekaligus diberikan nota atas nama Chusnun Hadi, dengan jaminan garansi satu minggu bisa complain jika terjadi kerusakan.

    Masalah muncul karena saat itu saya kesulitan mendapatkan kartu perdana pra bayar. Sebab memang saat itu cukup langka karena baru muncul teknologi kartu perdana prabayar. Tetapi setelah kesana kemari, akhirnya saya mendapatkan di salah satu toko ponsel di pojokan Jl. Pemuda, sebelah toko roti, belokan lampu merah menuju Jl. Panglima Sudirman. Harganya cukup mahal, Rp 300.000 untuk sebuah kartu perdana XL, meski di kemasannya tertulis harganya tidak semahal itu.

    Pada hari itu pula, saya dengan percaya diri menenteng ponsel, meski hanya bisa digunakan untuk telepon, karena waktu itu belum bisa untuk sms-an, apalagi data. Bentuknya yang besar membuat menonjol ke atas saat di kantong baju, sekaligus bisa pamer pada teman-teman.

    Anehnya, meski sudah menenteng HP, tapi jarang sekali menelepon atau menerima telepon. Yang sering berdering justru pager. Bahkan istri saya takut menelepon HP saya dari telepon rumah, takut nanti tagihan telepon rumah membengkak. Saya pun demikian, kalau telepon rumah atau kantor memilih menggunakan telepon umum, takut pulsanya cepat habis. Apalagi saat itu pulsa isi ulang hanya ada harga Rp 100 ribu, tidak ada pecahan pulsa 5 ribu, 10 ribu seperti saat ini.

    Singkat cerita, setelah satu bulan menenteng ponsel, mulai banyak sumber berita yang kontak. Apalagi saya sudah pesan kartu nama yang juga mencantumkan nomor ponsel di dalamnya. Tetapi bencana datang, yakni saat saya sedang mandi, ponsel Nokia 2010 yang saya sayangi tersebut diambil anak saya yang saat itu masih berumur tiga tahun. Saat dia memegang, ada kolega yang menelepon dan berdering. Karena kaget, ponsel itupun dibanting. Tidak sampai berkeping-keping sih, tetapi bodynya retak di sana-sini. Dan yang membuat sedih, ponsel tersebut mati, tak bisa dinyalakan lagi alias rusak. Saya tidak bisa marah, karena memang anak saya masih kecil tak mungkin saya marahi.

    Karena sedihnya, saya masuk kamar dan menangis. Sedih karena ponsel tersebut harganya setara dengan gaji saya bekerja satu setengah bulan,, karena saat itu gaji saya memang masih kecil.

    salam
    Chusnun Hadi di Surabaya.
    === IV ===

  104. Ericsson GF337 adalah ponsel pertamaku. Sangatlah bangga sekali bisa menggunakan ponsel GSM yang saat itu menjadi idaman semua orang di tahun 1997, sekitar juli 1997. Ponsel dengan flip nya yang keren (waktu itu) sangat nyaman dipegang dan dipake nelpon krn suara kita terlindungi oleh flipnya shg lawan bicara lbh jelas mendengar suara kita. Hampir setiap saat nelpon pacar di surabaya menggunakan E GF337 karena saat itu posisi di bandung, ngga peduli berapa tagihan yang muncul di kartu GSM pascabayar nya. Pengen tampil beda dari org lain, beberapa asesoris ponsel langsung dibeli untuk menghiasi E GF337 tersebut, mulai dari casing transparan, casing warna warni, casing model kayu bahkan sampai ganti antena model antena radio yg bisa ditarik memanjang (katanya bisa menangkap sinyal GSM lbh baik). Yang paling favorit adalah asesoris antena transparan yg menyala berwarna warni jika dipake nelpon (norak ya…). Gak pa pa demi mode saat itu.
    E GF337 selalu nempel di pinggang dengan sarung beltclip nya yang ada pengamannya, bener2 kaya koboi deh. Ngga lupa selalu ganti2 ringtone supaya terdengar beda, sampai2 lupa pas ponsel nya bunyi, hehehe…
    Itu sekilas cerita mengenang ponsel pertamaku, diceritakan oleh Putro Pamungkas dari Surabaya.

  105. Surat Cinta untuk mu SIEMENS

    Dear SIEMENS,

    Pertama kali ketemu kamu SIEMENS C35, tahun 2001
    Warna kuning nya SIEMENS keren banget
    Awalnya ngobrol, sobat lama tak ketemu, di pameri SIEMENS C35
    Malam itu dari niat pengen ngajak nge-date jadi buyar karena minder ga punya hp.
    Dan malam itu adalah ketemuan terakhir dengan pemilik C35 yg cantik, sobat deket tapi ndak berani bilang…ehm…
    Tapi malam itu adalah pertemuan pertama dengan SIEMENS C35 kuning mulus.
    Selalu teringat sampai tertanam setiap sudut cantiknya SIEMENS C35, dan tentu saja…ehm…

    Tiga tahun berlalu akhirnya kerrima kuliah di Surabaya
    Dapet proyek sama dosen tapi syaratnya harus punya nomer hp biar gampang di hubungi
    Pucuk dicinta ulam tiba, temen nawarin S25 Blue Navy buat di pinjem karena dia habis beli hp baru
    Alhamdulillah, tinggal beli nomer hp, dan simpati 08133034**** yg kalo di jumlah merupakan kelipatan 9 menjadi pilihan.
    Ga ada pulsa, nomer aja harga 35 ribu lumayan menguras dana anak kost saat itu
    Akhirnya resmi hari itu menenteng S25, SIEMENS keren untuk sebuah hp pinjaman
    Sekitar satu bulan pemilik S25 butuh duit, dan itu berarti pinjaman berakhir.
    Seminggu malu ketemu dosen karena tidak bisa di hubungi lewat hp
    Akhirnya dengan uang yang ada berangkat ke WTC Surabaya
    Sebuah SIEMENS M35 biru pun berpindah tangan, cuma type itu yang bisa di jangaku duit di dompet
    Kokoh, keren, antibanting dan cipratan air
    Andai sealing seat lengkap pasti gagah
    Umur sebulan M35 hilang di bioskop gara2 berat nya SIEMENS jadi jatuh dr kantong celana kargo.
    Kembali di tanyain dosen kenapa tidak bisa di sms
    Sedikit cerita membawa M55, SIEMENS punya dosen di jual dengan cicilan
    Sedangkan beliau ganti SIEMENS MT60

    Waktu berlalu akhirnya punya gandengan
    Kuliah jadi semangat punya pacar
    Sayang si dia belum punya hp jadi belum bisa janjian nge-date
    Lama kumpulin rezeki akhirnya terbeli C55 bekas mulus warna putih untuk hadiah
    Komunikasi lancar ngedate jadi gencar

    Lama berkelana mencari kerja akhirnya ada rezeki
    Tak terasa masih ingin beli SIEMENS BNIB, selama ini hanya bisa beli bekas
    Akhirnya M75 yg tangguh, BNIB ada di tangan
    Acara berlanjut ke ngoprek SIEMENS
    Ketemu forum namanya siemensxp.com
    Akhirnya selain ngoprek jadi kolektor
    Sampai SIEMENS prototype pun terbeli negara asli SIEMENS, Germany
    SXG75, EF81, SL91 adalah type yang tidak rilis resmi di Indonesia
    Perjuangan mendapatkan sampai berurusan dengan custom yang weird
    S75, SK65, SL45, SX1, adalah masterpiece SIEMENS modern
    SL10, S10, S10 Active sang pelopor masterpiece SIEMENS pun akhirnya juga mengisi jajaran koleksi
    S25, M35, C55, M55, CX75, SL75, dan teman2 nya total 40an SIEMENS mengisi lemari koleksi
    Dan tentu akhirnya C35 kuning mulusa nan cantik ikut pula bersanding di antara teman2nya
    Ah..SIEMENS, kenangan yang tak terlupakan…
    Semua kejadian seperti kebetulan kebetulan yang bukan kebetulan
    Sehingga berjodoh dengan SIEMENS sampai akhirhayat nya SIEMENS Mobile
    Seandainya ada SIEMENS android…

    Surabaya,
    Dengan penuh cinta aku menunggu kabar mu dari Germany

    Irfan Marzuki

  106. Sayembara yang dibuka Pak HSW di blog ini membuat saya mereminder mengenai perkenalan pertama saya dengan ponsel, dimana itu terjadi pada pertengahan tahun 1999 lalu, saat saya membutuhkan sebuah ponsel untuk bisa berkomunikasi dengan gadis pujaan, yang memang saya jalin secara diam-diam alias “back street”. Eh, jangan ngeres dulu ya saat itu, keduanya masih bujangan, jadi ini pacara antara dua sejoli yang memang baru pacaran ya hehehehe…

    Keeradaan ponsel saat itu masih dianggap barang mewah, dan saat itu saya bukanlah seorang pebisnis yang selalu membutuhkan komunikasi intens dengan penjual saham, bukan pula seorang boss pengambil keputusan yang selalu berada pada posisi time kritikal, sehingga jika saya mengutarakan keinginan saya untuk memilikiponsel diketahui orang lain mungkin akan terdengar berlebihan. Namun karena saya ingin bisa berkomunikasi dengan sang pujaan hati, akhirnya saya memaksakan untuk memebli ponsel walau hanya sebuah ponsel bekas ber-merek Ericsson GF388.

    Saat itu, saya hanya mampu membeli ponsel tersebut dalam kondisi bekas dari uang hasil saya menabung, menyisihkan pendapatan alakadarnya dari hasil saya mengajar komputer di sebuah kursusan kecil di kota saya, bangga rasanya. Saat itu, saya membleinya dari sebuah toko ponsel yang memang hanya satu-satunya toko ponsel di kota saya saat itu.

    Sayangnya, harga nomor perdana saat itu masih sangat mahal, tiap hari saya memantau koran hanya untuk melihat harga nomor perdana yang dijual murah, walaupun dalam beberapa bulan setelah saya membeli ponsel tersebut, saya masih belum bisa membeli harga SIM card perdana yang saat itu harganya mencapai belasan juta. Alhasil ponsel GF388 yang baru saya beli itu hanya bisa saya buka menunya setiap malam menjelang tidur, tanpa bisa dipake telepon ataupun SMS.

    Beberapa saat setelah itu barulah saya menemukan harga kartu perdana nomor SimPati yang menurut saya harganya cukup murah, yakni Rp. 500 ribu, sehingga saya harus kembali harus menyisihkan uang, untuk bisa membli kartu perdana tersebut, sayangnya begitu uang sudah terkumpul, kartu yang ditawarkan telah dibeli orang lain dan akhirnya saya harus kembali menunggu penawaran harga kartu perdana yang masuk dengan budget saya saat itu, hingga akhirnya saya bisa menemukan penjual kartu di Bandung dengan harga Rp. 560 ribu. Akhirnya, ponsel Ericsson GF388 pun serasa bernyawa, saya bisa menghubungi Ibu saya di rumah, dan pacar saya di kantornya, walaupun saat itu seringnya saya yang melakukan panggilan ketimbang saya menerima telepon dari luar.

    Tidak lama dari situ, saya pun mencoba mencari aksesoris untuk digunakan di ponsel tersebut, aneka casing kulit pernah saya coba, mulai dari casing belt-clip yang ditempel di pinggang, hingga casing berbahan velcro menyerupai tempata pistol di film-film detektif Amerika yang dibelitkan diantara bahu dan dada. Jika inget itu sekarang sepertinya lucu ya, tapi saat itu saya merasa “gagah” karena belum banyak teman yang menggunakan ponsel saat itu.

    Saya juga sempat beberapa kali mengganti baterai-nya yang terasa sangat boros, beberapa kali saya juga mengganti flip-nya yang memang sangat rentan patah, walau sebenarnya flip tersebut tidak memiliki fungsi signifikan terhadap fungsi telepon, karena micnya memang terletak pada body ponsel, flip tersebut hanya digunakan untuk menutup tombol ponselnya saja yang sebenarnya bisa dikunci dari sistemnya.

    Saat itu komunikasi SMS juga hanya bisa dilakukan hanya sesama operator, sehingga ponsel lebih banyak digunakan untuk bertelepon dibanding SMS, hingga beberapa bulan setelah itu barulah SMS bisa dilakukan secara lintas operator.

    Saya juga pernah mengalami hal menarik ketika akan meperbaiki ponsel tersebut, karena lawan bicara sering mengeluh bahwa suara saya terdengar kecil, saya pun mengira bahwa mic pada ponsel Ericsson GF388 yang saya miliki terhalang debu, saya pun meminjam hair dryer ibu saya dan mencoba membersihkannya namun tidak berhasil, hingga akhirnya saya membawa ponsel tersebut ke tempat reprasi di Bandung, namun biayanya terbilang mahal untuk saya saat itu, Rp. 150ribu, hingga akhirnya saya urung untuk membetulkan ponsel tersebut.

    Iseng-sieng saya mencoba membongkar sendiri ponsel tersebut dan menemukan bahwa mic ponsel Ericsson GF388 memiliki bentuk yang sama dengan kondensor mic ukuran kecil, saya pun mencoba menggantinya dengan kondensor mic yang saya beli dengan harga hanya Rp.1.500 dari toko elektronik di Subang dan ketika saya pasang, mic saya bisa bekerja dengan baik dan lawan bicarapun bakhirnya bisa mendengar suara saya dengan jelas.

    Singkat cerita, beberapa tahun kemudian sayapun melamar gadis itu ke orang tuanya di Jakarta, dan akhirnya lamarnapun di terima, saya pun kini menikah dengannya dan dikaruniai dua orang anak, anak pertama kini baru berusia 11 tahun dan anak kedua kini baru berusia 9 bulan. pertemuan saya dengannya memang bukan karena sebuah ponsel, atas izin-Nya lah kami bisa bersama. Namun dari semua pengalaman yang telah saya lalui saya memiliki kesimpulan bahwa “Tidak ada hal yang sulit ketika kita memiliki keinginan”, semuanya bisa kita dapat asal kita terus berusaha.

    Salam hangat dari Subang.

    Oki Rosgani
    Subang – Jawa Barat

  107. Ponsel Pertamaku, Ibarat Kekasih Dia Paling Setia

    Ponsel pertama yang sampai saat ini masih aku pakai adalah Nokia tipe 1202. Ponsel pertamaku ini sering dijuluki sebagai Nokia senter, memang tipe dari nokia senter ini cukup banyak dan dialah salah satunya. Namun, lebih lengkap ketika aku coba cek dengan menggunakan *#0000# :
    1202-2 V 02.80
    26-09-08
    RH-112
    (c) MNP
    Languange : (MD)

    Waktu itu, beli ponsel tersebut sebagai hasil kerja kerasku di Warnet. Karena selain jadi mahasiswa, aku juga harus mencari sampingan kerja di Warnet demi bertahan hidup di Pulau Madura.

    Saat ini, saya masih domisili di Madura, tepatnya di Perumnas Kamal-Bangkalan. Saya di Madura sebagai anak perantauan yang berasal dari Kabupaten Tuban di Jawa Timur. Di pulau garam ini, aku menimba ilmu di Universitas Trunojoyo Madura sebagai salah satu mahasiswa Teknik Informartika.

    Sebagai seorang mahasiswa, saat ini saya sedang menempuh Tugas Akhir. Ceritanya, saya pernah mendapatkan tawaran untuk magang di sebuah perusahaan media di Jakarta. Sebuah keberuntungan yang luar biasa, namun sempat ragu untuk menerima tawaran tersebut. Alasanya, untuk berangkat dari Madura ke Jakarta dan biaya hidup di Jakarta kita tahu itu sangat mahal……katanya.

    Namun, berbekal keaktifanku di sebuah komunitas blogger Madura yang sering mengikuti undangan acara, saya pernah mendapatkan hadiah hasil dari lomba livetweet berupa Ponsel Samsung Galaxy Young. Nah, tawaran magang ke Jakarta tersebut sebulan setelah aku mendapatkan hadiah Samsung Galaxy Young tersebut. Sehingga, berbekal Handphone hadiah tersebut, saya merelakan menjual Samsung galaxy young tersebut sebagai bekal berangkat ke Jakarta.

    Pikirku, kalau dijual toh saya juga masih ada HP Nokia senter ponsel pertamaku tersebut. Sehingga saya pun berhasil sampai di Jakarta. Setibanya di Jakarta, ternyata eh ternyata di tempatku magang diwajibkan untuk mempunyai Handphone Blackberry. Sehingga waktu itu dengan bantuan dari kantor saya diberikan kelonggaran untuk membeli Blackberry. Sebagai alat komunikasi dan koordinasi melalui Grup BBM. (Waktu itu BBM belum masuk Android)

    Saat mulai menggunakan BB dan setelah kurang lebih 4 bulan di Jakarta, tiba akhirnya waktu untuk pulang karena jadwal magang di Jakarta sudah selesai. Yang awalnya hanya 3 bulan eh ternyata molor 4 bulan. Sehingga terkait banyak hal aku harus pulang. Dan yang aku lakukan adalah menjual Blackberry tersebut untuk bekal pulang ke Madura demi melanjutkan kuliah dan tugas akhir atau Skripsi.

    Jadi, Berangkat Jual Samsung Galaxy Young Pulang Jual BB, Nokia Senter Tetap Setia

    Kembali ke Madura dengan cerita dan pengalaman luar biasa. Banyak perubahan yang aku dapatkan termasuk hal baru tentang dunia kerja. Akan tetapi ada satu yang tidak berubah sebelum atau sesudah aku dari Jakarta yaitu Nokia Senter 1202. Ponsel pertamaku tersebut tetap aku pertahankan meski aku tahu kapasitas penyimpanan phonebook cuma 200 yang bisa berjumlah 400 karena ditambahan penyimpanan di Simcard. Memang tidak cukup untuk menyimpan seluruh nomor handphone teman-temanku, belum lagi teman-teman yang tidak hanya punya 1 nomor. Ponsel pertamaku tetap bisa memudahkanku untuk mengetik kala ngantuk dan tak perlu repot melihat layar untuk mengetik, hanya cukup dengan meraba saja sudah hafal. Kamu ponsel pertamaku penerang hidupku saat mati lampu. Kamu setia menemaniku….meski kamu saat ini sudah terlihat tidak cukup pintar karna kalah pintar dengan ponsel pinter yang semakin laris dan banyak. Bagiku, amu tetap bisa bermanfaat bagiku dan tetap menemaniku.

    Intinya, Ponsel pertamaku Nokia 1202 menemaniku selalu dalam perjalanan panjang kehidupanku. Meskipun aku selingkuh dengan Samsung Galaxy Young kemudian aku putus. Kemudian aku selingkuh lagi dengan Blackberry dia tetap saja tidak marah. Karena alasan itu, aku punya komitmen untuk tidak akan menjual ponsel pertamaku Nokia 1202 tersebut sampai kapanpun. Karena dia ponsel paling setia yang pernah aku miliki sebagai ponsel pertama pertamaku. Meski bila nanti kamu bukan ponsel terakhir, aku yakin kisahmu menemani hidupku tak akan pernah berakhir….Terima kasih ponsel pertamaku Nokia 1202 Senter. I Love you

  108. Walaupun hanya mahasiswa tingkat akhir, namun keinginan memiliki handphone yang pada saat itu merupakan barang mewah sudah sampai diujung ubun-ubun. Apalagi saat itu hendak kuliah kerja lapangan di Jakarta yang pasti akan sulit kalau hanya mengandalkan wartel. Ternyata harapan itu menjadi kenyataan ketika saudara yang memang sudah menggunakan hendak mengganti dengan model yang paling baru, merk motorola kalau tidak salah karena saat itu sedang tren sekali jenis startac. Akhirnya nokia 2010 berwarna abu-abu bisa saya tebus dengan harga 200 ribu saja dan lebih enaknya lagi bisa dicicil karena uang saku saya ke Jakarta hanya 500ribu untuk 1 bulan.
    Kesampaian juga akhirnya saya memakai handphone untuk pertama kalinya. Sesampai di Jakarta, saya membeli simpati dengan pulsa 100ribu dengan total seluruhnya 220 ribu. Jadi total uang yang saya habiskan untuk menggapai mimpi saya adalah 420ribu. Untunglah dengan sistem Cicilan menjadikam hiddup saya agak ringan.

    Dengan fungsi yang pas pas an menjadikan handphone saya hanya bisa dipandang dan dipegang saja. Karena pada saat itu pulsa telpon sungguh mencekik dan sms pun tidak ada lawan.
    Yang akhirnya pulsa 100ribu habis hanya dalam waktu 2 hari 🙂

    Dan pada akhirnya, setelah satu minggu hanya sedap untuk dipandang saja dan rutinitas sehari-haripun hanya di pabrik, maka saya putuskan untuk menjual di Jakarta bersama dengan kartunya karena saat itu kartu Jakarta hanya bisa digunakan di Jakarta saja.

    Waktu itu saya bisa menjualnya dengan harga 400ribu plus kartunya sehingga cicilan saya langsung lunas dan saya mendapatkan pengalaman pertama menggunakan handphone yang ternyata masij belum perlu saya gunakan
    Terimakasih

  109. Ponsel Pertamaku… Warisan…

    Tiga orang boss dikantorku yang kebetulan berlokasi di Jakarta pusat, secara kebetulan di tahun 1998 sedang memiliki handphone baru Motorola Startac, dan mereka berencana me’waris’kan handphone bekas yang mereka pakai ke para marketing team mereka. Kebetulan ada tiga orang marketing yang berkesempatan mendapatkan warisan tersebut, dan kebetulan saya termasuk kandidat ahli warisnya….
    Ketiga handphone warisan tersebut adalah dua unit Nokia (lupa serinya) dan satu lagi yang termasuk baru (ditahun tsb) adalah Ericsson GF388 (flip). Kebetulan dari ketiganya saya naksir yang terakhir, termungil dan tertipis (dieranya). Karena untuk menghidari rebutan dan saling iri, maka diadakan undian sederhana oleh ketiga boss tersebut melalui ‘gulungan kertas’. Dalam hati kecil saat itu saya berharap untuk mendapatkan handset idamanku. Sambil dag..dig..dug.. akhirnya hasil undian menempatkan handset Ericsson GF 388 tersebut ke dalam genggaman tanganku. Wow…. gembira sekali rasanya, meskipun handset warisan, tetapi Soetrisno yang tidak pernah bermimpi (dalam arti mimpi sebenarnya) ternyata dapat menggunakan secara penuh handset tersebut selama kurang lebih 2 tahun menyertai perjalanan hidup di kantor dan pribadi… Sejak saat itu Ericsson menjadi salah satu brand favorit saya untuk pemilihan handset selanjutnya.
    Meskipun warisan, tetapi tetaplah yang pertama.

    Penulis,
    Soetrisno @ Serpong

  110. Hi, Ponselmu-ers… Saya Yohanes D Putra dari Sidoarjo, pengin ikutan sharing tentang HP Pertamaku.

    Tidak dapat dipungkiri, telepon seluler merupakan salah satu pengembangan teknologi komunikasi yang sangat membantu mobilitas kita di masa sekarang. Coba bayangkan jika sekarang berbisnis hanya mengandalkan telepon rumah, dan telepon umum. Bisa-bisa mobilitas kita terhambat.

    Begitu juga saya,
    Tahun 1997, merupakan tahun pertama kali saya memutuskan membeli HP. Saat itu saya masih berkuliah, dan bekerja parttime di sebuah tabloid kampus, Warta Ubaya (WU), sebagai Fotografer dan jurnalis.

    Saat itu mobilitas sebagai fotografer liputan sangat tinggi, namun saat itu masih cukup terbantu dengan adanya ‘pager’. Meskipun hanya dapat mengirimkan pesan text, seperti sms satu arah saja.

    Keputusan membeli HP semakin bulat saat saya mewakili tabloid yg saat itu berhasil menjadi Juara 2 nasional Tabloid Kampus, untuk mendapatkan beasiswa pendidikan jurnalistik di Jakarta selama 3 bln.

    Meski HP masih menjadi barang mewah, karena harganya yg cukup mahal (paling tidak buat saya) namun fungsi mobilitasnya yg menjadi pertimbangan utama saya.
    HP pertama saya, menguras hampir seluruh tabungan saya selama 5 tahun yg sudah saya kumpulkan sejak saya SMP,dari ngelesi musik, komputer sampai bekerja parttime di WU.

    Motorola 8900 menjadi pilihanku saat itu karena ada Bundling dengan kartu GSM XL.
    Penampilannya yg kokoh, terkesan kuat dan “gaya” karena ada tutup flipnya yg bisa dibuka tutup dan antena yg cukup besar berkesan dapat menangkap sinyal dengan kuat (HP sekarng malah ga kelihatan 😀 ).
    Dan lagi saat itu ada beberapa film yang menggunakan Motorola di dalam adegan-adegannya, jadi semakin gaya saja.

    Kalo dibanding dengan HP sekarang, Motorola 8900 cukup berat dan cukup besar, sehingga perlu tempat/tas khusus dan extra beban saat membawanya.
    Daya tahan baterai juga tidak terlalu lama, dan kalo ga salah blm ada yg lithium, juga kalo dipake telp cukup lama, panas di kuping.

    Selain harganya cukup mahal, saat itu pulsa HP sangat mahal dibanding dengan telp rumah/PSTN, kalo ga salah telp lokal PSTN 3 menit Rp 100,- sedangkan telp ke rumah dengan HP Rp 1.200,- per menit (kalo dikonversi ke nilai sekarang dengan bantuan harga krupuk pasir dulu Rp 50,- sekarang Rp 500,- berarti sekitar Rp 5000-12.000,-) dan masih menggunakan pasca bayar, sehingga kita tidak “kroso” sudah habis berapa. Di luar kota, ternyata juga roaming.
    Begitu tagihan pertama tiba, 350 ribu, untuk penggunaan selama 1 bulan (cuma saya pake 10 hari selama di Jakarta, karena takut membludak penggunaannya dan ternyata sudah membludak), mungkin kalo sekarang mungkin senilai 1 juta lebih. (Dulu US$ 1 sekitar Rp 2.000,-)

    Usia penggunaan HP pertama saya, hanya 5 bulan, karena ternyata, pendapatan saya dan pengeluaran pulsa HP (yang tadinya untuk membantu produktifitas) ternyata lebih besar pengeluaran pulsanya. Jadi saya putuskan untuk ‘break’ sejenak. Meskipun setelah beberapa bulan kemudian, saya membeli lagi handphone yg lainnya, karena tuntutan mobilitas. 🙂

    Begitulah pengalaman saya dengan HP lama pertama saya Motorola 8900, yang konon juga dapat mengusir anjing, dengan melemparkannya 🙂 (tidak pernah saya coba, karena saya termasuk pecinta hewan). Peace…
    Salam Sukses! YdP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *