Wajah Jadi Pembuka Layar

Nama besar Samsung dan kata “Nexus” membuat kehadiran Samsung Galaxy Nexus ditunggu oleh pencinta gadget, terutama penggemar Android. Segepok harapan ditimpakan ke Galaxy Nexus. Peranti itu diharapkan mampu memberikan kepuasan ekstra, seperti ketika Google Nexus One yang diproduksi oleh HTC beredar pada awal 2010.

Penantian tersebut bulan lalu telah berakhir. Galaxy Nexus resmi dijual di Indonesia. Pada dua hari pertama, 21-22 Januari 2012, ponsel pintar pertama yang mengadopsi sistem operasi Android 4.0 alias Ice Cream Sandwich itu dijual Rp 5.999.000. Itu berarti lebih murah setengah juta rupiah dibandingkan harga normalnya yang diklaim Rp 6.499.000.

Bodi Galaxy Nexus yang didesain sedikit melengkung membuatnya terlihat cantik. Namun, menurut penulis, tampilan fisik keseluruhan ponsel itu jauh dari kesan mahal. Sisi belakangnya kental dengan nuansa plastik. Ia lebih terlihat sebagai ponsel yang dibanderol di kisaran harga Rp 2 jutaan.

Di bagian kiri Galaxy Nexus tersedia tombol volume, sedangkan di sisi kanan terdapat tombol power. Konektor micro USB yang berfungsi penghubung charger dan kabel data bisa dijumpai di bagian bawah bodi. Demikian pula dengan konektor audio 3,5 mm.

Spesifikasi layar sentuh ponsel itu terbilang menggiurkan, 4,65 inci HD Super AMOLED display. Dengan resolusi mencapai 1.280 x 720 piksel, huruf maupun gambar tersaji dengan sangat halus. Tetapi, ternyata ia tak luput dari kekurangan. Layar Galaxy Nexus gagal menyajikan warna putih dengan sempurna. Di unit yang penulis uji pakai, warna putih bersih bakal terlihat agak biru.

Karena menyangka unit yang digunakan bermasalah, penulis menghubungi seorang relasi. Ia kebetulan memakai Galaxy Nexus. Layar Galaxy Nexus yang digunakannya ternyata juga kebiru-biruan.

Sepasang kamera dibenamkan ke Galaxy Nexus. Kamera utama yang berada di bagian belakang beresolusi lima megapiksel, autofocus, dan dibekali lampu kilat. Sedangkan kamera di sisi muka beresolusi 1,3 megapiksel.

Dibandingkan kamera kebanyakan ponsel, kamera Galaxy Nexus memiliki satu kelebihan utama. Ia trengginas, gegas, alias responsif. Jeda waktu sejak pengguna menekan tombol penjepret (shutter button) sampai kamera siap dipakai mengabadikan objek lagi sangat singkat. Kurang dari satu detik.

Kamera belakang maupun kamera depan Galaxy Nexus dapat pula difungsikan sebagai perekam video. Kamera belakang sanggup memproduksi rekaman video berdefinisi tinggi penuh alias full HD 1080p. Sedangkan kamera depan dapat menghasilkan rekaman video HD 720p.

Hal yang menarik, saat melakukan perekaman video, pengguna bisa menambahkan beragam efek. Latar belakang dapat diganti dengan suasana di luar angkasa, lengkap dengan robot hijau Android. Pengguna bisa pula memilih latar belakang pemandangan alam di kala matahari terbenam.

Efek lain yang leluasa dioptimalkan pengguna adalah pengubah wajah. Mata, mulut, atau hidung dapat disulap menjadi lebih besar daripada sebenarnya. Sebaliknya, kalau mau, pengguna bisa memodifikasi mata atau mulutnya menjadi ekstramungil. Ingin terlihat gepeng pun bukan mustahil diwujudkan.

Selama berhari-hari penulis memakai peranti berdimensi fisik 135,5 x 67,94 x 8,94 mm dan berat 137,9 gram itu, Galaxy Nexus senantiasa terasa responsif. Pemakaian prosesor dual core 1,2 GHz tampaknya menjadi penyebab utama terwujudnya hal itu.

Wi-Fi, GPS, bluetooth, dan mendukung layanan HSPA+ dengan kecepatan akses sampai 21 Mbps merupakan sebagian spesifikasi lain Galaxy Nexus. Ada pula NFC, RAM 1 GB, dan memori internal 16 GB.

Ponsel yang menggunakan baterai berkapasitas 1.750 mAh itu tidak memiliki slot memori eksternal. Dengan demikian, untuk menyimpan koleksi foto, video, maupun lagu, pengguna hanya bisa mengandalkan memori internal.

Sisi menarik lain Galaxy Nexus, tersedia fitur face unlocking. Dengan memanfaatkan fitur itu, saat ponsel terkunci lalu pengguna ingin membukanya, pengguna cukup menyodorkan wajah. Kalau wajah dikenali, ponsel otomatis terbuka. Sebaliknya, bila wajah yang tampil di layar tidak teridentifikasi, ponsel tetap terkunci.

Dengan mengabaikan tampilan fisik dan layar yang gagal menyajikan warna putih seputih warna aslinya, performa Galaxy Nexus sebenarnya relatif bisa diandalkan. Ia boleh dipertimbangkan untuk dilirik.

Tetapi, begitu unsur harga jual dimasukkan pula dalam pengambilan keputusan, nilai kelayakan beli Galaxy Nexus menurun signifikan. Penulis lebih memilih membawa pulang, contohnya, satu unit Motorola RAZR atau HTC Sensation XE.

Saat ini, harga jual RAZR yang memiliki tampilan fisik elegan dan mewah dijual maksimal Rp 5 juta. Sedangkan Sensation XE yang berprosesor dual core 1,5 GHz seringkali telah ditawarkan Rp 5,3 juta. Bandingkan dengan Galaxy Nexus yang sekarang masih bertengger di kisaran harga Rp 6,2 juta.

3 thoughts to “Wajah Jadi Pembuka Layar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *