Unik tapi Tak Nyaman

Sebagian sekolah melarang siswa membawa ponsel. Kini siswa, orang tua, dan guru di sekolah tersebut dapat beradu pintar dalam merespons peraturan. Sebab, di pasaran telah beredar ponsel dengan bentuk yang tidak konvensional.

Mito S500 yang berbentuk arloji sebenarnya adalah sebuah ponsel. Ia tersedia dalam tiga warna, yaitu hitam, putih, dan merah. Harga jual arloji ponsel itu normalnya sekitar Rp 350 ribu. Namun, dengan membonceng keunikan S500, tak sedikit penjual yang mematok harga minimal Rp 400 ribu.

S500 merupakan arloji ponsel GSM. Ia menggunakan baterai lithium berkapasitas 400 mAh. Bila penutup belakang arloji dibuka, spontan terlihat satu selot kartu SIM dan microSD. Di sisi kanan arloji ponsel yang tak bisa dibilang tipis itu terdapat tombol Yes, kamera, konektor mini USB, tombol kamera, dan tombol No. Sementara itu, di sisi kiri terdapat pengait dan konektor charger untuk headset bluetooth yang disertakan dalam paket penjualan.

Arloji ponsel tersebut dibekali layar sentuh resistif 1,44 inci. Untuk menyentuh layar, pengguna bisa memanfaatkan ujung jari, tusuk gigi, atau benda runcing lainnya. Di bawah layar terdapat tombol navigasi ke atas-bawah dan tombol kembali alias back.

Kala S500 siaga, layar ponsel akan menampilkan penunjuk waktu. Dengan demikian, sepintas ia sama dengan arloji biasa. Saat pengguna hendak melakukan panggilan keluar, di layar sentuh nan mungil itu bakal tersaji tombol pemanggil virtual. Ukurannya kecil, namun masih dalam batas toleransi. Pengguna hanya perlu sedikit beradaptasi dengan susunan tombol karena tombol *, 0, dan # ditempatkan di kolom paling kanan, bukan baris terbawah.

Untuk bercakap-cakap, pengguna memiliki tiga alternatif pilihan. Mereka bisa memanfaatkan speaker internal ponsel, handsfree berkabel, atau headset bluetooth. Dua aksesori yang disebut terakhir telah disertakan dalam paket penjualan. Masing-masing alternatif memiliki plus minus.

Menggunakan speaker internal ponsel praktis karena tak memerlukan peranti tambahan. Tetapi, pengguna mungkin akan dicap aneh oleh orang lain di sekitarnya. Pengguna juga berpotensi kesulitan berkomunikasi saat berada di lokasi yang gaduh.

Handsfree berkabel memungkinkan pengguna berbincang lebih nyaman dengan lawan bicara. Suara dari kedua belah pihak jelas terdengar. Namun, mesti ada kabel yang bergelantungan.

Pilihan terakhir, memakai headset bluetooth bawaan. Keuntungannya, pengguna tak direpotkan dengan untaian kabel. Kekurangannya, volume penelepon yang terdengar oleh lawan bicara relatif kecil. “Suaramu terasa jauh banget,” kata seorang rekan penulis. Kala headset bluetooth tak dipakai, pengguna bisa  mengaitkannya ke sisi kiri ponsel. Sambil dikaitkan, pengguna dapat mengisi ulang baterai aksesori tersebut.

Ingin mengirimkan SMS memakai arloji ponsel berdimensi fisik 73,2 x 47 x 16,2 mm itu? Bisa. Pengguna malahan dapat sekaligus menguji ketajaman mata dan ketahanan emosi. Sebab, papan ketik qwerty virtual di layar ponsel itu berukuran sangat kecil. Pengguna harus berlatih ekstrakeras untuk mengetik SMS dengan cepat dan akurat.

Tak terbayang deh bagaimana reaksi kakek atau nenek pengguna seandainya diminta mengetikkan SMS via S500. Meskipun mereka sehari-hari piawai ber-SMS lewat ponsel candybar, bahkan BlackBerry, amat mungkin mereka bakal mengibarkan bendera putih jika diwajibkan ber-SMS memakai arloji ponsel itu.

Buku telepon 200 nama single entry, memori internal 123 KB, perekam suara, kalender, alarm, dan kalkulator adalah sebagian spesifikasi lain S500. Ada satu hal unik yang penulis temukan saat menelusuri menu arloji ponsel itu. Di menu network settings ada pilihan GPRS transfer preference. Padahal, S500 sebenarnya tak mendukung layanan akses data.

Oh ya, walaupun S500 dibekali kamera dan radio FM, sebaiknya dua fitur tersebut dianggap tidak ada. Pasalnya, kamera S500 beresolusi 160 x 120 piksel atau setara dengan 0,02 megapiksel saja. Ketajaman foto maupun klip video yang dihasilkan layak menyandang predikat sangat buruk. Sedangkan terkait radio FM, penerimaan siaran radio di S500 pantas dikategorikan tidak peka.

Kesimpulan akhir versi penulis, S500 merupakan ponsel yang unik, tetapi tidak nyaman. Ia hanya pantas dilirik oleh seseorang yang ingin tampil nyentrik tanpa memedulikan beragam faktor lain.

Melanjutkan paparan di paragraf pertama tulisan ini, mulai sekarang para guru harus rutin mengikuti perkembangan teknologi supaya tak mudah dikelabui siswa. Sedikit bocoran nih, saat mengetahui penulis mencoba S500, dua teman penulis bergegas membelinya. Tujuan mereka sama, untuk bekal anak tercinta yang di sekolahnya dilarang membawa ponsel.

16 thoughts to “Unik tapi Tak Nyaman”

  1. sy mau tanya pak,
    anak saya baru sj bl mito 911.Apakah bisa untuk mendownload game krn buku keterangan tdk lengkap dan gamenya hrs khusus atau gmn?

    terima kasih

  2. Bu Sandra,

    Saya belum pernah mencoba Mito 911. Barusan saya coba cek di situs resmi Mito, di sana tak ada spesifikasi rinci ponsel itu. Hanya ada spesifikasi ringkas.

    Kalau cuma mengacu ke spesifikasi ringkas itu, saya menduga ponsel itu tak bisa mengunduh game.

  3. Sekedar tambahan info..punya saya sekali lupa melindungi dan kena air. banyak error.. mulai dari tombol ga berfungsi., restart sendiri , bluetooth ga jalan. dll. jadi hati hati pemakaiannya. agak rapuh.

  4. Saya mau tanya pak,

    Tentang Mito 880, itu android ato bukan ya? soalnya kan ada game asphalt 6 yang android bisa dimainkan, terus kalo bukan android tipe gamenya pake apa ya pak, saya uda coba game java tapi tampilannya kecil sekali,terus coba yang .apk gak mau ( bukan formatnya ) n anak saya nangis terus minta main game,..makasih banyak ya pak

  5. Om tolong bahas Sony Smartwatch dan iWatch (ipod nano + gelang jam) dong…Daripada membahas produk alay seperti ini.. 🙂

  6. Pak Rio Nico,

    Saya belum pernah mencoba Mito 880. Barusan saya coba mencari informasi di situs resmi Mito, namun saya gagal menemukan penjelasan mengenai 880. Saya pribadi menduga ponsel itu bukan bersistem operasi Android.

  7. Pak Harvey K.,

    Waktu itu saya memutuskan me-review Mito S500 karena bentuknya unik dan harganya cukup murah. Kalau menguji pakai ponsel yang cukup mahal terus, anggaran belanja saya bisa membengkak, bahkan bukan mustahil defisit. 🙂

    Btw, terima kasih atas masukannya.

    1. Pak Rizal,

      He… he… Mito-nya istirahat dulu. Minggu depan saya sudah akan review Mito A90.

      Kualitas Mito saya lihat belum sebaik zaman dulu lagi nih.

    1. Pak Rafli,

      Saya sudah lupa pastinya. Kalau tak salah, mesti cari handsfree berkabel yang menggunakan konektor mini USB. Agak tak lazim sih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *