Tangkai Lipat Menghemat Baterai

Kata supreme bisa dimaknakan sebagai tertinggi, terbesar, atau terbaik yang dicapai dalam bidang tertentu. Kalau Anda pernah menikmati hidangan di Pizza Hut, di sana ada pizza super supreme. Harganya lebih tinggi daripada pizza lain, namun topping atau isinya paling komplet.

Sejak beberapa minggu lalu penulis menguji pakai headset alias handsfree bluetooth Jabra Supreme. Nah, hanya dengan membaca tipenya, Anda seharusnya sudah bisa menebak positioning peranti nirkabel tersebut.

Supreme bukanlah handsfree bluetooth murah meriah. Ia tergolong produk premium. Harga ritel yang disarankan Rp 1,25 juta. Seperti yang rutin terjadi, toko-toko independen di pusat penjualan ponsel mematok harga lebih rendah. Dalam pantauan penulis, mayoritas pengelola toko menawarkan Supreme di rentang harga Rp 950 ribu hingga Rp 1 juta.

Tampilan fisik Supreme tidak mungil dan cantik, melainkan justru terlihat tambun dan old fashion. Sepintas mirip handsfree bluetooth generasi pertama. Kala dipakai, ada tangkai cukup panjang yang menempel di pipi pengguna.

Namun, di balik wujud fisik yang mungkin membuat Supreme takkan dilirik pengguna wanita, ada sederet kecantikan internal yang layak dicermati. Pada saat bersamaan, ia bisa dihubungkan dengan dua ponsel sekaligus. Ke ponsel mana pun sebuah panggilan masuk tertuju, Supreme siap menyambarnya.

Peranti berdimensi fisik 89,7 x 29,9 x 21,9 mm dan berat 18 gram itu telah mengadopsi teknologi Active Noise Cancellation. Jabra mengklaim, Supreme merupakan handsfree bluetooth mono pertama yang mengimplementasikan hal tersebut. Supreme juga sudah mengaplikasikan teknologi pereduksi Wind-Noise.

Manfaat nyata penerapan dua teknologi itu, pengguna Supreme dan lawan bicaranya bisa berkomunikasi dengan lebih nyaman. Anggaplah penulis yang memakai Supreme menelepon Anda. Penulis sebenarnya berada di lokasi yang cukup gaduh. Kendati demikian, Anda dapat mendengar suara penulis dengan relatif jelas. Demikian sebaliknya.

Sebagai bagian dari uji coba, penulis mengaitkan Supreme ke telinga. Penulis lalu memakai helm bukan full face. Supreme terasa agak menekan telinga, namun tak sampai menimbulkan rasa sakit.

Dengan kondisi seperti itu, penulis kemudian mengendarai sepeda motor Yamaha Alfa II R melewati jalan yang padat kendaraan bermotor. Beberapa kali penulis sengaja menepikan motor, melakukan panggilan ke nomor tertentu, lalu melanjutkan perjalanan begitu terdengar nada sambung. Hasilnya, di tengah jalan yang ramai pun, ternyata penulis masih bisa bercakap-cakap dengan lancar.

Beralih ke tangkai Supreme yang oleh Jabra dinamakan Flip-Boom arm. Tangkai yang bisa dilipat tersebut sekaligus berfungsi laksana tombol power. Bila tangkai dilipat, maka Supreme otomatis tidak aktif alias off. Sebaliknya, bila lipatan dibuka, Supreme spontan menyala.

Mekanisme lipatan seperti itu memberikan dua keuntungan. Pertama, saat tidak diperlukan dan tangkai dibiarkan terlipat, Supreme dapat dikantongi dengan nyaman. Kedua, konsumsi baterai bisa dihemat. Sebab, Supreme tidak harus selalu siaga. Biarpun tidak seboros saat aktif dipakai bertelepon, aktivitas siaga tetap mengurangi daya baterai, bukan?

Merujuk pada pengalaman penulis, sekali di-charge sampai penuh, Supreme siap mendampingi penulis selama empat hari. Kala daya baterai mulai melemah, tancapkan saja charger bawaan ke konektor micro USB yang tersedia.

Secara umum, Supreme sukses memuaskan penulis. Pada saat bersamaan, ia juga berhasil meninggalkan sebuah misteri. Misteri? Ya! Ketika Supreme penulis padukan dengan Sony Xperia S, Motorola Fire XT, BlackBerry Curve 9300, maupun Nokia X2-02, ia bekerja tanpa kendala. Sekadar informasi, harga empat ponsel itu termurah Rp 650 ribu dan termahal Rp 5,5 juta.

Lain waktu, penulis memasangkannya dengan Nokia 2330c yang kini dijual di kisaran Rp 315 ribu. Supreme sukses terkoneksi via bluetooth dengan ponsel. Namun, entah mengapa, ketika penulis bertelepon, lawan bicara nyaris selalu kesulitan mendengarkan ucapan penulis. “Suaranya kecil banget,” tukas lawan bicara, meskipun penulis sudah mengatur volume pada posisi tertinggi.

Jangan-jangan Supreme merasa gengsi kala dipasangkan dengan ponsel murah meriah nih. He… he… he…. Tapi, logikanya, konsumen yang membeli ponsel Rp 300 ribuan takkan rela berbelanja handsfree bluetooth dengan harga tiga kali lipat lebih mahal tho.

15 thoughts to “Tangkai Lipat Menghemat Baterai”

  1. ternyata anda masih punya Yamaha Alfa?? hehehe…
    benar2 cara mengetest sesungguhnya 😀
    setidaknya Supreme masih bisa berfungsi dengan baik di X2-02 yang termasuk handphone lumayan murah.

  2. Pak Yopie,

    Iya. Sehari-hari transportasi utama saya Yamaha Alfa II R keluaran 1996.

    He.. he.. iya, X2-02 masih bisa digolongkan murah.

  3. Pak Dino,

    Iya, Alfa-nya masih ada. Kurang 9.000-an kilometer lagi, berarti speedometernya telah kembali ke nol sebanyak tiga kali.

  4. wah, masa’ pak Herry hapenya banyak, canggih2, tapi motornya masih Alfa, hehehe… walaupun saya yakin Alfa nya terawat dgn baik.

  5. Pak Yopie,

    Terus terang saya sudah merasa Alfa ini perlu diremajakan. Sempat terpikir beli motor baru. Tetapi, akhirnya saya urungkan karena saya sering harus parkir di pinggir jalan.

    Dengan memakai Alfa, saya tak terlalu khawatir meninggalkannya di tepi jalan. Hal serupa takkan terjadi kalau saya sudah berganti dengan motor baru.

    Ya, Alfa ini cukup terawat. Saya biasa membawanya ke pusat perbaikan resmi setiap 3.000 km. Masalahnya, sekarang mencari suku cadang untuk Alfa sudah sangat sulit. Kabel bodi motor itu, contohnya, sudah aus. Saya sudah berkeliling mencari kabel bodi pengganti, bahkan termasuk posting di internet, tetapi sampai detik ini belum menemukan penjualnya.

  6. ya, memang ‘keuntungan’ dari motor lama adalah tenang saat ditinggal di parkir manapun.
    saya dulu pernah pakai Astrea Prima ’90 sampai tahun 2009, bagi orang lain motor tsb sdh termasuk kuno, namun bagi bbrp orang tertentu sempat menawar harga karena melihat kondisinya yg masih lumayan bagus, tapi yang jelas lebih tenang saat ditinggal di parkir.
    mungkin pak Herry bisa coba cari di pasar penjual barang rongsok / bekas pakai yg masih bagus.
    atau mungkin pak Herry bisa cari Honda Grand yg masih lumayan bagus, kan type tersebut sudah tidak terlalu dilirik pencuri lg, atau mungkin seperti Kawasaki Kaze, Kymco Cevira, dll yg sekiranya tidak dilirik tapi sudah 4 tak.
    btw, comment2 saya koq jadi motormu.com, hehehe…

  7. Pak Herry, bagaimana caranya meng-upgrade android 4.0.3 pada lenovo S880 menjadi 4.1 Jelly Bean? Mohon Informasinya Pak, terima kasih. 🙂

  8. Pak Elfarach,

    Setahu saya Lenovo belum mengeluarkan update. Bila memang ada update, di layar ponsel akan muncul.

    Btw, lain kali kalau bertanya tolong diusahkan di artikel yang nyambung ya, Pak. Misalnya, tanya Lenovo di artikel yang membahas Lenovo. Kecuali, memang tak ada artikel yang membahasnya.

  9. Kok malah jadi bahas motor ya…hahaaa

    Skalian mau nanya pak Harry
    Di forum jual beli di K****S the largest indonesian community, kok hape merk himax kok banyak sekali dijual, trs tiap saya buka threat nya selalu sold out. Review tentang hape merk itu juga bagus banget. Di sebuah majalah ponsel juga bagus reviewnya. Mengingat merk itu baru masuk ke indonesia, bukan hape branded, dan melihat rentang harga yang terbilang murah, apakah memang demikian istimewanya hape android merk tersebut. Terus terang saya kepingin beli. Mohon pencerahan pak harry. Matur nuwun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *