Uji Pakai Layanan AHA (8)

Ketika hendak melakukan uji pakai AHA di kawasan Surabaya Utara, yang terbayang di benak saya adalah daerah sekitar Perak. Terbingung-bingunglah saya. Depot, kafe, atau resto apakah di Perak yang menyediakan colokan listrik untuk laptop? Saya coba mencari informasi kepada beberapa teman. Namun, mereka juga tak mengetahuinya.

Hingga duduk manis di WTC, saya belum memperoleh wangsit di manakah saya harus ngendon di Perak. Ketika adik saya menelepon dan bertanya, “Pasar Atom dan ITC apakah termasuk Surabaya Utara?”, saya bak mendapatkan durian runtuh.

Ah iya, mengapa tidak ke salah satu di antara dua lokasi itu. Menemukan depot, kafe, atau resto yang bercolokan listrik di dua tempat tersebut pasti lebih mudah. Seorang teman lantas menyarankan saya pergi ke Atoom Cafe. “Di sana tersedia colokan listrik,” tulisnya di email.

Maka, usai dari Urgent Store, saya meluncur ke Atoom Cafe di Pasar Atom Mall lantai 3. Perut mulai membunyikan alarm tanda perlu diisi makanan. Wajar. Saat itu menjelang pukul 14.30 dan saya belum makan siang. Saya memesan segelas es tarik dan satu porsi nasi goreng Ujung Pandang. Awalnya, saya hendak memesan nasi goreng Ujung Pandang porsi jumbo. Namun, seolah memperoleh peringatan batin, tiba-tiba saya mengurungkan niat dan memesan porsi biasa saja.

Komposisi es teh tariknya patut mendapatkan acungan jempol. Sehingga, tak sampai ada bahan baku tertentu yang cita rasanya dominan.

Sesaat setelah teh diantarkan ke meja, pramusaji menghampiri dengan membawa satu piring besar nasi goreng. Nasinya menggunung. Waks! Ternyata itu nasi goreng Ujung Pandang yang saya pesan. Diagonal piringnya, dari ujung ke ujung, minimal 25 cm. Mungkin lebih besar, namun takkan lebih kecil.

Pfff… padahal saya memesan nasi goreng Ujung Pandang porsi biasa. Kalau porsi jumbo sebesar apa tuh piringnya. Daging “sapi kaki pendek” dan semacam kekian telah dicampurkan dalam jumlah yang tidak pelit.

Nasi gorengnya lezat. Tetapi, karena porsinya sudah layak disebut sebagai “porsi sampah”, saya lumayan kesulitan untuk menghabiskannya. Perlahan namun pasti, saya melahap nasi goreng itu sambil mulai melakukan pengukuran.

Tahapan pengukuran dimulai dengan mengakses video di YouTube. Kecepatan unduh rata-rata 287 kbps, sedangkan kecepatan unduh tertinggi 957 kbps.

Pengukuran kedua dilakukan dengan mengunduh tiga file dari suatu server lokal. Dua file di antaranya berukuran 122,95 MB, sedangkan satu file lainnya 128,04 MB. Kecepatan yang diperoleh cukup mengesankan. Yaitu, rata-rata 2,32 Mbps dan maksimal 2,96 Mbps.

Berikutnya, mengukur kecepatan unduh dan unggah via tiga situs berbeda yang menyediakan penguji kecepatan secara online. Pertama, Speedtest.net. Kecepatan unduh tercatat 2,08 Mbps, sedangkan kecepatan unggah 0,79 Mbps.

Kedua, Bandwidthplace.com. Pengukuran menghasilkan kecepatan unduh 516 kbps dan kecepatan unggah 454 kbps.

Situs ketiga yang digunakan adalah Indosatm2.com. Kecepatan unduh menembus 2,740 Mbps. Berapakah kecepatan unggahnya? 687 kbps.

Aktivitas penutup yang harus saya lakukan adalah mengunggah puluhan file foto ke Ovi.com. Saat itulah cobaan dimulai. Pukul 15.07 alias tak lama setelah proses penggunggahan berjalan, koneksi AHA bengong. Saya sengaja membiarkannya selama sekitar satu menit. Eh, bengongnya hilang. Tak lama kemudian, koneksi yang tidak pernah terputus itu kembali bengong. Upload tak bisa, browsing diam seribu bahasa.

Karena dinanti beberapa menit kebengongan tidak sirna, koneksi sengaja saya putuskan. Lalu, saya mengawali koneksi baru lagi. Walah… nggak lama kemudian kembali bengong. Koneksi saya putuskan lagi, kemudian kembali disambung. Hasilnya, bengong lagi.

Kondisi bengong yang menerpa sengaja saya biarkan selama beberapa menit. Aliran data kemudian lancar dengan sendirinya hingga saya tuntas melakukan pengukuran. Kecepatan unggah rata-rata 318 kbps, sedangkan kecepatan maksimal menyentuh 1,09 Mbps.

Rasa haus di tenggorokan yang menjadi-jadi usai menghabiskan satu porsi “raksasa” nasi goreng Ujung Pandang makin tak tertahankan. Saya memesan secangkir teh hijau panas. Sambil menyeruput teh, saya menyapukan pandangan mata ke sekitar. Ada pemandangan yang menarik mata. Tepat di seberang Atoom Cafe ada gerai penjual busana yang tampilan etalasenya seperti di bawah ini.

Hmm… itu termasuk melanggar undang-undang pornografi dan pornoaksi atau tidak ya? :p

Sebelum beranjak pulang, tagihan harus dilunasi dulu. Es teh tarik dibanderol Rp 10.500, nasi goreng Ujung Pandang yang buaaanyaakk itu “hanya” Rp 18.000, dan teh hijau Rp 10.500. Ditambah dengan pajak, total saya mesti membayar Rp 41.100.

Perut terasa kenyang. Tubuh yang sejak sehari sebelumnya diajak keliling kota mencoba AHA terasa semakin lelah. Andaikan dipijat, lalu tidur, pasti nikmat banget nih. Sayangnya, harapan itu pasti takkan terwujud. Sebab, minimal saya harus melakukan uji pakai lagi di satu lokasi: Plaza Tunjungan. Kalau memungkinkan malahan ditambah dengan Bandara Juanda.

4 thoughts to “Uji Pakai Layanan AHA (8)”

    1. Agar hasilnya akurat dan memberikan gambaran yang memadai, pengetesan wajib dilakukan dengan serius, Pak. He… he… he….

      Nasi goreng Ujung Pandang-nya ya, Pak? Porsi bueeesar, cita rasa nendang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *