Uji Pakai Layanan AHA (3)

Niat hati, setelah dari Plasa Marina, saya akan meluncur ke Bandara Juanda, Surabaya Town Square (Sutos), dan ditutup dengan Supermal Pakuwon Indah. Tujuannya sama, menguji pakai layanan AHA.

Saya mulai gamang. Haruskah ke Juanda? Setelah berpikir selama beberapa detik, jawabannya: untuk sementara TIDAK dulu.

Mengapa? Ada dua alasan. Alasan pertama, saat di Plasa Marina, tanpa sengaja saya berjumpa seorang rekan. Pekerjaan resminya dosen di sebuah perguruan tinggi swasta. Sedangkan jabatan tambahannya sebagai moderator sebuah milis BlackBerry operator GSM tertentu.

Begitu bertemu saya, ia langsung bergegas ke parkiran mobil, lalu kembali menemui saya sambil membawa kardus sepatu. “Ini sepatu door prize waktu acara ultah milis beberapa bulan lalu,” tukasnya.

Membawa kardus sepatu yang lumayan besar begitu tentu lumayan merepotkan saya yang bersepeda motor. Apalagi, kalau jarak yang hendak ditempuh cukup jauh.

Kedua, saya tak yakin di sisi luar terminal kedatangan maupun terminal keberangkatan Juanda ada restoran atau kafe yang menyediakan colokan listrik. Gerai yang saya maksud harus berada di sebelum check-in counter ya. Kalau yang posisinya berada di setelah check-in counter sih ada beberapa gerai. Saya mengetahuinya. Namun, saya kan tidak sedang memegang tiket untuk penerbangan pada hari itu. Berarti, saya takkan bisa masuk ke dalam terminal.

Dengan demikian, untuk sementara waktu Juanda tidak saya kunjungi dulu. Saya memprioritaskan Sutos dan Supermal Pakuwon Indah. Kalau waktu masih memungkinkan, baru deh ke Juanda.

Tiba di Sutos, saya sengaja mencari posisi duduk yang berdekatan dengan stan pameran AHA. Penasaran saja sih. Siapa tahu bisa mendapatkan kecepatan yang ajaib karena jaringan telah dioptimasi.

Logikanya, si operator penyelenggara pameran tentu ingin menunjukkan performa akses data yang wus… wus…. wus… kepada pengunjung pameran. Sang operator pasti tak mau ada kejadian begini: ketika pengunjung mencoba laptop demo dan mengakses situs tertentu via AHA, ternyata kecepatannya hanya puluhan kilobit per second (kbps). Idealnya minimal ratusan kbps, syukur-syukur mencapai beberapa megabit per second (Mbps).

Lokasi yang saya anggap paling strategis adalah area merokok Starbucks Coffee. Posisinya berseberangan dengan stan AHA. Jaraknya hanya beberapa meter. Sambil duduk, saya coba memotret stan AHA memakai BlackBerry 9700 alias Onyx. Inilah hasilnya.

Di sekitar lokasi saya duduk, ada beberapa orang berkaos AHA. Satu di antaranya adalah si pembaca acara alias MC. Yang lain saya duga adalah pengisi acara. Ada pula beberapa pria dan wanita berpakaian bebas yang tampaknya dari event organizer yang jasanya digunakan oleh AHA.

Sementara itu, di meja paling sudut, ada dua pria yang terlihat sibuk mengutak-atik laptop. Dari tampilan layarnya, tebakan saya mereka adalah tim teknis AHA. Sehari-hari mereka bertugas memantau dan mengoptimasi jaringan.

Agar tidak menimbulkan prasangka macam-macam, lebih-lebih saya baru tersadar kalau saat itu mengenakan kaus Telkomsel, modem AHA harus dikamuflasekan. Pouch orisinal bawaan Sony Ericsson Xperia X10 dan modem Huawei E1550 saya letakkan di atas modem AHA. Saya lalu menaruh Onyx dan X10 di dekatnya.

Setelah tersambung ke jaringan AHA, saya mengunduh email masuk dulu. Sejak meninggalkan Plasa Marina, telah tiba puluhan email baru. Beberapa email penting saya balas.

Lalu, memulai pengukuran kinerja AHA. Saya mengakses video peluncuran Sony Ericsson Xperia X8, Yendo, dan Cedar yang telah diunggah ke YouTube oleh seseorang. Kecepatan rata-rata yang diperoleh 414 kbps. Pada satu titik waktu, kecepatan akses sempat menyentuh 1,32 Mbps.

Saya lantas coba mengunduh tiga file berukuran besar dari sebuah server lokal. Ukuran file yang terkecil 124,82 MB. Kecepatan unduh yang didapatkan cukup memuaskan. Rata-rata 2,12 Mbps dan maksimal 2,53 Mbps.

Berikutnya, mengukur kecepatan unduh dan unggah menggunakan penguji kecepatan yang tersedia online di Speedtest.net, Bandwidthplace.com, dan Indosatm2.com Hasil pengukuran di Speedtest, kecepatan unduh 1,11 Mbps. Kecepatan unggahnya 0,58 Mbps.

Kecepatan unduh versi Bandwidthplace.com yang biasanya menghasilkan angka lebih kecil daripada Speedtest.net kali ini bertolak belakang. Bandwidthplace menyatakan kecepatan unduh AHA menembus 1.605 kbps. Kecepatan unggahnya 567 kbps.

Beralih ke Indosatm2.com. Kecepatan unduh tercatat 849 kbps, sedangkan kecepatan unggah 472 kbps.

Percobaan terakhir yang wajib saya lakukan adalah mengunggah puluhan file foto. Sambil mengamati proses unggah, rasa haus coba dihilangkan dengan menyedot segelas es double chocolate cream frapp. Saya membayar satu gelas ukuran tall seharga Rp 38.000, namun kenyataannya mendapatkan gelas ukuran grande.

Kok bisa? Bukan lantaran Ning Aulia Hayu, kasir yang melayani, kesengsem lho. Upgrade size itu bisa saya nikmati karena saya membayar menggunakan kartu kredit BCA. Nah, BCA dan gerai kopi “Putri Duyung” itu menjalin kerja sama promo. Kalau membayar pakai kartu kredit BCA, ukuran gelas diperbesar satu tingkat tanpa perlu menambah uang.

Cokelatnya terasa banget. Beberapa butir chip cokelat berenang-renang kecil di dalam mulut saya.

Proses pengunggahan foto ke Ovi.com tergolong lancar. Kecepatan rata-rata yang saya dapatkan 322 kbps. Sedangkan kecepatan tertinggi sempat menyentuh 1,07 Mbps.

Tuntas melakukan pengukuran, saya tidak langsung meninggalkan tempat. Tanpa beranjak dari tempat duduk, saya melihat suasana pameran AHA. MC beberapa kali terdengar kurang akurat dalam menyampaikan informasi. Ia sempat menyebutkan bahwa kecepatan download AHA hingga 31 Mbps dan kecepatan upload 18 Mbps. Komanya hilang entah dicuri siapa.

Padahal, pada kesempatan berbeda, MC yang sama telah benar dalam memberikan informasi. Kecepatan download hingga 3,1 Mbps, sedangkan upload sampai 1,8 Mbps. Jadi, kalau dipakai buat Facebook-an akan enak banget.

Arloji Skagen buatan Denmark yang saya kenakan menunjukkan pukul 16.50. Laptop saya matikan. Modem dicabut. Kabel adaptor digulung. Sebelum berlanjut ke lokasi “perburuan” berikutnya, saya perlu sedikit menyegarkan pikiran. Berjalanlah saya menuju Sutos XXI.

Tiba di depan loket, saya mencermati jadwal pertunjukan. Film yang paling segera main adalah Knight and Day. Lima menit lagi.

Setelah sebelumnya memastikan bahwa film utama belum mulai diputar, saya memilih satu kursi di tepi jalan. Selembar uang Rp 50.000 saya sodorkan. “Langsung masuk ya, Pak,” kata Mbak penjaga loket seraya menyerahkan tiket dan uang kembalian Rp 15.000.

Knight and Day mengisahkan sepak terjang Roy Miller (Tom Cruise), seorang agen rahasia, yang tanpa sengaja ditabrak oleh June Havens (Cameron Diaz) di dekat eskalator bandara. June tak menyangka kalau pertemuan awal yang tidak direncanakan itu bakal melibatkannya dalam sebuah petualangan seru. Roy ternyata sedang diburu karena membawa sebuah baterai mungil yang sebenarnya adalah sumber energi alternatif nan dahsyat. June yang sehari-hari mbengkel berpasangan dengan Roy yang terlatih bertempur. Seru sekaligus konyol.

Film laga yang dipadu dengan humor itu membuat saya sedikit rileks. Cameron Diaz ternyata masih lumayan menggemaskan. Biarpun sempat terlihat ada sedikit selulit di perutnya, plus kayaknya jaringan parut, ia tetap sedap dipandang mata. Memang sih kalah segar kalau dibandingkan dengan saat ia dulu bermain di film There’s Something about Marry.

Selesai nonton, saatnya menuju ke Supermal Pakuwon Indah. Sebelumnya, singgah dulu sebentar ke McDonald’s di bundaran tol satelit. Hasil akhirnya, saya justru terdampar di Gwalk CitraRaya. Lho?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *