XL NetRally Surabaya-Jogja

Menjelang atau selama Ramadan minimal ada satu operator seluler yang mengirimkan undangan untuk melakukan uji sinyal. Kali ini undangan yang kali pertama menghampiri saya berasal dari XL. Uji sinyal bertajuk Xensasi NetRally dengan menempuh perjalanan darat dari Surabaya ke Jogja itu diadakan pada 6-7 Juli 2012.

Gayung bersambut. Saya langsung menyatakan bersedia. Pada dua hari itu kebetulan saya tidak ada jadwal acara yang mengharuskan tetap berada di Surabaya. Alasan lain, telah dua tahun berturut-turut saya menolak undangan uji sinyal dari XL.

Jumat, 6 Juli 2012 pukul 07.00 perjalanan dimulai. Tiga mobil siap mengantarkan jurnalis, blogger, dan tim XL Axiata. Ada pula rekan dari Huawei Services, mitra XL dalam perawatan dan perbaikan jaringan. Seperti biasa, saya memilih duduk di kursi terdepan, tepat di samping pengemudi.

Perjalanan darat Surabaya-Jogja bukanlah perjalanan singkat. Rasa bosan atau lapar bisa menyergap. Karena itu, tim XL sudah menyiapkan “senjata” berupa aneka camilan dan minuman ringan.

Atas permintaan rekan jurnalis yang perlu memotret dengan latar belakang infrastruktur XL, di Jombang rombongan berhenti sesaat.

Seperti ini penampakan menara BTS hut XL di Jombang. Dalam bahasa yang sederhana, BTS hut adalah semacam “koordinator” atau “induk” para BTS XL yang berada di Jombang dan sekitarnya. Kalau BTS hut ini terganggu, BTS-BTS lain di sekitarnya berpotensi ikut terganggu.

Pengujian performa dilakukan menggunakan perangkat TEMS, satu di antara dua peranti drive test yang paling sering digunakan oleh para operator di Indonesia. Sebuah ponsel Sony Ericsson K800i terhubung dengan laptop via kabel data.

Pemilik toko genteng di Kartasura ini tampaknya pencinta berat XL. Ia memajang tiga nomor seluler. Seluruhnya XL!

Akhirnya tiba di Jogja. Perjalanan dari Surabaya sampai Sragen lancar jaya, disambung kemacetan dan padat merayap di jalur Sragen hingga Jogja. Untunglah tak sampai terjadi kondisi pamer paha: padat merayap tanpa harapan.

Sebuah x-banner menyambut di pintu masuk Hotel Novotel Jogja, tempat saya menginap malam itu.

Saya masuk ke kamar, meletakkan tas, kemudian langsung pergi. “Tadi waktu makan malam masih belum kenyang,” ujar saya kepada seorang teman. Gudeg Sagan menjadi sasaran perburuan.

Sepiring nasi gudeg krecek tempe menjadi makan malam babak kedua versi saya.ย  Harganya cuma Rp 5.500 lho.

Untuk minuman, awalnya saya memesan segelas teh tawar hangat. Sembari menyeruput teh itu, saya melihat daftar menu. Ada satu minuman yang namanya terdengar unik: Saparella. Saya menebak ia adalah minuman rasa sarsaparila. Iseng pesan satu deh.

Sesuai dugaan saya, ia merupakan minuman rasa sarsaparila. Yang di luar dugaan, ia ternyata minuman bersoda. Cita rasanya mengingatkan saya dengan permen Mr Sarmento yang sempat terkenal pada dekade 90-an.

Keesokan harinya, sekitar pukul 06.30 saya dan rombongan sudah berkumpul di lobi Hotel Novotel. Sebelum mengikuti presentasi hasil uji sinyal, tim dari Surabaya “kebetulan” memiliki satu agenda dulu: berkunjung ke The House of Raminten. Sehari sebelumnya, usai makan malam dan sebelum check-in di hotel, kami sebenarnya sudah sempat ke sana. Tetapi, karena pengunjung sangat ramai, kami diperkirakan baru memperoleh giliran dilayani sekitar tiga jam kemudian. Mending pulang dan keesokan harinya mruput deh.

Ada yang unik di restoran milik Raminten tersebut. Gelas berbentuk seperti (maaf) payudara bakal digunakan untuk menyajikan minuman hangat atau panas yang mengandung susu.

Tuntas sarapan pagi, saya dan rombongan dari Surabaya bergegas menuju Liquid Restaurant di Jl Magelang. Di sana seluruh peserta akan mendengarkan presentasi hasil uji sinyal. Pengujian performa jaringan XL menjelang Ramadan tak hanya dilakukan di jalur darat Surabaya-Jogja seperti yang saya tempuh. XL juga melaksanakan drive test di Lampung-Jakarta, Bandung Jakarta, Semarang-dan Jogja-Solo.

Jalur kereta api Jakarta-Semarang dan jalur penyeberangan laut menggunakan ferry Bakahauni-Merak serta Ketapang-Gilimanuk tak luput dari uji coba. Sementara itu, di kota atau provinsi yang sama, digelar uji sinyal di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Jogja, Solo, Lampung, Medan, Palembang, Pekanbaru, Padang, Banjarmasin, Bali, Lombok, dan Makassar. Hmm… banyak juga ya.

Selain rekan XL yang sudah siap menyambut, saya dan rekan-rekan dari Surabaya ternyata menjadi rombongan pertama yang menginjakkan kaki di Liquid Restaurant. Sembari menanti peserta lain tiba, kami dipersilakan menikmati sarapan (lagi nih…) yang sudah disiapkan. Karena perut sudah kenyang dengan setengah sarapan di hotel plus sarapan di Raminten, saya memilih segelas wedang jahe yang dituangkan di gelas bertuliskan Johnie Walker. ๐Ÿ™‚

Partisipan Xensasi NetRally telah komplet. Presentasi dimulai. Seperti inilah kondisi jaringan XL sehari-hari.

Supaya lebih mudah dibaca dan dipahami, saya buatkan sebuah tabel. Dengan mencermati tabel di bawah ini Anda bisa mengetahui lalu lintas di jaringan XL per hari pada hari biasa, baik pada tahun lalu maupun saat ini. Tingkat utilisasi alias pemakaian rata-rata dibandingkan dengan kapasitas terpasang juga dapat diketahui.

Selama Ramadan dan Lebaran, XL memprediksi trafik akan naik 20 persen hingga 30 persen. Agar lebih aman dan nyaman, XL mengaku telah menyiapkan penambahan kapasitas sampai dua kali lipat lebih besar dibandingkan kapasitas pada hari biasa.

Bagaimana kondisi sinyal XL di sepanjang jalur mudik? Ini dia. Silakan mengklik gambar untuk melihatnya dalam ukuran lebih besar.

Hijau bermakna sinyal XL yang muncul di layar ponsel mencapai 4-5 bar. Kuning berarti 2-3 bar, sedangkan merah berarti hanya 1 bar.

Dari network drive test yang digelar pada 6-7 Juli 2012 itu didapatkan CSSR 99 persen dan CCSR 98,8 persen alias di atas standar minimal yang ditetapkan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).

Makanan apakah CSSR dan CCSR itu?

CSSR merupakan singkatan dari Call Setup Success Rate. Kesuksesan panggilan ditandai dengan adanya nada sambung. CSSR disebut sangat baik bila tingkat keberhasilan lebih dari 95 persen.

Beralih ke CCSR alias Call Completion Success Rate. Ini mengukur persentase tingkat kesuksesan panggilan sejak terhubung sampai sengaja diputus. Mudahnya, CCSR ini mencermati kejadian drop call. Semakin besar angkanya berarti semakin jarang drop call, yang sekaligus bermakna semakin ciamik.

Kesimpulan akhir versi XL, mereka siap melayani pelanggan setianya selama Ramadan dan Lebaran tahun ini.

Btw, seluruh foto yang disajikan di posting ini dijepret menggunakan ponsel Motorola Defy XT alias XT535. Menurut saya, performa kameranya secara umum layak diberi predikat mengecewakan.

4 thoughts to “XL NetRally Surabaya-Jogja”

  1. sebagian kecil? hahaha…
    di jogja memang makanan murah2,pak, karena banyak mahasiswa, waktu saya dulu masih kuliah, hampir setiap hari menu saya nasi + sayur + tahu/tempe 2 seharga sekitar Rp.1.500 – Rp.2.000.
    tentang indo Saparella saya juga pernah mencoba, lalu seingat saya dulu permen sarsaparila namanya bukan Mr.Sarmento, tapi Mr.Sacramento pake topi bergaya mexico.
    pak Herry, berarti kamera K800i malah lebih mending donk daripada Defy XT535 ๐Ÿ™‚

  2. Pak Yopie,

    Iya, sebagian kecil. Kalau cerita kuliner diceritakan semua, panjangnya setara bahkan sedikit lebih panjang daripada uji sinyalnya. ๐Ÿ™‚

    Oh, bukan Mr Sarmento ya? Seingat saya sih Mr Sarmento. Benar, pakai topi ala Meksiko. Kemasannya warna ungu.

    Kamera K800i diadu dengan Defy XT? Wah, bak bumi dan langit, Pak. Dibandingkan kamera Defy Mini yang tidak autofocus pun, hasil kamera Defy XT saya nilai masih kalah prima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *