Uji Pakai Layanan AHA (1)

Pemburu layanan akses data bergerak dengan kecepatan tinggi memiliki satu alternatif baru. PT Bakrie Connectivity (BConnect), unit usaha baru PT Bakrie Telecom, meluncurkan layanan AHA yang berbasis EvDO alias evolution data optimized. Kecepatan unduh yang dijanjikan hingga 3,1 megabit per second (Mbps), sedangkan kecepatan unggahnya sampai 1,8 Mbps.

Tak seperti biasanya, kali ini masyarakat Jakarta harus gigit jari dulu. Surabaya justru dipilih menjadi kota pertama yang bisa menikmati AHA. Jakarta masih menanti giliran. Minimal setelah AHA merambah Malang, Jogja, Semarang, Solo, dan Bogor.

Bagaimana kinerja AHA pada awal kehadirannya di Surabaya? Karena saya bukan cenayang, untuk menjawabnya saya harus melakukan uji pakai. Jadi, langkah pertama adalah mencari modem yang kompatibel dengan layanan AHA.

Awalnya saya berencana membeli modem USB EvDO yang unlocked sehingga bisa dipadukan dengan kartu RUIM aneka operator CDMA. Cari yang bekas saja deh, biar murah. Karena tak kunjung mendapatkan penawaran yang sesuai, saya memutuskan membeli modem bundel AHA. Nama lengkapnya Olive VME 110 dan dibanderol Rp 499 ribu.

Tempat yang pasti memiliki stok modem AHA adalah stan pameran AHA di Surabaya Town Square (Sutos). Pameran dimulai pada Jumat, 25 Juni 2010 dan berakhir dua minggu kemudian. Sayang, pada Jumat sore hingga malam saya tak sempat meluncur ke Sutos. Mau coba beli di WTC, ternyata beberapa kenalan yang saya hubungi belum punya stok modem AHA.

Sabtu pagi, 26 Juni 2010, di iklan baris Jawa Pos saya lihat ada pemasang iklan yang menawarkan modem AHA. Saya telepon, eh… ternyata lokasi gerainya tak jauh dari rumah. “Saya pesan satu, Mbak. Tolong disimpankan dulu ya. Paling lambat pukul 11.00 saya ambil,” ujar saya. Saat itu pukul 09.10.

Usai mandi, saya bergegas ke gerai penjual. Satu unit modem AHA dipinang. Harga Rp 499.000 alias sama dengan harga di pameran. Nggak boleh kurang sama sekali. Namun, tak sampai dijual lebih mahal seperti yang dilakukan oleh pemasang iklan di www.bekas.com.

Pengujian segera dimulai. Di ransel telah duduk manis laptop Compaq CQ20-205TU. Karena baterai laptop berlayar 12 inci itu sudah drop, hanya mampu bertahan maksimal lima menit sebelum “berteriak” minta di-charge, saya harus mencari lokasi uji pakai yang dilengkapi dengan colokan listrik.

Kedai Kopi di Jl Klampis Jaya menjadi pilihan pertama. Lokasinya hanya sekitar satu menit bersepeda motor dari tempat saya membeli modem. Ups… ternyata masih tutup. Sasaran berubah ke Tompotika Food Center di Jl Manyar Tirtoyoso. Tersedia colokan listrik pada beberapa meja di pujasera itu. Boleh dipakai, asalkan bersedia membayar biaya tambahan Rp 5.000 dengan masa pemakaian maksimal tiga jam. Masih rasional deh.

Modem dibuka, lalu diaktivasi. Layanan akses data unlimited yang teorinya bisa menikmati kecepatan hingga 3,1 Mbps siap digunakan.

Saya memesan satu porsi lontong balap. Hidangan khas Surabaya itu disajikan dalam kondisi hangat. Kuahnya segar. Kecambahnya juga tampak bersih. Sisi minus ditemukan pada lento. Ia lebih tepat disebut sebagai tepung yang digulung ke sana kemari sampai ruwet daripada lento. Ups… saat lontong balap hampir ludes, saya baru teringat kalau belum difoto.

Sambil menyeruput kuah lontong balap, modem saya atur agar selalu berada di jaringan EvDO. Lumayan, dapat sinyal empat bar dari maksimal lima bar.

Ada empat aktivitas utama yang saya lakukan selama uji pakai di Tompotika Food Center itu. Ragam aktivitas tersebut kelak dilakukan pula di tempat lain.

Pertama, mengakses video di YouTube. Kecepatan rata-rata mencapai 374 kilobit per second (kbps), sedangkan kecepatan maksimal sempat menyentuh 730 kbps.

Kedua, mengunduh file berukuran minimal 81 MB dari server lokal. Untuk menghemat waktu, proses pengukuran dilakukan tanpa menanti pengunduhan file tuntas. Kecepatan rata-rata 580 kbps, sedangkan kecepatan tertinggi 800 kbps.

Ketiga, mengukur kecepatan unduh dan unggah via situs Speedtest.net, Bandwidthplace.com, dan Indosatm2.com yang menyediakan penguji kecepatan secara online. Pemakaian tiga situs berbeda itu sengaja dilakukan supaya hasil yang diperoleh mampu memberikan gambaran lebih nyata.

Ini hasil Speedtest.net. Kecepatan unduh (download) 1,34 Mbps, sedangkan unggah (upload) 0,13 Mbps.

Hasil pengukuran versi Bandwidthplace.com lebih lambat. Kecepatan unduh 705 kbps, sedangkan unggah 121 kbps.

Bagaimana dengan pengukuran kecepatan via Indosatm2.com? Hasilnya, kecepatan unduh 627 kbps, sedangkan kecepatan unggah 129 kbps.

Aktivitas terakhir, saya mengunggah puluhan file foto ke Ovi.com. Kecepatan rata-rata pengunggahan 103 kbps. Sempat sih menyentuh 192 kbps.

Hmm… kok masih agak lapar ya. Saya bergegas memesan roti bakar cokelat keju untuk pengganjal perut. Begitu datang, permukaan roti saya raba. “Hangat,” gumam saya dalam hati. Langsung deh digigit dengan penuh keyakinan. Wadaw! Ternyata bagian dalamnya panas banget. Bahasa Jawanya, lidah kecanthang nih. Cita rasa cokelat lebih dominan daripada kejunya.

Uji pakai di lokasi pertama selesai. Sebelum meninggalkan tempat, tak lupa membayar “kerusakan” yang dilakukan. Total Rp 27.000, terdiri atas air mineral 600 ml Rp 3.500, lontong balap Rp 9.000, roti bakar cokelat keju Rp 7.500, pajak 10 persen Rp 2.000, dan biaya colok listrik Rp 5.000.

Kelak akan berlanjut ke cerita uji pakai di lokasi kedua, di Plasa Marina, Jl Raya Margorejo Indah, Surabaya.

12 thoughts to “Uji Pakai Layanan AHA (1)”

  1. Haha bung Harry seger negh foto fotonya, hmmm sepintas niru gaya bahasa pak bondan negh wkwkwk(kidding), btw nice ulasannya 🙂 ditunggu episode ke 2.( hmmm kira kira menu apa yach yg dicoba :p)

  2. Pak Ramz,

    FUP untuk paket harian 0,5 GB, sedangkan bulanan 3 GB. Setelah itu kecepatan akses akan “dicekik” sampai kecepatan tertentu yang hingga saat ini belum diumumkan.

    Satu hal yang perlu diketahui, FUP tersebut kayaknya belum diterapkan. Sebab, biarpun dalam dua hari saya telah menghabiskan 3,672 GB, kecepatan akses tidak mengalami “pencekikan”.

  3. wah boss Herry SW
    mantap tuh ulasan online nya

    apa lagi lonong balapannya,
    sayang sudah habis baru di foto

    di tunggu part 2 nya

  4. Pak Djody,

    Iya tuh, Pak. Lontong balap nyaris habis, baru ingat kalau belum difoto.

    Episode keduanya nanti dulu ya, Pak. Sekarang saya sedang ngetik naskah untuk suatu tabloid. Hari ini deadline. Tuntas menyelesaikan naskah itu, baru deh mengetik naskah AHA episode kedua.

  5. Bang Herry tinggal deket klampis ya ? berarti beli modemnya di toko Xpoint klampis yg jual flashdisk itu dong.. baca ulasannya jadi mupeng pengen beli daripada ke sutos kejauhan… rumah saya di tandes Bang..

  6. Pak Andi,

    Benar, saya beli di Xpoint. Ketahuan dari nota pembayarannya ya. Lha kalau rumah di Tandes, bukankah Sutos lebih dekat daripada Klampis? Namun, pameran AHA di Sutos sudah berakhir. Jadi, ya jangan cari di Sutos.

  7. ^
    atas saya tuh Herry SW reviewer HP itu??

    btw, waktu makan di manyar tompotika kok ga ajak saya bro?
    deket banget sm rumah saya soalnya…
    hahaha

    wah, jadi tertarik beli AHA…

  8. Pak Stanley, benar, saya Herry SW yang biasanya menulis review ponsel. Oh, Bapak tinggal di Manyar Tompotika ya?

    Pak Kummy, jadwal peluncuran di Medan belum saya ketahui.

  9. Bang ni AHA make kartu apa sih?esia bukan…lo misalnya kartu yang ada dimodem AHA itu dikasih ke modem cdma lain bisa ga?kebetulan saya makai fren mobi…skrg dah lmbat bgt …sering disconect…mw ganti ni kaya’na…tpi bingung kartu cdma pa yg bagus yang support evdo..sya make modem venus vt 21 evdo rev A…bls di email saya ya bang…oke…thanks…,

    1. Pak Buzzed,

      AHA menggunakan kartu AHA. Kalau sudah punya kartu Esia, kelak bisa ke Gerai Esia untuk upgrade kartu. Namun, hal tersebut saat in belum bisa dilakukan.

      Kartu AHA bisa digunakan di modem EvDO 800 MHz yang berstatus unlocked.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *