Uji Pakai Layanan AHA (4)

Pengujian di Surabaya Town Square (Sutos), 26 Juni 2010, telah selesai. Selain akurasi MC dalam menyampaikan informasi seperti yang telah saya singgung pada “episode” ketiga, saya masih memiliki catatan khusus terkait kinerja AHA.

Di Sutos, untuk kali pertama, saya mengalami koneksi AHA terputus tiba-tiba. Tiada asap tiada api, koneksi yang telah tersambung terputus begitu saja. Di lokasi yang sama, aliran data upstream AHA sempat bengong.

Perjalanan uji pakai berlanjut. Dari Sutos saya meluncur ke Supermal Pakuwon Indah melewati Jl Mayjend Sungkono, bundaran tol Satelit, lalu Jl HR Muhammad. Sesampai di bundaran tol Satelit, saya berniat singgah sebentar di gerai McDonald’s. Saya tahu pasti, beberapa meja di sana dilengkapi dengan colokan listrik.

Ketika memasuki area parkir, barulah terlihat mobil memadai lahan parkir yang tersedia. Parkir sepeda motor yang biasanya hanya terisi dua baris, malam itu mencapai empat baris. Saya langsung memutuskan meninggalkan McDonald’s dan berlanjut ke Supermal Pakuwon Indah.

Di tengah perjalanan, muncul ide baru. Daripada di Supermal Pakuwon Indah yang pada malam Minggu seperti ini belum tentu mudah mendapatkan tempat parkir, lebih baik menguji pakai AHA di Gwalk CitraRaya. Supermal Pakuwon Indah hanya saya lewati. Saya melaju ke Graha Famili, lalu belok kanan ke kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang tembus ke CitraRaya.

Malam itu rupanya ada acara nonton bareng Piala Dunia 2010. Karenanya, ada ruas jalan yang ditutup. Setelah berputar dua kali, akhirnya saya menemukan lokasi parkir yang berdekatan dengan gerai yang diduga menyediakan colokan listrik. Saya sengaja mencari gerai penjual makanan yang dari luar terlihat seperti kafe atau tempat nongkrong. Saya mengabaikan gerai yang bertampilan fisik layaknya depot. Alasannya sederhana. Kemungkinan kafe menyediakan colokan listrik jauh lebih besar daripada depot biasa.

Dari lokasi parkir, feeling saya mengatakan sebuah kafe berpencahayaan agak temaram di seberang jalan menyediakan colokan listrik untuk pengunjungnya. Langkah kaki diayunkan ke sana. Tiba di depan kafe, pertanyaan klasik saya lontarkan. “Mas, apakah ada meja yang dekat dengan colokan listrik?” tanya saya.

“Ada, Mas. Untuk berapa orang? Mari ikut saya,” jawab karyawan yang saya tanya. “Satu orang saja,” kata saya. Saya pun mengikutinya.

“Di sini ya, Mas,” ujarnya. Sebuah meja dengan dua kursi ditunjukkannya kepada saya. Saya melongok ke bagian bawah meja. Kok tidak ada colokan listrik ya. Seakan membaca bahasa tubuh saya, karyawan kafe yang bernama Taste Code Rice & Dessert itu berkata,” Saya ambilkan kabel gulung dulu untuk colokan listrik.” Wow, bagus!

Sebuah buku menu disodorkan kepada saya. Hmm… makan apa ya. Harus nasi nih biar kenyang.

Saya memilih nasi goreng Italiamore. Minumannya, es jus sirsak dengan es sedikit saja.

Tak lama kemudian jus sirsak sudah tiba. Esnya benar sedikit sesuai dengan permintaan saya. Jusnya kental. Sirsaknya sangat terasa di lidah. Gula yang ditambahkan ke dalam jus itu dalam jumlah yang sesuai sehingga terasa manis, tetapi tak sampai menutupi cita rasa asli sirsak.

Berselang beberapa menit, datanglah sepiring nasi goreng Italiamore. Nasi goreng tersebut hadir paduan sosis, daging sapi cincang, dan saus yang mirip saus spaghetti dicampur bumbu pizza.

Porsinya cukup banyak. Cita rasanya pun nendang. Kalau ingin berimaginasi dengan nasi goreng Italiamore, bayangkan saja Anda makan spaghetti bolognaise. Ganti pastanya dengan nasi putih, kemudian silakan digoreng.

Saatnya melakukan pengukuran. Sama dnegan di tempat lain, ada empat aktivitas utama yang saya lakukan selama uji pakai di Gwalk.

Pertama, mengakses video di YouTube. Kecepatan rata-rata mencapai 333 kilobit per second (kbps), sedangkan kecepatan maksimal sempat menyentuh 1,38 megabit per second (Mbps).

Pukul 20.21, layanan akses data AHA sempat bengong. Koneksi masih terhubung. Sinyal AHA juga tetap penuh seperti saat saya memulai aktivitas uji pakai di Gwalk. Tetapi, AHA tak bisa dipakai browsing, download, maupun berkirim email. Setelah koneksi diputuskan, lalu disambung lagi, barulah AHA kembali dapat digunakan untuk berselancar di dunia maya.

Pengukuran kedua dilakukan dengan mengunduh file berukuran lebih dari 100 MB dari server lokal. Untuk menghemat waktu, proses pengukuran dilakukan tanpa menanti pengunduhan file tuntas. Kecepatan rata-rata 962 kbps, sedangkan kecepatan tertinggi 2,47 Mbps. Cukup mantap.

Ketiga, mengukur kecepatan unduh dan unggah via situs Speedtest.net, Bandwidthplace.com, dan Indosatm2.com yang menyediakan penguji kecepatan secara online. Pemakaian tiga situs berbeda itu sengaja dilakukan supaya hasil yang diperoleh mampu memberikan gambaran lebih nyata.

Ini hasil Speedtest.net. Kecepatan unduh (download) 1,82 Mbps, sedangkan unggah (upload) 0,68 Mbps.

Hasil pengukuran versi Bandwidthplace.com lebih lambat. Kecepatan unduh 889 kbps, sedangkan unggah 503 kbps.

Bagaimana dengan pengukuran kecepatan via Indosatm2.com? Hasilnya, kecepatan unduh 1,763 Mbps, sedangkan kecepatan unggah 590 kbps.

Aktivitas terakhir, saya mengunggah puluhan file foto ke Ovi.com. Kecepatan rata-rata pengunggahan 321 kbps. Kecepatan unggah tertinggi yang sempat diperoleh adalah 1,10 Mbps.

Total telah lebih dari satu jam saya duduk manis di kafe tersebut. Kafe yang saat saya tiba masih sepi pengunjung kini mulai ramai. Para pengunjung rupanya ingin menonton pertandingan sepak bola Piala Dunia 2010. Malam itu, pertandingan babak 16 besar antara Korsel dan Uruguay dimainkan.

Park Ji Sung berkali-kali mencoba menjebol gawang Uruguay yang dijaga oleh Fernando Muslera. Namun, pemain Korsel kelahiran 25 Februari 1981 itu rupanya belum beruntung. Pada akhir pertandingan, Korsel yang menguasai 54 persen bola justru harus menyerah 1-2 kepada Uruguay yang hanya menguasai 46 persen bola.

Sungkan telah numpang duduk cukup lama, saya memanggil pramusaji dan meminjam daftar menu. Satu porsi tamie siram ayam saya pesan. Skala standar kualitas makanan ala HSW sengaja saya turunkan hingga cukup rendah. Harga tamie siram ayam yang tercetak di daftar menu hanya Rp 13.500. Padahal, itu di kafe, bukan pedagang kaki lima.

“Tamie-nya jangan dikeluarkan sekarang ya, Mbak. Kira-kira 15 menit lagi saja,” pesan saya. Special order itu saya lakukan karena saya memantau pergerakan layanan AHA. Plus, sekaligus menjadi salah satu “jurus” untuk mengulur waktu. Biar saya dapat duduk lebih lama di sana tanpa khawatir diusir.

Ketika tamie siram ayam itu akhirnya diantarkan ke meja, saya terkejut. Porsinya ternyata cukup besar. Sayur dan daging yang disiramkan cukup banyak. Dalam penilaian saya, apa yang saya dapatkan lebih banyak daripada jumlah rupiah yang saya bayarkan.

Kuahnya saya coba cicipi dulu. Sedap. Sekarang daging dan sayurannya. Enak juga. Berlanjut ke mie yang berada di bagian bawah piring. Mie agak gepeng itu wangi dan bertekstur lembut. “Nggak rugi deh saya memesan tamie siram ayam,” ujar saya dalam hati.

Seiring ludesnya tamie siram ayam, habis pula jus sirsak yang sebenarnya sudah sedot dengan hemat. Segelas es teh manis saya pesan untuk membasahi tenggorokan.

Total tagihan saya di kafe itu Rp 53.350. Rinciannya, nasi goreng Italiamore Rp 18.500, tamie siram ayam Rp 13.500, jus sirsak Rp 12.000, es teh manis Rp 4.500, dan pajak Rp 4.850. Porsi dan cita rasa hidangan yang disajikan sangat sepadan dengan rupiah yang dibayarkan. Lain waktu Taste Code Rice & Dessert boleh dikunjungi lagi tuh.

Sebelum pergantian hari, saya akan melakukan uji pakai di satu lokasi lagi, baru kemudian merenda mimpi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *