Uji Pakai Layanan AHA (2)

Kelar menguji pakai AHA di Tompotika Food Center, Jl Manyar Tirtoyoso, Surabaya, saya meluncur ke Plasa Marina. Ternyata di atrium pusat perbelanjaan itu sedang berlangsung Bursa Gadget Indosat. BlackBerry 8800 dijual Rp 1 juta saja, sedangkan Storm generasi pertama dibanderol Rp 2,2 juta. BNIB lho. BNIB? Maksudnya, brand new in box alias 100 persen baru dan komplet.

Spontan saya tertarik membeli satu unit 8800. Petugas menyatakan bahwa saya harus berlangganan Matrix selama minimal enam bulan. “Tak masalah,” ujar saya. Ketika si petugas menyebutkan satu syarat lagi, saya langsung menyerah. Ternyata harga khusus itu hanya berlaku untuk pemilik kartu kredit HSBC. Kebetulan saya tak memilikinya. Satu-satunya kartu kredit di dompet saya bergambar Batman dengan logo BCA dan Visa.

Oke, kembali ke tujuan semula. Cari tempat yang enak buat ngetik. Ketersediaan colokan listrik untuk laptop bersifat wajib. Ada lima alternatif tempat yang bisa saya pilih. Di lantai tiga ada Telkom Cafe. Saya mengabaikannya karena cita rasa hidangan di sana kian hari kian berantakan. Padahal, harga yang dipatok tak bisa disebut murah. Biarpun ada larangan merokok, praktiknya ada saja pengunjung kafe itu yang merokok. Bahkan, karyawan kafe dengan tulus “mendukungnya”. Begitu terlihat ada pengunjung yang mengeluarkan kotak rokok, tak lama kemudian sebuah asbak bakal disodorkan.

Pilihan yang lebih variatif tersedia di lantai 1. Di samping eskalator ada gerai Dunkin’ Donuts. Kesesuaian antara kualitas hidangan dan harga di gerai itu cukup sepadan. Namun, colokan listrik tersedia di area merokok yang tertutup. Kalau pengunjung yang merokok kebetulan banyak, hmm… ibarat mengetik di ruang berkabut deh. Coret

Berhadapan dengan Dunkin’s Donuts, dipisahkan oleh area yang sedang digunakan untuk Bursa Gadget Indosat, ada XL Cafe. Colokan listrik tersedia nyaris di bawah setiap meja. Tetapi, saya tak memilih gerai tersebut karena penurunan cita rasa hidangannya dari waktu ke waktu sangat signifikan. Seiring penurunan kualitas hidangan, justru terjadi peningkatan harga jual.

Masih ada dua alternatif tersisa di lantai dasar pusat perbelanjaan yang berada di Jl Raya Margorejo Indah itu. Yakni, Telkomsel Lounge dan Xanadu Cafe. Karena lama masa duduk diperkirakan tak lebih dari dua jam, saya memilih alternatif kedua. Kebetulan, saya juga belum pernah berkunjung ke Xanadu Cafe yang memanfaatkan area pusat informasi dan demo produk Sony Ericsson.

Area pusat informasi dan demo produk Sony Ericsson itu sebenarnya sudah cukup lama beroperasi. Di sana sejak lama juga sudah tersedia kafe mungil. Tetapi, pengelola kafe baru saja berganti. Bersamaan dengan pergantian pengelola, nama kafe berubah menjadi Xanadu Cafe.

Duduklah saya di sofa empuk berbahan kulit. Entah itu kulit asli atau sintetis. Yang pasti, bukan kulit pisang. He… he… he…. Segelas es jus jeruk saya pesan. “Esnya sedikit saja ya, Mbak,” tukas saya kepada pramusaji yang melayani.

Dalam hitungan menit, pesanan saya datang. Biarpun sudah saya pesan esnya sedikit, praktiknya es batu yang dicelupkan kurang layak disebut sedikit. Namun, untunglah, masih bisa dianggap moderat. Nggak berlebihan.

Coba disedot sedikit ah. Slrrppp… segar. Jeruknya bisa dengan mudah diidentifikasi. Jadi, ia benar-benar terasa sebagai cairan jus jeruk, bukan air es rasa jeruk.

Pada permukaan gelas ada sablon bertuliskan Harley-Davidson Motor Cycle. Lho, apakah hubungan antara es jeruk dan motor gede yang harganya premium itu? Begini. Xanadu, pihak yang mengelola kafe tersebut, sehari-hari memang dikenal sebagai salah satu penjual Harley-Davidson di Surabaya. Gerainya terletak di Jl Raya Gubeng.

Mari kita mulai uji pakai dan serangkaian pengukuran. Buka You Tube dan memutar sebuah klip video. Tercatat kecepatan rata-ratanya 360 kilobit per second (kbps). Kecepatan maksimal yang pernah diperoleh adalah 1,5 megabit per second (Mbps).

Berikutnya, saya coba mengunduh file sistem operasi BlackBerry 9700 dari sebuah server lokal yang menggunakan nama buah-buahan. Lumayan. Kecepatan unduh rata-rata 1,19 Mbps. Pada rentang waktu tertentu, yang sayangnya tidak lama, kecepatan unduh sempat menyentuh 2,23 Mbps.

Seorang SPG Tri menghampiri saya. Bukan… ia bukan Agnes Monica yang siap menjadi pacar saya andaikan saya mendirikan operator seluler dan mematok tarif berlangganan BlackBerry lebih murah daripada Tri. Biarpun demikian, si SPG itu masih enak dipandang mata kok. 🙂

Rupanya sang SPG Tri bermaksud menawarkan nomor cantik pascabayar. Kendati sejak awal saya tidak berminat, saya tetap iseng melihat deretan nomor yang disodorkan. Nomor “kebangsaan” saya, 9900, ternyata tersedia. Ada dua nomor malahan. Pertama, 0899 009 9900. Ia dikategorikan sebagai nomor silver. Saya bisa mendapatkannya secara gratis asalkan berkomitmen menjadi pelanggan Tri Pascabayar selama minimal enam bulan dan besar tagihan per bulan setidak-setidaknya Rp 25.000.

Pilihan kedua lebih cantik. Nomor lengkapnya 0899 377 9900. Ia termasuk “kasta” yang satu tingkat lebih tinggi daripada silver. Kalau saya tak salah ingat, kategori itu disebut sebagai gold. Persyaratannya hampir sama dengan silver. Bedanya, per bulan minimal saya harus “menyumbang” Tri Rp 50.000.

“Saya tidak ambil dulu ya, Mbak. Lain kali saja,” kata saya.

Saatnya melanjutkan pengukuran. Saya membuka perambah Mozilla Firefox, kemudian mengetikkan www.speedtest.net pada baris alamat. Hasil pengukuran versi Speedtest, kecepatan unduh yang saya peroleh 1,31 Mbps, sedangkan kecepatan unggah 0,61 Mbps.

Kini minta bantuan Bandwidthplace.com. Pengukuran dimulai, dalam proses, dan selesai. Hasilnya… saya tidak tahu. Lho? Tampaknya waktu itu saya sedang hang. Tanpa disadari, screen capture hasil pengukuran Bandwidthplace tertimpa file screen capture Speedtest. Saya baru menyadarinya dua hari kemudian.

Baiklah, kita coba melihat hasil pengukuran via Indosatm2.com saja. Kecepatan unduh disebutkan 1,546 Mbps, sedangkan kecepatan unggah 534 kbps.

Kembali ke Mozilla Firefox lagi. Masuk ke ovi.com, sign in, klik Share, kemudian mengunggah 25 foto. Kecepatan rata-rata pengunggahan 294 kbps. Kecepatan maksimal yang tercatat 983 kbps.

Seluruh tahapan pengukuran telah dilalui. Saya membiarkan koneksi AHA tetap terhubung untuk sementara waktu. Sinyal EvDO mentok. Lima bar dari skala lima. Tarik dan kirim email bisa dilakukan dengan lancar. Demikian pula browsing.

Laptop CQ20-205TU saya shut down. Kabel dicabut kemudian digulung. Seluruh peralatan dimasukkan ke dalam ransel. Jaket berwarna abu-abu bertuliskan HSW dikenakan.

Lalu, saya bergegas melangkah ke luar meninggalkan kafe. Tiba-tiba terdengar teriakan, “Pak! Pak! Minumnya belum bayar.” Dua satpam Plasa Marina yang berdiri di samping pintu masuk menoleh. Pandangannya mengarah kepada saya. Mereka berlari.

He… he… untunglah satu paragraf di atas tidak terjadi. Saya ingat kok kalau belum bayar. Karena itu, usai menyandang ransel, saya melangkah ke kasir untuk membuat perhitungan. Segelas jus jeruk dibanderol Rp 10.000. Entah sedang ada promo apa, saya mendapatkan diskon 15 persen sehingga harga bersih jus jeruk menjadi Rp 9.350.

Selembar uang Rp 20.000 saya sodorkan. Kasir menekan-nekan tombol cash register. Bukti pembayaran dicetak. Kemudian, mulailah si kasir terlihat bingung. Ia mencari seorang rekannya. Ternyata, si kasir tidak memiliki stok uang kembalian.

Rekan yang dipanggilnya mendekat. Dompet dikeluarkan. Ada satu lembar uang Rp 10.000. Trus, ia mencoba mencari uang recehan. Tampaknya gagal. Si kasir dan sang pemilik dompet terlihat berbisik-bisik. Saya tak mendengar mereka berbicara apa. Satu hal yang pasti, mereka bukan mengata-ngatai saya langsing. Mereka rabun kuadrat kali jika saya yang berbobot 1,25 kuintal ini dibilang langsing.

Saya langsung menyela aktivitas bisik-bisik itu. “Nggak apa-apa kalau uang kembaliannya tidak ada. Cukup kembali Rp 10.000 kok,” sergah saya.

Misi di lokasi pengukuran kedua telah selesai. Tujuan berikutnya, sebenarnya nih, Bandara Juanda. Akankah terwujud?

7 thoughts to “Uji Pakai Layanan AHA (2)”

  1. * Pak Jerry, terima kasih.

    * Pak Anto, Plasa Marina kan bisa dianggap sebagai selatan. Utara? Ada. Tunggu tanggal tayangnya ya. 🙂

  2. om, saya mau tanya.
    katanya aha kalau fair usage sudah habis, speed diturunkan.
    nah itu diturunkannya jadi berapa?
    soalnya di website saya tidak menemukan pemberitahuan penurunan speed jadi berapa, cuma pernyataan speed akan diturunkan.

  3. Pak Baddy, benar, kalau sudah melebihi FUP, kecepatan akan dicekik. Namun, dicekik menjadi berapa memang belum disebutkan. Lagipula, cekikan itu sekarang tampaknya belum berlaku. Buktinya, biarpun dalam dua hari saya sudah menghabiskan tiga GB, kecepatan yang saya peroleh tetap relatif sama.

    1. Lokasi sering kali menentukan koneksi, Pak Agung. Beda lokasi, performanya bisa berbeda 180 derajat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *